
Delapan bulan berlalu, baru saja Andrea melahirkan anak ke duanya yang ia beri nama Angeline Daniela. Varo dan Daniel nampak sangat senang melihat babby lucu nanti imut itu yang sedang tidur di dalam boxnya.
" Daddy adiknya cantik banget! Mirip mommy." Ucap Varo.
" Iya sayang, kamu senang punya adik perempuan?" Tanya Daniel.
" Senang Dad, terima kasih Daddy sama Mommy karena udah memberikan adik cantik untuk Varo." Ucap Varo.
" Sama sama sayang." Sahut Daniel mengelus kepala Varo.
" Varo akan menemani Angelin bermain boneka sama masak masakan nanti Dad." Ujar Varo.
" Iya sayang... Varo harus jadi abang yang baik yang mencintai adiknya. Oke?" Daniel menatap Varo.
" Oke Dad." Sahut Varo.
" Varo akan bilang sama Johni kalau adik Varo udah lahir." Ujar Varo.
Daniel tersenyum melihat kebahagiaan Varo. Daniel duduk di tepi ranjang menatap Andrea. Ia menggenggam tangan Andrea.
" Terima kasih sayang kau telah menyempurnakan hidupku dengan memberikan dua anak yang lucu dan yang sangat aku sayangi. Kau tidak perlu dan meragukan kasih sayangku, aku akan menyayangi mereka berdua tanpa membedakan salah satunya." Ucap Daniel mencium punggung tangan Andrea.
" Semua kebahagiaan ini tidak akan aku miliki tanpa adanya dirimu Niel. Walaupun kau sendiri yang membuatnya tapi aku akan melupakan, yang akan aku ingat kebaikan, cinta dan kasih sayangmu pada kami Niel." Ujar Andrea.
" Terima kasih sayang." Ucap Daniel yang di balas senyuman oleh Andrea.
Jam makan siang, Daniel menyuapi Varo dan Andrea secara bergantian. Varo terus berceloteh tentang adik bayinya.
" Dad, kenapa Angeline tidak Daddy suapi?" Tanya Varo sambil mengunyah makanannya.
" Angeline belum bisa makan sayang, dia hanya bisa minum air susu Mommy kamu saja." Sahut Daniel.
" Oh begitu ya Dad, apa dulu Varo juga begitu?" Varo bertanya lagi.
" Iya sayang, kamu baru bisa makan setelah enam bulan. Itu aja kamu makan bubur." Sahut Daniel.
Varo mengangguk anggukkan kepalanya.
Tok tok..
Andrea dan Daniel menoleh ke arah pintu, terlihat Bayu dan Wahyu menghampiri mereka.
" Selamat Re, semoga putrimu menjadi anak sholehah." Ucap Bayu.
" Amin terima kasih." Sahut Andrea.
" Selamat Nona Andrea, semoga sehat selalu dan segera pulih." Ucap Wahyu.
" Terima kasih Yu." Ucap Andrea.
__ADS_1
Bayu menatap Varo sambil tersenyum.
" Varo sudah gedhe makannya masih di suapi Daddy?" Tanya Bayu.
" Iya Om, Varo tidak enak makan kalau tidak di suapi sama Daddy." Sahut Varo.
Selama ini hubungan Varo dan Bayu semakin membaik karena Daniel terus berusaha mendekatkan mereka. Karena bagaimanapun Bayu ayah kandung dari Varo, ia tidak mau memisahkan hubungan anak dan ayahnya.
Bayu juga pernah menawarkan nafkah untuk Varo namun Daniel dan Andrea menolaknya. Mereka takut tuan Ramon akan curiga jika Varo adalah cucunya.
" Alhamdulillah selesai!" Ucap Daniel menutup wadah makannya.
" Varo mau bermain sama Om Bayu nggak?" Tanya Bayu penuh harap.
Varo menatap Daniel yang di balas anggukkan kepala oleh Daniel.
" Dimana Om?" Tanya Varo.
" Di taman rumah sakit ini aja gimana? Nanti Om Wahyu yang akan memberikan mainannya." Ujar Bayu.
" Boleh nggak Dad?" Tanya Varo menatap Daniel.
" Boleh sayang, tapi jangan nakal ya." Ucap Daniel.
" Iya Dad." Sahut Varo.
" Ayo Om." Ajak Varo menatap Bayu.
Dengan senang Bayu menggendong Varo menuju taman.
Andrea menatap Daniel begitu pun sebaliknya.
" Apa kau tidak takut dengan kedekatan mereka?" Tanya Andrea.
" Tidak! Aku percaya pada Bayu sayang. Dia tidak akan melakukan hal. yang membahayakan anaknya sendiri." Sahut Daniel.
" Bagaimana kalau mereka semakin dekat, lalu Varo merasakan ikatan batin dengannya, terus Varo menginginkan Bayu menjadi ayahnya?"
Pertanyaan Andrea membuat Daniel langsung menatapnya. Ia tidak memikirkan sampai ke sana.
" Aku rasa tidak sayang, cinta dan kasih sayangku akan membuat Varo tetap setia padaku. Dia tidak akan menginginkan pria lain untuk menjadi ayahnya jika dia saja sudah punya ayah sebaik diriku kan." Ujar Daniel.
" Aku harap sih begitu, tapi kita harus hati hati karena ikatan darah lebih kental dari apapun." Sahut Andrea.
" Iya kau benar, terima kasih sudah mengingatkan ku sayang." Sahut Daniel.
" Sekarang kamu istirahatlah! Aku akan membangunkanmu jika Angelin bangun nanti." Ucap Daniel.
" Atau mau aku pijitin kakinya? Pasti syarafnya kaku semua." Sambung Daniel.
__ADS_1
Alexa menganggukkan kepala.
Dengan telaten Daniel memijat pelan kedua kaki Alexa. Alexa nampak bahagia menerima perhatian dari Daniel.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini Bayu sedang terburu buru masuk ke ruangannya, ia tidak melihat sekitar sampai saat ia hendak membuka pintu tiba tiba....
" Awh."
Bayu menatap Lian yang mengaduh kesakitan sambil mengelus jidatnya yang tepentok pintu.
" Bapak ini gimana sih! Kalau mau masuk ketuk dulu jadi saya tahu." Ucap Lian.
" Nah ini ruangan saya, kenapa kamu di sini?" Tanya Bayu.
" Saya baru saja meletakkan berkas di meja bapak. Nggak tahunya malah kena apes." Sahut Lian mengerucutkan bibirnya.
Liansa Adella, seorang wanita cantik berumur dua puluh dua tahun yang Wahyu rekomendasikan menjadi sekretaris Bayu beberapa bulan lalu. Ia merupakan salah satu teman Wahyu yang dekat dengannya. Ia ingin menjodohkan Lian dengan Bayu supaya Bayu bisa segera melupakan Andrea. Karena bagi Wahyu, mencintai tanpa memiliki itu sangat sakit rasanya.
" Ya sudah minggirlah!" Ketus Bayu masuk ke dalam.
" Perasaan tuh bos tidak ada hangat hangatnya, selalu bersikap dingin pada semua orang. Sok coll." Cibir Lian.
" Saya mendengarnya Nona Lian, apa anda ingin di pecat dari perusahaan ini?"
Tubuh Lian terasa lalu, ia tidak menyangka kalau Bayu mendengar ucapannya. Padahal ia sudah berbicara se lirih mungkin.
" Maaf Pak! Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Lian.
" Pergilah dari sini sebelum saya marah!" Titah Bayu.
" Baik Pak." Sahut Lian kembali ke ruangannya.
Bayu duduk di kursi kebesarannya. Ia menatap map di depannya. Tak terasa senyuman muncul di sudut bibirnya.
" Liansa... Gadis yang terlihat lugu dan patuh di depanku ternyata suka mengumpat di belakangku. Gadis ceroboh tapi sangat profesional dalam bekerja, kedatangannya membuatku sedikit melupakan Andrea. Tingkahnya yang absurd membuatku ingin terus melihatnya. Aku benar benar menyukainya." Gumam Bayu.
" Eh... Suka? Masa' sih aku suka sama dia? Aku nggak percaya kalau aku bisa berpaling dari Andrea." Ucap Bayu terkekeh.
Bayu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia memejamkan matanya menahan sesuatu yang berdesir di dalam hatinya. Bayangan bayangan senyuman Lian menari di kepalanya.
" *Ya Tuhan apa yang aku rasakan ini?" Batin Bayu.
Ada yang bisa bantu jawab?
Jangan lupa untuk selalu tekan like koment vote dan 🌹untuk mendukung karya author...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U all*...
TBC...