
" Apa maksudmu Wahyu?" Tanya Bayu penuh selidik.
" Liansa Pacarku!"
Jeduar....
Tubuh Bayu bagai di sambar petir di siang bolong. Ia tidak menyangka jika wanita yang ia sukai adalah milik sahabatnya sendiri.
" Apa? Bagaimana bisa Wahyu? Bukankah kau sengaja mengirim Lian dengan tujuan aku menyukainya? Kau menginginkan aku move on dari Andrea kan? Lalu kenapa kau sendiri yang memacari Lian?" Selidik Bayu.
" Dengarkan aku Bay! Awalnya aku memang berniat seperti itu tapi aku kira kamu menolaknya, itu sebabnya aku mencoba mendekati Lian karena aku tertarik dengannya." Jelas Wahyu.
" Tapi dia pacarku sekarang, dia sendiri yang bilang kalau dia tidak punya pacar jadi bukan salahku donk!" Ujar Bayu.
" Aku yakin kau yang memaksanya Bay." Sahut Wahyu.
" Ya aku memang sedikit memaksanya tapi kenyataannya dia mau sama aku, gimana donk?" Tanya Bayu menatap Wahyu.
Kini keduanya menatap Lian bersamaan membuat Lian kikuk. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Lian!!!" Ucap Bayu dan Wahyu bersamaan.
" Sebentar! Sepertinya aku harus memberikan klarifikasi kepada kalian berdua." Ucap Lian tenang.
Lian berdiri di depan Bayu dan Wahyu.
" Kamu pak Bayu." Lian menunjuk Bayu.
" Kau yang memaksaku dan mengancamku serta membuatku berjanji untuk menerimamu sebagai kekasihku. Ya aku terpaksa menerimanya kan? Terlepas aku sudah punya pacar atau belum." Ujar Lian.
" Dan untuk kak Wahyu, selama ini kita memang dekat tapi kita tidak pacaran, selama ini tidak ada kata cinta yang terucap dari bibirmu atau bibirku, jadi sah sah saja kan aku menerima pak Bayu sebagai kekasihku." Ucap Lian.
" Lalu dimana letak kesalahanku?" Tanya Lian menatap keduanya secara bergantian.
" Tidak ada." Keduanya menggelengkan kepala.
" Jadi sekarang terserah kalian mau bagaimana, pak Bayu mau menganggapku kekasihnya ya silahkan, kak Wahyu mau menganggapku begitu juga silahkan! Aku malah senang punya dua pahlawan yang akan selalu menjagaku." Ucap Lian mengerlingkan matanya lalu pergi dari sana.
Kedua pria di dalam masih terbentang terpesona oleh kerlingan mata Lian yang nampak menggoda.
" Matanya Yu."
" Iya Bay, sangat indah.... Apalagi bibir ranumnya membuatku ingin mengecupnya."
Plak...
Kepala Wahyu mendapat geplakan dari Bayu.
" Apaan sih Bay." Ucap Wahyu mengelus kepalanya.
__ADS_1
" Ngapain lo ikut ikutan tergoda sama Lian." Ujar Bayu.
" Ya terserah gue lah, hati gue yang punya ini bukan punya nenek moyang lo." Sahut Wahyu.
" Ingat ya! Lian milik gue.. Dia bakal jadi calon istri gue." Ujar Bayu.
" Gue tidak akan mengalah dari lo, mari kita bersaing secara sehat!" Tantang Wahyu.
" Oke siapa takut! Gue Terima tantangan lo Yu. Paling juga gue yang menang, karena kalau sampai gue kalah lo gue pecat."
Ucapan Bayu membuat Wahyu melongo.
" Sialan lo Bay, ini mah ancaman telak buat gue. Kalau lo pecat gue mau di kasih makan apa Lian sama anak gue nantinya." Ujar Wahyu.
" Makanya biarin Lian sama gue aja, gue banyak duit yang tidak akan habis di makan tujuh turunan." Ucap Bayu.
" Bodo' lah Bay." Wahyu segera keluar dari ruangan Bayu.
" Yes.. Gue pasti menang." Sorak Bayu dalam! hati.
Di tempat lain tepatnya di dalam kamar Daniel. Ia sedang memangku babby Angeline sambil sesekali mengajaknya berbicara.
" Sayangnya Daddy cepat besar ya, biar mommy tidak kerepotan mengurus kita berdua. Doakan Daddy supaya velar sembuh biar Daddy tidak merepotkan mommy juga." Ucap Daniel.
" Kamu ini bicara apa sih Dad? Aku tidak merasa di repotkan kok. Kita jalani aja dengan ikhlas dan jadikan semua ini beban. InsyaAllah kita mampu menjalani semua ini." Ucap Andrea masuk ke dalam dengan membawa nampan makanan di tangannya. Ia duduk menyerong di tepi ranjang menghadap Daniel.
" Aku bicara fakta sayang, maafkan aku yang telah merepotkanmu." Ucap Daniel.
Daniel menidurkan Angelin di sampingnya, Andrea segera menyuapkan makanan ke mulut Daniel.
Daniel pun memajukan wajahnya menerima suapan dari Andrea.
" Kamu belum makan?" Tanya Daniel.
" Setelah ini aku akan makan." Sahut Andrea.
Selesai makan Andrea memberikan obatnya kepada Daniel.
" Kamu istirahat ya!" Ucap Andrea menyelimuti kaki Daniel.
" Varo belum pulang?" Tanya Daniel.
" Mungkin sebentar lagi, hari ini dia pulang lebih awal karena besok pembagian rapot." Sahut Andrea.
" Aku sudah kangen dengannya." Ujar Daniel.
" Baru tadi pagi ketemu masa' udah kangen. lagi sih." Ujar Andrea.
" Aku tidak bisa jauh dari Varo sayang, dia putra kesayanganku." Sahut Daniel.
__ADS_1
" Iya percaya." Sahut Andrea.
Baru saja di bicarakan tiba tiba....
" Daddy." Teriak Varo berlari menghampiri Daddy nya.
Grep..
Varo langsung memeluknya. Ia naik ke atas ranjang lalu meminta Daniel untuk memangkunya.
" Sayang turun! Kaki daddy masih sakit Varo." Ucap Andrea.
" Tidak pa pa sayang, aku nggak sakit kok." Sahut Daniel.
" Bagaimana di sekolah tadi? Apa anak Daddy yang paling tampan ini nakal?" Tanya Daniel mengelus pipi Varo.
" Tidak Dad, Varo mendengarkan bu guru dengan baik." Sahut Varo.
" Apa Varo menceritakan keadaan Daddy yang sekarang pada teman teman Varo?" Tanya Daniel memastikan.
" Iya, aku minta doa teman teman untuk mendoakan kesembuhan Daddy." Ujar Varo.
Daniel tersenyum menatapnya.
" Terima kasih sayang kau begitu perhatian sama Daddy." Ucap Daniel.
" Iya Dad, Varo akan melakukan apapun demi Daddy." Sahut Varo.
" Oh ya Dad, besok kata bu guru Varo ambil rapot. Varo mau Daddy yang ambil, bisa nggak Dad?" Tanya Varo menatap Daniel.
Daniel menatap Andrea seolah meminta pendapat.
" Daddy sama Mommy yang akan mengambilnya karena tidak mungkin kalau Daddy sendirian ke sananya sayang, Daddy akan kerepotan mendorong kursi rodanya." Ujar Andrea.
" Iya Mom tidak pa pa, yang Daddy ikut mengambilnya Varo udah senang." Sahut Varo memeluk Daniel.
" Sayang apa kamu tidak malu kalau teman teman kamu melihat keadaan Daddy yang seperti ini?" Tanya Daniel.
" Tidka Dad, Varo malah senang kalau teman teman Varo bisa melihat Daddy. Varo akan menyuruh mereka untuk mendoakan Daddy lagi." Sahut Varo.
" Terima kasih sayang." Ucap Daniel.
Daniel menciumi pucuk kepala Varo. Ia sangat bahagia memiliki Varo sebagai putranya.
" Maafkan aku yang telah merenggutnya darimu Bay... Walaupun keadaanku seperti ini aku tetap bahagia melihat Varo begitu sayang padaku. Semoga kau akan mendapatkan putra seperti Varo lagi dan *semoga kau hidup bahagia bersama keluarga barumu nanti Bay, maafkan aku yang telah menyakiti teman baik sepertimu. Maafkan ak*u." Batin Daniel.
Jangan lupa like koment vote dan 🌹yang banyak buat author biar semangat ngetiknya...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...
TBC...