
Andrea baru saja pulang ke rumahnya setelah di rawat selama sehari semalam di sana, dengan perlahan ia menaiki anak tangga menuju kamarnya, sedangkan babby nya di gendong oleh Daniel.
" Hati hati!" Daniel memegangi lengan Andrea.
" Iya." Sahut Andrea.
Awalnya Daniel menawarkan diri untuk menggendongnya namun Andrea menolaknya. Ia merasa sehat hanya untuk menaiki tangga saja.
Daniel menuntun Andrea ke ranjangnya, ia membantu Andrea bersandar pada tumpukan bantal.
" Terima kasih Niel." Ucap Andrea.
" Tidak usah mengucapkan terima kasih kepada teman, kita teman kan." Sahut Daniel.
" Baiklah! Kau memang teman terbaikku." Sahut Andrea tersenyum lebar.
" Oh ya apa kamu sudah menyiapkan nama untuk jagoan tampan kita ini?" Tanya Daniel menatap babby lucu yang saat ini sedang tertidur di gendongannya.
" Aku menyimpan nama Alvaro, apa kamu mau menyumbang nama untuknya?" Andrea menatap Daniel.
" Kalau boleh aku memberikannya nama Keenan, gimana." Ujar Daniel.
" Tidak masalah, kita beri nama Keenan Alvaro Prayoga, gabungan dari kita bertiga. Keenan darimu, Alvaro dariku, dan Prayoga dari Bayu." Ucap Andrea.
" Ok.. Biar adil kita panggil nama yang kau beri saja, nama tengah jagoan kita, kamu mau panggil Alva atau Varo?" Daniel menatap Andrea.
" Varo." Sahut Andrea.
" Ok babby Varo, semoga kau selalu sehat, panjang umur, jadi anak sholeh dan kelak kau akan menjadi pria yang mampu membahagiakan ibumu." Ucap Daniel.
" Amin... Semoga doa dan ucapanmu di kabulkan oleh Tuhan." Sahut Andrea.
" Amin... Sekarang sebaiknya kamu istirahat saja! Aku akan membawa babby Varo ke bawah untuk jalan jalan." Ucap Daniel.
" Tidurkan aja di boxnya Niel! Nanti akan jadi kebiasaan kalau tidur sambil di gendong gitu, entar yang ada dia akan rewel kalau tidak di gendong." Ujar Andrea.
" Nggak pa pa, aku siap untuk menggendongnya kok, dia jagoanku jadi aku akan selalu memanjakannya dan memberikan yang terbaik untuknya, aku akan memberikan semua yang dia minta." Ujar Daniel.
Andrea menatap penuh haru kepada temannya itu. Ia juga kagum pada Daniel yang menggendong babby Varo, pasalnya Daniel menggendong babby Varo menggunakan kain, padahal kan biasanya kaum lelaki tidak bisa menggendong seperti itu. ( Seperti suami author sendiri 😁)
" Baiklah terserah kau saja." Sahut Andrea pasrah.
Tok tok...
Pintu di ketuk oleh Nina, art yang di pilih oleh Daniel yang umurnya tak jauh di atasnya.
" Maaf Tuan, Non Andrea, ada tamu di bawah yang ingin bertemu dengan Non Andrea." Ucap Nina.
" Siapa mbak?" Tanya Andrea.
__ADS_1
" Tuan Mareno."
Deg...
Jantung Andrea terasa berdetak sangat kencang. Ia menatap Daniel dengan penuh kecemasan.
" Tenanglah ada aku!" Ucap Daniel. Ia bisa merasakan kecemasan yang di alami Andrea.
" Suruh menunggu sebentar mbak, saya yang akan turun menemuinya." Ucap Daniel.
" Baik Tuan." Sahut Nina kembali ke bawah.
" Niel, aku takut dia akan membawa Varo, bagaimana ini Niel?" Tanya Andrea panik.
Daniel mendekati Andrea ia menyentuh pundak Andrea.
" Tenanglah Andrea! Dia tidak akan pernah bisa mengambil Varo dari kita sampai kapanpun, aku akan mengatasi semuanya." Ucap Daniel.
Andrea menatap Daniel.
" Bagaimana caranya?" Tanya Andrea.
" Kamu bilang Varo jagoan kita kan?" Andrea menganggukkan kepalanya.
" Aku akan mengakui kalau Varo anakku, bukan anak Bayu, jika dia tidak percaya dan meminta tes DNA aku akan memalsukan hasilnya, yang jelas apapun akan aku lakukan untuk mempertahankan Varo, apa kau keberatan kalau aku mengakui Varo sebagai anak kandungku?" Tanya Daniel.
" Tidak! Lakukan yang terbaik untuk kami Niel! Aku tidak mau berpisah dengan Varo, aku tidak mau kehilangannya, ku mohon! Aku percaya padamu kau akan memberikan yang terbaik untuk kami." Ucap Andrea.
" Aku taruh Varo dulu di box." Daniel menidurkan Varo di boxnya.
" Aku temui dulu mertua kamu itu, kamu di sini saja jagain Varo." Ujar Daniel.
" Iya." Sahut Andrea.
Daniel turun ke bawah menemui tuan Mareno.
" Kamu." Tuan Mareno mengernyitkan dahinya melihat Daniel menghampirinya.
" Iya Om, ini aku." Sahut Daniel duduk di depan tuan Mareno.
" Apa kabar Om?" Tanya Daniel.
" Baik, kamu ngapain di sini? Apa kalian tinggal bersama?" Selidik tuan Mareno.
" Bagaimana kami tidak tinggal bersama Om? Kalau kami saja suami istri." Sahut Daniel.
" Apa? Suami istri?" Pekik tuan Mareno menatap Daniel tidak percaya.
" Bagaimana bisa? Bayu pergi belum lama Daniel." Ucap tuan Mareno.
__ADS_1
" Maaf Om, kami menikah demi anak kami." Sahut Daniel.
" Anak kalian? Jangan membodohi ku Daniel, memangnya kapan kalian menikah? Anak itu anak Bayu, dia lahir tepat sembilan bulan setelah kepergian Bayu, itu tandanya Andrea hamil sebelum Bayu tiada." Sahut tuan Mareno.
" Kamu salah Om! Kalau Andrea hamil sebelum Bayu tiada berarti dia hamil lebih dari sembilan bulan Om, faktanya dia lahir sembilan bulan setelah kepergian Bayu, itu berarti anak itu hadir setelah kepergian Bayu." Terang Daniel.
Tuan Mareno nampak terkejut.
" Jadi kalian selingkuh?" Selidik tuan Mareno.
" Kami berhubungan setelah Bayu tiada, itu berarti kami tidak selingkuh Om, aku tidak bisa menceritakan bagaimana detailnya, yang jelas sekarang Andrea dan babbynya adalah istri dan anakku, kalau Om tidak percaya kita bisa lakukan tes DNA, maafkan aku jika Om menganggap aku telah mengkhianati Bayu." Ucap Daniel.
" Aku tidak peduli! Percuma aku ke sini, aku pikir dia anak Bayu itu sebabnya aku kemari karena ingin mengambil anak itu, ternyata kalian pasangan pengkhianat, kalian pasangan selingkuh! Kalian bahagia di atas penderitaan putraku, sampai sekarang saja jasadnya tidak di temukan tapi kalian bahagia membina keluarga baru kalian, aku tidak menyangka kau bisa melakukan hal setega ini Daniel." Tuan Mareno berlalu begitu saja.
" Maafkan aku Om." Ucap Daniel.
Daniel bernafas lega, untung ia bisa meyakinkan tuan Mareno. Sebenarnya saat Bayu tiada, Andrea baru hamil sekitar tiga minggu, kehamilannya menunjukkan tanda tanda lebih cepat dari wanita hamil pada umumnya, dan HPLnya masih tiga minggu lagi, jadi usia kandungannya genap sembilan bulan.
" Anak dan istriku?... Rasanya sangat nyaman di hati menyebut mereka dengan status itu, andai saja Andrea mau menikah denganku?... Ah tidak perlu berkhayal, seperti ini saja aku sudah bahagia." Monolog Daniel.
Daniel kembali ke kamar Andrea. Ia terkejut melihat Andrea yang menangis sambil membekap putranya.
" Andrea kalian kenapa?" Tanya Daniel cemas. Ia berpikir terjadi sesuatu pada babby Varo.
Andrea mendongak menatap Daniel.
" Bagaimana Niel? Apa dia mau mengambil Varo dariku? Apa kau tidak berhasil meyakinkannya kalau Varo anakmu?" Andrea terlihat panik.
" Tenang Andrea! Kau tidak boleh panik seperti ini! Ini sangat bahaya untuk kesehatanmu yang baru saja melahirkan!" Ucap Daniel mengambil alih gendongan Varo.
" Aku berhasil meyakinkannya dengan mudah, karena memang Om Mareno tidak tahu tentang kehamilanmu saat itu, jadi dia percaya setelah aku menghitung usia kehamilanmu, maaf jika aku mengakuimu dan Varo sebagai anak dan istriku." Sahut Daniel menundukkan kepala.
Andrea bernafas dengan lega.
" Tidak pa pa Niel yang penting Varo akan selalu bersamaku, terima kasih kau memang yang terbaik untukku." Ucap Andrea.
" Sama sama, sekarang istirahatlah biar hatimu menjadi tenang! Aku akan menjaga kalian berdua di sini." Ucap Daniel mengelus kepala Andrea.
Andrea menganggukkan kepalanya, ia memejamkan mencoba melupakan masalah ini. Daniel menatapnya dengan perasaan yang sulit di artikan.
" Aku akan selalu melindungi kalian berdua dari apapun dan dari siapapun yang berniat jahat pada kalian berdua, asal kau tahu Re, Kau dan Varo bagaikan nafas dalam hidupku, setelah apa yang kita jalani selama ini, aku tidak bisa hidup tanpa kalian berdua, semoga kalian berdua selalu bahagia." Gumam Daniel.
Next part lompat ke empat tahun kemudian ya...
Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya buat author ya...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author, semoga sehat selalu...
Miss U All....
__ADS_1
TBC....