
Bayu duduk di kursi kebesarannya, jari jemarinya menari lihat di atas keyboard.
Tok tok...
" Masuk!" Teriak Bayu.
Lian masuk ke dalam menghampiri Bayu. Bayu menatapnya dengan tatapan entah.
" Pak hari ini ada meeting dengan perusahaan Nolly, saya sudah membuat proposal......
Panjang lebar Lian membacakan proposalnya namun Bayu justru fokus pada bibir tipis Lian yang menggoda.
" Pak, apa anda mendengarkan saya?" Tanya Lian memastikan.
Bayu tidak bergeming, ia masih menatap Lian.
ck ck
Liang mengetukkan dua jarinya di depan wajah Bayu membuat Bayu tersadar dari lamunannya.
" Kenapa malah melamun Pak?" Tanya Lian membungkukkan badannya membuat wajah mereka begitu dekat.
Jantung Bayu terasa berdetak sangat kencang.
" Jantungku... Kenapa jantungku berdetak sangat kencang? Apa aku terkena serangan jantung? Ya Tuhan.... Sepertinya aku harus cek kesehatan." Batin Bayu.
" Pak Bayu!" Ucap Lian dengan nada tinggi.
" Kenapa kau berteriak padaku Lian? Apa kau mau aku pecat dari sini?" Bayu menatap tajam ke arahnya.
Lian menjauhkan wajahnya, ia menelan kasar salivanya.
" Saya berteriak karena dari tadi bapak bengong terus, saya udah capek pak panjang lebar menjelaskan proposal yang akan kita ajukan pada perusahaan Nolly, anda malah asyik dengan dunia anda sendiri." Ucap Lian memutar bola matanya malas.
" Baiklah maaf! Sekarang coba bacakan lagi!" Ucap Bayu.
" Bapak baca sendiri saja! Saya harus mengerjakan yang lainnya." Lian meletakkan berkas itu di atas meja.
" Kamu berani memerintahku?" Bayu menatap Lian.
" Anda mau memecat saya?" Tanya Lian.
" Kalau begitu pecat saja!" Lian melenggang meninggalkan ruangan Bayu.
Bayu melongo menatapnya.
" Berani sekali dia." Geram Bayu.
Bayu memencet interkom yang tersambung ke ruangan Lian.
" Ya Pak, ada apa?" Tanya Lian.
" Segera ke ruangan saya." Bayu mematikannya.
" Hah... Tuh bos satu lama lama nyebelin deh!" Gerutu Lian beranjak dari kursinya.
Ia berjalan menuju ruangan Bayu.
" Apa ada yang bisa saya bantu Pak?" Tanya Lian menghampiri Bayu di mejanya.
" Bacakan proposal yang kamu buat! Saya sedang sakit kepala." Titah Bayu.
" Apa anda perlu obat Pak? Akan saya ambilkan." Ucap Lian.
__ADS_1
" Sebenarnya aku butuh pijatan, kalau kamu mau tolong pijat kepala saya." Sahut Bayu.
" Baik Pak." Sahut Lian.
Bak angin segar, Bayu mengembangkan senyum di sudut bibirnya.
" Maaf ya Pak!" Ucap Lian memijat kepala Bayu dengan pelan.
" Pijatanmu lumayan juga." Ucap Bayu.
" Terima kasih Pak." Sahut Lian.
" Entah kenapa rasanya begitu nyaman berada di dekatnya. Ternyata Andrea benar, dengan ikhlas kita bisa merasakan kebahagiaan lainnya. Mungkin ini saatnya aku move darinya dan menerima wanita lain dalam hatiku. Semoga aku bisa hidup bahagia bersama orang yang aku cintai selamanya." Ujar Bayu dalam hati sambil merem melek menikmati pijatan Lian.
" Gimana Pak? Apa sudah mendingan?" Tanya Lian.
" Lumayan, tapi terus pijat kepala saya sampai sembuh!" Sahut Bayu.
" Lima menit lagi kita ketemu client Pak." Ucap Lian.
Bayu melihat ke arah jarum jam yang menunjukkan pukul sembilan kurang lima menit.
" Ya sudah, kau persiapkan saja semuanya." Ujar Bayu.
Lian segera menyiapkan berkas berkas yang akan ia bawa. Setelah selesai keduanya berangkat menuju resto xx untuk meeting.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam ini hujan nampak begitu deras. Daniel yang baru saja pulang sari luar nampak buru buru sampai di rumah karena ia sudah kangen dengan Varo dan Angelin.
Ia melakukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata rata, sampai di tikungan ia kehilangan kendali karena jarak pandang yang terbatas. Mobilnya menabrak pembatas jalan sampai....
Brak...
Tiiiinnnnnn
" Andrea... " Lirih Daniel sebelum kehilangan kesadarannya.
Pyarrrr.....
Gelas yang di pegang oleh Andrea tiba tiba jatuh begitu saja.
" Astaghfirullahal'adzim... Ya Tuhan... Kenapa perasaanku tidak enak seperti ini? Ada apa dengan Daniel? Ya Tuhan lindungilah dan selamatkanlah suamiku." Monolog Andrea.
Setelah membersihkan pecahan gelas, Andrea kembali ke kamarnya. Ia naik ke atas ranjang memeluk Angeline dan Varo. Ia mencoba memejamkan mata namun tidak bisa sampai ponselnya berdering.
Andrea segera mengangkatnya.
" Halo."
" Halo apakah ini Nyonya Daniel Lorenzo?"
" Iya saya sendiri Pak, ada apa ya?" Tanya Andrea dengan. jantung yang berdegup kencang.
" Suami anda mengalami kecelakaan Nyonya, saat ini tuan Daniel kami bawa ke rumah sakit xx."
Tubuh Andrea menegang, ponsel yang menempel di telinganya jatuh begitu saja. Tubuhnya luruh ke lantai tak kuasa menopang berat badannya.
Varo yang terbangun segera mendekati Andrea.
" Mommy... Mommy kenapa?" Tanya Varo mengguncang pundak Andrea membuatnya tersadar.
" Sayang hiks." Andrea memeluk Varo.
__ADS_1
" Mommy kenapa? Kok Mommy menangis?" Varo bertanya lagi.
Andrea segera mengusap air matanya.
" Tidak sayang, mata Mommy kemasukan debu makanya pedih." Kilah Andrea.
" Sayang, Mommy harus pergi karena Mommy ada perlu malam ini dengan teman Mommy, kamu jagain Angeline ya sama bibi Titin." Ujar Andrea menatap Varo.
" Iya Mom, Mommy hati hati ya!" Ucap Varo.
" Iya sayang, Mommy pergi dulu ya." Andrea menciumi pipi Varo.
Varo menganggukkan kepalanya.
" Mom, kapan Daddy pulang? Bukankah Daddy mau pulang hari ini?" Tanya Varo membuat hati Andrea pilu.
" Daddy akan sampai besok pagi, sekarang tidurlah! Mommy akan panggil bi Titin." Ujar Andrea keluar kamarnya.
Setelah meminta bi Titin untuk menemani anak anaknya, Andrea segera melakukan mobilnya ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, Andrea segera berlari menuju ruang ICU. Di depan sana dia orang polisi sudah menunggunya.
" Malam Pak, bagaimana kondisi suami saya?" Tanya Andrea.
" Keadaan Tuan Daniel kritis Nyonya, kami turut prihatin atas kecelakaan yang meinpanya, saat ini dokter sedang menanganinya." Ucap polisi.
Andrea menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Setelah menceritakan kronologi kecelakaan nya, kedua polisi itu pamit pulang. Kini tinggal Andrea sendiri yang duduk di depan ruang ICU.
Tak lama dokter keluar dari ruang ICU, Andrea segera menghampirinya.
" Bagaimana keadaan suami saya Dok? Apa dia telah melewati masa kritisnya?" Tanya Andrea.
" Alhamdulillah tuan Daniel telah melewati masa kritisnya Nyonya, setelah saya periksa ada berita buruk yang harus saya sampaikan Nyonya." Ucap dokter.
" Berita buruk?" Andrea mengerutkan keningnya.
" Ya, tuan Daniel mengalami kelumpuhan."
Jeduarrrrr....
Tubuh Andrea terhuyung ke belakang, beruntung dokter segera menarik tangannya. Dokter membantu Andrea duduk di kursi tunggu.
" Kakinya yang terjepit membuat tulangnya patah Nyonya, kami sudah memasang pen namun beliau belum bisa berjalan normal. Mungkin butuh waktu beberapa bulan, bahkan sampai satu tahunan Nyonya." Terang dokter menatap iba pada Andrea.
" Bolehkah saya menemuinya Dok?" Tanya Andrea.
" Silahkan Nyonya!" Sahut dokter.
Dengan langkah pelan Andrea masuk ke ruang ICU. Ia menghampiri Daniel yang berbaring lemah di atas ranjang. Andrea duduk di kursi samping ranjang sambil menggenggam tangan Daniel.
" Sadarlah Niel! Kami semua merindukanmu." Andrea mencium punggung tangan Daniel.
Tak terasa air mata menetes begitu saja.
" Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksimu saat kamu tahu kalau kamu lumpuh Niel, aku yakin kau pasti akan terpuruk. Varo juga akan sangat sedih melihatmu seperti ini, tapi kamu tenang saja! Aku akan terus mensupport kamu sampai kamu cepat sembuh Niel, berjuanglah demi aku dan anak anak kita." Ucap Andrea.
Tak terasa Andrea tertidur sambil menggenggam tangan Daniel.
Siapa nih yang minta Daniel di hukum? Seneng nggak nih? Jangan lupa selalu tekan like koment vote dan kasih 🌹yang banyak biar author makin semangat...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensupport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...
TBC....