
Setelah menunggu lima menit, Andrea segera membaca hasilnya dan...
" Positif." Gumam Andrea senang.
Andrea mengelus perutnya yang rata.
" Ada buah cinta kami di sini, Varo mau punya adik, ya Tuhan.... Terima kasih atas apa yang telah kau berikan kepadaku. Sehat sehat di dalam sini sayang." Monolog Andrea.
" Apa sikapku kepada Daniel karena aku hamil ya? Aku merasa tidak suka berada di dekatnya. Apa ini yang dinamakan bawaan bayi? Dulu waktu hamil Varo, aku sangat bergantung pada Daniel. Tapi sekarang saat hamil anaknya malah aku tidak menyukainya, aneh." Ucap Andrea terkekeh.
" Aku akan memberitahu Daniel nanti aja deh kalau dia udah pulang kerja."
Andrea merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menatap langit langit kabar membayangkan betapa bahagia Daniel jika mengetahui semua ini.
" Kau akan menjadi ayah yang sesungguhnya Niel, akankah kasih sayangmu berubah pada Varo? Aku harap aku tidak salah menilaimu." Ucap Andrea memejamkan matanya.
Siang harinya Daniel dan Varo telah kembali ke rumah. Seperti biasa Daniel akan mengganti seragam Varo dengan baju rumahan nya. Setelah itu dia menyuapi Varo makan siang.
" Dad, Mommy dimana ya? Kok kelihatannya rumah sepi sekali, apa Mommy pergi karena marah sama Varo?" Tanya Varo menatap Daniel.
" Tidak sayang, mungkin Mommy sedang istirahat. Kan kamu tahu sendiri kalau Mommy sedang tidak enak badan." Sahut Daniel.
" Semoga Mommy cepat sembuh ya Dad." Ujar Varo.
" Semoga sayang." Sahut Daniel.
Selesai makan, Daniel menidurkan Varo di kamarnya. Setelah itu ia baru masuk. ke kamarnya sendiri. Daniel menggelengkan kepalanya saat melihat Andrea yang tertidur sambil terlentang.
Sebuah benda di tangan Andrea yang tak lain tespack menjadi pusat perhatiannya. Ia hendak mengambil tespack itu namun Andrea keburu membuka matanya.
" Kamu sudah pulang?" Andrea turun dari ranjang menuju kamar mandi.
Daniel menyusulnya sambil membawa tespack itu.
" Sayang ini gimana hasilnya?" Daniel menghampiri Andrea.
Daniel menunjukkan tespacknya pada Andrea.
" Sayang ini.. " Daniel menjeda ucapannya.
Andrea menganggukkan kepalanya.
" Positif? Maksud kamu, kamu sedang hamil saat ini?" Tanya Daniel memastikan.
Andrea kembali menganggukkan kepalanya.
" Alhamdulillah ya Rob... Engkau telah menitipkan calon bayi pada kami." Ucap Daniel merasa sangat bersyukur.
" Sayang aku sangat bahagia sekali." Daniel menarik Andrea ke dalam pelukannya namun Andrea mendorongnya.
" Nggak usah dekat dekat deh! Aku nggak suka." Ucap Andrea keluar dari kamar mandi.
Daniel menatap kepergiannya sambil melongo.
" Sayang." Panggil Daniel menyusul Andrea.
__ADS_1
" Apa sih!" Ketus Andrea.
" Apa kau tidak senang dengan kehamilan ini? Atau kamu masih marah padaku? Kenapa sepertinya kamu terlihat biasa biasa saja dengan kabar bahagia ini? Apa kau merasa dia tidak istimewa bagimu?" Selidik Daniel.
" Nggak usah asal ngomong deh! Aku senang dengan kehamilan ini tapi entah mengapa aku tidak suka berada di dekatmu." Sahut Andrea membuat hati Daniel mencelos.
" Semua itu pasti ada alasannya Andrea, apa karena kesalahan yang aku lakukan pada Bayu sehingga membuatmu membenciku?" Daniel kembali bertanya.
Ia ingin menyelesaikan masalahnya sampai di sini agar tidak merambat kemana mana. Apalagi saat ini Andrea sedang hamil, ia tidak mau membuat Andrea semakin menjauhinya.
" Nggak ada hubungannya sama Bayu. Udah ah aku mau tidur dan jangan ganggu aku!" Ucap Andrea merebahkan tubuhnya di ranjang.
Daniel meninju udara dengan kesal. Ia semakin tidak nyaman dengan sikap Andrea kepadanya. Untuk meredakan emosinya Daniel menuju ruang gym. Ia meninju samsak dengan keras.
Bugh... Bugh... Bugh...
Keringat deras mengucur di dahi dan tubuh Daniel.
" Daddy, kenapa sepertinya Daddy sedang marah?" Tanya Varo menghampirinya.
Daniel menghentikan kegiatannya. Ia mengusap keringatnya dengan handuk kecil.
" Sini sayang!" Daniel duduk di lantai sambil memangku Varo.
" Daddy tidak marah sayang, Daddy hanya sedang olahraga saja biar sehat. Biar bisa jagain Varo dan Mommy." Ujar Daniel mengusap kepala Varo.
" Benarkah?" Tanya Varo.
" Benar sayang." Sahut Daniel.
Varo menganggukkan kepalanya.
" Varo akan menjadi abang." Ucap Daniel.
" Abang?" Varo membalikkan badannya menatap Daniel.
" Iya... Saat ini mommy sedang mengandung adiknya Varo." Ucap Daniel.
" Yei Varo mau jadi abang." Sorak Varo senang.
" Makanya mulai sekarang Varo tidak boleh nakal! Varo harus menyayangi mommy dan dedek bayinya! Jangan membantah mommy lagi ya sayang! Kasihan mommy kalau sampai mommy banyak pikiran kan kasihan juga dedek bayinya, nanti ikutan sedih." Ujar Daniel.
" Iya Dad, Varo tidak nakal lagi." Sahut Varo.
Daniel tersenyum melihat sikap patuh yang Varo tunjukkan kepadanya.
" Tapi Daddy masih menyayangi Varo kan walaupun Varo mau punya adik bayi?" Tanya Varo.
" Kenapa kamu tanya seperti itu sayang, Daddy akan selalu menyayangimu sampai kapan pun sayang. Kamu anak pertama Daddy dan dedeknya anak kedua Daddy, jadi Daddy akan sama sama menyayangi kalian tanpa Daddy beda bedakan. Kamu lah hidup Daddy sayang." Ucap Daniel menciumi pipi Varo.
" Thank you Dad." Ucap Varo.
" You are wellcome sayang." Sahut Daniel.
Tanpa mereka sadari, Andrea melihat semuanya di depan pintu. Andrea merasa kagum sekaligus terharu melihat kedekatan mereka berdua.
__ADS_1
Walaupun Daniel bukan ayah kandung Varo namun ia sangat menyayangi Varo dan menganggapnya sebagai anak kandung sendiri.
Rasanya tidak adil jika ia terus menjauhi Daniel karena mengikuti perasaannya. Ia tidak boleh egois dengan alasan bawaan bayi. Ia akan mencoba dekat lagi dengan Daniel.
" Mommy." Panggil Varo.
Daniel menatap Andrea begitupun sebaliknya.
" Mommy, kata Daddy Mommy mau punya adek bayi ya?" Tanya Varo.
Andrea tersenyum menatapnya.
" Iya sayang." Sahut Andrea.
" Varo ingin adik perempuan Mom, apa Varo akan mendapatkannya?" Varo kembali bertanya.
" InsyaAllah sayang... Tapi apapun pemberian Tuhan kita harus mensyukurinya." Sahut Andrea.
" Oke Mom." Sahut Varo.
" Mom, Daddy haus. Bisakah Mommy mengambilkan minum untuk Daddy?" Ujar Varo.
" Eh tidak usah! Biar Daddy ambil sendiri saja!" Sahut Daniel.
" Baiklah Mommy akan membuatkan jus strawberry untuk kalian berdua." Ucap Andrea.
" No Mom!" Ucap Daniel dan Varo bersamaan.
" Jus Alpukat." Ucap keduanya.
Andrea menggelengkan kepalanya melihat kekompakan mereka.
" Baiklah Varo, Daddy.. Mommy akan membuatkan jus alpukat untuk kalian berdua." Ucap Andrea.
" Dengan susu coklat." Ucap keduanya lagi.
Andrea menghela nafasnya meninggalkan ruangan itu menuju dapur.
Daniel tersenyum melihat semua itu. Ia merasa Andrea tidak menjauhinya lagi.
" Terima kasih sayang kau selalu menyatukan kami berdua." Ucap Daniel mencium pipi Varo.
" Iya Dad, Varo tahu kalau Mommy bersikap beda sama Daddy, tapi Daddy tidak perlu khawatir karena ada Varo di sini." Ucap Varo bangga.
Daniel tersenyum menatapnya.
" Maafkan aku Bay, aku telah merebut kebahagiaanmu demi kebahagiaanku sendiri. Kini kebahagiaanku semakin lengkap dengan hadirnya anak di antara kami. Semoga anak dan istriku selalu sehat dan selalu dalam lindunginganNya." Ucap Daniel dalam hati.
Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya biar author rajin update nih...
Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All...
TBC...
__ADS_1