Affair With You

Affair With You
Bertemu Teman Baru #Varo#


__ADS_3

Tiba saatnya liburan, lagi ini keluarga Andrea sedang sarapan bersama. Dengan telaten Andrea menyuapi Daniel sambil sesekali menggodanya.


" Dad setelah makan kita jalan jalan ke taman yuk!" Ajak Varo.


Daniel menatap Andrea yang di balas senyuman olehnya.


" Tapi sama Mommy ya, karena Daddy tidak bisa jagain kamu di sana." Ucap Daniel.


" Iya Dad, nanti kalau sampai sana Daddy latihan jalan ya." Ujar Varo.


" Iya sayang, sekarang habiskan dulu makanannya." Sahut Daniel.


" Oke Dad." Sahut Varo.


Setelah selesai makan, Andrea mendorong kursi roda Daniel menuju taman di ikuti Varo dari belakang.


" Daddy lihat kupu kupu itu! Cantik kan seperti Mommy." Ucap Varo menunjuk kupu kupu berwarna hitam yang sedang menghisap putik bunga mawar.


" Iya, tapi lebih cantikan Mommy donk." Sahut Daniel menatap Andrea.


" Apa sih!" Ujar Andrea tersenyum.


" Iya bener Daddy Mom, lebih cantikan Mommy daripada kupu kupu itu karena kami tidak bisa memilikinya seperti kami memiliki Mommy." Ucap Varo membuat Andrea melongo.


" Siapa yang mengajari seperti itu?" Tanya Andrea.


" Daddy." Sahut Varo.


Andrea menatap Daniel yang sedang nyengir kuda.


" Ada ada aja kamu Dad." Andrea menggelengkan kepala.


Ia kembali mendorong kursi rodanya sampai taman.


" Dad ayo belajar berjalan!" Ajak Varo penuh semangat.


" Oke sayang." Sahut Daniel.


Daniel mencoba untuk berdiri, Andrea berdiri di sampingnya berjaga jaga barang kali Daniel terjatuh.


" Ayo Dad! Daddy udah bisa berdiri sendiri." Sorak Varo sambil tepuk tangan.


" Kau penyemangat Daddy sayang." Ucap Daniel.


Daniel mencoba melangkahkan kakinya dengan pelan.


Satu langkah berhasil...


" Yey.... " Varo nampak bersemangat menyemangati Daniel.


" Ayo Dad, sebentar lagi kau bisa berjalan." Ucap Andrea.


" Terima kasih sayang." Ucap Daniel.


Daniel kembali melangkah hingga mencapai empat langkah. Daniel terhuyung ke depan dan....


Brugh....


Tubuh Daniel menimpa Andrea yang hendak menopang tubuhnya, namun usahanya gagal.


" Mommy, Daddy." Varo mendekati keduanya.


" Daddy tidak pa pa?" Tanya Varo cemas.


Andrea menghela nafasnya lelah, selalu saja daddynya yang di khawatirkan, pikir Andrea.


" Dad baik baik saja sayang." Sahut Daniel.

__ADS_1


Andrea membantu Daniel duduk di kursi roda.


" Maafkan aku sayang! Aku selalu merepotkanmu." Ucap Daniel merasa bersalah.


" Nggak usah mulai deh Dad! Pikirkan saja kesembuhanmu karena itu lebih penting dari apapun." Ucap Andrea.


" Iya maaf!" Sahut Daniel.


" Varo pijat ya Dad kakinya." Ujar Varo.


" Tidak usah sayang." Sahut Daniel.


" Apa pijatan Varo nggak enak ya Dad?" Tanya Varo menatap Daniel.


" Bukan begitu sayang, nanti pijatan nya di rumah aja ya." Ucap Daniel di balas anggukan kepala oleh Varo.


" Dad Varo main di sana ya." Varo menunjuk arena bermain anak.


" Boleh, tapi kamu harus hati hati dan jangan nakal sama temannya." Ujar Daniel.


" Oke Dad." Sahut Varo mengacungkan jempolnya.


Varo berlari meninggalkan keduanya. Andrea duduk di rerumputan depan Daniel.


" Varo anak yang baik sayang, dia bahkan tidak malu dengan keadaanku yang seperti ini." Ucap Daniel menatap Varo yang sedang bermain di sana.


" Siapa dulu daddynya." Ucap Andrea.


" Daddy Niel." Sorak Daniel menirukan gaya Varo.


" Ha ha ha." Keduanya tertawa bersama membuat mereka jadi sorotan pengunjung lainnya.


Andrea tersenyum ke arah mereka.


Tak lama terdengar suara keributan dari arah Varo bermain. Ia nampak sedang marah marah dengan anak laki laki yang lebih tua darinya.


Tanpa menunggu jawaban Daniel, Andrea mendorong kursi rodanya menghampiri Varo.


" Memangnya kenapa kalau Daddy Varo tidak bisa berjalan hah? Dia baru saja mengalami kecelakaan." Bentak Varo.


" Kalau aku malu lah punya papa seperti itu, cacat nggak bisa jalan. Ngapain juga di bawa jalan jalan ke sini, dasar tidak punya malu." Ucapnya.


" Astaga... Anak siapa ini? Kenapa bicara tidak sopan seperti itu?" Tanya Andrea menatapnya.


" Kenapa? Aku anak mamaku." Sahutnya.


Benar benar tidak sopan.


" Adek tampan... Nggak baik bicara seperti itu pada orang lain. Kita harus menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda. Kita tidak boleh menghina orang lain, dan kita tidak boleh memandang rendah orang lain." Ucap Andrea lembut menasehati anak itu.


" Mamaku tidak pernah mengajarkan aku seperti itu. Dia selalu sibuk dengan urusannya sendiri." Ucapnya.


Andrea paham jika anak di depannya kurang perhatian.


" Makanya tante menasehatimu, kamu ingin punya banyak teman kan?" Tanya Andrea.


Anak itu menganggukkan kepala.


" Kalau mau banyak teman kita harus menghargai orang lain, minta maaf jika melakukan kesalahan, dan jaga pertemanan." Ucap Andrea.


Anak itu menatap Varo.


" Maaf!" Ucapnya sambil mengulurkan tangannya.


" Aku maafkan, siapa namamu?" Tanya Varo.


" Namaku Firman." Ucapnya.

__ADS_1


" Oh Bang Firman." Ucap Varo.


" Bang?" Firman mengerutkan keningnya.


" Iya Abang, kau lebih tua dariku jadi aku panggil kamu Abang, adikku juga memanggilku Abang." Ujar Varo.


" Kau punya adik?" Tanya Firman.


" Punya, tapi aku tidak punya Abang. Maukah kau menjadi abangku?" Tanya Varo.


" Iya aku mau." Sahut Firman cepat.


" Sekarang kita saudara." Ucap Varo.


" Saudara." Sahut Firman.


Firman mendekati Daniel.


" Om aku minta maaf ya karena aku telah menghina Om." Ucap Firman.


" Om maafkan, tapi jangan di ulangi lagi ya." Ujar Daniel.


" Iya Om. Bolehkah aku menjadi saudara Varo?" Tanya Firman lagi.


" Iya boleh." Sahut Daniel.


" Makasih Om, Tante." Ucap Firman.


Andrea dan Daniel menganggukkan kepalanya.


" Varo ayo kita bermain!" Ajak Firman.


" Oke." Sahut Varo.


Mereka kembali bermain dengan akur sampai hari menjelang siang.


" Sayang ayo kita pulang! Kasihan Angeline udah lama di tinggal." Ucap Andrea.


" Iya Mom." Sahut Varo.


Setelah berpamitan dengan Firman mereka pulang ke rumah. Mereka masuk ke dalam kamar setelah membersihkan diri masing masing.


" Mom kata bang Firman, dia tidak punya ayah." Ucap Varo duduk di ranjang mendekati Angeline.


" Iya kah? Kasihan juga ya dia." Ujar Andrea.


" Bagaimana rasanya tidak punya ayah ya Dad? Beruntung Varo memiliki ayah yang baik seperti Daddy. Kalau tidak Varo pasti akan sangat sedih seperti bang Firman yang selalu merindukan ayahnya." Ujar Varo memeluk perut Daniel yang sedang duduk bersandar pada head board.


" Daddy tidak akan pernah meninggalkanmu sayang, Daddy sangat menyayangimu, menyayangi Mommy dan Angeline. Doakan Daddy selalu sehat agar Daddy bisa menjaga dan menemani kalian semua." Ucap Daniel mengelus kepala Varo.


" Iya Dad, setiap habis solat Varo selalu berdoa untuk Daddy. Tapi kalau untuk Mommy Varo jarang jarang Dad." Lirih Varo agar tidak terdengar Andrea. Namun Andrea masih bisa mendengarnya.


" Dasar anak Daddy, apa apa Daddynya yang di utamakan. Aku jadi iri sama kamu Dad." Ucap Andrea.


Daniel tersenyum mendengar ucapan Andrea.


" Yang sabar Mom, Varo juga sayang kok sama Mommy. Ya nggak sayang?" Tanya Daniel menatap Varo.


" Iya Dad, tapi Varo lebih sayang Daddy." Sahut Varo membuat Daniel terkekeh.


Jangan lupe tekan like untuk mensuport karya author...


Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All....


TBC...

__ADS_1


__ADS_2