
Di sebuah masjid di pusat kota Jakarta sedang berlangsung acara pernikahan Andrea dan Daniel dengan papa Andrea sebagai wali. Dengan satu kali tarikan Daniel berhasil melafazkan ijab qobul yang di saksikan dua saksi yang langsung mengucap kata sah.
" Selamat sayang, semoga kalian bahagia." Nyonya Dewi memeluk Andrea.
" Amin... Terima kasih Ma." Sahut Andrea.
" Selamat sayang, semoga kau selalu bahagia bersama suami dan putramu, dan jangan lupa buatkan cucu yang banyak untuk Papa." Kali ini tuan Antoni yang memeluk putri tercintanya.
" Terima kasih Pa, doakan semoga aku bisa segera memberikan kalian cucu lagi." Ucap Andrea penuh arti.
" Tentu sayang, cinta akan hadir seiring berjalannya waktu, jika kau sudah bertekad maka Tuhan akan memudahkan jalannya." Ujar tuan Antoni.
" Selamat Daniel! Aku serahkan putriku kepadamu, lindungi dan sayangi dia seperti selama ini!" Tuan Antoni memeluk Daniel.
" Terima kasih Om." Sahut Daniel.
" Papa donk! Sekarang kamu menantuku." Ujar tuan Antoni.
" Baik Pa." Sahut Daniel.
Nampak Wahyu menghampiri mereka.
" Selamat Nona Andrea dan tuan Daniel, saya doakan semoga kalian bahagia." Ucap Wahyu.
" Terima kasih Yu." Sahut Andrea.
" Terima kasih Bro." Daniel menepuk pundak Wahyu.
" Kalau begitu saya permisi, sampaikan salam saya untuk tuan kecil." Pamit Wahyu.
" Baiklah hati hati, aku akan menyampaikannya." Sahut Daniel.
Wahyu keluar meninggalkan mereka.
" Ayo kita pulang! Pasti Varo sudah menunggu." Ucap Daniel.
Mereka sengaja tidak membawa Varo untuk menghindari banyak pertanyaan darinya. Yang dia tahu mommy dan daddynya sudah menikah sejak dia belum lahir.
Mereka kembali ke rumah menggunakan dua mobil. Di dalam perjalanan Daniel terus menggenggam tangan Andrea.
" Terima kasih Re kau telah menjadikan aku suamimu, walaupun kau belum bisa menerimaku setidaknya kau telah menjadikan kalian berdua milikku sepenuhnya." Ucap Daniel.
" Aku yang seharusnya berterima kasih padamu Niel, karenamu kebahagiaan ini hadir dalam hidupku, aku akan berusaha untuk menerimamu secepatnya." Sahut Andrea.
" Aku akan menunggu waktu itu tiba seperti aku menunggumu selama ini, bolehkah aku memanggilmu sayang mulai hari ini?" Tanya Daniel.
Andrea menatap Daniel begitupun sebaliknya, namun Daniel lebih dulu memutus tatapannya karena kembali fokus ke depan.
" Kau berhak memanggilku apapun, sekarang aku istrimu dan sekarang aku milikmu." Sahut Andrea.
" Terima kasih sayang." Daniel mencium tangan Andrea. Andrea membalas dengan senyuman.
Sesampainya di rumah, Daniel menggandeng tangan Andrea masuk ke dalam.
" Daddy... " Varo berlari menghampiri Daniel.
Daniel segera menggendongnya.
" Halo sayang." Daniel mencium pipi Varo.
" Kenapa Daddy nggak bawa koper? Katanya Dad mau tinggal di sini?" Tanya Varo.
__ADS_1
" Kita memang akan tinggal bersama sayang, tapi bukan Dad yang tinggal di sini melainkan Varo dan mommy yang akan tinggal di rumah Daddy." Sahut Daniel.
" Its really Mom?" Varo menatap Andrea.
" Iya sayang, kamu mau kan tinggal di rumah Daddy?" Tanya Andrea.
" Tentu Mom, dimanapun kita tinggal yang penting kita tinggal bersama Daddy." Sahut Varo.
Andrea tersenyum mendengarnya.
" Dad ayo kita main!" Ajak Varo.
" Ayo!" Daniel membawa Varo ke ruangan bermainnya.
Andrea duduk bersama kedua orang tuanya.
" Kamu mengambil keputusan yang tepat Re." Ucap nyonya Dewi.
" Iya Ma, hampir saja aku kehilangan Daniel, sebelum aku ke rumah Daniel aku menerima kabar dari Wahyu kalau Daniel akan meninggalkan negara ini, sekretarisnya ke sana mengirim berkas berkas kepindahannya, beruntung aku datang tepat waktu Ma, dan aku mengambil keputusan ini untuk kebahagiaan kami bertiga." Sahut Andrea.
" Daniel pria yang baik Re, jangan sia siakan dia! Berusahalah untuk membalas perasaannya, tinggalkan masa lalu karena itu akan menjadi bayang bayang masa depanmu, lihatlah keceriaan Varo jika dia dekat dengan Daniel, kau tidak akan mendapatkan kesempatan mendapatkan Daniel kembali jika sampai kau melepaskannya." Ujar nyonya Dewi.
" Iya Ma aku akan berusaha secepatnya, aku juga tidak mau jika masa laluku menjadi penghalang kebahagiaanku dan Varo, doakan yang terbaik untuk keluarga kami Ma." Ucap Andrea.
" Mama selalu memanjatkan doa terbaik untukmu sayang." Sahut nyonya Dewi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam tujuh malam Daniel memboyong Andrea dan Daniel ke rumahnya. Ia menggendong Varo masuk ke dalam kamarnya. Andrea mengamati kamar Daniel, kamar yang di dominasi dengan warna abu abu.
" Sekarang Varo bobok di sini!" Daniel menurunkan Varo di ranjangnya.
" Wah ternyata kamar Daddy lebih besar dari kamar Varo." Ucap Varo kagum.
" Iya Dad benar." Sahut Varo.
" Dad di sini ada foto pernikahan Daddy sama Mommy, kenapa di rumah tidak ada?" Tanya Varo saat melihat foto pernikahan orang tuanya terpapang di dinding.
Andrea menoleh ke foto itu, ia tidak menyangka kalau Daniel akan memasang fotonya secepat itu. Andrea dan Daniel nampak tersenyum bahagia di foto itu.
" Daddy punya fotonya cuma satu sayang, dan itu sudah di pasang di sini kan? Tapi kalau kamu mau Dad akan memasangnya juga di kamarmu, Dad akan mengedit kembali foto itu." Ujar Daniel.
" Tidak usah Dad, lagian Varo tidak mau kembali ke sana, Varo ingin tinggal bersama Daddy selamanya." Ucap Varo memeluk Daniel.
Daniel tersenyum bahagia.
" Mom sini donk! Jangan berdiri terus di sana! Entar pegal lagi kakinya." Ucap Daniel menepuk kasur di sisi kanannya.
" Iya Mom sini! Ayo kita bobok bertiga seperti impian Varo selama ini." Ucap Varo.
" Iya sayang." Andrea naik ke atas ranjang.
" Peluk aku Mom, Dad." Ucap Varo.
Andrea menatap Daniel begitupun sebaliknya. Keduanya meletakkan tangan mereka ke perut Varo.
" Bukan begitu Mom, Dad! Peluk yang benar!" Protes Varo.
Akhirnya mau mau tidak mau Daniel dan Andrea memeluk Varo seperti pasangan pada umumnya. Mereka terlelap ke dalam mimpi.
Pagi hari Andrea mengerjapkan matanya. Ia sangat terkejut pasalnya ia berpelukan dengan Daniel tanpa ada Varo di tengah mereka.
__ADS_1
" Varo." Panggil Andrea.
Daniel yang mendengarnya membuka matanya. Ia juga sama terkejutnya dengan Andrea karena saat ini tangannya masih melingkar sempurna di pinggang Andrea.
" Niel Varo mana?" Andrea nampak cemas.
Keduanya bangun dengan tergesa,
Dugh...
Kepala mereka beradu.
" Awh." Pekik Andrea mengelus kepalanya.
" Maaf maaf sayang." Daniel mengusap kepala Andrea.
Andrea menatapnya begitupun sebaliknya. Untuk sesaat mereka saling melempar pandangan.
Deg deg...
Jantung Daniel berdetak sangat kencang.
" Mommy Daddy kenapa kalian berisik sekali?" Gumam Varo.
Andre dan Daniel menoleh ke asal suara.
" Sayang kenapa kamu tidur di situ?" Andrea menatap Varo yang tidur di belakang Daniel.
" Varo juga nggak tahu Mom, ya sudah Varo masih mau bobok dulu Mom, masih mengantuk." Varo memejamkan matanya.
Daniel dan Andrea saling pandang, lalu mereka saling melempar senyuman.
" Sepertinya Varo sengaja ingin mendekatkan kita sayang, sini tidur lagi!" Daniel menepuk bahunya.
" Enggak ah! Aku mau turun menyiapkan sarapan untuk kalian." Ujar Andrea hendak turun tapi Daniel mencekal tangannya.
" Kenapa?" Andrea menatapnya.
Daniel mendekat ke arah Andrea mengikis jarak di antara mereka.
Jantung Andrea berdetak kencang, ia bahkan memejamkan matanya tidak berani menatap Daniel.
Cup...
Benda kenyal menempel pada kening mulusnya.
" Kecupan semangat untuk mengawali aktifitas." Ucap Daniel.
Andrea membuka matanya menatap Daniel.
" Kenapa hmm? Apa masih kurang? Baiklah aku akan mencium pipi dan bibirmu juga." Ucap Daniel.
" Eh enggak enggak! Ini sudah cukup." Andrea segera turun dan berlari ke kamar mandi.
" Hei hati hati sayang." Ucap Daniel terkena melihat tingkah Andrea.
" Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu jatuh cinta padaku sayang." Gumam Daniel bahagia.
Biasakan tekan like setelah membaca ya... Ha ha author memaksa.... Untuk menjaga performa ya...
Terima kasih yang udah ngelike, kasih vote dan mawar buat author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...
TBC...