
Hari hari berlalu begitu cepat tiga bulan sudah pernikahan Daniel dan Andrea namun hubungan mereka monoton. Tidak ada perubahan yang signifikan. Sampai sekarang belum ada ungkapan cinta dari Andrea, tapi mereka terlihat seperti pasangan suami istri yang nampak harmonis di mata yang melihatnya.
Saat ini mereka sedang sarapan bersama.
" Mom, Daddy di sukai oleh ibunya teman Varo lhoh." Ucap Varo.
Andrea langsung menatap Daniel yang sedang sibuk dengan makanannya.
" Benarkah?" Andrea menatap Varo.
" Iya Mom, ibunya Tasya selalu kegenitan kalau lihat Daddy." Ujar Varo.
" Kegenitan gimana maksud kamu?" Tanya Andrea.
" Gini... Eh daddynya Varo yang tampan kok semakin tampan aja sih! Aku mau lho jadi mommynya Varo." Varo menirukan gaya wanita yang sedang di bicarakan.
" Iya kah?" Andrea tidak percaya.
" Iya... Apa Mommy tahu?" Andrea menggelengkan kepalanya.
" Daddy suka di kasih bekal makan siang sama dia."
Uhuk uhuk uhuk..
Daniel tersedak makananya sendiri. Pasalnya ia menyembunyikan soal bekal makan siang dari Varo. Lalu kenapa sekarang Varo mengetahuinya.
Daniel meminum segelas air putih di depannya. Andrea menatap tajam ke arahnya.
" Dan Daddymu menerimanya?" Tanya Andrea tanpa mempedulikan Daniel. Ia lebih tertarik dengan cerita yang di sampaikan Varo kepadanya.
" Iya Mom, Daddy selalu bilang... Terima kasih nona Karin, gitu." Sahut Varo.
" Varo sudah ah! Kamu akan membuat salah paham antara Mommy dan Daddy sayang." Ujar Daniel.
" Tapi memang itu kenyataannya kan Dad, Daddy selalu meminta Varo langsung masuk ke kelas saat baru tiba di sekolah, sedangkan Daddy berduaan sama ibunya Tasya di depan sekolah." Sahut Varo.
Daniel menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Memangnya seperti apa ibunya Tasya itu? Apa dia lebih cantik dari Mommy?" Tanya Andrea menatap Varo.
" Kalau masalah cantik tetap cantikan Mommy donk! Tapi usianya sama kaya' Mommy, dia juga seperti orang kantoran Mom." Ujar Varo.
" Varo sudahlah! Jangan bahas hal hal yang tidak penting sayang." Ujar Daniel.
" Ini penting Dad, Varo harus memberitahu Mommy supaya Mommy bisa menjaga Daddy, Varo tidak mau kalau sampai Daddy di rebut oleh ibunya Tasya, apalagi selama ini Mommy terlihat cuek sama Daddy."
Deg...
Ucapan Varo menohok hati Andrea.
" Benarkah aku secuek itu sama Daniel? Aku merasa belum mencintainya tapi kenapa mendengar cerita Varo aku jadi takut kehilangannya? Aku merasa tidak rela ada wanita lain yang menginginkan Daniel sebagai suaminya? Ya Tuhan... Apa yang terjadi dengan hatiku? Aku jadi bingung sendiri." Batin Andrea.
" Mom... Mommy dengar kan?" Tanya Varo.
" I.. Iya sayang." Sahut Andrea.
__ADS_1
Andrea menatap Daniel yang saat ini sedang menatapnya.
" Varo sudah mengatakan semuanya yang ia tahu, tapi aku ingin mendengarnya langsung darimu Dad." Ucap Andrea.
" Ya Varo memang benar kalau dia selalu mendekatiku, sepertinya dia mengira aku seorang duda karena selama ini aku mengantar jemput Varo sendirian." Ucap Daniel.
" Soal makan siang, aku hanya menghargai usahanya saja, aku memang menerimanya tapi aku tidak pernah memakan makanan itu, aku memberikannya pada pak satpam di kantorku." Sambung Daniel.
" Tapi kau menunjukkan sikap wellcome padanya, apa kau menyukainya?" Selidik Andrea.
" Apa kau cemburu?" Daniel menatap mata Andrea membuat Andrea menjadi gugup.
" Ti.. Tidak." Andrea menggelengkan kepalanya.
" Syukurlah kalau kamu tidak cemburu, itu artinya tidak masalah kalau aku dekat dengannya." Ucap Daniel.
Andre melongo menatap Daniel.
" Apa maksudmu Daniel? Apa kamu benar benar menyukainya?" Tanya Andrea.
" Tidak perlu berdebat Andrea! Ada Varo di sini." Ucap Daniel.
Andrea menatap Varo.
" Sayang kamu ke kamar dulu ya, Mom perlu bicara sama Daddy." Ujar Andrea.
" Oke Mom." Varo meninggalkan kedua orang tuanya.
Andrea kembali menatap Daniel.
" Katakan! Apa kau benar benar menyukainya?" Desak Andrea
" Daniel... Aku peduli dengan semua ini, aku peduli akan perasaanmu, aku..
" Lalu kenapa sampai sekarang kau tidak membalas perasaanku?" Tanya Daniel memotong ucapan Andrea.
" Daniel aku...
" Karena kau masih mencintai Bayu, di hatimu masih ada Bayu, di setiap hari harimu masih ada Bayu, bahkan mungkin di setiap nafas dan detak jantungmu masih ada Bayu Andrea. Kau menikahi ku bukan untuk menjadi suamimu tapi menjadi ayah dari anakmu itu sebabnya kau menutup hatimu untukku dan kau tidak memberikan hak itu untukku, hak untuk menyentuh hatimu." Sahut Daniel.
" Daniel aku tidak percaya ini, aku tidak percaya kau bisa berpikir seperti itu padaku, aku membiarkanmu mencium ku, aku mencoba menerima apapun yang kau lakukan padaku, walaupun aku belum memberika diriku sepenuhnya kepadamu, tapi setidaknya aku memberikan hak yang lain kepadamu, tapi kenapa kau bisa berpikir seperti itu?" Ucap Andrea.
" Lalu aku harus berpikir seperti apa Andrea? Kau berjanji akan memberikan cintamu padaku, kau berjanji akan membalas perasaanku, kau berjanji akan menggantikan nama Bayu dengan namaku, tapi bagaimana bisa kau melakukan semua itu kalau kau tidak bisa melupakan Bayu?" Daniel mengusap rambutnya kasar.
" Daniel percayalah aku sedang berusaha melupakannya dari hidupku dan menghapus namanya dari dalam hatiku." Sahut Andrea.
" Apa kau yakin bisa?" Daniel menatap Andrea dengan tatapan menyelidik.
" Aku pasti bisa." Sahut Andrea mantap.
Ya Andrea ingin melupakan kenangan bersama Bayu. Ia tidak mau hidup dalam bayang bayang masa lalu. Ia ingin bahagia bersama Daniel dan Varo kedepannya.
" Bagaimana bisa kau melupakannya kalau setiap saat kau membuka buku diarymu kau melihat fotonya?"
Deg...
__ADS_1
Jantung Andrea berdetak kencang. Ia lupa membuang foto Bayu dari buku diary nya. Apa Daniel menemukannya?
" Aku terima kalau membawa buku diarymu ke sini, kau butuh privasi untuk mengungkapkan semua isi hatimu di buku itu karena tidak semuanya bisa kau ceritakan kepadaku, tapi bagaimana aku bisa menerima jika masih ada foto Bayu di dalam sana?" Tanya Daniel.
" Sejak pindah ke rumah ini, aku tidak pernah membuka buku itu." Ucap Andrea.
" Apa aku harus mempercayainya? Aku suamimu, kau bahkan tidak pernah menyimpan fotoku walaupun hanya di ponselmu. Lalu aku harus bagaimana Andrea? Apa aku tetap harus mempercayaimu?" Tanya Daniel.
" Kau harus percaya." Sahut Andrea.
" Baiklah aku mempercayainya, aku juga akan mempercayaimu kalau kau akan membalas cintaku, entah itu akan tepat pada waktunya ataupun terlambat, aku pergi dulu!" Daniel meninggalkan Andrea sendirian di sana.
Entah mengapa setelah kepergian Daniel, Andrea merasakan kesedihan dalam hatinnya
" Hiks... Hiks... Kenapa rasanya begitu sakit menghadapi sikap Daniel yang seperti ini? Yang biasanya dia begitu manis kini dia begitu dingin denganku hanya karena masalah foto itu. Apa yang sebenarnya hatiku rasakan? Apakah aku mencintainya atau aku masih menganggapnya sebagai sahabat? Ya Tuhan berikan petunjukmu untuk memastikan semuanya." Isak Andrea menahan sesak di dadanya.
Mendengar deru mobil Daniel yang meninggalkan rumahnya, Andra mengusap air matanya, ia segera mengikuti mobil Daniel yang sudah melaju ke sekolah Varo.
Sesampainya di depan sekolah, nampak Daniel dan Varo turun dari mobil. Mereka sudah di sambut oleh Karin dan putrinya.
" Pagi Daddynya Varo, apa kabar hari ini?" Tanya Karin menatap Daniel.
" Seperti biasa Nona Karin." Sahut Daniel.
" Varo kamu masuk kelas gih! Daddy akan menjemputmu nanti." Ucap Daniel mengelus kepala Varo.
" Oke Dad." Sahut Varo berjalan menuju kelasnya di ikuti Tasya dari belakang.
" Oh ya ini bekal untuk Daddynya Varo." Karin memberikan kotak makanan kepada Daniel.
" Terima kasih Nona Karin." Sahut Daniel menerimanya.
Tak terima dengan semua ini, Andrea turun menghampiri mereka berdua.
" Ambil kembali kotak makan itu Nona! Karena suami saya tidak membutuhkannya." Andrea merebut kotak makan itu lalu memberikannya kepada Karin.
" A... Apa? Suami?" Karin menatap Andrea tidak percaya.
" Ya.. Dia suami saya, kenapa memangnya?" Andrea menatap tajam ke arah Karin.
" Pasti kamu tidak memberikan perhatian kepada suami kamu makanya dia mau menerima perhatian dari wanita lain." Cebik Karin meninggalkan mereka.
Andrea melongo mendengar ucapan Karin.
" Hei tunggu! Akan aku kasih pelajaran kamu." Teriak Andrea.
" Sayang sudah ya! Ini di sekolahan, malu kalau di lihat orang apalagi kalau di lihat sama anak anak." Ucap Daniel.
Dengan kesla Andrea meninggalkan Daniel begitu saja. Ia melajukan mobilnya menuju kantornya. Daniel hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat mobil Andrea yang semakin menghilang.
"Semoga kau menyadari perasaanmu padaku Re." Batin Daniel.
Jangan lupa tekan like koment vote dan 🌹yang banyak buat author ya...
Terima kasih untuk kalian semua yang sudah mensuport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U all...
TBC..