AFTERNOON WITH YOU

AFTERNOON WITH YOU
IQ minus.


__ADS_3

Pulang Sekolah.


Gia sedang asik mengobrol dengan Hanna.


"Iya, soal ujian tadi gampang ya?" Ucap Gia dengan entengnya.


"Gampang dari mana? Soal nya itu susah-susah semua! Lo bilang gitu pasti karna Lo frustasi kan? Nilai Lo jeblok terus. Haha!" Ejek Hanna.


"Haha, Lo jangan ledek Gue kayak gitu dong! Lo lihat saja nanti setelah nilai ujian keluar, nilai Gue pasti lebih besar dari Lo!" Ucapnya dengan angkuh.


"Hahaha... Iya lebih besar, pasti bakal sebaliknya iyakan?" Ucap Hanna sembari terus mengejeknya.


"Gak akan sebaliknya! Yang ada nanti Lo yang bakal dapat nilai jeblok! Lo lihat saja, siapa yang bakal lebih unggul? Bahkan nanti Adi sama Egi juga nilainya bakalan kalah sama Gue!" Ucap Gia menjanjikan.


"Hah! Ngaco! Anak ini pasti lagi mabok!" Gumam Hanna sembari terus tertawa meledek.


Setelah melewati persimpangan, seperti biasa Gia dan Hanna selalu berpisah di situ. Hanna pulang sendiri karna jalan ke rumahnya dengan Gia berlawanan arah. Saat berjalan tiba-tiba ada seseorang dengan motor besarnya mencegat Hanna.


"Hanna, ayo sini naik motor Gue!" Tawar orang itu yang tidak lain tidak bukan adalah Adi.


"Adi gak usah repot-repot! Gue bisa kok pulang jalan kaki." Tolak Hanna ragu-ragu.


"Ehhh... Ayo cepetan naik! Rumah Lo kan sama rumah Gue searah. Lagian kita kan sudah jadi teman." Ucap Adi sembari menunjukkan senyum manisnya yang bisa membuat jantung siapa saja akan berdegup kencang ketika melihat senyumannya itu.


Hanna langsung pasrah setelah melihat tatapan Adi dengan senyuman manisnya, lalu ia naik motor Adi. Saat akan menjalankan motornya, tiba-tiba Adi tancap gas membuat Hanna kaget dan langsung memeluk erat Adi seperti waktu itu yang pernah ia lakukan. Adi langsung berbalik dan menatap Hanna kaget setelah Hanna memeluknya lagi sambil ketakutan.


"Maaf, maafin Gue!" Kemudian Adi menjalankan motornya pelan-pelan.


*****


Di Rumah.


Kembali pada Gia yang seperti biasa setelah pulang sekolah, ia selalu merebahkan diri di kasur sembari memainkan Ponselnya. Tak lama, Andrean si penagih hutang meneleponnya.


"Apa lagi?"


^^^"Gia, ini sudah 3 hari. Tenggatnya sudah habis."^^^


"Lalu?"


^^^"Bayar sekarang juga! Karna aku tidak mau memberimu waktu lagi! Ini sudah kelebihan."^^^

__ADS_1


Gia langsung mendengus kesal.


^^^"Kalau kamu dan orang tua kamu tidak membayar, maka aku akan membawa buldozer untuk menghancurkan rumahmu." Ancam Andrean.^^^


Gia langsung naik pitam, ia berusaha menahan emosinya.


"Iya-iya, sekarang aku bayar sekarang!" Ucap Gia dengan emosi yang menggebu-gebu.


^^^"Oke, aku tunggu di restoran, tempat kita ketemu waktu itu."^^^


Gia langsung mematikan teleponnya, lalu ia berjalan keluar kamar menuju kamar kedua orang tuanya. Kebetulan ibunya sedang pergi berbelanja sedangkan ayahnya kembali pergi keluar kota untuk urusan bisnis.


Gia langsung membuka brankas besi milik ibunya yang ber-kodekan nomor. Ia sudah tahu apa kode yang di sematkan ibunya untuk membuka brankas tersebut. Karna brankas milik ibunya itu merupakan tempat untuk menyimpan banyak uang, kartu ATM, dan barang-barang berharga lainnya yang ternilai harganya.


Dengan cepat, ia mengambil kartu ATM milik ayah dan ibunya. Entah ia lupa? Atau pura-pura lupa dengan janjinya waktu itu yang akan melunasi hutang kedua orangtuanya dengan uangnya sendiri tanpa melibatkan uang kedua orang tuanya agar tak terbebani. Tapi rupanya, ia telah melanggar janjinya.


Setelah mengambil kartu ATM milik kedua orangtuanya, ia langsung bergegas pergi menemui Andrean di restoran untuk melunasi semua hutang-hutang kedua orangtuanya.


*****


Masih Siang hari.


"Sayang, kamu sudah pulang?" Tanya Olivia sambil mencoba bangun dari kasurnya berniat ingin duduk.


"Sudah berbaring saja, jangan duduk! Kamu masih lemas." Ucap Egi perhatian sambil menyelimuti Olivia dan mencium keningnya.


"Kamu sudah makan?" Tanya Egi sambil tersenyum manis padanya dan menggenggam erat tangan kekasihnya itu.


"Belum!" Jawab Olivia sambil membalas senyuman Egi dengan wajah memelas.


"Ini aku bawain kamu bubur. Tadi pas pulang sekolah, aku bikin dulu bubur di rumah." Ucap Egi sambil membuka kotak makan yang berisi bubur. Olivia langsung tersenyum senang melihatnya.


"Suapin!" Pinta Olivia manja.


Egi langsung menyuapinya dengan penuh kasih sayang, sesuap demi sesuap. Setelah menghabiskan buburnya, Egi memberinya obat. Setelah itu ia menemani Olivia tidur hingga semalaman. Ia berbaring di samping Olivia sambil membelai rambutnya dan memeluknya seperti layaknya sepasang suami-istri yang sedang tertidur bersama.



"Sayang! Maafin aku ya, sudah merepotkan kamu dari kemarin." Ucap Olivia dengan wajah memelas.


"Gapapa! Inikan sudah kewajiban aku buat selalu menjaga kamu." Balas Egi sembari memeluk erat tubuhnya dari belakang.

__ADS_1


"Sayang, kamu nemenin aku disini, kamu gak akan pulang ke rumah? Tiap malam, kamu jarang pulang ke rumah semenjak aku di rawat." Tanya Olivia.


"Kalau aku pulang. Nanti disini siapa yang akan menemani kamu tidur? Siapa yang akan menjaga kamu? Siapa yang akan memanggil dokter kalau impusan kamu sudah habis? Kalau aku gak ada di sini." Jelas Egi, membuat Olivia terharu dan semakin memeluk erat kekasih tercintanya itu.


*****


Keesokan paginya.


Di Sekolah.


Gia datang lebih pagi. Ini adalah ujian terakhirnya. Ia sengaja datang lebih pagi, karna ia punya rencana untuk bertemu Egi.


Setelah sampai di kelas. Tak ada satupun yang belum datang, kecuali dirinya yang baru pertama kali datang lebih awal.


Tak lama, Egi tiba. Gia langsung senang ketika melihatnya. Kemudian ia menghampiri Egi yang sudah duduk di bangku.


"Hai Egi!" Sapa Gia sembari cengengesan.


"Hai Gi. Tumben kamu datang lebih awal?" Tanya Egi dengan raut wajah terkejut.


"Iya nih!" Jawab Gia sembari masih cengengesan.


"Egi, aku pengen ngobrol..."


Belum selesai ia bicara, tiba-tiba ponsel Egi berbunyi menandakan ada telepon yang masuk.


"Sebentar yaa!" Egi langsung bergegas keluar dan mengangkat teleponnya.


Gia langsung menatap jengkel Egi yang masih sibuk berteleponan di luar. Sementara di kelas, hanya Gia dan Egi saja yang baru datang, sementara murid yang lainnya masih belum datang. Kemudian ia melihat dinding yang berada di pojokan belakang yang masih belum di pasangi CCTV. Gia langsung kembali menatap Egi pelan-pelan dari kejauhan. Dan di sana Egi masih sibuk berteleponan dengan seseorang.


Tak lama, dengan cepat ia nekat membuka tas Egi lalu mengeluarkan semua pulpen yang di bawa Egi di kotak pensilnya. Ia bingung harus menyembunyikan semua pulpennya Egi dimana? Agar Egi tak bisa menggunakannya saat ujian.


Kemudian ia punya rencana gila. Dengan IQ minusnya, ia membuka rel sleting roknya lalu memasukan semua pulpen nya ke dalam ****** ********. Dengan raut wajah panik dan ketakutan, ia berusaha memantau Egi yang masih sibuk berteleponan di luar. Sembari berharap, Egi tak melihat tindakan bodohnya yang saat ini masih ia lakukan.


Setelah memasukkan semua pulpen Egi yang jumlahnya lebih dari sepuluh. Kemudian ia berlari sempoyongan dan kembali duduk di bangkunya.


Tak lama, sebagian murid mulai berdatangan. Gia langsung bernafas lega. Tak ada yang melihat aksi nekatnya kali ini. Ia merasa bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan dalam hati. Ia merasa Tuhan telah membantunya dalam tindakannya tersebut dan selalu melindunginya. Ia merasa Tuhan akan selalu berpihak padanya.


...----------------...


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2