
Malam hari
Pukul 21.00.
Di rumah.
Gia sedang mondar-mandir di kamarnya sembari menunggu telepon dari Egi. Ia terus mondar-mandir sembari menggigit kuku jarinya.
"Kalau Gue tau jadinya bakal kayak gini, ngapain Gue harus cegah dia buat kembali ke sekolah lamanya. Lebih baik Egi pindah saja dari sekolah ini." Gumam Gia kesal.
Tak lama, ponsel Gia berdering menandakan telepon masuk dari nomor tak di kenal.
"Eits, siapa yang menelepon Gue? Apakah ini Egi?" Gumamnya, lalu tanpa berpikir lama-lama ia langsung mengangkat teleponnya.
"Halo? Apakah ini Egi?"
^^^"Besok datang lebih pagi ke sekolah, dan tunggu di halte bus tepat jam 06.00 pagi."^^^
"Pagi-pagi sekali, tapi ngomong-ngomong ini Egi kan? Ha-halo?"
Gia langsung kaget saat teleponnya sudah di matikan begitu saja, padahal dia belum selesai bicara.
"Kenapa sih nih orang? Apa jangan-jangan, ini beneran Egi yang telepon?" Pikir Gia.
Namun tak lama ada notifikasi pesan yang masuk dari nomor yang tadi meneleponnya, Gia langsung membuka pesan tersebut dan membaca isinya.
["Datang saja tepat waktu pukul 06.00. Jangan sampai telat, kalau tidak? Akan ada akibatnya kalau melanggar perintah. Dan setelah membaca pesan ini, tolong jangan di balas."]
"I-ini beneran nomor Egi kan?" Pikir Gia.
"Sudahlah, gk usah di pikirkan! Datang saja dulu!" Gumamnya lagi sembari berbaring di kasur untuk tidur.
Sebelum tidur, ia memasang alarm terlebih dahulu agar tidak bangun telat.
*****
Keesokan paginya.
Pukul 06.00 pagi.
Masih di rumah, Gia sedang bersiap pergi ke sekolah. Saat ia sedang mengenakan sepatu, ibunya kaget melihat putrinya sudah mengenakan seragam sekolah dan siap berangkat. Padahal tak seperti biasanya Gia berangkat sekolah lebih pagi.
"Kamu mau berangkat pagi-pagi? Tumben sekali?" Tanya ibunya berdenyit heran.
Gia berpikir sejenak mencari alasan.
"Ah mama, sekali-kali Gia berangkatnya lebih awal dari pada kesiangan terus, masa Gia harus terus-menerus bayar denda setiap kesiangan." Ucapnya sembari cengengesan.
"Iya, tapi tidak sepagi ini juga." Ucap ibunya merasa aneh dengan gelagat Gia.
"Gapapa mah, datang lebih awal lebih baik dan dapat nilai plus tambahan juga." Ucapnya beralasan.
"Oh gitu ya? Ya sudah, anak mama sekarang sudah mulai berubah ya." Ucap ibunya senang, Gia hanya membalas perkataan ibunya dengan senyuman.
*****
Pukul 06.30.
Di halte bus.
Sesuai perintah Egi semalam, Gia menunggu Egi di halte bus selama 30 menit lamanya.
"Lama banget!" Gumamnya.
Tak lama bus pun datang dan menurunkan semua penumpang termasuk Egi.
"Nah itu dia!" Gumam Gia senang sembari merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan akibat terkena angin.
Egi pun melihat Gia, kemudian ia langsung menghampirinya.
"Tepat waktu sekali!" Ketus Egi.
"Sesuai perintah orang yang meneleponku semalam, belum selesai aku menjawab, orang itu sudah mematikan teleponnya, padahal aku hanya ingin memastikan apakah yang meneleponku itu beneran kamu atau orang lain. Itu sebabnya aku datang tepat waktu untuk memastikan kalau orang yang semalam meneleponku itu benar-benar kamu." Jelasnya panjang lebar disertai sedikit keluhan.
"Ya tentu saja aku, siapa lagi? Aku sengaja mematikan teleponnya, karena aku tau, kamu pasti akan banyak bicara dan banyak bertanya." Ucap Egi.
"Oh begitu. Lalu setelah ini, apa yang akan aku lakukan?" Tanya Gia.
"Bawakan tas aku sampai ke dalam kelas." Ucapnya sembari melempar tas besarnya pada Gia.
Gia langsung keberatan membawa tas besarnya Egi yang berisi banyak buku. Dia sendiri masih terbebani dengan tasnya sendiri apalagi sekarang dia harus membawa dua tas sekaligus sampai ke dalam kelas.
Egi sendiri tau, kalau Gia pasti sangat keberatan membawa tasnya, namun ia tak peduli, ia berusaha bersikap tega dan berjalan pergi mendahuluinya sembari berkata.
"Lakukan saja tugasmu dan jangan banyak mengeluh!"
"Egi, tunggu aku!" Teriak Gia sembari gemetar membawa tas Egi.
*****
Sesampainya di dalam kelas.
Semua siswa melongo melihat kedatangan Egi dan Gia, mereka terkejut melihat Gia yang datang sambil membawakan tas Egi. Kemudian salah satu dari mereka menghampirinya dan mulai bertanya.
"Heh Gia, baik banget Lo bawain tas Egi!"
Gia langsung bingung mau menjawab apa, ia pun hanya bisa nyengir sembari menaruh tas Egi di bangkunya.
"Sekali-kali bawain juga dong tas Gue!" Ucap temannya dengan nada meledek.
"Gue juga dong!" Timpal satunya.
"Enak saja kalian! Bawa saja sendiri!" Gia mulai emosi.
"Jangan pilih kasih Lo sama yang namanya teman!" Bentak salah satu dari mereka.
Mereka semua mulai ricuh dan menyorakinya dengan kecurigaan.
"Aneh, Egi doang yang di perhatiin! Kita semua enggak, jangan-jangan Lo berdua sudah pacaran."
"Iya, aneh banget."
"Huh dasar."
Agar tak terjadi kericuhan yang memanjang disertai kesalahpahaman beserta tuduhan yang tak masuk akal, Egi mencoba menghentikannya.
"Stop! Stop! Cukup! Kalian jangan salah paham dulu." Teriak Egi. Semua orang langsung diam.
"Gia membawakan tas Gue bukan berarti dia itu perhatian sama Gue atau ada hubungan lain! Tapi karena sekarang dia lagi bekerja menjadi pelayan Gue, karna dia lagi butuh banget uang. Benarkan Gia?" Ucap Egi beralasan sembari melirik dengan mengedipkan sebelah matanya pada Gia.
Gia langsung syok dan tak bisa berkata-kata lagi dengan pernyataan Egi yang memberitahu semua teman-temannya kalau dirinya bekerja untuknya sebagai seorang pelayan. Gia merasa terhina dan tak ada harga dirinya lagi di sebut pelayan oleh Egi di depan semua teman-temannya.
"Hah, pelayan?"
"Tapi orang tuanya Gia kan kaya raya?"
"Kok Lo mau saja sih kerja jadi pelayan? Padahal Lo kan sudah kaya."
Semua orang mulai bertanya-tanya dan kurang mempercayai perkataan Egi yang tak masuk akal dan mustahil, namun tak sebagian orang mulai menertawakannya. Tapi lagi-lagi Egi dengan gaya cool nya yang menjawab pertanyaan mereka dan berusaha meyakinkan mereka akan perkataannya tersebut.
"Dia memang berasal dari keluarga kaya, tapi bukan berarti dia bisa seterusnya mengandalkan uang kedua orang tuanya, dia ini sekarang lagi belajar cara mendewasakan diri dengan mencari uang sendiri dan beradaptasi dengan hidup tanpa harus membebani uang kedua orang tuanya. Harusnya kalian sebagai anak orang kaya yang sudah dewasa merasa malu! Mulailah belajar seperti Gia untuk tidak terus mengandalkan uang pemberian kedua orang tua. Mulai sekarang kalian harus bisa mandiri, karena kalian bukan lagi anak kecil."
Egi pun mulai ceramah dengan kata-katanya yang tegas dan panjang lebar. Semua orang hanya terdiam dan menyimak kata-kata Egi.
Tak lama, Hanna yang baru saja datang menghampiri mereka yang sedang berkerumunan mengelilingi Gia dan Egi.
"Ada apa ini?" Tanya Hanna.
"Gak ada apa-apa!" Jawab Egi. Hanna berdenyit heran.
Semua orang langsung bubar dan kembali duduk di bangkunya masing-masing. Tak lama bell masuk berbunyi.
"Tadi ada apa Gi?" Tanya Hanna saking penasaran pada Gia.
"Gak ada apa-apa!" Jawab Gia cengengesan.
"Oh, jadi sekarang Lo sudah mulai merahasiakan sesuatu dari Gue!" Nyinyir Hanna.
Gia hanya terdiam tak menjawab pertanyaan Hanna. Hanna terus nyerocos tanpa henti hingga pelajaran pun di mulai.
.....
Jam istirahat.
Diam-diam Hanna mengajak Egi untuk mengobrol di bawah tangga.
"Egi, tadi pagi ada apa sih?" Tanya Hanna penasaran.
"Aku kan sudah bilang, gak ada apa-apa!" Jawabnya enteng sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Oh, jadi sekarang kamu sudah mulai merahasiakan sesuatu dari aku! Padahal kurang baik apalagi aku sudah kasih tau kamu segalanya tentang siapa orang yang mencurangi kamu! Harusnya kamu tau diri dan berterima kasih!" Nyinyir Hanna.
"Ya sudah deh, tadi pagi biasa, orang-orang berprasangka yang aneh melihat Gia membawakan tas aku. Padahal aku cuman memperkerjakan dia saja. Orang-orang pikirnya aku ada hubungan sama dia. Semua orang mulai curiga dan bertanya-tanya." Jelas Egi.
"Apa? Kamu memperkerjakan dia?" Hanna berdenyit kaget.
"Ya, apalagi hukuman yang pantas buat orang seperti dia."
"Tapi Egi, sebaiknya kita harus secepatnya memberitahukan segalanya tentang Gia kepada semua guru. Gia gak bisa dibiarkan begitu saja." Saran Hanna.
"Kita pasti akan segera melaporkannya, tapi setelah dia menyelesaikan hukuman yang aku berikan. Kamu tunggu saja, itu gak akan lama lagi." Ucap Egi meyakinkan, Hanna hanya bisa diam dengan raut wajah yang bingung.
Tak ingin berlama-lama di bawah tangga bersama Hanna, Egi pun pamit meninggalkannya agar tak ada yang melihat kebersamaannya yang bisa menimbulkan kesalahpahaman dan prasangka buruk orang-orang.
Saat berjalan pergi, Egi melihat Gia sedang menyeret Elis menuju ke belakang kantin. Egi pun diam-diam mulai mengikutinya.
Di belakang kantin.
Gia menampar Elis dengan sekeras-kerasnya.
PLAAKKK.
"Kenapa Lo tampar Gue?" Pekik Elis sembari meringis kesakitan.
"Lo kan yang sudah kirim video Gue pada Egi? Ayo ngaku Lo!" Tuduh Gia dengan penuh emosi diselimuti kecurigaannya pada Elis.
"Kasih video apa? Gue sama sekali belum pernah ngobrol sama Egi, meskipun Gue sempat naksir sama dia."
"Alahh, gak usah bohong Lo! Lo sengaja kan mau bongkar rahasia Gue pada semua orang! Padahal selama ini kurang baik apalagi Gue sama Lo, sering transfer Lo duit!" Pekik Gia.
Elis hanya terdiam sembari menggenggam terus pipinya yang memerah akibat ditampar.
"Lo pasti punya banyak video lain kan tentang Gue. Sini hp nya!" Bentak Gia memaki-makinya sembari meraba-raba saku seragamnya.
"Sumpah Gi, Gue cuman punya video tentang Lo hanya satu yang waktu itu di dalam kelas doang, Gue gak punya video yang lain lagi tentang Lo selain yang itu! Video Lo waktu itu masih aman di tangan Gue, belum Gue sebarkan ke siapa-siapa."
__ADS_1
"Alah, bohong banget Lo! Buktinya Egi punya video lain tentang Gue, dia sekarang jadi tau semuanya tentang Gue, kalau bukan Lo yang kirim videonya, lalu siapa lagi orang yang suka menguntit dan merekam orang lain, selain Lo hah!" Teriak Gia sembari mendorong bahunya dengan kasar. Elis hanya terdiam ketakutan.
"Jangan diam saja! Ayo ngaku! Gara-gara Lo, Gue jadi tersiksa dan terbebani!" Teriaknya lagi sambil terus mendorong bahu Elis dengan kasar. Elis hanya bisa menangis tanpa melawan.
"Ayo ngaku Lo! Dasar Lo cewek cupu munafik!" Desak Gia sembari kembali melayangkan tangannya akan menamparnya lagi.
Tiba-tiba Egi berteriak memanggilnya dari belakang.
"GIAA!"
Gia berbalik ke arah Egi yang sudah memperhatikannya dari tadi.
"Egi?" Gia langsung panik sembari menurunkan tangannya.
Egi pun menghampirinya sambil memarahinya.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa kamu memarahi Elis?"
"Egi, dia kan orang yang sudah mengirimkan video itu ke kamu?"
"Bukan dia orangnya! Kamu jangan asal nuduh deh!"
"Lalu siapa dong?" Rengek Gia.
"Kamu gak usah tau! Mending kamu ikut aku sekarang. Ayoo!" Egi langsung menarik Gia pergi.
Tanpa mereka ketahui, diam-diam Adi mendengar pembicaraan mereka.
Adi yang masih menjalani hukumannya yaitu membersihkan halaman sekolah, tak sengaja mendengar perbincangan mereka saat menyapu di belakang kantin.
"Video apa yang Elis punya tentang Gia? Dan video lain apalagi yang dimiliki Egi?" Gumam Adi memikirkannya.
.....
Di kantin.
Lagi-lagi Egi memperkerjakan Gia untuk membawakan makanan pesanannya.
Gia seperti seorang pelayan membawa nampan yang berisi banyak piring. Kemudian ia menaruh makanan pesanan Egi di mejanya.
Egi yang sudah menunggu di meja, bersiap untuk makan. Namun Gia tiba-tiba duduk di mejanya.
"Eh tunggu! Ngapain kamu duduk di sini?" Tanya Egi sambil membentaknya.
"Aku mau makan." Jawab Gia.
"Mau makan makanan punyaku? Enak saja! Pesan saja makanan untuk kamu sendiri!" Pekik Egi.
"Hmm... Dasar pelit!" Ketus Gia sembari mengerucutkan bibirnya.
"Ya sudah, ngapain kamu masih duduk di sini? Sana pergi! Jangan makan di sini!" Ketus Egi. Gia langsung menunjukkan raut wajah kesal lalu pergi.
*****
Pulang sekolah.
Pukul 13.00 siang.
Setelah keluar dari gerbang sekolah, Gia dan Hanna sedang berjalan pulang sembari berbincang-bincang.
"Han, kenapa kemarin Lo gak tolongin Gue sih pas Gue di culik sama Egi?" Tanya Gia kesal. Hanna hanya terdiam tak menjawab, ia bingung harus menjawab apa.
Namun tiba-tiba Egi meneleponnya.
"Halo?"
^^^["Kamu di mana?"]^^^
"Siapa yang telepon?" Tanya Hanna.
"Egi!" Jawab Gia. Hanna langsung terkejut karena selain dirinya, rupanya Gia juga sudah bertukar nomor telepon dengan Egi.
Gia kembali menjawab panggilan Egi.
"Ini aku lagi di jalan mau pulang, ada apa?"
^^^["Dari tadi aku menunggu kamu di sekolah. Cepat kembali lagi."]^^^
"Buat apa?" Tanya Gia heran.
^^^["Kamu nanya buat apa? Apa kamu sudah lupa sama janji kamu."]^^^
"Janji apa?" Tanya Gia pura-pura lupa.
^^^["Janji kalau kamu akan mematuhi semua perintah aku."]^^^
"Memangnya aku pernah bilang begitu?" Tanya Gia mulai memancing emosinya Egi.
^^^["Oh, jadi sekarang kamu lupa atau pura-pura lupa? Ya sudah kalau kamu gamau menepati janji kamu, mumpung aku masih di sekolah, belum keluar gerbang, aku akan pergi ke ruang guru dan melaporkan video kamu waktu itu."]^^^
Mendengar ancaman Egi, Gia pun kembali panik dan memutuskan untuk kembali lagi ke sekolah.
"I-iya, aku ke sana sekarang!"
Egi pun langsung mematikan teleponnya.
"Gue mau balik lagi ke sekolah, Lo pulang saja duluan!" Pamit Gia pada Hanna.
"Sudah!" Tanya Gia sembari cemberut.
"Syukurlah, akhirnya Lo dapat nomor telepon Egi si manusia langka yang suka privasi. Harusnya Lo senang dapat nomor Egi!"
"Ya begitulah, ya sudah Gue mau balik dulu ya ke sekolah."
"Ya sudah Gi, selamat menikmati waktu berduaan yaa!" Ucap Hanna sembari sedikit menggodanya.
Gia pun berlari kembali ke sekolah lalu menemui Egi yang sudah berada tepat di depan gerbang. Egi pun langsung memberikan tasnya dan menyuruhnya untuk membawakan tasnya lagi.
*****
Di halte.
Mereka berdua sedang menunggu bus, saat bus datang...
"Ayo, bawakan tas aku sampai rumah!"
"Apa! Sampai rumah?" Gia berdenyit kaget.
"Kenapa? Kamu keberatan?
"Ah enggak! Enggak!" Gia langsung cengengesan.
"Lakukan saja tugasmu dan jangan banyak mengeluh!" Tegas Egi.
Mereka berdua pun naik bus.
.....
Di dalam bus, mereka duduk berdampingan tapi mereka tak berbicara sedikitpun.
Seperti biasa Egi hanya memandangi pemandangan melalui jendela bus seperti waktu itu, dan Gia kini hanya menatap tas Egi yang berada di pangkuannya saja tanpa menatap Egi tak seperti waktu itu.
Kemudian Gia mulai teringat kembali masa-masa saat pertama kali ia bertemu Egi dan naik bus bersamanya.
Waktu itu, ia sangat senang berada di samping Egi, ia terus menatap Egi sepanjang jalan. Namun sekarang, kali ini berbanding terbalik dengan waktu itu. Sekarang Gia malah cuek dan menjadi malas menatap Egi karna sikapnya yang menjadi egois dan kasar padanya.
*****
Sesampainya di Jln Selalu Rindu 02. Bus pun menurunkan mereka.
Gia turun dari bus sambil tetap membawakan tas Egi, sementara Egi turun duluan dari bus, lalu menunggu Gia turun.
"Lama sekali jalannya! Ayo cepat!" Ketus Egi.
"Sabar! Gak lama gimana, tas kamu ini berat! Kenapa harus aku yang membawakannya?" Ucap Gia mengeluh.
"Ingat ini! Lakukan saja tugasmu dan jangan banyak mengeluh!" Egi mengulangi lagi kata-katanya.
"Setelah ini apa? Sampai kapan aku harus membawa tas kamu?"
"Sampai rumah!"
"Apa! Sampai rumah?" Gia langsung syok.
"Capek banget!" Gia mulai mengeluh sambil menjatuhkan tasnya.
Egi langsung menatap sinis ke arah Gia yang sangat kelelahan.
"Jadi kamu gak mau membawakan tas aku?"
"Enggak! Aku gak mau!" Pekik Gia.
"Baiklah, sana pulang!" Ucap Egi dengan raut wajah datarnya.
Dengan rasa kesal yang masih menggelora, Gia berbalik untuk pulang. Namun tiba-tiba Egi menyetel rekaman suara Gia kemarin siang yang sudah berjanji padanya kalau ia akan menuruti semua perintahnya. Sehingga membuat Gia berhenti melangkah pulang.
>>
["Aku mohon Egi, maafkan aku, sebagai gantinya aku akan menuruti semua perintah kamu, aku akan mengabdi dengan menuruti semua keinginan kamu. Asal kamu gak bongkar rahasia aku."]
^^^["Janji?"]^^^
["Aku janji."]
>>
Gia langsung panik mendengar rekaman suaranya, ia kembali berbalik pada Egi lalu membawakan kembali tasnya yang sudah ia jatuhkan tadi.
"Ayo Egi!" Ucap Gia dengan senyuman tanpa malu.
Egi pun kembali berjalan pulang, Gia mengikuti langkah kaki Egi dari belakang.
"Kalau kamu gak punya rasa takut, kamu bisa kembali pulang, siap-siap saja kalau kamu gak menepati janji kamu. Video kamu akan aku laporkan." Ancam Egi sembari tetap fokus berjalan pulang. Gia hanya bisa cemberut dari belakang.
Namun bagaimanapun ia harus tetap mematuhi perintah Egi karena janji adalah janji yang harus ia tepati. Mau suka atau tidak? Tapi jika kita telah membuat janji pada seseorang, sampai kapanpun orang tersebut akan selalu mengingatnya dan menagih janjinya pada orang yang sudah membuat janji dengannya.
*****
__ADS_1
Sesampainya di rumah Egi.
Satpam mulai membukakan gerbang rumahnya.
Gia langsung menganga dan membulatkan mata saking terpukau nya melihat rumah besarnya Egi, ia sangat mengagumi keindahan rumah Egi layaknya rumah sultan.
"Bagus sekali rumahnya, lebih bagus dari rumah Gue." Gumamnya.
"Kenapa diam saja? Ayo masuk!" Pekik Egi.
"Ma-masuk?"
Gia langsung menurut dan berjalan di belakangnya.
Setelah masuk ke dalam rumahnya.
Egi berjalan cepat menuju kamarnya. Sementara Gia di biarkan saja di ambang pintu, namun Gia semakin di buat kagum dengan isi rumah Egi yang di penuhi barang-barang mewah dan estetik.
"Waw, bagus sekali!" Gumamnya terpesona melihat sekeliling ruangan.
Tak lama, seorang wanita paruh baya menghampirinya.
"Silahkan duduk non, mau minum apa?" Tawar wanita tersebut.
"Ini mamanya Egi?" Tebak Gia.
"Bukan non, saya bi Mirah." Jawabnya memperkenalkan diri.
"Oh, Ini pasti pembantunya." Batin Gia.
"Non, pasti temannya den Egi kan?" Tanya bi Mirah.
"Ah iya." Gia mengangguk sopan.
"Silahkan duduk non, mau saya bawakan minuman apa?"
"Saya mau minum..."
Belum selesai Gia mengatakan keinginannya, Egi datang sambil menyelanya dengan mengatakan.
"Bawakan saja dia air putih!"
"Baik den."
Bi Mirah langsung pergi menuju dapur, sementara Gia langsung dibuat kesal, karna baru saja ia ingin mengatakan bawakan jus. Tapi Egi tiba-tiba datang dan menyela perkataannya. Gia semakin dibuat kesal.
"Tetaplah berdiri dan jangan duduk!" Tegas Egi. Gia langsung syok dengan kata-katanya.
"Apa? Tapi kenapa? Baru saja pembantu kamu menawarkan aku duduk tapi kamu sendiri melarang aku duduk. Kamu ini benar-benar gak menghargai tamu yaa, apa seperti itukah cara kamu menerima tamu? Masih lebih baik pembantu kamu dari pada kamu sendiri!" Nyinyir Gia.
"Siapa bilang kalau kamu tamu di rumah ini? Kamu bukan tamu di rumah ini, tapi kamu adalah pelayan di rumah ini."
Mendengar perkataan Egi, Gia langsung terkejut dan emosi.
"Apa kamu bilang? Pelayan? Berani sekali kamu mengatai aku pelayan. Jadi kamu membawaku ke sini hanya untuk di jadikan pembantu?"
"Lakukan saja apa tugas yang aku berikan padamu dan jangan banyak mengeluh! Apa aku harus menuliskan di secarik kertas dan menempelkannya di jidat kamu yang lebar agar kamu bisa terus mengingat janji kamu?"
Gia langsung skakmat dan tak kembali lagi berkutik setelah Egi terus mengingatkannya akan janjinya waktu itu.
Tak lama, bi Mirah datang sembari membawakan segelas air putih.
"Silahkan di minum non."
"Terima kasih!"
Gia pun langsung meneguk airnya untuk menghilangkan rasa panas di dada akibat emosinya pada Egi.
"Bibi?" Panggil Egi.
"Iya den?"
"Mulai besok tugas bibi masak saja, pekerjaan yang lainnya biar pelayan baru ini yang bernama Gia yang akan mengerjakan semuanya." Ucap Egi memberitahu pembantunya sembari mengenalkan Gia sebagai pelayan baru.
Bi Mirah pun langsung kaget sambil menatap melongo pada Gia. Karna baru saja pembantunya menyangka Gia adalah temannya Egi, karna ia melihat penampilan Gia yang masih mengenakan seragam sekolah.
Gia hanya bisa cengengesan di tatap kaget bi Mirah.
"Nah sekarang, bibi istirahat saja. Jangan kerjakan sesuatu! Bibi sudah banyak bekerja dari kemarin, sekarang bibi harus istirahat." Suruh Egi.
"Tapi den, bibi belum belanja untuk kebutuhan besok."
"Bibi tenang saja, biar saya dan pelayan baru ini yang akan belanja. Sebaiknya bibi istirahat saja."
"Baik Den." Bi Mirah pun pergi.
Setelah berlalu, Gia langsung menatap kesal Egi. Namun ia tak bisa memarahinya.
"Sekarang tugas aku apa?" Tanya Gia penuh kekesalan.
"Ikutlah denganku!" Ucap Egi sembari berjalan, Gia mengikutinya dari belakang.
Kemudian Egi membawanya ke gudang.
"Kamu mau apa bawa aku ke sini?" Tanya Gia.
"Ini! Bersihkan semuanya, jangan sampai ada debu yang menempel." Ucap Egi sembari memberi kemoceng.
"Bersihkan semuanya pakai ini?" Tanya Gia kaget.
"Lakukan saja tugasmu dan jangan banyak mengeluh!"
"Baiklah."
"Awas kalau kamu tidak membersihkannya! CCTV di sudut ruangan ini yang akan mengawasi." Tegas Egi sembari menunjukkan CCTV yang berada di sudut ruangan, Gia pun mengangguk.
Egi langsung meninggalkannya sendiri. Gia mulai mengerjakan pekerjaan pertamanya di rumah Egi, ia mulai membersihkan setiap debu yang menempel pada semua barang-barang dengan menggunakan kemoceng, satu persatu ia bersihkan semuanya.
Kemudian saat ia akan membersihkan debu di atas lemari dengan menaiki tangga lipat, ia malah terjatuh. Tapi untungnya ia masih bisa bangkit lagi dan bersemangat membersihkan semuanya.
Sementara Egi diam-diam memperhatikan pergerakan Gia di gudang melalui CCTV yang di di hubungkan pada laptopnya. Ia menontonnya di tengah rumah.
Setelah membersihkan semuanya, Gia langsung keluar dari gudang dan mulai berjalan mencari Egi.
"Egi!"
"Kemana dia?" Gumamnya.
Lalu ia melihat ke bawah ada Egi yang sedang melihat video di laptopnya. Gia pun bergegas menghampirinya.
Dengan suara langkah kaki yang pelan, Gia mengagetkannya dari samping dengan mengatakan.
"Semuanya sudah di bersihkan. Gak ada debu yang menempel lagi."
Egi langsung kaget. Dengan cepat ia menutup laptopnya.
"Baguslah kalau sudah bersih, tapi yakin semuanya sudah bersih?" Tanyanya kurang yakin.
"Tentu saja! Sekarang tugas aku apalagi?"
"Hmm... Ikut berbelanja denganku." Ucap Egi sembari tersenyum dan tak menunjukkan raut wajah yang datar lagi. Gia pun langsung mengangguk setuju.
*****
Di Swalayan.
Egi dan Gia mulai berbelanja kebutuhan untuk besok. Tugas Gia hanya membawakan keranjangnya yang berisi keperluan dapur dan bahan makanan yang dipilih Egi.
Egi sangat teliti memilih bahan makanan sehingga membuat waktu yang cukup lama selama 2 jam lamanya berada di dalam swalayan.
Setelah selesai berbelanja, Gia yang membawa semua belanjaannya dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Dan seperti biasa Egi yang menyetir mobilnya.
"Ngapain duduk di belakang? Emangnya aku supir kamu?" Ketus Egi sedikit marah melihat Gia sudah duduk di kursi belakang.
"Lalu aku harus duduk di mana?" Tanya Gia kaget.
"Duduk lagi di depan!"
Gia langsung menuruti perintah Egi dan duduk di depan. Egi pun melajukan mobilnya untuk segera pulang karna hari sudah mendekati sore.
*****
Pukul 17.00 sore.
Sesampainya di rumah Egi, Seperti biasa tugas Gia bagian membawakan barang.
Setelah masuk gerbang, Gia terus berjalan di belakang Egi sembari mengangkut beberapa tumpukan keranjang belanjaan yang berhasil menutupi pandangannya ke depan.
Tapi tiba-tiba Egi berhenti dan berbalik ke belakang dan menghadangnya hingga Gia pun menabraknya, membuat semua tumpukan keranjang pun berjatuhan.
"Ada apa? Kenapa berhenti?" Tanya Gia kesal.
"Apa kamu akan terus bekerja sampai malam?"
"Terus sekarang aku harus apa?"
"Lihat ini! Sudah jam 17.00. Ini bukan siang lagi! Sana pulang." Usir Egi.
"Berarti tugas aku sudah selesai?" Tanya Gia sembari cengengesan.
"Belum, tapi kamu bisa melanjutkannya besok siang setelah pulang sekolah." Ujar Egi.
"Hah!"
Gia pun langsung menunjukkan raut wajah yang lelah tapi Egi tak peduli, namun ia tak setega itu, ia memberi ongkos pulang naik bus. Gia pun pulang sendiri menuju halte tanpa di antar Egi.
*****
Malam harinya.
Egi mulai kembali memeriksa CCTV di laptopnya untuk meyakinkan dirinya apakah tadi siang Gia bekerja dengan baik atau tidak, karna tadi ia menontonnya tak sampai beres karna niat dalam hatinya berhasil mendahuluinya untuk menonton film.
Kini ia mulai melihat video Gia bekerja membersihkan gudang dan merapikan segala barang yang ada.
Setelah selesai menonton, Egi langsung menutup laptopnya. Kemudian ia mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
"Halo mba, besok bawakan barang pesanan saya secepatnya." Ucap Egi pada orang tersebut melalui telepon.
...----------------...
__ADS_1
...Bersambung....