AFTERNOON WITH YOU

AFTERNOON WITH YOU
Kencan yang Menyebalkan part II.


__ADS_3

Sesampainya di Restoran.


Setelah mendapatkan meja, Gia dan Doni mulai memesan makanan. Gia tak tahu kalau Egi juga berada di restoran yang sama bersama kekasihnya. Hanya saja Egi belum kembali lagi ke restoran setelah pergi tadi. Hanya ada kekasihnya saja yang masih duduk menunggunya kembali.


Gia masih belum tahu kalau gadis yang sedang duduk termenung yang berada di kursi pojokan itu adalah kekasihnya Egi. Yang Ia tahu kalau Egi itu belum memiliki kekasih sama sekali.


Saat sedang memesan makanan, Gia berniat memesan makanan mewah yaitu kepiting panggang dengan saus mustard.


"Mba, saya mau pesan kepiting panggang pakai saus tiram dan mustard." Ucap Gia memesan. Pelayan mulai menulis pesanan Gia.


"Ah, tunggu sebentar mba! Jangan dulu di tulis!" Cegah Doni.


"Ada apa?" Tanya Gia kaget.


"Pesannya jangan yang itu! Yang lain saja!" Tegas Doni pada Gia.


"Memangnya kenapa?" Tanya Gia mulai kembali kesal.


"Yang itu mahal! Jangan pilih yang itu! Pilih saja yang lain!" Tegas Doni. Dengan kesal, Gia berusaha sabar dan menurut, lalu ia kembali memilih makanan yang lain.


"****Yang ini****?" Tanya Gia pada Doni memastikan Doni membolehkannya atau tidak? Dengan makanan yang Gia pilih.


"Jangan! Itu sama mahalnya. Coba yang lain! Yang lebih murah!" Pinta Doni.


"Yang ini?"


"Yang itu masih mahal?" Cegah Doni.


"Inikan cuman beda tiga ribu doang!" Ucap Gia sedikit meninggikan suaranya.


"Ya tetap saja mahal! Uangku bisa-bisa habis kalau kamu beli itu." Pekik Doni.


Gia semakin tambah kesal dan kembali memilih sembari melakukan perdebatan kecil di hadapan kasir.


"Yang ini?"


"Jangan!"


"Yang ini?"


"Jangan!"


"Yang ini?"


"Jangan!"


"Yang ini?"


"Jangan! Jangan! Jangan!"


"..."


"..."


"..."





Habis sudah kesabaran Gia. Ia semakin di buat kesal oleh kekasih barunya yang tak bisa di harapkan, tak sesuai ekspektasi. Berkali-kali ia meminta, tapi Doni terus saja menolaknya.


"Terus Gue harus pesan apaa?? Kalau semuanya serba gak boleh!" Ucap Gia emosi.


"Tunggu sebentar!"


Doni langsung terdiam sejenak sambil mengeluarkan dompet lalu melihat uang yang ia bawa.


"Mba, apa ada menu lain lagi gak? Yang lebih murah harganya?" Tanya Doni pada pelayan.


Kemudian pelayan memberikan lagi satu menu. Doni dan Gia langsung melihat menu itu. Doni melihat banyak sekali harga yang murah karna menu yang di berikan semuanya hanya berisi dessert yang harganya di bawah 100 ribu.


"Yang ini saja pesannya gimana?" Tanya Doni pada Gia sambil menunjukan pilihannya yang berupa Jasuke (Jagung toping susu dan keju) seharga lima belas ribu.


"Ini menunya dessert semua?" Tanya Gia sambil menatap aneh Doni.


"Iya, tapikan menu makanan yang tadi mahal semua." Ucap Doni.


"Kalau niatnya mau beli ini, ngapain kamu ajak aku ke restoran? Di pedagang kaki lima juga banyak yang jualan ini, tiap hari aku sering beli ini kalau pulang sekolah." Ucap Gia emosi.


"Ya namanya juga biar kelihatan elite, kalau beli di restoran. Kalau beli di jalan kan gak kelihatan aesthetic." Ucap Doni sambil cengengesan.


"Ya sudah terserah kamu saja! Aku capek!" Ucap Gia kesal sambil memalingkan wajahnya dan melipat tangannya.


"Mba, pesan yang ini dua." Ucap Doni memesan pada pelayan.


"Mau sekalian sama minumannya kak?" Tanya pelayan. Kemudian Gia melihat menu minuman lalu memilihnya.


"Mba, minumannya smoothies rasa cheese cake nya satu." Ucap Gia tiba-tiba memesan.


"Baik mba." Ucap pelayan itu sambil menulis.


"Eh jangan mba! Hapus lagi yang tadi dia pesan!" Cegah Doni pada si pelayan. Gia langsung menatap sinis Doni.


"Kamu ini main pesan saja! Kalau mau pesan, bilang dulu!" Bentak Doni.

__ADS_1


"Kamu ini kenapa sih aneh banget? Terserah aku dong mau pesannya apa! Kenapa sih ribet banget dari tadi?" Bentak Gia tak mau kalah.


"Aku yang bayarin! Jadi terserah aku juga mau pilih makanan atau minuman apa? Aku yang memutuskan! Jadi kamu gak usah ngatur!" Ucap Doni dengan penuh keemosian.


Perdebatan panas antara Doni dan Gia sampai menjadi pusat perhatian banyak orang yang berada di sana termasuk Olivia yang sudah memperhatikan mereka sejak awal debat.



"Apaan sih! Bertengkar di hadapan umum. Norak banget." Gumam Olivia risih.


Kembali pada Gia dan Doni yang masih berdebat.


"Kamu ini kenapa sih? Pilih makanan sama minuman saja ribet banget! Banyak gak bolehnya! Lagian inikan minumannya masih murah, cuman 20 ribu!" Ucapnya yang masih tersulut emosi.


"Ya tetap saja! Aku gak setuju kamu pesan itu! Pokoknya semuanya harus terserah aku! Aku yang memutuskan, karna aku yang bayar! Kecuali kamu yang bayar sendiri!" Tegas Doni.


Jleeebbb


Gia langsung skakmat oleh perkataan Doni, ia pun terdiam sejenak sambil menghela nafas.


"Oke. Kalau begitu terserah kamu!" Ucap Gia pasrah dengan penuh kekesalan.


Perdebatan merekapun akhirnya berhenti. Dan Doni pun mulai kembali berbicara pada pelayan untuk memesan.


"Mba, apa di sini ada air mineral?"


"Ada kak."


"Berapa kalau boleh tau?"


"8 ribu kak."


"Ya sudah air mineral saja dua gelas sama Jasukenya dua." Ucap Doni memesan.


"Baik kak." Ucap pelayan sambil menulis pesanan, setelah itu pergi untuk menyiapkan pesanan Doni.


Gia yang masih kesal langsung bersikap cuek pada Doni. Doni yang merasa bersalah karna sudah membentak Gia di hadapan umum, mencoba bersikap baik lagi padanya dengan mencoba menggenggam erat tangannya.


"Giaa!"


Melihat Doni menggenggam tangannya, Gia langsung menepisnya dengan kasar.


"Gak usah pegang-pegang!"


"Sayang, kamu marah ya?" Tanya Doni.


"Jangan panggil aku dengan sebutan sayang! karna aku sudah muak sama kamu!" Pekik Gia.


"Maafin aku ya! Aku gak bisa memilih apa yang kamu pesan. Soalnya aku cuman bawa uang sedikit." Ucap Doni penuh penyesalan.


"20 ribu." Jawab Doni.


"Apaaa!! 20 ribu?" Gia langsung menggebrak meja. Doni langsung kaget begitupun juga orang-orang yang berada di restoran.


"I-iya!" Jawab Doni gemetar.


"Kamu ini kok bawa uang sedikit banget? Apalagi tadi kamu pesan makanan lebih dari 20 ribu." Ucap Gia mulai mempertanyakan.



"Iya aku tau, apalagi uangnya harus di bagi dua juga sama ongkos naik angkot." Ucap Doni. Gia langsung menggelengkan kepala sembari menunjukkan ekspresi wajah yang kesal.


"Maafin aku! Tapi aku janji, kalau lamaran kerja aku sudah di terima perusahaan. Pasti aku bakal bawa uang yang banyak dan kamu bisa memilih makanan sepuasnya." Ucap Doni, Gia sedikit syok dengan pernyataan Doni.


"Apa? Lamaran kerja? Jadi kamu baru kirim lamaran? Kamu belum kerja?" Tanya Gia dengan nada tinggi. Doni hanya bisa tertunduk diam.


"Tapi, kenapa waktu itu kamu bilang kalau kamu sudah bekerja? Hah!" Tanya lagi Gia dengan penuh kekecewaan.


"Iya waktu itu aku memang sudah bekerja. Tapi gak lama, aku langsung di pecat." Doni mencoba menjelaskan.


"Di pecat kenapa?" Tanya Gia sedikit menekankan suaranya.


"Karna aku sering bolos bekerja. Itu sebabnya aku di pecat." Jelas Doni.


Gia semakin kecewa, ia langsung bersandar di kursi sembari menengadahkan kepalanya kemudian ia menghela nafas panjang.


"Lagi-lagi Gue salah pilih cowok." Ucapnya dalam batin. Tanpa terasa air matanya mulai menetes.


"Maafkan aku!" Ucap Doni menyesal. Gia langsung menghapus air matanya lalu kembali duduk tegak.


"Jadi sekarang kamu ini pengangguran?" Tanya Gia lagi sembari mencoba tersenyum. Doni mengangguk.


Tak lama pelayan datang sambil menaruh dua piring Jasuke beserta dua gelas air mineral di meja.


Setelah menaruh pesanan Doni. Pelayan akan pergi, tapi Gia berhasil mencegatnya dengan memanggilnya.


"Tunggu sebentar mba!"


"Iyaa?"


"Jadi total harga pesanan ini berapa ya mba?" Tanya Gia.


"Semuanya jadi 46 ribu kak. Tapi nanti kakak bisa membayarnya di kasir setelah selesai makan."


"Oh baik mba, terima kasih." Ucap Gia yang di balas anggukan si pelayan.


Setelah pelayan pergi. Gia langsung menatap Doni dengan senyuman sinisnya.

__ADS_1


"Hmm.. Okee, jadi sekarang gimana? Pesanan sudah sampai di meja. Total harganya sekitar 46 ribu, yang menurut aku harga segitu sudah termasuk paling murah. Sedangkan kamu cuman bawa uang 20 ribu berarti uang kamu kurang 28 ribu. Mana cukup!"



"Bukan 28 ribu, tapi 26 ribu!" Sela Doni membenarkan perkataan Gia yang salah.


"Hmm... Iya maksud aku 26 ribu. Uang kamu kurang 26 ribu. Apa kamu bawa uang segitu kira-kira cukup buat kamu membayar semua pesanan ini? Yang ada nanti kamu bakal di protes sama kasir terus di laporin ke polisi. Mau?" Ucap Gia dengan nada kesal.


"Nah itu yang aku pikirkan dari tadi! Tapi gimana kalau kita patungan saja. Aku 20 ribu, kamu 26 ribu." Saran Doni.


"Patungan? Ciiiihhhhhh..." Ketus Gia memalingkan wajahnya sembari sedikit menahan tawa.



"Iya patungan! Soalnya aku kan bawa uangnya kurang. Kamu kan bisa pakai kartu kredit. Jadi nanti kamu bayar dulu semuanya. Pulangnya nanti aku kasih 20 ribu. Tapi nanti aku pinjam dulu uang 15 ribu dari kamu buat bayar ongkos naik angkot. Nanti aku ganti kalau kita ketemu lagi. Aku janji!" Ucap Doni sembari berniat meminjam uang pada Gia untuk ongkos naik angkot.


"Kalau begitu caranya, sama saja kamu gak traktir aku!" Ucap Gia sinis.


"Ya mau bagaimana lagi." Ucap Doni menyesal.


"Okeee!" Ucap Gia singkat yang Doni pikir itu tandanya Gia setuju dengan idenya. Doni langsung senang.


"Ya sudah! Kalau begitu, ayo kita makan." Ucap Doni. Lalu ia makan terlebih dahulu Jasuke yang sudah ia pesan dengan lahap.


"Kalau tau begini. Lebih baik Gue gak ketemu! Capek-capek sudah dandan secantik ini tapi malah ketemu cowok kere kayak gini. Lebih baik Gue kabur saja." Batin Gia.


"Ehm, aku mau ke toilet dulu ya sebentar." Pamit Gia beralasan, padahal sebenarnya ia ingin mencoba kabur.


Kemudian tiba-tiba Doni menggenggam tangannya sembari berkata.


"Jangan lama-lama ya sayang!"


"Aku gak akan lama kok sayang." Ucap Gia merayu sembari membalas genggaman tangannya.



Doni mengangguk mengizinkannya pergi sambil kembali melanjutkan makan.


Gia langsung beranjak dari kursi dan pergi. Ia berjalan perlahan-lahan supaya tak di curigai.


Setelah keluar dari restoran, Gia langsung berlari kencang.


"Gue harus kabur! Gue gak mau kencan sama cowok kere kayak gitu." Gumamnya dalam batin sambil terus berlari.


.....


Setelah berlari cukup jauh dari restoran, Gia ngos-ngosan sambil melihat ke arah kanan ada seorang pegawai toko tas yang sedang memajang papan diskon sebesar 25% di tokonya.


"Wah, ada diskon 25%!!! Gue harus kesana!!"


Gia langsung bergegas menuju toko tas. Ia sangat tergiur dengan diskon 25% di toko tas itu, sampai ia lupa rencananya untuk kabur.


Sesampainya di toko, ia langsung memilih-milih tas.


"Wah bagus-bagus banget tasnya! Lumayan nih kalau di pakai buat jalan-jalan." Gumam Gia sembari mengambil satu persatu tas yang ia pilih. Namun tak lama ponselnya berdering.


"Ini pasti mama yang telpon." Pikir Gia sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya menggunakan tangan kiri, karna tangan kanannya sudah ia pakai untuk menjinjing beberapa tas yang akan ia beli.


Setelah ia mengecek siapa orang yang menelponnya. Ternyata bukan mamanya yang telepon, melainkan Doni yang menelponnya.


"Gawatt! Doni telepon, gimana nih?" Dengan cepat ia langsung mematikan telponnya.


Tak berselang lama, Doni kembali menghubunginya lagi. Gia terus mematikan teleponnya hingga Doni terus menelponnya lagi hingga berkali-kali.


"Dasar cowok berengsek! Sudah kere! Masih saja nelpon! Sudah tau nih orang kabur gara-gara gak nyaman sama dia. Dasar gatau diri!"


Gia berbicara sendiri dengan nada emosi sembari terus menolak panggilan Doni.


Namun, tak berselang lama, tanpa sengaja ia melihat Doni sedang berjalan mondar-mandir yang jaraknya tak jauh dari toko tempat ia berdiri saat ini. Sepertinya saat ini Doni sedang mencarinya.


"Don-Doni?" Gia langsung kaget.


Saking kagetnya sampai ia menjatuhkan semua tas yang di jinjingnya yang sudah ia pilih yang tadinya akan ia beli. Lalu ia memutuskan untuk kembali kabur.


.....


Masih Di dalam Mall.


Gia berlari secepat mungkin sambil tak lupa melirik ke belakang sembari berharap Doni tak melihatnya maupun mengejarnya. Gia terus melirik ke belakang hingga tanpa sadar, ia menabrak punggung seseorang yang berada tepat di depannya.


Plukkkkkk


"Ma-maaf! Gak sengaja!" Ucap Gia sambil melihat punggung orang yang ia tabrak. Orang itu langsung berbalik.


"Giaa?" Ucap orang itu dengan nada kaget yaitu yang tak lain dan tak bukan adalah Egi.



"Egii?" Gia langsung berdenyit kaget.



Mereka berdua pun saling menatap kaget satu sama lain.


...----------------...


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2