
Beberapa minggu kemudian...
Di sekolah.
Akhirnya Adi telah selesai menjalani hukumannya, kini ia bisa kembali belajar di kelasnya.
Kedatangan Adi di sambut hangat oleh Hanna dan teman-temannya.
"Adi! Akhirnya Lo kembali!" Sorak Hanna senang.
Sontak Adi pun kaget, karna baru saja masuk, ia sudah di sambut hangat oleh semua teman-temannya yang merindukannya.
"Kalian?"
"Syukurlah, Lo sudah kembali. Kita di sini senang banget! Kirain Lo gak bakal masuk kelas lagi." Ucap yang lainnya membuat Adi sedikit terharu.
"Gue juga senang bisa kembali ke kelas lagi dan belajar bareng kalian." Ucap Adi pada mereka dengan ekspresi bahagia di campur haru.
"Terutama Lo Han." Lanjutnya tak sengaja mengatakannya.
"Cieeeee...Uhuuyyy..." Sorak yang lainnya mendengar ucapan romantis Adi pada Hanna.
Adi dan Hanna langsung saling tersenyum malu-malu.
Hanna semakin tak bisa menahan lagi rasa bapernya pada Adi.
Setelah Adi duduk di bangkunya, ia mulai bertanya pada Hanna.
"Sahabat Lo mana?"
"Siapa? Gia?" Tanya Hanna berdenyit kaget.
"Iya, siapa lagi."
"Dia lagi..."
*****
Di kantin.
Gia dan Egi sedang sarapan bersama sebelum masuk kelas.
"AAA... AAA... AAA..."
Gia memanjakannya dengan menyuapinya layaknya anak kecil .
"Emm..."
Egi langsung senang di suapi Gia.
"Enak?" Tanya Gia.
"Enak!" Jawab Egi penuh semangat.
"Tunggu sebentar, mulut kamu belepotan." Ucap Gia sambil mengusapnya dengan tangannya.
"Terima kasih yaa."
"Sama-sama, ayo di makan lagi."
Gia kembali menyuapinya dengan makanan bekalnya. Karna Egi tak membawa bekal, itu sebabnya Gia memberikan bekalnya untuk Egi dan ia juga yang harus menyuapinya.
Btw, di sini Egi beruntung banget yaa... Benar kan readers??
"Ngomong-ngomong ini siapa yang masak? Enak sekali makanannya." Tanya Egi sambil mengunyah.
"Mamahku."Jawab Gia sambil kembali menyuapi Egi.
"Wah, hebat sekali mama kamu, bisa masak seenak ini." Puji Egi sambil terus mengunyah makanannya.
"Mamaku dulu ikut kursus memasak, itu sebabnya mamaku pintar memasak."
"Wah hebat sekali, kamu juga harus ikut kursus memasak. Biar pintar memasak juga kayak ibu kamu." Ucap Egi sembari memberi kode padanya untuk menyuapinya lagi.
Gia langsung menyuapinya sambil berkata.
"Buat apa kursus memasak? Kan ada mama ini yang masakin."
"Kamu gak ikut membantu mama kamu memasak di dapur?"
"Enggak! Buat apa? Lebih baik diam di kamar daripada ikut memasak." Tukas Gia. Egi langsung tertawa mendengar kalimatnya.
"Lalu selain tidur, kegiatan apa yang kamu sukai?" Tanya Egi lagi.
__ADS_1
"Kegiatan apa ya? Paling melukis." Jawabnya.
"Selain itu? Ada lagi gak pekerjaan yang kamu kerjakan selama di rumah?" Tanya Egi penasaran.
"Gak ada! Aku gak suka mengerjakan pekerjaan rumah. Itu tugas pembantu."
"Tapi ibu kamu yang mengerjakan semuanya."
"Iya biarin! Kan ibuku mantan pembantu, jadi di rumahku gak usah lagi menyewa pembantu. Karna ibuku sudah berpengalaman banyak di bidang ART."
"Oh gitu."
Setelah selesai sarapan, mereka kembali ke kelas.
.....
Di Kelas.
Setelah sampai di kelas, betapa terkejutnya Gia melihat keberadaan Adi ada di kelas.
"Ngapain Lo ada di sini?" Tanya Gia kaget.
"Lo nanya ngapain? Ya jelas, Gue ada di sini mau belajar!" Pekik Adi.
"Tapi gimana hukuman Lo?"
"Hukuman? Ciihhh..." Adi langsung nyengir dan kembali mengatakan.
"Lo pikir Gue bakal di hukum terus selamanya? Hukuman Gue sudah selesai!" Jelasnya.
"Loh, kok cepat banget?" Tanya Gia syok.
Hanna pun berjalan menghampirinya sambil berkata.
"Hukuman Adi selama ini sudah lama banget, Lo kira itu cepat? Memangnya selama ini Lo berharap Adi di hukum lama?"
"Bukan begitu, cuman Gue kaget saja." Ucap Gia gugup.
"Kayaknya Lo berharap banget Gue di hukum lama." Nyinyir Adi.
Gia langsung skakmat tak bisa berkata-kata lagi. Kemudian ia kembali ke bangkunya.
Kemudian Adi melirik Egi yang sudah duduk di bangkunya.
"Si Egi kenapa?" Tanya Adi pada Hanna.
"Dia jatuh, jadi tangannya pakai penyangga." Jawabnya.
"Oh gitu."
*****
Setelah pulang sekolah.
Di rumah Egi.
Gia sedang mengganti perbannya.
"Sudah selesai!" Ujar Gia.
"Gia, aku boleh minta tolong?"
"Apa?"
"Selama aku sakit, gak ada yang membersihkan sepatu-sepatuku."
"Kenapa gak minta bi Mirah saja?"
"Bi Mirah sudah tua, aku gak tega mengandalkan dia." Ucap Egi.
"Lalu?"
"Aku boleh gak minta bantuan kamu buat bersihin semua Sepatu aku? Gak banyak kok cuman sedikit." Pinta Egi.
"Terima kasih banyak yaa sebelumnya. Ya sudah, kalau gitu ikut aku ke ruangan." Ucap Egi sambil beranjak.
"Ruangan?" Gumam Gia berdenyit heran.
.....
Sesampainya di salah satu ruangan yang berada di rumahnya, Egi langsung membuka pintunya.
Betapa terkejutnya Gia melihat salah satu ruangan Egi yang berisi banyak sekali Sepatu.
"Ini beneran semua sepatu punya Egi atau toko sepatu? Gilaa, banyak banget." Batin Gia sambil menelan ludah.
"Egi, kamu juga buka cabang toko sepatu di rumah?" Tanyanya sambil sedikit menyindirnya.
"Ini sepatu punya aku semua, gak di jual." Jawab Egi dengan santainya. Gia langsung sedikit tertawa.
__ADS_1
"Kayaknya kamu harus buka cabang juga deh di rumah, sayang banget ruangan sebesar ini hanya di isi khusus sepatu punya kamu doang."
"Ide bagus kayaknya." Tukas Egi.
Kemudian mereka masuk ke dalam ruangan.
"Gia gapapa kan?" Tanya Egi sekali lagi.
"Gapapa apa?"
"Kamu bersihkan sepatu-sepatu punyaku."
"Oh, gapapa Egi! Santai saja!" Ucap Gia sambil cengengesan.
"Kalau bisa semuanya yaa! Gapapa kan?"
"Hah! Semuanya?" Sontak Gia berdenyit kaget.
"Kenapa? Kamu keberatan?" Tanya Egi dengan wajah memelas.
"Ah enggak kok!" Ucap Gia sambil cengengesan.
"Seandainya, tangan aku gak kayak gini, sudah aku bersihkan semuanya dari kemarin." Ucap Egi dengan wajah yang menunjukkan ekspresi sedih.
"Kamu tenang saja, gak usah khawatir! Ada aku di sini. Selama ada Gia di sini, Gia akan selalu membantu pekerjaan kamu."
Mendengar ucapan Gia yang tulus akan selalu membantunya, Egi langsung tersenyum senang.
"Terima kasih banyak yaa Gia. Kamu baik sekali, seandainya aku punya pacar sebaik dan secantik kamu, aku pasti akan senang."
Mendengar ucapan Egi membuat Gia mulai tegang, perlahan mulai terukir senyuman pada bibirnya.
"Apa Egi! Tadi kamu bilang apa?"
"Seandainya aku punya pacar sebaik dan secantik kamu, aku pasti akan senang." Ucap Egi mengulangi lagi kata-katanya membuat Gia langsung di buat klepek-klepek mendengarnya.
"Benarkah?"
"Iya! Kalau begitu, bersihkan yang benar ya!" Lanjut Egi.
"Ba-baik bos Egi. Aku akan bersihkan semuanya." Ucap Gia penuh semangat sambil hormat.
Egi langsung duduk di sofa yang berada di ruangan itu sambil mengawasi Gia.
Sementara Gia yang mulai membersihkan sepatu-sepatu milik Egi langsung senyum-senyum sendiri sambil mengingat kata-kata istimewa yang baru saja keluar dari mulutnya.
"Seandainya aku punya pacar sebaik dan secantik kamu, aku pasti akan senang."
Ia terus mengingat kata-kata itu membuatnya jadi bersemangat membersihkan sepatu yang banyaknya hampir satu ruangan.
"Ya Tuhan, apakah ini mimpi? Mimpi apa Gue semalam?" Batinnya baper.
Dan perlahan jantungnya mulai berdegup kencang. Ia langsung menahan dadanya sambil memejamkan mata dan menghela nafas panjang dengan ekspresi penuh kebahagiaan.
*****
Setelah pulang dari rumah Egi.
Di bus.
Gia terus mengingat-ingat kata-kata Egi sambil senyum-senyum sendiri.
"Seandainya aku punya pacar sebaik dan secantik kamu, aku pasti akan senang."
"Seandainya aku punya pacar sebaik dan secantik kamu, aku pasti akan senang."
"Seandainya aku punya pacar sebaik dan secantik kamu, aku pasti akan senang."
Gia terus senyum-senyum sendiri mengingat kata-katanya tersebut, sampai orang sekitar yang melihatnya menganggapnya aneh.
Bahkan sesampainya di rumah pun, Gia terus mengingat-ingat kata-kata Egi sambil berbaring di kasurnya.
"Seandainya aku punya pacar sebaik dan secantik kamu, aku pasti akan senang."
"Seandainya aku punya pacar sebaik dan secantik kamu, aku pasti akan senang."
"Seandainya aku punya pacar sebaik dan secantik kamu, aku pasti akan senang."
Gia langsung bangkit dengan posisi duduk.
"Duh yang tadi diucapkannya beneran gak ya? Kok dari tadi Gue jadi baper begini?" Gumamnya.
Kemudian ia langsung tertawa senang sambil berguling-guling di kasurnya sampai ia terjatuh.
...----------------...
...Bersambung....
__ADS_1