AFTERNOON WITH YOU

AFTERNOON WITH YOU
Belajar bersama.


__ADS_3

Keesokkan paginya.


Pukul 06.30.


Gia sedang menunggu Egi di halte.


Tak lama, bus tiba dan menurunkan semua penumpang termasuk Egi.


"Egi!" Gia langsung senang melihat kedatangan Egi, begitupun juga Egi yang tersenyum melihat keberadaan Gia yang sedang menunggunya.


Gia langsung berlari menghampiri Egi. Setelah berdiri tepat di hadapannya, tiba-tiba jantungnya mulai kembali berdegup kencang.


"Kamu selalu datang mendahului aku." Ucap Egi padanya.


"Iya, ini semua aku lakukan demi kamu." Ucap Gia sambil cengengesan. Egi langsung tersenyum senang.


"Sini aku bawain tas kamu." Ucap Gia penuh semangat sambil mengambil alih tasnya dari tangannya.


"Makasih, maaf ya selama ini aku sering merepotkan kamu."


"Egi, kenapa kamu sering bilang begitu? Aku kan sering bilang sama kamu, jangan pernah merasa sungkan menerima bantuanku." Ucapnya. Egi hanya mengangguk tersenyum sambil mengiyakan ucapannya.


Mereka berdua pun langsung berjalan menuju sekolah.


.....


Jam Istirahat.


Seperti biasa, Gia selalu memberikan bekalnya pada Egi lalu menyuapinya dengan manja.


"Hari-hari ini badan kamu jadi tambah gemuk yaa." Ucap Gia bercanda. Egi langsung tertawa sambil mengunyah makanan di mulutnya.


Tanpa sadar kebersamaan mereka, di pantau Hanna dari jarak yang cukup jauh.


"Makin kesini, Gia sama Egi makin jadi dekat." Gumamnya.


Saat sedang mengawasi Gia dan Egi, tiba-tiba Adi mengagetkannya dari belakang.


"Lo lagi ngapain?"


Hanna langsung berdenyit kaget.


"Lo ngapain kesini."


"Mau ke kantin. Lo sendiri lagi ngintip siapa?" Tanya Adi penasaran. Hanna hanya diam tanpa menjawab.


Kemudian Adi melihat ada Gia dan Egi yang sedang makan bersama.


"Lo lagi ngintip mereka?" Tanya Adi lagi.


"Enggak kok!" Bantah Hanna.


"Jangan bohong Lo! Pasti ada rahasia yang lagi Lo sembunyikan.


"Gak ada!" Bantah lagi Hanna sambil beranjak pergi ke kantin.


Kemudian Hanna menghampiri Gia dan Egi yang tengah makan bersama.


"Hei kalian! Berdua terus, Gue boleh ikut gabung gak?" Ucap Hanna dengan senyum sumringahnya.


"Lo ini ngagetin saja." Ketus Gia.


"Duduk saja." Ucap Egi mempersilahkan. Hanna langsung duduk di antara mereka berdua.


Sementara Adi duduk di kursi yang tak jauh jaraknya dari mereka.


"Akhir-akhir ini kalian sering banget bersama. Pasti lagi pdkt yaa." Tebak Hanna.


Gia langsung tersenyum malu-malu, sementara Egi hanya bersikap biasa-biasa saja.


"Aku ke toilet dulu yaa." Pamit Egi ke toilet.

__ADS_1


"Mau aku bantu." Tawar Gia antusias. Seketika Hanna langsung menertawakannya.


"Enggak, aku bisa sendiri." Ucap Egi sambil bergegas pergi.


Kemudian setelah Egi pergi, Hanna mulai mengatainya.


"Emang Lo mau bantuin apa? Mau bantuin cebokin si Egi?"


"Ikh, apaan sih Lo!"


"Lo sih bikin Gue ngakak." Ucap Hanna sambil menertawakannya.


.....


Pulang sekolah.


Setelah sebagian siswa sudah pulang. Diam-diam Hanna membawa Egi ke tempat persembunyian mereka yaitu di bawah tangga.


"Egi, apa selama ini kamu berusaha memanfaatkan Gia?" Hanna mulai menginterogasinya.


"Apa maksud kamu? Kenapa kamu menuduhku seperti itu?"


"Ya aku aneh saja, kamu bilang akan segera melaporkan Gia pada semua guru. Tapi mana buktinya? Kamu malah asik berduaan sama dia tiap hari."


"Aku akan segera melaporkan dia kamu tenang saja." Ucap Egi mencoba meyakinkannya.


"Segera apa? Apanya yang segera?" Hanna mulai ngamuk.


Di saat perdebatan Egi dan Hanna mulai terjadi, tak sengaja Adi lewat dan diam-diam mulai mendengarkan perbincangan mereka.


"Selama berminggu-minggu, kamu masih saja tutup mulut. Begitukah cara kamu memberi dia pelajaran? Kelakuan kamu seperti ini sama saja seperti kamu sedang berusaha memanfaatkannya." Bentak Hanna, Egi hanya terdiam mendengar bentakannya.


"Kalau kamu terus saja tutup mulut seperti ini, sampai kapanpun dia akan kembali berusaha merugikan semua orang, termasuk kamu sendiri." Lanjutnya.


"Kenapa kamu gak sabaran sekali? Apa kamu gak lihat kondisi aku saat ini? Lihatlah kondisi aku! Tanganku seperti ini gara-gara ulahnya!" Pekik Egi. Hanna langsung terdiam.


"Setidaknya beri dia waktu untuk bertanggung jawab atas kondisiku saat ini, sampai aku sembuh. Setelah aku sembuh nanti, baru kita akan melaporkannya."


"Aku janji!" Egi langsung menyatukan kelingkingnya.


Mereka pun langsung pergi ke jalan masing-masing.


"Apa yang mereka sembunyikan selama ini tentang Gia? Gue harus cari tahu." Gumam Adi, lalu ia pergi.


.....


Di halte.


Gia sedang duduk menunggu Egi.


"Lama banget Egi ke toiletnya." Gumamnya.


Tak lama, Egi datang.


"Maaf ya nunggu lama." Ucapnya.


"Gapapa Egi, lainkali jangan lama-lama yaa! Takut ketinggalan bus."


Tak lama, bus pun datang, mereka berdua langsung naik bus.


Namun tanpa mereka sadari, kalau ada seseorang yang diam-diam sedang mengawasi mereka, yaitu Adi.


"Gia pulang bareng Egi naik bus? Kayaknya ada yang gak beres nih Gumamnya.


*****


Sesampainya di rumah Egi.


Mereka sedang mengerjakan tugas matematika yang di berikan pak Wiryo.


Kini Gia di berikan tugas oleh Egi untuk membantunya menulis jawaban di bukunya terlebih dahulu sambil di ajarkan Egi bagaimana cara menjawab soal.

__ADS_1


Soal :



"Pertama sederhanakan kedua ruas pertidaksamaan, kemudian pindahkan x ke ruas kiri persamaan dan angka ke ruas kanan persamaan." Ucapnya.


"Maksudnya bagaimana Egi?" Tanya Gia bingung.


"Kamu jumlahkan dulu yang ini dan yang ini, kecuali yang -2 < -x."



"Seperti ini Egi?"



"Nah setelah itu, pindahkan x ke ruas kiri persamaan dan angka ke ruas kanan persamaan. Saat kamu memindahkan sesuatu dalam persamaan ke sisi yang berlawanan, kamu harus mengubah tandanya menjadi kebalikannya."


Gia mulai mencoba memahami yang di ajarkan Egi.


"Begini Egi?"



"Iya kemudian kamu jumlahkan saja."


"Sudah!"



"Sekarang kita bagi kedua sisi pertidaksamaan dengan -1. Angka -1 negatif, jadi tanda pertidaksamaan harus di balik."


"Sudah Egi!"



"Waw, itu kamu ngerti cara mengerjakannya." Egi langsung kagum dengan cara Gia mengerjakan soalnya.


"Sebenarnya aku pintar Egi, hanya saja aku gak mau berusaha." Ungkapnya.


"Kalau kamu mau berusaha dan belajar lebih banyak lagi, kamu pasti akan pintar dan bisa mendapat nilai yang bagus pas ujian nanti. Biar kamu gak selalu mengandalkan jawaban punya orang lain."


"Susah Egi, bagi orang pemalas sepertiku, belajar itu membosankan, apalagi membaca. Gak ada gunanya. Jadi gak usah terlalu di pikirkan."


"Loh, kamu jangan gitu dong! Belajar itu asik. Semakin kamu banyak belajar, ke depannya setelah kamu lulus nanti, kamu bisa jadi orang yang sukses."


"Aku gak kepikiran ke situ Egi, karna orang tuaku sudah sukses, mereka sudah kaya dan punya banyak uang. Asal kamu tau ya, kesuksesan yang di dapat orang tuaku bukan dari belajar, melainkan dari pemberian orang lain. Jadi gak usah capek-capek belajar karna ingin hidup sukses. karna kesuksesan itu bisa datang dengan sendirinya tanpa harus belajar."


Egi langsung tertawa kecil mendengar kalimat yang diucapkannya.


"Gia, pikiran kamu terlalu rendah yaa. Belajar itu wajib! Belajar bukan hanya berarti ingin menjadi orang yang sukses saja. Melainkan untuk menambah pengetahuan dan wawasan agar kita bisa menjadi orang yang pintar dalam segala hal dan pintar mengambil keputusan." Jelas Egi.


"Tapi aku malas Egi!" Rengek Gia.


"Dengarkan aku baik-baik! Kalau misalnya ada seseorang yang datang ke rumah kamu, lalu orang tersebut meminta kamu untuk menandatangani beberapa lembar surat yang berupa hadiah rumah dan mobil. Apa kamu akan menandatanganinya tanpa membacanya?"


"Tentu saja aku akan menandatanganinya, seandainya ada orang seperti itu yang datang ke rumahku."


"Tapi, kalau sebenarnya dalam surat itu berisi mengambil alih rumah kamu dan segala harta yang ada, bagaimana? Apalagi semua surat itu sudah terlanjur kamu tandatangani tanpa membacanya terlebih dahulu. Apa yang akan kamu lakukan?"


Gia langsung di buat bengong.


"Mana ada orang yang seperti itu?"


"Itu sebabnya pentingnya membaca sebelum memutuskan sesuatu! Karna di dunia ini banyak sekali penipu yang berusaha menipu orang. Jadi kita harus pintar dan bijak dalam mengambil keputusan, gak boleh gegabah! Kita jangan mau kalah sama yang namanya penipu, apalagi tergiur dengan iming-iming hadiah. Itu sebabnya perlunya belajar untuk menambah wawasan dan pengetahuan supaya ke depannya, kita bisa menjadi orang yang lebih bijak dan lebih baik lagi dalam mengambil keputusan." Ucap Egi, Gia hanya bisa diam mendengarkan.


"Jadi jangan pernah berhenti untuk belajar maupun membaca. Suatu hari juga kamu akan punya anak juga, anak kamu nantinya perlu belajar juga dan yang mendidik tentunya harus orang tuanya terlebih dahulu. Tapi kalau misalnya orang tuanya gak pernah belajar sekalipun, bagaimana orang tuanya bisa mendidik anaknya menjadi lebih baik?"


Gia mulai mencerna kata-kata Egi.


...----------------...

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2