AFTERNOON WITH YOU

AFTERNOON WITH YOU
Perhatian Gia.


__ADS_3

...•...


...•...


...•...


...•...


...•...


Masih di rumah Egi.


Setelah selesai menyuapi Egi, Gia pergi ke dapur untuk menyimpan piring dan gelas bekas makannya Egi.


"Den Egi mau makan non?" Tanya bi Mirah penasaran sambil mencuci piring.


"Mau kok bi, berkat saran bibi untuk bicara lembut dan sopan, dia jadi mau makan."


"Syukurlah kalau begitu. Den Egi gak suka sama yang aneh-aneh. Itu sebabnya bibi kasih saran supaya non selalu bersikap baik dan lembut padanya."


"Iya bi, aku sudah gak bersikap aneh-aneh lagi kok di depan dia, tadi aku cukup bilang maaf dan bilang akan selalu mendukungnya agar secepatnya bisa sembuh. Dia langsung mau di suapin sama aku. Bahkan dia sampai minta lagi dan lagi. Hehe..." Ucapnya sebaliknya di barengi kekehan tawanya.


"Syukurlah... Bibi jadi lega."


Bi Mirah tak tahu yang sebenarnya tadi di lakukan Gia pada Egi bagaimana, bi Mirah pikir, Gia melakukan hal baik sesuai sarannya. Karna tadi sebelum Gia masuk ke dalam kamar Egi, bi Mirah sempat memberi saran padanya untuk membujuk Egi dengan sopan dan lemah lembut.


"Oh ya, Egi tadi bilang, bibi sebaiknya bekerja saja di dapur, jangan bolak balik lagi ke kamarnya. Dia bilang, biar aku saja mengurusnya. Dia gak pengen melihat bibi capek."


"Oh, den Egi bilang begitu?"


"Iya bibi."


"Baiklah kalau begitu."


.....


Di Kamar Egi.


Gia kembali masuk ke dalam kamarnya sambil membawa sepiring cemilan.


"Di mana bi Mirah?" Tanya Egi dengan tatapan kesal.


"Dia lagi kerja di dapur." Jawabnya sambil memasukkan cemilan ke dalam mulutnya.


"Kenapa kamu masih di sini? Sana pulang!" Usir Egi.


"Enggak! Aku gak mau!" Tolaknya dengan nada enteng lalu kembali menyantap cemilannya di depan Egi.


Egi langsung kesal melihat Gia yang berani menyantap cemilannya tanpa seizinnya, apalagi itu cemilan kesukaannya Olivia yang di sediakan khusus untuknya setiap datang ke rumah.


"Itu cemilan punyaku! Jangan di habiskan." Pekik Egi.


"Benarkah? Tadi aku nemu ini di kulkas, aku kira gak ada yang punya, jadi aku makan saja." Ucapnya tak tahu malu.


"Dasar gak tau malu! Sudah ku bilang..." Belum selesai Egi menyelesaikan perkataannya, lagi-lagi Gia menyuapinya cemilan.


"Haha... Sepertinya kamu masih belum kenyang, makanya mulut kamu terus nyerocos dari tadi seperti anak ayam." Ucapnya di iringi kekehan. Egi semakin di buat kesal melihatnya.


"Keluar dari kamarku!" Usir Egi.


"Gak mau!" Tolak Gia sambil terus mengunyah cemilannya.


"Kenapa kamu gak pergi saja dari sini! Kemarin aku sudah bilang ke kamu, jangan pernah kembali lagi ke rumah ini."


"Waktu itu kamu sering bilang 'Lakukan saja tugasmu dan jangan banyak mengeluh'. Apa kamu sudah lupa aku ini bekerja buat kamu?" Tanya Gia dengan nada mengejek. Egi semakin kesal melihatnya.


"Selama kamu belum memecat aku, aku akan tetap bekerja di rumah kamu."


"Sekarang kamu di pecat!" Ucap Egi tiba-tiba.


"Apa! Di pecat? Secepat itukah?" Gia berdenyit kaget.


"Iya, kalau begitu silahkan pergi, tinggalkan rumah ini!" Ucapnya mempersilahkan pergi. Gia langsung menunjukkan ekspresi sedih.


"Baiklah, kalau begitu." Ucapnya sambil beranjak pergi.


Egi langsung tersenyum puas melihatnya. Tapi tiba-tiba Gia kembali lagi duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Eh gak jadi deh!" Ucapnya sambil cengengesan.


Sontak Egi langsung berdenyit heran, ia pikir Gia akan beneran pergi, ternyata ia hanya mengajaknya bercanda.


"Kenapa gak pergi??" Teriak Egi kesal.


"Pemecatan kamu masih belum resmi!" Ucapnya.


"Omong kosong apa ini?" Pekiknya.


"Kalau kamu ingin aku pergi dari rumah ini, kamu harus menghapus video itu beserta rekaman suaraku yang kamu rekam waktu itu. Dan perjanjian kita bisa di batalkan. Aku gak kerja lagi di rumah kamu, dan kamu bisa kembali mengurus diri kamu sendiri dengan mengandalkan bi Mirah." Ucapnya memberi pilihan sulit pada Egi.


Egi berpikir sejenak.


"Aku gak akan pernah hapus video itu!" Tegasnya.


"Ya sudah, aku gak akan pergi!" Ucap Gia kekeh.


"Dasar gak tau malu!" Sindir Egi.


"Lalu, buat apa kamu terus menyimpan video itu?" Tanya Gia berdenyit kaget.


"Buat bukti." Ucapnya.


"Buat di kirimkan ke semua guru?" Tebak Gia. Egi hanya menatap sinis.


"Dengar yaa Cowok introver yang sok keren! Aku sudah mengorbankan waktu istirahat pulang sekolah dan tidur siangku untuk bekerja di rumah kamu. Bahkan hampir setiap siang gak ada waktu istirahat sekalipun buat aku. Setiap hari aku terus bekerja, bekerja, dan bekerja di rumah kamu. Apa kamu masih belum puas memperbudak aku?" Bentak Gia penuh emosi.


"Belum! Karena selama kamu bekerja di rumah ini, gak ada satupun pekerjaan yang kamu kerjakan dengan benar." Tegas Egi, Gia langsung emosi.


"Di mana hp kamu? Siniin!" Gia mulai mencari-cari ponselnya Egi.


"Buat apa? Kamu mau menghapus sendiri video nya? Cari saja kalau bisa!" Tantang Egi.


Dengan semangat Gia mulai mencari-cari ponsel Egi dan memberantakkan semua isi lemari.


"Apa yang kamu lakukan? Jangan bikin berantakan kamarku!" Teriak Egi.


Saat sedang asik mencari ponsel, tiba-tiba mata Gia tertuju pada sebuah kotak berukuran sedang.


"Hp nya pasti ada di dalam sini." Gumamnya sambil mengambil kotak tersebut dan mencoba membukanya.



Egi langsung berlari menghampirinya dan berusaha merebut kotak tersebut.


"Jangan di buka kotak itu, hp nya gak ada di dalam sana." Egi mencoba merebut kotak itu.


"Lepaskan! Dasar pengganggu!" Pekik Gia sambil menyenggol tangan kanannya dan mendorongnya hingga terjatuh.


"Akkhhh..." Teriak Egi kesakitan.


"Egi!" Gia langsung panik melihat Egi terjatuh apalagi alat penyangganya sampai terlepas.


Kalau Egi berteriak lagi sampai terdengar bi Mirah, bisa-bisa bi Mirah akan memarahinya karena telah lalai menjaga Egi.


"Akh...Uhm..."


Saat Egi akan berteriak kembali, dengan cepat Gia membungkam mulutnya dengan tangannya hingga Egi tak bisa berteriak lagi.


Kemudian Gia menggiringnya dan mendudukkannya di kasur.


"Lepaskan!" Ucap Egi dengan mulut yang masih di pengap oleh Gia.


"Syuttt... Aku akan lepaskan! Asal kamu janji gak akan teriak lagi." Bisik Gia. Egi mengangguk.


Gia langsung melepaskan tangannya, Egi langsung bisa bernafas kembali.


"Kamu gapapa? Maaf aku gak sengaja." Tanya Gia dengan nada panik.


"Alat penyangganya lepas." Ucap Egi sambil meringis kesakitan.


Gia semakin panik melihatnya di tambah pergelangan tangan Egi mulai mengeluarkan banyak noda merah seperti darah. Ia langsung berdiri sambil loncat-loncat panik.


"Duh bagaimana ini? Tangannya berdarah!"


"Panggil saja bi Mirah!" Pinta Egi.

__ADS_1


"Eng-enggak! Biar aku saja yang memperbaiki penyangganya." Ucap Gia.


Pertama untuk membersihkan noda merahnya, Gia mencari terlebih dahulu kotak P3K.


"Di mana kotak P3K nya?" Gumamnya panik.


"Kotak P3K nya ada di bawah, di samping kaki kiri kamu." Ucap Egi memberitahu.


Gia langsung melihat ke bawah dan benar saja kotak P3K nya berada di dekat kakinya. Ia langsung mengambilnya dan membukanya.


Kemudian ia mencoba membersihkan noda merah yang mengalir dari pergelangan tangannya menggunakan kapas.


"Ya Tuhan darahnya banyak sekali." Gumam Gia panik.


"Ini bukan darah." Ucap Egi. Gia langsung berdenyit kaget.


"Lalu apa?"


"Ini obat tetes merah, baru tadi perbannya di ganti sama bi Mirah."


"Oh, syukurlah... Aku pikir itu darah. Ya sudah kalau begitu, biar aku yang menggantinya lagi." Ucap Gia.


"Memang kamu bisa?"


"Bisa! Dulu waktu aku masih kecil, ayam jago punyaku kakinya berdarah akibat ketabrak motor, aku yang merawatnya dan memasangkan perban di kakinya, tapi pada akhirnya ayahku memotong ayam itu lalu di goreng." Jelasnya sambil menceritakan cerita miris masa kecilnya.


Seketika Egi ingin tertawa, tapi ia mencoba menahannya.


"Miris sekali! Tapi itu sama sekali gak ada hubungannya sama rasa sakit yang aku rasakan." Ucap Egi.


"Iya, kamu benar!" Gia kembali cengengesan.


Saat Gia tengah fokus mengganti perban dan memasang kembali alat penyangga, diam-diam Egi memperhatikan wajah cantiknya.



Namun saat ia masih memperhatikan wajah Gia, tiba-tiba ia mulai membayangkan wajah Olivia yang mengganti perbannya.



Egi berandai-andai, seandainya orang yang berada di sampingnya dan merawatnya saat ini adalah Olivia kekasihnya, mungkin ia akan bahagia.


Namun kini, kenyataannya malah orang lain yang bukan siapa-siapa yang merawatnya. Sementara kekasihnya seperti tak memedulikannya lagi.


Saat sudah selesai, Gia langsung menatap Egi yang tengah menatapnya sambil berkata.


"Sudah selesai!"


Egi langsung tersadar, kemudian ia menunduk malu.


"Sudah jam 5, tugasku sudah beres. Besok setelah pulang sekolah, aku akan kembali bekerja di rumah ini hingga besoknya lagi, dan besoknya lagi, dan besoknya lagi sampai kamu sembuh." Ucapnya antusias. Egi hanya diam mendengarkan ucapannya.


"Meskipun kamu terus mengusirku hingga beberapa kali, ucapan kamu bakal aku anggap radio rusak yang terus berbunyi." Lanjutnya bercanda sambil tertawa. Seketika Egi langsung tersenyum ingin tertawa mendengar ucapannya.


"Boleh aku minta tolong!"


"Apa?"


"Tuliskan surat sakit buat aku." Pinta Egi.


"Baiklah, kebetulan tulisanku sama persis sama tulisan kamu. Cuman tulisan aku jauh lebih bagus."


Egi langsung tersenyum. Gia langsung menyobek selembar kertas di bukunya lalu mulai membuatkan surat sakit untuk di kirimkan ke sekolah besok pagi.


*****


Keesokkan harinya.


Setelah pulang sekolah, Gia kembali ke rumah Egi untuk merawatnya.


Kini Egi mulai mau di rawat olehnya meskipun ia masih kesal, tapi perlahan kekesalannya mulai sirna semenjak Gia terus merawatnya.


Kini hanya Gia dan bi Mirah yang merawatnya. Meskipun Egi mengharapkan sosok kekasihnya yang merawatnya. Tapi yang lebih perhatian dengan kondisinya saat ini hanya Gia, meskipun ia bukan siapa-siapa hanyalah seorang teman sekelas.


Sementara kekasihnya terus beralasan sibuk, meskipun Egi meminta bantuannya dan sudah menghubunginya beberapa kali.


...----------------...

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2