
...•...
...•...
...•...
...•...
...•...
"Kamu di sini? Kamu gak ke sekolah?" Tanya Gia dengan nada kaget, tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Oh iya, Egi kan punya toko Sepatu di sini. Ngapain Gue nanya gitu yaa?" Batin Gia.
"Enggak, aku lagi ada kesibukan. Kamu di sini juga? Aku kira kamu sekolah." Tanya Egi balik.
"Enggak! Aku juga sama seperti kamu, punya kesibukan juga." Jawab Gia sembari cengengesan.
"Oh, tapi kamu kenapa lari-lari? Ada apa?" Tanya Egi lagi.
"Ah iya, sebenarnya ada cowok gila yang ngaku-ngaku sebagai pacar aku. Dan dia mengejar aku sampai aku takut, itu sebabnya aku lari." Jawabnya beralasan.
"Kamu kesini sama Hanna?" Tanya Egi lagi.
"Enggak, aku kesini sendiri! Hanna kan lagi di sekolah." Jawab Gia sambil cengengesan.
Lalu ia baru mulai menyadari kalau saat ini ia dan Egi sedang berada di toko parfum.
"Kamu ngapain di sini? Mau beli parfum?" Tanya Gia sedikit penasaran.
"Iya, ini aku lagi mau beli parfum, tapi dari tadi aku bingung mau pilih yang mana?" Jawab Egi sambil tersenyum nyengir sembari melihat-lihat parfum.
"Untuk siapa?" Tanya Gia semakin penasaran.
"Untuk orang yang aku sayang." Jawab Egi sembari cengengesan.
Gia langsung terdiam sejenak sembari berkata dalam batin.
"Siapa ya orang yang di sayangi Egi?"
"Wanita?" Tebak Gia. Egi kembali cengengesan sembari mengangguk.
"Mana mungkin orang sependiam Egi punya pacar? Gak mungkin! Mungkin itu untuk ibunya?" Batin Gia.
Ia pikir pasti orang yang Egi sayangi itu adalah ibunya.
"Aku tau parfum apa yang cocok buat orang yang kamu sayang!" Ucap Gia antusias sambil ikut memilihkan parfum.
"Kamu bisa bantu aku?" Tanya Egi.
"Tentu saja! Aku tau setiap parfum apa saja yang paling di sukai wanita. Biar aku pilihkan parfum yang wangi dan kualitasnya bagus. Orang yang kamu sayangi pasti akan suka." Ucap Gia sembari tersenyum. Egi langsung tersenyum senang.
"Makasih Gia! Dari tadi aku bingung mau pilih parfum yang mana? Aku gak tau parfum kesukaan wanita itu yang seperti apa?"
Gia langsung mengambil satu parfum yang mereknya sama seperti yang biasa di pakai ibunya.
"Ini yang paling bagus! Parfumnya wangi banget. Orang yang kamu sayangi pasti akan suka aromanya." Ucap Gia sambil memberikan parfumnya.
"Beneran?"
"Iyaaaa..." Ucap Gia mencoba meyakinkan.
"Ya sudah aku bakal beli parfum ini. Sekali lagi makasih ya, kamu sudah bantu aku." Ucap Egi dengan penuh senyuman.
"Sama-sama!"
Di momen saling melempar senyuman lebar, tanpa sengaja Gia melihat ke arah lain. Ya ternyata ada Doni yang sedang berjalan mencarinya, tak lama Doni melihat keberadaan Gia di sana.
"Gi-Giaaa!!!" Teriak Doni. Kemudian ia mulai berlari ke arah Gia.
Gia langsung panik karena Doni sudah melihatnya dan sekarang berlari menuju ke arahnya.
"Ah, aku pulang dulu ya! Aku buru-buru!" Pamit Gia pada Egi. Lalu ia berlari dengan cepat. Egi sampai terheran-heran melihat tingkah aneh Gia.
Egi memperhatikan Gia yang sudah berlari keluar pintu dan ia juga melihat Doni yang sedang mengejarnya.
"Oh, jadi itu cowok gila yang mengejar-ngejarnya. Tapi kalau orang gila, gak mungkin pakaiannya serapi itu." Gumam Egi.
Egi tak pikir panjang dan tak mau ambil pusing, ia langsung membeli parfumnya setelah itu kembali pergi ke restoran.
.....
Di luar Mall.
Dengan cepat Gia mencegat taksi yang lewat.
__ADS_1
"Giaa! Giaa! Giaa..."
"BERHENTI..."
Panggil Doni dari belakang.
"AAKKKHHH..."
Gia berteriak histeris melihat Doni. Dengan cepat ia langsung masuk ke dalam taksi.
"Cepat jalan pak! Cepatlah!" Rengek Gia pada supir.
"Baik." Ucap supir mulai menancap gas.
Doni berhenti mengejarnya sembari menatap taksi yang di tumpangi Gia sudah melesat jauh. Doni langsung mendengus kesal karna ia tak berhasil mengejarnya.
.....
Di Restoran.
Egi menghampiri kekasihnya yang sudah sangat lama menunggunya.
"Maaf ya lama." Ucap Egi.
"Kamu ini dari mana saja sih? Kok lama banget? Aku kira, kamu pulang ninggalin aku." Protes Olivia dengan raut wajah yang kesal.
"Ya maaf! Gak mungkinlah aku ninggalin kamu sayang. Aku juga tadi berpikir, kirain kamu sudah pulang gara-gara kesal menunggu aku." Goda Egi.
"Baru juga tadinya aku pikir lebih baik pulang saja. Tapi hati aku bilang, kalau kamu pasti akan kembali lagi." Ucap Olivia yang kekesalannya mulai menyurut. Egi langsung tertawa kecil sembari membelai rambutnya dan mengusap wajahnya.
"Ya maaf sayang! Tadi aku beli sesuatu buat kamu."
Egi memberikan satu kotak kecil berisi parfum yang tadi ia beli.
"Apa ini?" Tanya Olivia yang belum tau isinya.
"Buka saja!"
Dengan cepat Olivia langsung membuka kotaknya.
"Wow! Parfum!" Ucap Olivia dengan raut wajah senang.
"Buat aku?" Lanjut Olivia bertanya yang di balas anggukan Egi.
"Wahh... Makasih banyak sayang!" Ucap Olivia dengan raut wajah yang semakin senang.
"Sama-sama! Coba pakai parfumnya." Pinta Egi. Olivia mengangguk.
"Kamu suka?" Tanya Egi.
"Ini beneran buat aku?" Tanya Olivia setelah mencium aroma parfumnya yang sepertinya Olivia tak suka aromanya.
"Iya. Kenapa? Kamu gak suka?" Tanya Egi penasaran.
"Hmm... Makasih ya!" Ucap Olivia sedikit tersenyum sembari memasukkan kembali parfumnya ke dalam kotak.
"Bagaimana? Aromanya wangi?" Tanya Egi lagi karna Olivia menunjukan raut wajah yang sedikit murung.
"Aromanya wangi sekali, ini aroma parfumnya sama seperti yang selalu di pakai ibuku."
Ucapan Olivia membuat Egi berdenyit heran.
"Ibu kamu sering pakai parfum seperti itu? Tapi parfum inikan buat anak muda?"
"Parfum ini khusus ibu-ibu Gi. Parfum ini gak cocok buat di pakai anak muda! Ibuku saja sering banget pakai parfum ini kalau pergi kemana-mana. Bukan hanya ibuku saja tapi setiap ibu-ibu selalu memakai aroma parfum seperti ini." Jelas Olivia. Egi semakin menatapnya heran mendengar ucapan yang di lontarkan kekasihnya itu.
"Aku sudah mengenal lama aroma parfum ini. Di lihat dari bentukannya sama seperti punya ibuku." Ucapnya lagi sambil memperhatikan bentuk parfumnya.
"Aku baru tau, kalau parfum ibu-ibu seperti itu aromanya. Setau aku, baik ibu-ibu maupun anak perempuan sama-sama wanita. Walau berbeda umur, aroma parfum tak menjamin perbedaan antara wanita muda dan wanita tua. Bahkan pembuat parfum sendiri saja tak membedakan orang yang memakainya." Ucap Egi dengan raut wajah yang sedikit agak kecewa.
"Kalau kamu gak suka berikan saja pada ibumu. Nanti aku beli lagi yang lain buat kamu. Atau kamu bisa pilih sendiri kalau mau." Ucapnya lagi sembari memalingkan wajahnya.
Bagaimana tidak kesal? Egi dengan penuh perhatiannya sudah membelikannya parfum. Tapi Olivia sepertinya tak mau menerimanya dan malah mengatainya.
Olivia sedikit kaget dengan perkataan Egi. Ia mencoba mencairkan situasi dengan menenangkan Egi.
"Enggak! Gapapa. Gak usah beli lagi sayang! Aku suka kok aromanya, nanti aku coba buat pakai parfum ini ke sekolah."
Tiba-tiba Egi kembali terheran-heran dengan perkataan Olivia. Tadi ia mengatakan aromanya lebih pantas untuk ibu-ibu. Tapi sekarang ia bilang menyukainya. Aneh sekali, tapi sepertinya tak membuat Egi di buat kecewa lama-lama. Karna ia sangat mencintai kekasihnya. Dan apapun ucapan yang di lontarkan dari mulut kekasih tercintanya, ia tak akan marah meskipun kata-katanya tersebut terdengar menyinggung maupun menyakitkan. Ia takkan pernah marah.
Saat ini Egi malah lebih kesal pada Gia. Karna parfum itu adalah pilihannya. Padahal Gia bilang kalau ia tahu apa parfum yang di sukai para wanita. Seharusnya ia memilihkannya parfum khusus untuk anak muda saja bukan parfum yang biasa di pakai untuk ibu-ibu. Sepertinya yang di maksud Gia salah.
Gia mengira Egi mau membelikan parfum itu untuk ibunya. Padahal yang sebenarnya ia mau memberikan parfum tersebut untuk pujaan hatinya. Egi sendiri juga salah, harusnya ia meminta apa yang di maksud. Agar Gia memilihkannya khusus untuk para wanita muda atau gadis.
*****
Sesampainya di Rumah.
__ADS_1
Di Kamar.
Gia langsung membanting tasnya ke kasur. Setelah itu ia duduk sembari membuka ponselnya, lalu ia memblokir akun Doni di Dating Apps.
"AAKKHH!!! Kesel banget. Kenapa sih Gue harus ketemu kayak cowok gitu? Kenapa??"
Kemudian ia merebahkan dirinya di kasur sembari menangis.
"Kenapa percintaan Gue selalu gagal? Memang benar kata orang! Nemu pacar dari sosmed itu selalu gak benar." Gumamnya sembari terus menangis.
"Tapi Gue juga pengen punya pacar! Yang bisa membahagiakan Gue, memanjakan Gue, dan menyayangi Gue apa adanya. Gue gak butuh pacar yang malah bikin hidup Gue susah." Ucapnya dalam batin.
.....
Sementara di tengah Rumah.
Ibunya sedang mengadakan pesta dengan berjoget riang bersama teman-teman arisannya yang setiap 6 bulan sekali selalu mengadakan pesta kecil-kecilan ala ibu-ibu sosialita. Mereka berjoget di iringi musik yang menggema beserta nyanyian ibunya Gia yang sedang menyanyikan lagu Ayu Ting Ting yaitu 'Alamat palsu'.
...Kesana kemari membawa alamat......
...Namun yang kutemui bukan dirinya......
...Sayaangg......
...Yang ku terima......
...Lelaki palsu......
...........
Ibunya bernyanyi sembari sedikit mengubah lirik sebagai candaan. Nyanyian ibunya sampai terdengar ke kamar sang anak yang saat ini masih tengah bersedih meratapi nasib. Gia merasa tersindir oleh lagu yang di nyanyikan ibunya.
Sementara ibunya masih bersenang-senang dengan riang bersama teman-temannya. Ia tak tahu kalau sang anak saat ini tengah bersedih di dalam kamar.
*****
Pukul 17.30 sore.
Sebelum pulang dari mall. Egi berbelanja dulu pakaian, setelah itu ia mengganti jaket dan kaosnya dengan yang baru saja ia beli, sementara Olivia memakai mantel yang di belikan Egi.
Sepulang dari mall, sepasang kekasih tersebut nampaknya sedang jalan-jalan sembari berbincang-bincang mesra, lalu tiba-tiba Egi mulai membawanya berlari menuju ke suatu tempat.
Kemudian Egi mengajak kekasihnya berkunjung ke taman miliknya.
Sesampainya di taman.
Hanya mereka berdua yang berada di sana. Tak ada orang lain lagi yang berkunjung ke taman itu selain mereka. Karna waktu kunjungan ke taman itu di batas sampai jam 16.00 sore.
Tapi tidak dengan Egi, karna taman itu adalah aset yang sudah lama di beli keluarganya. Jadi Egi yang sudah menjadi bagian sebagai pemilik taman, bebas mau berkunjung kapan saja dan jam berapa pun.
"Sayang!" Olivia menghentikan langkahnya, di ikuti Egi yang menghentikan langkah kakinya juga.
Kemudian Olivia berdiri tegak di hadapan Egi sembari menggenggam erat kedua tangannya di depan air mancur besar yang pernah menjadi saksi bisu kisah cinta mereka berdua.
"Kamu masih ingat gak? Dulu kamu nembak aku di sini." Ucap Olivia sembari menatap mesra Egi.
"Iya aku selalu ingat." Jawab Egi.
"Dulu kita sering datang kesini kalau pacaran. Dan sekarang baru kali ini kita kembali lagi kesini setelah dua tahun lamanya. Semenjak kamu pergi."
"Benar sekali." Ucap Egi mengangguk.
"Egi?" Olivia langsung menaruh kedua tangannya di pundak Egi.
"Jangan pergi lagi! Aku gak mau kamu pergi lagi, aku gak mau lagi merindukan setiap kenangan yang pernah kita lalui bersama dengan penuh kesedihan, aku ingin kamu selalu di sini, berdiri tegak di depanku dan memelukku setiap aku membutuhkanmu." Ucap Olivia penuh penghayatan.
Egi langsung tersenyum sembari menundukkan kepala sebentar lalu kembali menatapnya dan merangkul pinggang kekasihnya itu.
"Aku cinta sama kamu. Mana mungkin aku pergi lagi! Dulu aku pergi, karna nenekku yang meminta. Tapi sekarang, sepertinya aku akan selalu di sini bersamamu dan menemanimu setiap waktu." Balas Egi penuh penghayatan juga.
"Egi, mari kita memulai kembali momen manis yang pernah kita lalui dulu di sini. Yang sempat terlupakan selama 2 tahun lamanya."
Egi langsung tersenyum manis mendengar ucapan Olivia.
"Ayo kita perbarui kembali!"
Egi berseru dengan penuh semangat.
"Ayoo!!" Olivia semakin bersemangat dengan melebarkan senyumannya yang merekah.
Kemudian Egi langsung menarik erat pinggang kekasihnya, kemudian ia mencium kening kekasihnya terlebih dahulu, selanjutnya tanpa aba-aba, ia mulai menyatukan bibirnya dengan bibir kekasihnya. Ia mulai ******* lembut bibirnya begitupun kekasihnya yang sangat menikmati setiap hisapan dan gigitan pada bibirnya.
Olivia semakin menikmati ciuman tersebut, ia langsung memasukkan lidahnya pada mulut Egi. Dan Egi pun semakin **********.
Momen romantis di antara mereka pun menjadi semakin panas, kesempatan bagus bagi pasangan tersebut untuk menikmati kencan di waktu sore dengan berciuman semakin panas dan lebih lama lagi. Tak ada lagi rasa canggung di antara mereka berdua yang sudah terbiasa menikmati setiap momen panas tersebut meskipun hari sudah mendekati Maghrib. Setiap ciuman, setiap belaian, setiap pelukan, mereka selalu dapatkan ketika mereka bersama baik di rumah maupun di luar.
Mereka sudah tak peduli meskipun ada orang yang melihat maupun memperhatikan mereka. Yang penting mereka menikmati setiap momen tersebut untuk di abadikan hingga selamanya.
__ADS_1
...----------------...
...Bersambung....