AFTERNOON WITH YOU

AFTERNOON WITH YOU
Oh, ternyata?


__ADS_3

...•...


...•...


...•...


Masih di rumah Egi.


Setelah selesai belajar bersama, seperti biasa, Gia sedang mengganti perbannya Egi.


"Aww... Pelan-pelan!" Egi meringis kesakitan.


"Maaf!" Ucap Gia sambil lebih berhati-hati lagi memasangkannya.


Egi langsung memperhatikan wajah Gia yang sedang memasang perbannya.


Setelah selesai memasang perban. Gia mulai bertanya.


"Egi, kamu sudah minum obat?"


Egi malah terdiam dengan wajah cengok.


"Kalau belum, kamu harus minum obat sekarang! Sudah beberapa hari aku gak lihat kamu minum obat." Ucapnya sambil menggulung perban dan memasukkannya ke dalam kotak P3K.


"Kebetulan obatku hilang." Ucapnya gugup.


"Apa! Hilang? Kok bisa hilang." Serentak Gia langsung kaget.


"Aku lupa menyimpannya."


"Pantesan beberapa hari ini, aku jarang lihat kamu minum obat."


Egi hanya bisa tersenyum mendengar kalimat yang dilontarkan Gia dengan wajah panik.


"Kalau obatnya hilang, bagaimana kamu bisa sembuh?"


"Kamu tenang saja. Nanti aku cari lagi obatnya." Ucap Egi mencoba menenangkan Gia yang khawatir.


"Gia, aku boleh minta tolong?"


"Apa Egi? Apa kamu mau minta tolong aku buat carikan obat kamu?" Tanya Gia sambil menimpalinya dengan tebakan.


"Bukan! Apa kamu bisa membantu aku membersihkan kamarku?" Ucap Egi mulai menyuruhnya.


"Tentu saja." Ucap Gia penuh semangat.


"Tapi Egi, apa aku boleh mengganti pakaian? Soalnya aku gak mau seragam aku kotor." Lanjutnya.


"Boleh, pakai saja seragam yang waktu itu sering kamu pakai saat bekerja."


"Apa! Pakai seragam itu lagi?" Gia berdenyit kaget.


"Kenapa? Kamu gak mau? Kalau kamu gak mau, pinjam saja pakaian bi Mirah."


Sebenarnya Gia tak ingin meminjam lagi pakaian bi Mirah, karena waktu itu ia sempat mencium aroma pakaiannya yang bau apek seperti tak pernah di cuci.


"Enggak Egi! Aku mau pakai seragam yang kemarin saja."


.....


Di ruang ganti.


Setelah mengganti pakaiannya, Gia berdandan terlebih dahulu memakai beberapa makeup yang ia bawa di tasnya.


Kemudian ia teringat pepatah ibunya, kalau lelaki lebih tertarik pada wanita yang bibirnya tebal dan merah merona daripada yang bibirnya tipis dan tak menggunakan lipstik sama sekali. Ia pun mengikuti pepatah ibunya dengan mencoba menebalkan bibirnya dengan lipstik yang ia pakai, agar menarik perhatian Egi.



Setelah selesai berdandan, ia mulai bergaya di depan cermin.


"Wah, Gue sudah cantik! Gue yakin, Egi bakal terpesona melihat kecantikan Gue."


Setelah keluar dari ruang ganti, ia menghadap pada Egi.


Egi Langsung membawanya ke kamarnya.


Sesampainya di sana, Egi memberikan sapu dan kemoceng, lalu menyuruhnya untuk membersihkan kamarnya.


"Kamu sapu lantainya setelah itu rapikan barang yang ada."

__ADS_1


"Apa lantainya perlu di pel juga?" Tanya Gia.


Egi terdiam sejenak, ia tak ingin kejadian yang waktu itu terulang lagi.


"Gak usah! Kamu hanya perlu menyapu dan membereskan semuanya. Biar nanti bi Mirah saja yang mengepel."


"Baik Egi."


Gia mulai menyapu, sementara Egi hanya duduk diam sambil memperhatikan Gia yang mulai menyapu kamarnya.


"Yang bersih yaa!"


"Siapp Egi!" Gia menyapu dengan penuh semangat.


Setelah selesai menyapu dan membereskan segala barang yang ada. Egi memberikannya sebotol parfum dan beberapa kelopak bunga mawar.


"Semprotkan seprainya dan setiap ruangan menggunakan ini, dan taburi kasurnya dengan semua bunga ini."


Dan lagi-lagi Egi menyuruhnya sambil mengeluarkan pesona mautnya yang berupa senyuman manisnya yang membuat Gia kembali seperti terhipnotis dan bersemangat menuruti perintah Egi.


"Baik Egi!"


Egi langsung keluar dari kamarnya, sementara Gia mulai menyemprotkan seprai kasurnya dan setiap dinding menggunakan parfum tersebut.


Saat menyemprotkannya, ia mencium aroma yang segar yang sangat tak asing di hidungnya.


"Wanginya seperti aroma kamar mama setiap kali papa pulang dari luar kota." Batinnya.


Setelah menyemprotkan setiap sudut kamar Egi dengan parfum. Ia mulai menabur beberapa kelopak bunga mawar di atas kasurnya.


"Ini bunga buat apa ya di taruh di sini? Jadi ingat deh cerita mama dulu, pas mau malam pertama sama papa, katanya papa menabur bunga mawar di kasurnya saat mau tidur sama mama." Gumamnya sambil menabur bunga.


Tapi melihat semua keanehan ini, tak membuatnya curiga terhadap Egi, karena Gia sendiri tipe orang yang tak pernah kepo dengan urusan orang lain, dan tak mau ambil pusing.


Setelah menabur kelopak bunga, Gia beranjak dari kasur. Kemudian ia tak sengaja menginjak sebuah kotak.


"Ini kan kotak yang waktu itu." Gia langsung mengambil kotaknya.


Kemudian ia kembali teringat saat Egi berusaha merebut kotak ini darinya.


Gia sangat penasaran apa isi yang ada di dalam kotak ini.


"Ternyata gak di kunci." Gumamnya senang.


Setelah melihat isinya, betapa anehnya Gia melihat isi kotak tersebut yang berupa beberapa bungkus ****** dan beberapa pil KB dan obat perangsang.


"Eh, apa ini? Kayak balon?"


Gia si gadis polos yang masih berotak bocil pun tak tahu benda itu dan kegunaannya untuk apa, karna ia baru pertama kali melihatnya.


"Ini obat apa? Apa ini obat punya Egi yang katanya hilang? Tapi perasaan obat yang dari dokter kemarin, gak kayak gini deh." Gumamnya sambil meneliti obat tersebut.


"Perasaan Gue saja kali! Kayaknya ini beneran obat punya Egi, kayaknya Egi lupa menyimpannya."


Tak lama, Egi memanggilnya dari luar.


"GIAA!! GIAA!! GIAA!!"


Gia langsung panik dan menutup kotak tersebut, tapi ia mengambil obat perangsang dan pil KB yang ia pikir itu adalah obat milik Egi yang merupakan obat dari dokter.


Lalu ia menyembunyikan kotak yang kini hanya berisi ****** saja di bawah kasur. Setelah itu ia keluar menemui Egi.


"Ada apa Egi?"


"Sudah bersih kamarnya?"


"Sudah Egi! Oh ya, obat kamu sudah ketemu. Tadi aku menemukannya di bawah kasur."


"Benarkah?"


"Iyaa! Lainkali jangan simpan obat sembarangan!" Tegur Gia dengan nada lembutnya.


"Iyaa!"


"Ayo duduk dulu! Aku mau ambil air dulu." Gia langsung bergegas pergi ke dapur.


"Kok bisa ketemu ya? Perasaan obat dari dokter aku simpan di dalam sepatu." Gumamnya.


Setelah Gia datang sambil membawakan segelas air, ia menyuapi Egi obat yang ia kira itu obat dari dokter. Egi yang tak memperhatikan obat tersebut langsung meminumnya begitu saja tanpa melihatnya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Untuk sementara, obat kamu biar aku saja yang simpan. Kalau kamu yang simpan, nanti kamu lupa lagi simpan di mana." Ucap Gia. Egi mengangguk mengiyakan ucapannya.


.....


Pukul 17.00 sore.


Ini sudah saatnya Gia pulang. Sebelum pulang, Egi mengajaknya bicara terlebih dahulu.


"Gia, besok kan libur, besok pagi kamu ke rumah lagi ya. Bantu bi Mirah bersihkan kebun."


"Siapp Egi!" Ucap Gia sambil kembali hormat.


"Gia, jangan pernah merasa bosan untuk selalu datang ke rumah ini dan membantuku setiap kali aku membutuhkanmu. Karna Gia, aku ingin kamu selalu ada untukku setiap saat, aku ingin kamu selalu berada di dekatku meskipun itu hanya di siang hari saja." Ucap Egi dengan mata berbinar-binar.


Seketika membuat Gia langsung tercengang. Dan mulai kembali terukir senyuman di bibirnya.


"Aku akan selalu ada buat kamu Egi, tapi bukan hanya setiap saat, melainkan setiap waktu, setiap hari, selama berjam-jam, aku akan menghabiskan seluruh waktu siangku hanya untuk selalu berada di samping kamu Egi." Ucapnya penuh semangat.


"Ya sudah kalau begitu, kamu boleh pulang sekarang."


"Egi, kalau malam ini kamu merindukan aku, sebut saja namaku tiga kali. Aku pasti akan datang ke dalam mimpimu."


Egi langsung menunduk sambil tersenyum malu-malu mendengar ucapan manis dari Gia.


"Aku pulang dulu ya Egi! Besok aku akan kembali lagi ke rumah ini untuk selalu menemani kamu." Pamit Gia sambil senyum malu-malu.


Egi mengangguk sambil melambai-lambaikan tangan kirinya. Gia pun langsung berjalan pulang sendiri tanpa ada yang mengantarkannya pulang. Ia berjalan dengan penuh kebahagiaan.


*****


Di dalam bus.


Gia terus senyum-senyum sendiri mengingat kata-kata Egi tadi.


"Gia, aku ingin kamu selalu ada untukku setiap saat, aku ingin kamu selalu berada di dekatku meskipun itu hanya di siang hari saja."


Kemudian ia mulai bergumam dalam batinnya.


"Duh, kenapa ya akhir-akhir ini setiap mendengar ucapan Egi, jantung Gue deg-degan? Apa ini yang di namakan cinta? Ah gak mungkin! Mungkin ini asam lambung Gue yang mulai kambuh."


Sepanjang perjalanan, ia mulai kembali mengingat-ingat kata-kata Egi waktu itu.


"Seandainya aku punya pacar sebaik dan secantik kamu, aku pasti akan senang."


"Seandainya aku punya pacar sebaik dan secantik kamu, aku pasti akan senang."


"Seandainya aku punya pacar sebaik dan secantik kamu, aku pasti akan senang."


Gia terus mengingat kata-kata tersebut sambil senyum-senyum sendiri layaknya orang aneh, dan seperti biasa orang-orang di sekitarnya yang memperhatikannya menganggapnya sebagai orang sinting.


*****


Di kamar.


Egi melihat kamarnya yang sudah bersih dan rapih. Lalu ia berjalan mendekati kasur yang sudah tersusun beberapa kelopak bunga.


Kemudian ia berjalan menuju ruang ganti.


Di ruang ganti.


Ia mulai memilih blazer yang akan ia kenakan.


Setelah itu ia mulai bercermin sambil memperhatikan penampilannya.


"Hmm... Mudah sekali mengelabui orang seperti Gia yang bodoh." Ucap Egi sambil tersenyum nyengir.


Kemudian tangan kirinya mulai melepas alat penyangga yang ada di tangannya. Lalu ia melepas juga perban yang tadi di pasang oleh Gia, setelah itu ia membuang perban tersebut ke tong sampah.


Setelah semuanya terlepas, Egi mulai menggerakkan tangan kanannya beserta jari jemarinya.


Ternyata selama ini tangan Egi sudah sembuh sejak tiga Minggu yang lalu. Ia sengaja pura-pura masih sakit di depan Gia, karna ia berusaha memanfaatkan kebaikannya demi bisa terus membalaskan dendamnya.


Kemudian dengan tangan kanannya yang benar-benar sudah bisa di gunakan kembali, ia mengenakan blazer pilihannya. Setelah itu ia mengambil ponselnya dan menelepon kekasihnya.


"Sayang, kamu di mana? Aku jemput yaa! Kamarku sudah siap."


...----------------...


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2