AFTERNOON WITH YOU

AFTERNOON WITH YOU
Gia si pembohong handal.


__ADS_3

...•...


...•...


...•...


...•...


...•...


"GIAAAAAA..." Panggil siswa laki-laki bermata empat.


Gia langsung menoleh ke arah siswa itu yang merupakan teman sekelasnya.


"Lo di panggil ke ruang guru!" Ucap siswa laki-laki itu memberi tahu.


Gia langsung bergegas berlari menuju ruang guru.


Adi menatap tajam kepergian Gia sembari mengepalkan sebelah tangan kanannya.


Hanna yang dari tadi memperhatikan gelagat Adi langsung menghampirinya.


"Ada apa?"


Adi langsung berbalik menatap Hanna.


.....


Sesampainya di ruang guru.


Gia duduk berhadapan dengan para guru yang duduk melingkarinya.


Para guru menatap Gia dengan tatapan mata yang sinis. Gia bingung, ada apa ini? Kenapa dirinya di panggil ke sini?


"Ada apa ya bapak dan ibu memanggil saya?"


"Hari ini kita akan berbicara tentang kejujuran." Ujar pak Wiryo.


Ucapan pak Wiryo membuat Gia langsung tegang sembari menelan salivanya.


"Gia, apakah kamu mengerjakan ujian dengan sungguh-sungguh?" Tanya bu Ranti mulai menginterogasinya.


Jleeebbb!!


Gia langsung membulatkan mata, ia terkejut dengan pertanyaan bu Ranti yang menginterogasinya.



"Saya bersungguh-sungguh bu!" Jawab Gia gemetar meskipun ia berbohong.


"Benarkah?" Tanya bu Mirda tak yakin.


"Benar!" Jawab Gia sembari menganggukkan kepala.


"Sebenarnya di sini kami meragukan nilai yang kami berikan pada ujian kamu. Karna setiap jawaban yang kamu kerjakan hampir benar semua." Ucap Bu Ranti menjelaskan.


"Iya benar! Biasanya jawaban kamu sering banyak yang salah saat ujian. Tapi kenapa kali ini, kamu mendapat nilai tertinggi melebihi yang lain? Terutama matematika. Bagaimana cara kamu mengerjakannya? Apa kamu menyontek?" Timpal Bu Ratna mempertanyakan.


Gia menghela nafas panjang dan berpikir.


"Bagaimana ini? Gue harus jawab apa?" Batin Gia.


"Kenapa diam? Ayo jawab!" Tegas Bu Mirda.


Setelah berpikir selama beberapa menit sembari menggigit bibir bawahnya.


Gia akhirnya menegakkan badan dan mulai memberikan pernyataan palsu.


"Selama ujian, saya tidak menyontek bu! Sebelum menuju hari ujian, saya menghafal dulu semua materi dari semua pelajaran dengan sungguh-sungguh, di bawah bimbingan ibu saya yang tegas. Bahkan saya sampai rela melupakan waktu tidur saya demi belajar."


"Benarkah?" Tanya pak Wiryo kurang yakin.

__ADS_1


"Benar pak! Saya belajar setiap hari untuk bisa mendapat nilai yang bagus. Bahkan saya jarang tidur dan terus menetap di meja belajar dari pagi sampai malam. Saya tidak pernah tidur! Kalau bapak dan ibu tidak percaya, lihat saja kantung mata saya yang menghitam akibat kurang tidur."


Ucapnya memberi penjelasan palsu dan dengan sopannya Gia sembari menjulurkan kantung matanya dengan telunjuknya.


"Jika saya mendapat nilai tertinggi melebihi yang lainnya. Berarti semua usaha saya selama ini dalam belajar tidak sia-sia."


"Hmm... Berarti kamu sekarang sudah mulai pintar yaa?" Celetuk Bu Mirda. Gia hanya bisa terkekeh.


"Baiklah... Mulai Minggu depan kamu harus mengikuti remedial bersama teman-teman lainnya!" Ujar Bu Ratna. Gia langsung mendongak kaget.


"Apa? Kenapa saya harus ikut remedial juga? Saya kan sudah mendapat nilai tertinggi, kenapa saya harus ikut remedial?"


"Untuk membuktikan bahwa kamu ini benar-benar mengerjakan ujian dengan bersungguh-sungguh! Agar kami di sini dan semua teman-teman kamu percaya, bahwa kamu ini sudah pintar."


Jleeebbb!!


Gia mulai bingung, ia tak bisa berkata-kata lagi.


"Bagaimana? Apa kamu sanggup mengikuti remedial?"


Gia mulai berpikir.


"Kalau tidak, berarti kami anggap kamu tidak jujur dalam mengerjakan ujian. Dengan terpaksa kami akan mencabut kembali nilai kamu menjadi nol. Dan Sean yang akan jadi gantinya sebagai siswa dengan nilai tertinggi."


Gia semakin terkejut, ia mulai di buat bingung. Kalau ia tidak menyetujuinya maka usahanya selama ini dalam berbuat curang akan sia-sia.


Sebelumnya ia sangat bahagia sekali bisa mendapat nilai tertinggi.


Tadinya setelah pulang sekolah, ia ingin sekali memperlihatkan nilai tertingginya pada ibunya yang selama ini mengharapkannya bisa mendapat nilai tertinggi.


Ibunya pasti akan sangat bangga, akhirnya putri tercintanya berhasil mendapat nilai tertinggi meskipun dari hasil berbuat curang.


Tapi kalau ia tidak menyetujui keputusan para guru, maka nilainya akan hilang dan ia tidak akan bisa memperlihatkan nilai pertamanya yang sangat bagus pada ibunya.


Dan ia akan di curigai, kalau ia benar-benar tak bersungguh-sungguh dalam mengerjakan ujian.


Ia tidak ingin itu terjadi. Dengan terpaksa Gia mengiyakan keputusan para guru.


"Baik, mulai Minggu depan kamu akan ikut remedial bersama teman-teman lainnya. Dan jangan berbuat curang ya selama ujian! Karna kami akan memperketat pengawasan. Jadi jangan berbuat macam-macam."


Gia mengangguk. Setelah itu ia keluar ruangan dengan lesu.


"Gimana nih?" Gumamnya.


*****


Kembali ke Kantin.


"Apa nih?"


"Beneran?"


"Lo tau dari mana?"


Semua murid terkejut dengan pernyataan Adi.


"Ya bagaimana lagi? Kalau dia gak melakukan semua itu! Mana mungkin dia dapat nilai paling tinggi!" Ujar Adi.


Gia yang baru saja tiba langsung terheran-heran melihat teman-temannya masih berkerumun di sana sambil membicarakan seseorang.


Kemudian dengan cepat ia menghampiri semua teman-temannya.


"Ada apa ini? Kalian membicarakan siapa?"


"Gi, Lo beneran berbuat seperti itu?" Tanya Hanna.



"Kita gak nyangka Gi!" Celetuk yang lainnya.


Gia langsung kaget dengan ucapan teman-temannya.

__ADS_1



"Maksud kalian ini apa sih?" Gia semakin di buat heran.


"Gak usah pura-pura deh! Lo sengaja kan menyogok para guru supaya dapat nilai yang bagus! Ayo ngaku Lo!" Tuduh Adi dengan nada membentak.


"Hah?" Gia langsung membulatkan matanya dengan tatapan melongo atas tuduhan Adi.


"Sembarangan saja ya kalau ngomong! Lo mau fitnah Gue yaa??" Pekik Gia.


"Ayo ngaku! Lo pasti menyogok para guru kan? Makanya Lo dapat nilai bagus." Sergah Sean.


Gia mulai panik, ia di buat kembali gemetar, perlahan ia mencoba mundur sembari merapatkan bibirnya.


"Duh gimana nih? Semuanya malah menuduh Gue kayak gitu." Batinnya.


"Ayo ngaku Lo! Ngaku!" Desak Ditto sembari memajukan badannya dan mendorong-dorong bahunya secara kasar. Yang lainnya ikut berseru.


Gia jadi semakin terbully oleh teman-temannya yang mulai memakinya. Padahal ia baru saja mentraktir mereka.


"Sudah cukup! Cukup! Cukup!" Pekik Gia.


"Kalian jangan tuduh Gue sembarangan! Gue gak menyogok para guru! Gue mengerjakan ujian dengan bersungguh-sungguh!" Bantah Gia.


"Lo ini Adi! Suka banget memancing keributan! Menuduh Gue yang enggak-enggak! Dosa ya Lo fitnah Gue!" Geram Gia pada Adi.


Dengan raut wajah yang masih menunjukkan ekspresi yang emosi. Adi menghampirinya dan memajukan wajahnya.


"Serius mengerjakan dengan bersungguh-sungguh?" Cibir Adi.


Gia mulai memucat, rahangnya menegang, wajahnya berkerut, tangannya mulai bergetar hebat setelah di tatap tajam oleh Adi.


"Iya, Gue serius!" Ucapnya sembari memalingkan wajah.


"Kalau boleh tau, Lo waktu itu menyontek ke siapa?" Adi mulai menginterogasinya.


"Gue gak menyontek ke siapa-siapa! Gue ini kan sudah pintar makanya dapat nilai bagus." Jawabnya dengan santai.


Adi langsung menjauhkan wajahnya dan mundur satu langkah ke belakang.


"Woww!! Pintar katanya!" Ucap Adi pada teman lainnya sembari menunjuknya dengan ucapan meledek.


"Oke, kalau begitu! Minggu depan Lo harus ikut remedial juga. Buat pembuktian! Yang lain setuju??" Seru Adi.


"Setuju!!" Semuanya bersorak.


Adi menyeringai dan kembali berseru setuju.


Adi langsung menghentikan sorakan teman-temannya dengan memberi kode lewat tangannya.


"Kalau pas remedial nanti, dia dapat nilai yang jelek. Berarti benar dugaan Gue, kalau waktu itu dia berbuat curang dengan menyogok para guru." Ucapnya.


Gia hanya bisa menghela nafas sembari menatap tajam Adi.


"Tapi Adi, kalau pas remedial nanti, dia diam-diam menyogok para guru tanpa sepengetahuan kita, gimana?" Tanya salah satu dari mereka.


"Kita ikuti saja langkahnya kemanapun dia berjalan!" Jawab Adi sembari kembali menatap sinis Gia.


"Kalau Lo dapat nilai yang jelek, Lo harus siap-siap menerima hukuman yang bakal kita kasih nanti." Ucapnya lagi memberi tantangan.


Tanpa berpikir lama-lama, Gia langsung menerima keputusannya dan menjawab dengan lantang.


"Oke! Tapi kalau Gue dapat nilai yang bagus, Gue bakal adakan pesta selama tujuh hari tujuh malam! Dan Lo yang bakal Gue hukum karna pencemaran nama baik!"


"Oke siapa takut!" Tantang Adi.


Adi memberi seringai miring.


Kini Adi dan Gia saling menatap tajam satu sama lain di iringi sorakan semua teman-temannya.


...----------------...

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2