
...•...
...•...
...•...
...•...
...•...
Disaat pertikaian antara Adi dan Gia masih berlangsung di ruang guru. Kembali pada Hanna yang masih menangis tersedu-sedu di kolong bangku.
Tak ada siapa-siapa di dalam kelas, hanya Hanna sendiri yang sedang menumpahkan kesedihannya. Tak lama Egi datang.
Egi yang baru saja tiba langsung kaget melihat Hanna yang sedang terisak tangis di bawah bangku.
Hanna yang tak menyadari kedatangan Egi terus saja menangis di balik lipatan tangannya.
Kemudian Egi menghampiri Hanna.
"Han, kamu kenapa?"
"Egi!"
Hanna langsung bangkit dan tiba-tiba langsung memeluk Egi begitu saja.
Egi langsung di buat kaget setelah Hanna memeluknya begitu saja sembari menangis sesenggukan.
Untungnya tak ada siswa lain yang masuk ke dalam kelas melihat pemandangan langka seperti ini.
Kalau sampai ada yang melihat, akan terjadi kehebohan besar bagi Egi dan Hanna, yang akan jadi bahan gosip orang-orang. Bisa-bisa akan terjadi perseteruan besar dan amukkan Fangirls Egi pada Hanna.
Mumpung tak ada yang melihat, Egi berusaha menenangkan Hanna dengan menepuk-nepuk punggungnya.
"Sudah tenang! Jangan menangis!"
Hanna langsung melepas pelukannya sembari menghapus air matanya.
"Ada apa?"
"Adi!" Ucap Hanna sesenggukan.
"Adi, kenapa?"
"Dia lebih memilih menggandeng tangan Gia dari pada aku." Curhat Hanna.
"Apa?" Egi berdenyit heran. Hanna hanya mengangguk sembari terus menangis.
"Memangnya kamu sama Adi pacaran?"
"Enggak!" Hanna menggelengkan kepala dengan cepat.
"Tapi kenapa kamu menangis? Apa kamu cemburu?" Tebak Egi. Hanna langsung menunduk malu sembari masih menangis sesenggukan.
"Mungkin Adi sama Gia sudah pacaran." Celetuk Egi membuat Hanna semakin tambah sedih dan menangis histeris.
Egi langsung panik dan mencoba menenangkan Hanna dengan merangkulnya, agar tangisannya berhenti dan tak menimbulkan kebisingan.
"Sudah jangan menangis terus! Kamu gak ke bawah?" Tanya Egi mencoba mencairkan suasana dengan membahas hal yang lain.
"Ngapain?" Tanya balik Hanna sembari menatap kaget.
"Ada keributan di ruang guru. Semua orang lagi pada melihatnya dari balik jendela."
"Keributan apa?"
__ADS_1
"Aku gak tau, itu sebabnya aku kesini cuman mau menyimpan tas saja, terus aku mau kembali lagi ke bawah."
Hanna langsung berdenyit heran.
"Kalau begitu ayo kita keluar! Sepertinya ada masalah yang besar! Kita harus tau masalah apa yang terjadi." Ajak Hanna.
"Ayo!" Sahut Egi.
Mereka langsung keluar berbarengan menuju ke ruang guru yang berada di lantai bawah.
Saat berjalan menuruni anak tangga, Hanna berpapasan dengan Elis yang akan berjalan menaiki tangga. Ia kaget melihat keberadaan Elis di sini.
Termasuk Elis sendiri, ia juga kaget melihat Hanna yang sudah terlanjur melihatnya.
Elis mengurungkan niatnya sembari memalingkan wajahnya, lalu ia mencoba untuk kabur.
"Eliss!! Tungguu!!!" Teriak Hanna sembari berlari menghampirinya.
Mendadak Elis terpaksa mengurungkan niatnya untuk kabur setelah Hanna memanggilnya.
"Lo di sini?" Tanya Hanna kaget.
Elis bingung mau menjawab apa? Ia hanya bisa cengengesan sembari menatap Hanna.
Egi tak mau berlama-lama menunggu Hanna yang berbincang dulu dengan Elis. Ia memutuskan untuk pergi duluan.
"Aku duluan!" Pamitnya pada Hanna.
Hanna mengangguk cepat. Lalu Egi pergi meninggalkannya.
Setelah Egi berlalu, Hanna mulai mempertanyakan tujuan keberadaan Elis di sini.
"Lo ikut remedial juga?"
"Ah iya!" Jawab Elis sembari cengengesan.
"Gue sebenarnya cuman mau main-main saja kok!" Jawab Elis beralasan.
"Oh!" Ucap Hanna percaya-percaya saja. Tapi sebenarnya ia tak yakin dengan ucapan Elis yang kaku.
"Gue ke kantin dulu yaa!" Pamit Elis sembari cepat-cepat pergi berjalan menjauhi Hanna.
"Iya!"
Hanna pun bergegas berlari menuju ruang guru agar tak ketinggalan info.
.....
Kembali pada pertikaian Gia dan Adi yang masih berada di ruang guru yang di saksikan langsung oleh semua siswa yang semakin banyak yang berdatangan menyaksikan pertikaian yang terjadi dari luar jendela.
Kini pertikaian mereka sudah jadi tontonan banyak orang.
"Ayo jujur! Katakan yang sebenarnya." Pekik Adi.
Gia langsung menangis tersedu-sedu. Entah ia mengeluarkan air mata asli atau palsu? Hanya Tuhan yang tahu.
"AYOO GIAA!! JUJUURRR..." Pekik Adi penuh keemosian.
"Cukuupp Adii!! Jangan tekan Gia seperti itu!" Bentak Bu Ranti. Adi langsung berhenti memekiknya.
"Adi! Bagaimana kamu bisa menuduh Gia seperti itu? Bagaimana cara Gia melakukannya? Setiap nama siswa harus selalu di namai dengan pulpen di kertasnya. Bagaimana cara Gia bisa menggantinya atau merubahnya?" Tanya Bu Ranti kaget.
"Kalian pasti akan kaget!" Ucap Adi sembari mengeluarkan pulpennya.
"Lihat ini! Dengan ini bapak dan ibu semua! Waktu itu Gia sengaja memberi saya pulpen. Dan pulpen ini adalah pulpen yang bisa di hapus, dia sengaja menghapus nama saya di lembar jawaban milik saya saat semua siswa sudah keluar. Makanya dia selalu mengumpulkan di paling terakhir, karna dia ingin melakukan kecurangan terlebih dahulu."
"Benarkah itu Gia?" Tanya Bu Ratna beralih ke arah Gia.
__ADS_1
"Itu semua bohong Bu!" Bantah Gia.
"Lo yang bohong!" Sela Adi memekik kebohongan Gia.
Kini Gia semakin tersudutkan bahkan para guru yang ada di hadapannya mulai menatapnya tajam penuh kecurigaan.
"Kalau bapak dan ibu guru masih tidak percaya. Saya punya saksinya!" Ucap Adi dengan emosinya yang semakin menjadi-jadi.
"Siapa saksinya? Coba buktikan!!"
"Baik, saya akan panggil dia sekarang!" Adi langsung keluar dari ruang guru.
Gia mulai semakin panik dan jantungnya mulai berdebar kencang. Sepertinya ini adalah hari terakhirnya untuk tersenyum dan tertawa sebelum kebusukannya mulai terbongkar.
.....
Saat tengah mencari keberadaan Elis, Adi berpapasan dengan Hanna yang akan berjalan menuju ke ruang guru.
"Lo lihat Elis?" Tanya Adi. Hanna langsung menatap jutek dan menghiraukan pertanyaannya lalu pergi.
Adi mulai merasa bersalah pada Hanna karna sudah membentaknya tadi. Kemudian ia mencoba mencegat Hanna.
"Tunggu Han!!"
Hanna langsung berhenti melangkah, Adi kembali berjalan mundur menghampiri Hanna.
"Maaf, tadi Gue sudah membentak Lo. Sebenarnya Gue gak sengaja membentak Lo. Gue bisa jelasin semuanya tentang..."
"Apa lagi sih yang mau Lo jelasin?" Sela Hanna sembari menatap kesal Adi.
"Lo jangan salah paham dulu! Ini semua tentang perbuatan curang sahabat Lo." Ucap Adi dengan sorot mata yang tajam. Hanna langsung menatap heran.
Kemudian Adi mulai menceritakan segalanya tentang kelakuan Gia selama ujian dengan panjang lebar.
Hanna semakin di buat kaget dan syok mendengar penjelasan dari Adi.
"Lo pasti kaget dan gak percaya, sahabat Lo sendiri nekat lakuin semua itu. Itu sebabnya, sekarang Gue mau cari Elis buat jadi saksi dari kecurangan Gia. Lo mau kan bantu Gue cari Elis buat membongkar segalanya?" Pinta Adi setelah selesai menjelaskan.
Kemudian Hanna teringat kembali pada hari itu saat memergoki Gia menulis nama Egi di lembar jawabannya.
"Berarti benar dugaan Gue selama ini!" Batin Hanna.
"Tadi Gue ketemu Elis, dia mau ke kantin." Ucap Hanna memberitahu.
"Ya sudah, kalau begitu Lo antar Gue cari Elis ke kantin."
Hanna mengangguk dan membantu Adi mencari Elis ke kantin.
.....
Tak jauh dari ruang guru, salah satu teman mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Egi.
Ia menceritakannya secara panjang lebar sampai keinti-intinya.
"Gue gak tau, ini semua benar atau enggaknya. Tapi kita semua di sini masih menunggu kepastian dari Adi. Katanya dia mau bawa saksi buat membongkar segalanya."
Mendengar pernyataan temannya. Egi mulai berpikir.
"Apa jangan-jangan nilai ujian aku kali ini, semua itu gara-gara ulah Gia juga??" Batin Egi mulai curiga.
Tak lama.
Adi menggiring Elis berlari menuju ke ruang guru, di ikuti Hanna juga yang berlari dari belakang.
Semua siswa mulai pada heboh lagi dan mulai kembali mengintip.
...----------------...
__ADS_1
...Bersambung....