AFTERNOON WITH YOU

AFTERNOON WITH YOU
Emosi Egi.


__ADS_3

Pagi Hari.


Pukul 07.30 pagi.


Tak seperti biasanya. Hanna sedang menunggu seseorang di halte bus.


Tak lama bus datang dan menurunkan satu pemuda berseragam sekolah yaitu Egi. Dengan cepat Hanna berlari menghampirinya.


"Egi!!"


"Hanna, kamu ngapain di sini?" Tanya Egi berdenyit heran karna tak biasanya Hanna berdiam diri di halte.


"Ada yang mau aku kasih tau sesuatu sama kamu!" Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.



"Apa?" Tanya Egi.


Sebelum masuk ke sekolah, Hanna mengajak Egi untuk berdiam dulu sebentar di halte. Karna Hanna akan menunjukkan sebuah rahasia kelam Gia mengenai remedial ujian waktu itu.


Setelah Hanna menunjukkan videonya, Egi mulai menonton menggunakan earphone.


Sebelumnya Hanna mengedit durasi semua videonya dengan mengambil bagian-bagian yang terpenting dan memotong bagian-bagian dari video yang tidak penting, agar Egi bisa menonton di awal di durasi pukul 01.30 malam dengan durasi 20 menit.


Setelah selesai menonton videonya. Egi langsung emosi.


Kesal, marah, dan syok. Kini semua emosinya bercampur aduk dalam dirinya.


"Jadi selama ini Gia yang melakukan perbuatan curang ini?" Tanya Egi.


"Iyaa!" Jawab Hanna. Egi semakin terkejut tak menyangka.


"Tapi kenapa dia lakukan ini?"


"Ini semua demi mendapatkan nilai yang bagus!" Jelas Hanna.


"Aku gak nyangka! Kenapa dia benar-benar tegaa!!!" Pekik Egi marah.


"Egi, kita harus kasih tau semuanya kepada para guru. Biar kamu dan Adi dapat keadilan. Adi juga sama menderitanya seperti kamu. Apalagi dia gak bisa mengikuti mata pelajaran karna dia di skorsing dan harus menjalani hukuman dan itu semua karna ulah Gia."


"Tapi kenapa kamu baru memberitahu aku sekarang?"


"Aku juga baru tau kemarin malam. Saat aku lagi kepoin pergerakan Gia waktu itu, tiba-tiba entah kenapa, kemarin aku sangat ingin menonton video itu sampai habis dan setelah aku tonton semuanya ternyata video itu membuka fakta segalanya."


"Tapi bagaimana kamu bisa merekamnya?"


"Sebenernya waktu itu aku gak yakin juga sama Gia pas Adi nuduh kalau dia berbuat curang dalam ujian. Itu sebabnya aku memasang kamera CCTV kecil di Bros, lalu aku berikan Brosnya pada Gia, dan Gia memasangnya di kerah jasnya. Agar aku bisa memantau pergerakan Gia!" Ungkap Hanna.


Egi hanya terdiam lesu dan masih syok dengan kebenaran yang baru saja terungkap.


"Egi! Ayo kita ke ruang guru! Kita perlihatkan video ini. Agar mereka tau kalau Gia selama ini yang berbuat curang dalam mengerjakan ujian." Ajak Hanna.


"Tidak Hanna! Jangan sekarang!" Cegah Egi.


"Loh kenapa? Kamu dan Adi kan korban dari kelicikan Gia." Hanna berdenyit heran.


"Beri aku waktu untuk menghukumnya sementara, itu gak akan membutuhkan waktu yang lama. Setelah aku selesai menghukumnya, kita beritahu segalanya pada semua guru."


"Baik Egi!" Hanna mengangguk.


"Kirimkan videonya padaku melalui WhatsApp."


"Tapi Egi aku gak punya nomor WhatsApp kamu."


"Baik, ketik saja nomorku sekarang!"


*****


Di Sekolah.


Gia sedang berjalan menuju kelasnya. Saat sedang berjalan, ia berpapasan dengan Egi.


"Hai Egi!" Sapa Gia.


Namun Egi menghiraukan sapaannya dan malah menunjukkan raut wajah juteknya lalu pergi.


"Egi kenapa?" Gia mulai bertanya-tanya dalam benaknya.


Di Kelas.


Saat sedang belajar, Gia terus memperhatikan Egi dari belakang.


"Egi kenapa yaa?" Batinnya.


Kemudian Hanna memantau Gia yang terus memperhatikan Egi tanpa menulis materi dari pelajaran yang di laksanakan saat ini.


"Lo gak nulis?" Tanya Hanna penasaran


"Oh ini mau!" Dengan cepat Gia mulai menulis. Namun tak lupa matanya terus saja memperhatikan Egi dari belakang.


Jam istirahat.


Gia mulai mencari-cari Egi di sekitar koridor. Tak lama ia menemukan Egi sedang berjalan ke arahnya.


"Hai Egi!" Sapa Gia lagi.


"Oh hai! Kamu lagi cari-cari aku?" Tebak Egi.


"A-apa?" Gia berdenyit kaget, karna Egi mengetahui dirinya sedang mencarinya.


"Bagaimana Egi bisa tau kalau Gue lagi nyari-nyari dia?" Batin Gia.

__ADS_1


"Ah enggak, pas banget kita lagi berpapasan." Bantah Gia sembari cengengesan.


"Kalau begitu ikut aku!" Ajak Egi.


"Apa?" Gia mendongak kaget.


"Ikut aku!" Egi mengulangi perkataannya lagi.


Mendengar ajakan Egi seketika membuat Gia langsung tersenyum senang dan terbawa perasaan.


"Kemana?"


"Hmm... Ke tempat yang agak sepi yang gak ada seorangpun yang bisa mengganggu perbincangan kita." Ucap Egi dengan sedikit senyuman yang di selimuti rasa marah dalam hatinya.


Gia yang tak curiga dengan ajakan Egi hanya bisa tersenyum senang dan bahagia, ia mulai berpikir Egi juga mempunyai perasaan yang sama dengannya setelah kemarin Gia mengungkapkan sedikit perasaannya.


"Aku tau tempat yang sepi dan enak banget di pakai ngobrol." Gia langsung merekomendasikan suatu tempat.


"Di mana?"


"Ayo ikut aku! Aku tau tempatnya!"


Kemudian Gia mengajak Egi ke basement. Tempat di mana masih dalam tahap pembangunan.


.....


Setelah sampai di basement. Gia mengajak Egi untuk berdiam di lorong yang agak sedikit gelap dan jauh dari pintu keluar. Di sana juga terdapat kursi panjang dan meja, Gia dan Egi pun bisa duduk di sana.


"Tempat apa ini?" Tanya Egi.


"Ini basement! Ini masih tahap pembangunan." Jawab Gia.


"Di mana para pegawainya?"


"Aku gak tau, soalnya sudah lama tidak ada pegawainya di sini. Entah kapan di bangun lagi."


"Oh!" Singkat Egi.


Gia langsung senang duduk bersebelahan dengan Egi. Apalagi di tempat yang sepi, tak akan ada seorangpun yang dapat mengganggu mereka.


Jantung Gia berdegup kencang, rasanya Gia ingin sekali bersorak dan tertawa gembira. Tapi ia harus menahan rasa senangnya di depan Egi. Walaupun dalam hatinya ia ingin sekali bersandar di bahu Egi sembari senyum-senyum bahagia.


"Duh, deg-degan! Seneng banget bisa duduk berduaan sama Egi di tempat sepi begini. Andai bisa pegangan tangan dan berpelukan pasti bakal romantis seperti Adam dan hawa." Batinnya.


Ia pun mulai membayangkan hal-hal yang tak akan pernah terjadi.


"Gia!" Panggil Egi.


"Iya Egi!" Gia langsung tersadar dari lamunannya.


"Baru saja mau ngebayangin." Batin Gia kesal.


"Aku mau curhat! Boleh gak?"


"Sebenarnya aku punya masalah dengan temanku. Tapi apa kamu bisa memberi solusi gak buat masalah yang sedang aku hadapi ini?"


"Tentu saja, ceritakan saja! Aku pasti bersedia membantu permasalahan kamu. Kamu tenang saja. Ayo ceritakan!"


"Tapi temanku ini sosok yang menyebalkan dan licik. Dia selalu berbuat curang dalam mengerjakan ujian." Sindir Egi.


"Benarkah?"


"Iya!"


"Lalu?" Tanya Gia semakin penasaran.


"Langsung saja ke intinya yaa! Aku mempunyai seorang teman perempuan, dia sangat komunikatif dan humble sama seperti kamu." Egi mulai bercerita, Gia yang tak tahu menahu hanya bisa diam mendengarkan.


"Waktu itu aku mulai kembali bersekolah dengan pindah ke sekolah ini. Tapi ku pikir, aku akan nyaman bersekolah di sini, ternyata tidak?"


"Kenapa?"


"Karna saat aku mengerjakan ujian di sekolah ini. Entah kenapa baru kali ini aku mendapat nilai ujian yang sangat jelek!"


"Mungkin kamu harus banyak belajar lagi!" Saran Gia.


"Banyak belajar? Kamu kira aku ini bodoh?" Egi langsung tertawa kecil. Gia hanya diam dengan raut wajah bingung.


"Kemarin aku mendapat nilai yang kecil, karena bukan berarti aku bodoh! Namun ada seseorang yang sudah berbuat curang di balik nilai ujianku yang jelek." Ucapnya. Gia langsung mendongak kaget.


"Benarkah? Si-siapa?" Tanya Gia gelagapan.


"Ada, seorang perempuan! Aku juga taunya dari seseorang yang sudah memberitahuku!"


Jleebbbb!


Gia mulai merasa tak enak hati.


"Siapa orang yang sudah memberitahu kamu, kamu jangan mudah percaya begitu saja! Bisa jadi itu fitnah."


"Ini bukan fitnah! Tapi ini nyata, orang itu sudah mengirimkan videonya langsung padaku."


"Benarkah?" Gia langsung tersentak kaget.


"Iyaa!"


"Sejak awal kenalan ku pikir dia itu baik namun nyatanya dugaanku salah. Dia itu ternyata kelinci berkepala sigung."


"Apakah dia siluman?" Tanya Gia dengan polosnya tak mengerti dengan ucapan Egi.


"Tentu saja dia manusia! Manusia licik dan kejam. Kamu mau tau ciri-ciri orang tersebut?"

__ADS_1


Gia menggelengkan kepala tidak mau. Namun Egi tetap berbicara.


"Ciri-cirinya dia seorang perempuan, dia merupakan siswi perempuan paling tinggi di kelas. Dan dia..."


"Apakah dia cantik?" Tanya Gia tiba-tiba dengan entengnya memotong pembicaraan Egi.


Egi dengan raut wajah kesalnya langsung berbalik menatap Gia.


"Iya, dia cantik! Tapi kelakuannya jauh dari kata cantik. Justru sifatnya menggambarkan keburukannya."


Deg!


Perasaan Gia semakin tak karuan. Ia mulai merasakan perasaan tak enak.


"Di kelas kita?" Tanyanya pura-pura tak tahu.


"Iya di kelas kita, kamu juga pasti akan tau siapa orangnya."


"Adi?" Tebak Gia. Egi langsung tertawa kecil.


"Adi itu laki-laki!"


"Perempuan yah?"


"Iya, perempuan!"


"Hanna?" Tebak lagi Gia.


"Hanna itu anak baik! Bukan itu orangnya! Mana mungkin seorang teman baik seperti Hanna berani berbuat curang dan tega kepada temannya sendiri." Sindir Egi.


"Lalu siapa? Aku gak tau hehe." Tanya Gia sembari cengengesan dengan perasaan yang sudah deg-degan.


"Baik, aku kasih tau lagi ciri-cirinya!"


Gia mulai mendengarkan.


"Dia dulunya siswa yang bodoh, bahkan banyak dari teman-temannya yang membicarakannya kalau dia itu sangat bodoh dan sering mendapat nilai paling jelek. Bahkan saat pertama kali aku bertemu dengannya, dia pernah berbohong kalau dia itu siswa yang pintar dan selalu mendapat nilai yang bagus. Tapi nyatanya enggak." Jelas Egi.


Jantung Gia kembali berdegup kencang, namun kali ini bukan karena jatuh cinta, melainkan karena rasa takut yang tiba-tiba.


"Kamu pasti akan tau siapa orangnya, setelah menonton video ini!" Ucap Egi sembari mengeluarkan ponselnya.


"Video apa?" Tanya Gia dengan raut wajah takut yang tak bisa di sembunyikan.


"Ayo lihatlah, kamu pasti mengenalnya!" Paksa Egi.


"Enggak, aku gak mau lihat! Aku harus kembali ke kelas." Ucap Gia gemetar sembari mencoba untuk kabur. Namun, Egi menarik lengannya.


"Eh, mau kemana? Istirahat akan selesai 20 menit lagi. Harusnya kamu senang duduk berdua denganku di sini." Rayu Egi.


Bukannya baper dengan rayuan manis yang pertama kali di ucapkan Egi padanya, Gia malah semakin takut dan merasa panik.


"Video ini ku beri judul "Gadis curang pembawa petaka"." Ucap Egi menyeringai. Gia hanya menatap Egi takut.


"Ayo lihatlah videonya!"


"Gak mau!"


"Ayo, kamu pasti akan suka."


Egi pun langsung menyetel videonya. Betapa kagetnya Gia melihat video itu di kala dirinya yang sedang merubah lembar jawaban Egi waktu itu saat tengah malam."


"Apa ini? Siapa yang merekam video ini?" Batin Gia panik. Tangan dan kaki Gia mulai gemetar.


Sambil menunjukkan videonya, Egi beberapa kali men-skip beberapa bagian dari durasinya sampai ke bagian-bagian terpenting di mana Gia mengubah jawaban miliknya menjadi jawaban yang salah. Gia pun semakin panik sembari menelan salivanya. Ia menonton video tersebut selama 10 menit lamanya. Saking geramnya ingin segera melabrak Gia, Egi pun langsung mematikan videonya.


"Apa kamu tau, siapa orang di balik video ini? Orang ini mirip sekali sama kamu bahkan dari suaranya sangat mirip sekali." Ucapnya sembari tertawa meledek.


"Aku gatau!" Ucap Gia ketakutan.


"Orang ini sama seperti kamu. Apakah benar ini kamu?" Tanya Egi.


"Bukan! Itu bukan aku! Hapus videonya!" Teriak Gia panik sembari mencoba merebut ponsel Egi. Tapi Egi dengan lihainya berhasil menjauhkan ponselnya dari tangan Gia.


"Kalau bukan kamu, kenapa harus di hapus?" Tegur Egi dengan kembali menunjukkan raut wajah datar.


"Apa jangan-jangan, orang dalam video ini beneran kamu?"


"Bukan Egi! Bukaan!" Gia langsung menangis histeris.


"Lalu siapa hah?" Bentak Egi. Gia hanya bisa terdiam ketakutan sembari terus menangis.


"Ayo mengakulah! Kamu kan yang sudah merubah jawabanku malam itu? Kamulah dalang di balik video ini. Ayo ngaku!" Pekik Egi sembari mencengkram kuat kedua bahu Gia.


Gia terus menangis ketakutan. Akhirnya niat curangnya selama ini ketahuan.


Dengan rasa amarah yang semakin memuncak, dengan kasarnya Egi mencengkram erat lengan Gia hingga ia kesakitan.


"Kalau kamu masih gak mau ngaku, aku akan laporkan kamu kepada kepala sekolah dan semua guru di sekolah ini. Karna kamu sudah berani menyelinap ke ruang guru tengah malam dan berbuat curang dengan mengganti semua jawaban!" Pekik Egi sembari menarik Gia pergi menuju ruang guru.


"Jangan Egi! Aku mohon!" Gia memberontak sembari mencoba melepas cengkraman tangan Egi.


"Egi, aku mohon Egi! Jangan perlihatkan video itu. EGII!" Teriak Gia sembari menangis histeris. Tapi Egi terus menarik Gia dengan mencengkram kuat lengannya.


Gia pun semakin memberontak dan langsung menggigit keras tangan Egi lalu menendang kakinya agar ia bisa melepaskan diri darinya.


"Aww! Giaaa!" Teriak Egi kesakitan.


Gia langsung berlari sekencang-kencangnya. Egi berusaha mengejarnya.


...----------------...

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2