
...•...
...•...
...•...
Di rumah Egi.
Sebelum tidur, Egi dan Olivia sedang duduk di atas anak tangga sambil berciuman dengan mesra.
Saat tengah asik menikmati keromantisan, mereka tak sadar jika dari tadi bi Mirah terus bolak-balik kesana-kemari mengerjakan pekerjaannya.
Bi Mirah sama sekali tak kaget melihat anak majikannya yang sedang bermesraan dengan pacarnya, karena ia sudah terbiasa melihatnya.
Setelah selesai berciuman, Egi menatap Olivia dengan mesra, dan Olivia juga membalas tatapannya sambil mengelus lembut bibirnya.
Kemudian Egi menggenggam tangannya lalu menciumnya.
"Kamu belum ngantuk sayang?" Tanya Egi.
"Belum." Jawabnya.
"Kalau begitu ayo kita lakukan lagi kegiatan seperti biasanya. Aku sudah gak kuat!" Ajak Egi. Olivia mengangguk.
Kemudian Egi membawa Olivia ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, Olivia langsung tercengang melihat kasur Egi yang sudah di hiasi bunga.
"Ini bi Mirah yang menghias kamar kita?" Tanya Olivia.
"Bukan! Ini aku sendiri yang menghiasinya." Jawab Egi.
"Serius?" Tanya Olivia tak yakin. Egi mengangguk.
Padahal sebenarnya Gia lah yang telah menghias kamarnya dan merapikan segala yang ada. Tapi Egi tak mau mengakui Gia pada Olivia.
"Wow, kamu hebat sekali sayang! Semuanya tertata dengan rapih dan sempurna."
"Kamu suka?"
"Suka!"
"Kalau begitu, setiap kamu akan menginap di rumah ini, aku akan selalu menghias kamar ini khusus buat kamu sayang."
"Benarkah? Terima kasih banyak sayang!" Ucap Olivia sambil mengecup singkat bibirnya lalu mereka kembali berpelukan.
Saat tengah berpelukan, tiba-tiba Egi kembali merasakan mual.
"Tunggu sebentar!"
Egi kembali berlari ke kamar mandi, dan mencoba memuntahkannya. Namun percuma, isi perutnya yang membuatnya mual tak bisa dimuntahkan. Tapi Egi terus berusaha memuntahkannya hingga keluar.
__ADS_1
Olivia yang sudah kelihatan muak melihat Egi yang terus-terusan mual memutuskan untuk pulang.
"Sayang kamu lagi sakit, sebaiknya aku pulang saja." Ucap Olivia dengan nada kesal.
"Sa-sayang?" Egi langsung panik sembari membasuh bibirnya lalu keluar dari kamar mandi.
"Sayang, mau ke mana?"
"Kalau kamu terus mual-mual begini, kita gak akan bisa menghabiskan waktu bersama." Ucap Olivia kesal.
"Kamu jangan begitu! Mungkin ini karena aku lagi masuk angin saja. Aku akan minum obat dulu, setelah itu aku gak akan mual-mual lagi. Aku janji!"
Egi langsung mengambil obat tolak angin yang ada di dalam lemarinya lalu meminumnya.
Kemudian Egi mengajaknya berbaring di atas kasur yang sudah di hiasi bunga dan kembali melakukan kegiatan intim layaknya sepasang suami istri.
Karna setelah sudah berminggu-minggu ia tak melakukannya bersama kekasihnya. Kali ini ia ingin kembali melakukannya lagi.
Namun, saat tengah melakukan adu tempur. Egi kembali merasakan mual. Ia langsung berhenti dan bergegas berlari ke kamar mandi.
Ia mencoba memuntahkannya, namun yang keluar hanyalah obat tolak angin yang tadi ia minum.
"Duh pusing banget! Kenapa bisa mual begini?" Gumam Egi.
Sementara Olivia yang sudah kelewatan kesal, bersiap akan pulang. Namun ia melihat jam terlebih dahulu yang sudah menunjukkan pukul 01.00 malam.
"Sudah jam 1 lagi, gak bisa pulang kalau sudah jam segini." Gumamnya kesal sambil melempar ponselnya.
"Sayang, sudah gak mual lagi kok." Ucap Egi mencoba meyakinkan sambil akan memeluknya. Namun Olivia malah mendorongnya.
"Enggak ah! Aku mau tidur di kamar tamu saja, kamu urus saja diri kamu sendiri?" Ketus Olivia sambil bergegas pergi menuju kamar tamu.
"Tapi sayang, belum juga dua ronde."
"Percuma kita lakukan itu sekarang, kalau kamu sendiri masih mual-mual terus. Prosesnya akan gagal nanti, itu bikin aku gak nyaman dan gak puas." Pekik Olivia sambil keluar dari kamarnya.
"Tapi sayang setidaknya lanjutin sampai dua ronde! Sayang?" Panggil Egi, Olivia menghiraukannya.
Malam yang tadinya akan menjadi malam yang asik bagi Egi dan Olivia kini malah gagal, padahal ia sudah tak bisa menahan lagi birahinya.
Kemudian ia mulai merencanakan untuk memberinya minuman kesukaannya yang akan ia masukkan obat perangsang untuk Olivia. Supaya Olivia mau kembali melanjutkan hubungan intimnya.
Ia langsung mengambil kotak yang berada di bawah kasurnya, saat ia membuka kotak tersebut, betapa syoknya Egi melihat obat perangsang beserta pil KB nya sudah tak ada, hanya menyisakan beberapa ****** saja di dalam kotak itu.
"Di mana obat itu?"
Egi mulai mencari obat tersebut di kolong kasur, saat tengah mencari, tiba-tiba ia menemukan dua bungkus obatnya dari dokter masih berada di dalam sepatunya.
"Ini obat dari dokter masih ada di dalam sini. Terus yang di bawa Gia obat apa? Jangan-jangan?"
"Kayaknya dia sudah mengambil obat yang ada di dalam kotak ini, dia kira ini obat dari dokter."
__ADS_1
Tiba-tiba Egi langsung panik, akhirnya ia mengetahui kalau Gia sudah salah memberikannya obat. Ternyata yang ia minum tadi siang yaitu obat perangsang dan pil KB yang ia minum secara bersamaan. Pantas saja Egi dari tadi merasa pusing dan mual-mual ternyata dari efek obat tersebut.
Kemudian ia menelepon supirnya dan menyuruhnya untuk mencarikan kelapa muda untuk menetralkan obat yang sudah lama masuk ke dalam perutnya.
"Pak, tolong belikan saya kelapa muda, kalau gak ada petik saja di pohon kelapa yang ada. Cepat ya pak! Saya keracunan." Ucap Egi dengan cepat sambil memutus teleponnya tanpa menunggu jawaban dari pak supir.
Egi langsung duduk di kasurnya dengan wajah panik, ia bingung apakah lebih baik ia pergi ke rumah sakit saja? Ia tak ingin orang rumah khawatir jika ia pergi ke rumah sakit.
Tak tega menyuruh supirnya pergi di tengah malam mencari kelapa muda. Kemudian ia kembali menelepon pak supir dan menyuruhnya berhenti mencari kelapa dan ia memintanya untuk mengantarnya ke rumah sakit secepatnya.
*****
Beralih di rumah Gia.
Tengah malam, Gia terbangun karna panggilan alam datang tiba-tiba saat ia tertidur pulas. Ia langsung bergegas berlari ke bawah menuju kamar mandi dan mulai menjalani ritualnya di toilet.
Setelah selesai membuat perutnya diam, ia langsung keluar dari kamar mandi dengan perasaan lega sambil mangap karena ia masih mengantuk.
Ia kembali berjalan menuju kamarnya untuk kembali melanjutkan tidurnya. Saat ia melewati kamar kedua orang tuanya, tiba-tiba ia mencium aroma yang sama dengan parfum yang ia semprotkan di kamar Egi tadi siang.
"Aroma ini? Aroma parfum yang aku semprotkan di kamar Egi." Gumamnya sambil melek karna masih mengantuk.
Kemudian ia mendengar suara orang mendesah, seketika Gia langsung melotot.
"Suara siapa itu?"
Gia langsung memperhatikan pintu kamar kedua orang tuanya.
"Suaranya berasal dari kamar mama."
Kemudian ia mendekatkan telinganya pada pintu dan mendengarkan suara tersebut.
"Aahh... Aahh... Aahh..."
"Papa, pelan-pelan dong memasukkannya!"
"Kalau pelan kurang nikmat mah. Aah..."
"Papa harusnya jangan pakai ******, jadi kurang nikmat. Aahh... Aahh..."
"Kalau papa gak pakai ******, mama mau punya anak lagi hah?"
"Gak mau pah, dua saja sudah repot."
Mendengar percakapan intim antara ibu dan ayahnya yang sedang bertempur, seketika membuat Gia langsung berdenyit kaget.
"Mama sama papa lagi bikin anak." Gumamnya kaget.
...----------------...
...Bersambung....
__ADS_1