
...•...
...•...
...•...
...•...
...•...
Setelah berlama-lama memohon, para guru mencoba menenangkan Gia yang terus saja menangis tanpa henti.
"Sudah Gia, jangan menangis!"
"Saya tidak akan berhenti menangis, sebelum kalian menyetujui permintaan saya untuk tidak mengembalikan Egi ke sekolah lamanya!" Pinta Gia.
"Maaf Gia, tapi terkait Egi kembali pindah ke sekolah lamanya. Itu semua keputusan dari keinginan Egi sendiri. Ini semua bukan dari keputusan kami." Jelas Bu Ratna.
"Ya kalau begitu bapak dan ibu cegah Egi agar tidak pergi dari sekolah ini!"
"Maaf Gia, kami tidak bisa mencegah maupun menghalangi keputusan Egi untuk pindah dari sekolah ini."
"Kalau kalian tidak bisa mencegah Egi untuk pindah. Saya akan loncat dari gedung sekolah ini." Ucap Gia dengan ancaman.
Semua guru dan Egi langsung syok dengan ucapan Gia.
"Apa kamu bilang?" Tanya Bu Ratna dengan tatapan kaget.
"Saya akan loncat dari gedung ini!" Ucap Gia lantang sembari menangis tersedu-sedu.
"Giaa sadaarrr!!!!" Bentak Bu Ranti.
"Gia tidak baik berbicara seperti itu!" Ujar pak Wiranto.
"Kenapa pak, bu? Ada bagusnya kalau saya loncat dari gedung ini. Lagian selama ini, sekolah ini belum pernah ada kasus bunuh diri seorang siswa."
Gia nekat memberi ancaman hingga membuat para guru langsung panik.
"Gia, jangan berkata seperti itu! Stop berbicara yang tidak-tidak! Dan jangan lakukan hal yang aneh-aneh! Kalau tidak, kamu bisa di DO dari sekolah ini!" Kecam pak Wiryo.
"Giaa!! Kamu harus sadar!" Timpal Egi dengan nada rendah.
"Kenapa? Kalian takut kan? Kalau nama baik sekolah ini akan tercemar, kalau ada siswa yang bunuh diri!" Pekik Gia.
"Kalau kalian tidak ingin semua itu sampai terjadi. Maka tolong jangan pindahkan Egi ke sekolah lamanya!" Lanjut Gia kekeh.
Para guru saling menatap satu sama lain. Pak Wiranto mulai mempertimbangkan sembari memberi kode mempertanyakan pada para guru. Namun kepanikan para guru membuat mereka memberi kode mengangguk pada pak Wiranto.
"Baik sesuai permintaan Gia! Egi, kamu harus tetap bersekolah di sini dan jangan pindah." Ujar pak Wiranto memenuhi permintaan Gia.
Seketika Gia langsung senang, ia langsung tersenyum lebar dengan derai air mata sembari mengalihkan pandangannya ke arah Egi.
Egi hanya bisa terdiam kaku dan kaget, ia tak menyangka para guru mau saja menuruti permintaan Gia hanya karna ancaman yang menurutnya sepele.
Namun, jika para guru tak memenuhi permintaan Gia. Gia bisa saja bersikeras dan nekat akan bunuh diri. Pihak sekolah ini pastinya tak ingin menginginkan hal buruk terjadi apalagi menyangkut nama baik sekolah tinggi yang sudah terakreditasi A dan namanya sudah terkenal dimana-mana.
"Egi, mulai besok kamu bisa kembali masuk kelas." Timpal Bu Ratna.
Gia semakin tersenyum lebar, sementara Egi hanya bisa terdiam dengan tatapan lesu dan penuh pertanyaan dalam benaknya 'mengapa Gia mencegahnya untuk pindah?'.
*****
Keesokan paginya.
Di Sekolah.
Egi kembali ke sekolah dengan seragam sekolah yang ia kenakan dan ransel yang ia bawa.
Saat berjalan menuju kelas, ia berpapasan dengan Hanna yang hendak berjalan menuju ke kantin.
"Egi?" Sapa Hanna.
"Han!" Sapa balik Egi sembari menunduk.
"Kamu kemana saja? Kok sudah 2 hari gak masuk?" Tanya Hanna penasaran.
"Aku..." Belum selesai Egi menjawab, Hanna sudah menyelanya.
"Setidaknya kalau ada apa-apa beri kabar dulu ke Bu Ratna kalau kamu gak akan masuk kelas."
"Maaf Han, tadinya aku gak akan masuk lagi ke sekolah ini. Karna aku mau pindah!"
"Apa! Pindah??" Hanna mendongak kaget. Egi mengangguk.
"Kenapa pindah?"
"Ada masalah di sekolah ini! Namun sayangnya aku gak jadi pindah." Curhat Egi.
"Kenapa?"
"Gia mencegahku untuk pindah." Ucap Egi dengan wajah malas.
"Apa! Gia mencegah kamu pindah?"
"Iya, aku gak tau kenapa dia mencegahku untuk pindah. Kemarin dia bertingkah aneh sekali. Dia sampai menangis dan memohon-mohon sambil mengancam akan bunuh diri di depan para guru supaya aku gak di pindahkan." Jelas Egi. Hanna hanya bisa mengernyitkan alis sembari berpikir mengapa Gia nekat melakukan semua itu.
"Tak masuk akal!" Gumamnya.
Tak lama Bell masuk berbunyi.
Semua murid kembali masuk ke dalam kelasnya masing-masing.
"Han, lihat! Bagus kan? Kalau Gue pakai Bros yang Lo kasih waktu itu?" Tanya Gia sembari memamerkan Bros pemberian Hanna yang di pasang di kerah seragamnya.
Hanna hanya bisa mengangguk-angguk nyengir tanpa menjawab sepatah katapun.
.....
Pukul 09.22.
Jam pelajaran terpaksa di sudahi, karna para guru akan mengadakan kembali rapat guru mengenai olimpiade yang akan di laksanakan 3 bulan lagi, jadi semua siswa di haruskan pulang setelah jam pelajaran selesai, kecuali sebagian siswa yang mengikuti ekskul.
Egi yang sedang bersiap diri dengan baju olahraganya akan kembali melanjutkan kegiatan ekskulnya, yaitu ekskul basket.
Namun, tiba-tiba Gia datang menghampirinya.
"Egiii!!"
Egi pun dengan wajah datarnya yang masih tetap cool berbalik ke arah Gia.
Setelah di tatap balik olehnya, Gia hanya bisa cengar-cengir menatap ketampanan Egi.
"Aku senang akhirnya kamu bisa kembali bersekolah di sekolah ini!" Ucap Gia senang.
"Hmm... Terima kasih yaa!!! Berkat kamu aku gak jadi pindah. Lainkali jangan lakukan itu lagi yaa!" Ucap Egi.
"Baiklah, sama-sama! Rajinlah masuk kelas biar aku bisa melihat kamu setiap hari. UPS!" Gia keceplosan. Namun itu semua tak membuat Egi terkejut sedikitpun dengan perkataan Gia.
"Btw, kamu ikut ekskul basket yaa?" Tanyanya basa-basi.
"Iya!" Jawab Egi singkat.
"Baru yaa?" Tebak Gia.
"Sudah lama!"
__ADS_1
Gia langsung terkejut mendengar jawaban Egi yang katanya mengikuti ekskul basket sudah lama, karna ia baru tau sekarang kalau Egi sudah mengikuti ekskul sejak hari pertama pindah ke sekolah ini.
Ia pun mulai kembali memikirkan pertanyaan apa yang harus di lontarkan selanjutnya agar ia bisa mengobrol lebih lama lagi dengan Egi. Sambil mencari pembahasan, Egi keburu mendahuluinya dengan memanggil namanya.
"Gia!"
"Iya Egi?"
"Kalau boleh tau, kenapa kamu mencegah aku buat pindah dari sekolah ini?" Tanya Egi. Gia langsung bingung harus menjawab apa.
"Kenapa?" Egi mulai mempertanyakan. Gia berpikir sejenak.
"Sebenernya Egi, karna kamu itu cocok bersekolah di sini!" Jawab Gia asal.
"Cocok dari segi mana?" Tanya lagi Egi.
"Duh Gue harus jawab apa nih?" Batin Gia.
"Gia, melihat pengorbanan kamu kemarin di hadapan para guru, agar aku gak jadi pindah sangatlah besar. Kenapa kamu melakukan semua itu? Kamu gak seharusnya melakukan semua itu dengan rela menjatuhkan harga diri kamu." Ucap Egi dengan nada tinggi. Gia hanya bisa diam menyimak.
"Kenapa Gia? Kenapa?" Tanya Egi dengan sorot mata yang tajam.
Gia pun langsung terbawa perasaan dengan pertanyaan Egi. Ia pun mulai menjawab.
"Kalau aku gak melakukan semua itu, maka kamu akan pindah."
"Ya memangnya kenapa kalau aku pindah?" Egi langsung naik pitam.
"YA KARNA AKU GAK MAU KAMU PERGI!!" Ungkap Gia. Egi berdenyit kaget.
"Asalkan kamu tau yaa, aku tuh suka sama kamu, sehari gak lihat kegantengan kamu saja seperti 1000 hari aku gak melihat kamu. Aku tuh kangen banget sama kamu Egi." Pekik Gia dengan nada nyerocos.
Tanpa ia sadari, ia telah mengungkapkan setengah dari perasaannya.
"Kalau kamu pindah, aku gak akan bisa cuci mata lagi melihat kegantengan kamu!" Ungkapnya sekali lagi. Egi langsung mengernyitkan alis.
Belum selesai perdebatan Gia dan Egi. Tak lama salah teman ekskulnya memanggilnya.
"Egi, sudah mau mulai, ayo ke lapangan!"
Egi pun langsung pamit pada Gia.
"Aku ke lapangan dulu yaa, sebaiknya kamu pulang saja." Pamitnya sembari bergegas pergi. Gia langsung menunjukkan ekspresi wajah yang cemberut.
*****
Pulang sekolah.
Di Halte bus.
Gia yang tak punya urat malu setelah menyatakan perasaannya kembali datang menghampiri Egi.
"Egii!!" Sapa Gia.
"Ada apa?" Tanya Egi dengan wajah malas.
"Egi, selama ini aku belum punya nomor hp kamu. Kalau boleh, kirimin dong nomor hp kamu!" Pinta Gia sembari menggenggam ponselnya dan mengangkat satu alis.
Egi langsung terkekeh dan menjawab.
"Untuk apa?"
"Mmm.... Untuk???"
Gia bingung harus menjawab apa. Egi hanya memperhatikan raut wajah Gia yang sedang berpikir.
"Ah, kalau ada sesuatu atau misalnya kamu butuh bantuan aku. Kamu bisa menghubungi aku kapanpun yang kamu mau!"
Seketika Egi langsung tertawa kecil lalu kembali menatap Gia dengan tawanya.
"Selama ini aku tidak pernah meminta bantuan orang lain. Kalau ada masalah, aku yang tanggung sendiri." Ungkapnya.
"Ahhh... Egiiii!!! Aku mohon! Tolong kasih aku nomor WhatsApp kamu. Aku tau kamu ini orangnya privasi kata orang-orang. Tapi aku janji gak akan sebarkan nomor kamu ke siapa-siapa!" Ucap Gia memohon sembari mengangkat jari kelingkingnya.
"Maaf Gia, gak ada!" Egi bergegas pergi tapi Gia terus saja menahan lengannya.
"Gak ada? Maksudnya kamu gak punya nomor telepon atau WhatsApp?" Gia berdenyit kaget. Egi menggelengkan kepala.
"Kalau begitu, kamu pasti punya Instagram, telegram, atau Facebook. Kalau ada, kamu kasih tau saja, nanti biar aku follow, gapapa gak di follback juga."
Egi terkekeh dengan perkataan Gia.
"Gak ada!" Ucapnya entah benar atau tidaknya.
Gia langsung mendengus kesal.
"Aku pulang duluan yaa!" Pamitnya lalu bergegas naik bus.
Gia langsung kesal sambil menjingkrak-jingkrak kakinya layaknya bocah yang sedang marah akibat gak di kasih uang jajan.
"Bagaimanapun Gue harus dapatkan nomor telepon Egi!" Gia tetap bersikukuh.
*****
Keesokan harinya.
Siang hari.
Setelah pulang sekolah.
Hanna sedang piket di kelas, sementara Gia sedang asik makan di kantin sembari menunggu Hanna selesai piket karna hari ini Hanna tak di jemput ayahnya lagi karna sedang bekerja di luar kota.
Gia sendiri sebenarnya punya jadwal piket hari ini dengan Hanna, namun ia memilih untuk membayar denda dari pada melaksanakan piket membersihkan kelas.
Jangan di tanya apa alasannya, seperti biasa jawabannya karna MALAS!!!
Itulah kebiasaan Gia.
Di Kelas.
Saat sedang asyik menyapu, Egi datang menghampiri Hanna.
"Hanna!"
"Iya Gi, kamu gak pulang?"
"Enggak, ada Gia di kantin." Jawabnya.
"Loh memangnya kenapa kalau ada Gia?"
"Kalau aku keluar, pasti Gia akan melihatku dan mengikutiku lagi sampai ke halte." Ungkapnya. Hanna langsung berdenyit heran.
"Han, aku boleh minta tolong kamu gak?" Pinta Egi.
"Apa Gi?"
"Tolong kamu awasi gerak-gerik Gia, baru-baru ini tingkahnya sangat aneh sekali."
"Aneh bagaimana?" Hanna semakin dibuat bingung.
"Ya aneh saja pokoknya! Tolong kamu jaga pandangannya dari aku. Aku gak mau kalau dia sampai mengganggu aku lagi."
"Mengganggu apa maksud kamu? Memangnya Gia ini apa hah?" Tanya Hanna mulai marah. Ia tak terima sahabatnya dikatai aneh dan pengganggu.
"Kamu gak akan mengerti!" Ucap Egi sembari mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Apa yang gak aku mengerti? Gia selalu mendekati kamu? Begitu!"
__ADS_1
Egi kembali menatap Hanna.
"Apa salahnya dia mendekati kamu? Kamu merasa keberatan? Asal kamu tau ya Egi, Gia berusaha mendekati kamu, karna dia suka sama kamu! Ya wajar saja kalau dia berusaha mendekati kamu terus karna dia naksir berat sama kamu!"
Mendengar pernyataan Hanna. Egi tak menunjukkan raut wajah terkejut atau kaget karna ia sudah tahu dari perasaan Gia sejak kemarin saat Gia sendiri yang mengungkapkan perasaannya pada Egi.
"Pokoknya jauhkan Gia dari pandangan aku!" Ketus Egi sembari berjalan keluar.
"Kamu itu sombong sekali Egi! Sia-sia Gia menyukai orang sombong dan gak mengenal perasaan kayak kamu!" Teriak Hanna. Tapi Egi menghiraukannya.
*****
Malam hari.
Di rumah Hanna.
Hanna kembali membuka laptopnya dan akan menyalakan CCTV untuk mengetahui pergerakan Gia kemarin dan hari ini.
"Kesal sekali! Bisa-bisanya Egi mengatai Gia seperti itu. Memangnya Gia bertingkah aneh seperti apa.
Saat akan menyalakan CCTV secara otomatis. Mata Hanna tertuju pada video CCTV yang sudah ia simpan waktu itu yang menunjukkan kegiatan Gia selama seharian penuh dengan durasi hampir 20 jam lamanya.
Tiba-tiba saja Hanna ingin melanjutkan kembali menonton videonya. Saat menonton, tidak ada pergerakan yang aneh di video bagian di kelas. Ia terus men-skip beberapa menit hingga akhirnya muncul pada durasi bagian saat Gia menyuruh Hanna untuk pulang duluan.
Setelah itu kamera menunjukkan Gia sedang duduk di taman waktu itu.
Memang kamera tak menunjukkan langsung wajah Gia, karna kamera mengarah ke arah depan dan menunjukkan tempat mana saja yang di kunjungi Gia.
"Gia lagi ngapain di taman pas jam 4 sore? Malah diam saja lagi, apa dia lagi melamun?" Gumam Hanna bertanya-tanya.
Kemudian dalam video, setelah duduk di taman Gia berlari menuju ke ruang guru.
"Ngapain Gia ke ruang guru?"
Dalam video, Gia berdiri di luar dan kamera menunjukkan ada seorang OG yang sedang membersihkan ruang guru di dalam kemudian menghampiri Gia yang sedang berdiri di luar dan mereka mulai ada percakapan seperti yang tertangkap dalam kamera.
["Sedang apa neng di sini?"].
["Ah maaf bu, ada barang saya yang ketinggalan di sini."]
["Oh, barang apa ya neng?"]
["Cincin saya bu."]
["Hah, cincin?"]
["Iya, cincin."]
Mendengar percakapan di antara Gia dan petugas kebersihan tersebut langsung membuatnya berdenyit heran.
"Hah? Cincin? Sejak kapan Gia pakai cincin? Seingat Gue, Selama ini Gue sama sekali belum pernah lihat Gia memakai cincin sekalipun!" Gumam Hanna. Kemudian ia kembali melanjutkan menonton videonya.
["Boleh, tapi sebentar ya neng! Soalnya pintunya mau ibu kunci."]
["Baik bu!"]
Dalam video, Gia langsung masuk begitu saja, kamera yang ada di Bros yang tertancap di kerah seragam Gia di arahkan pada lemari kaca yang berisi banyak map.
"Ngapain Gia ke dalam?" Gumam Hanna sembari mengamati pergerakannya.
Kamera terus mengarah pada lemari kaca tersebut. Sampai kamera mengambil suara gumaman Gia.
["Kenapa gak pergi saja sih tuh OG! Ikut campur saja urusan orang."]
Hanna langsung kaget dan di buat geleng-geleng kepala mendengarnya.
"Ini sebenarnya si Gia mau ngapain sih? Ada apa dan mau apa sebenarnya? Apa jangan-jangan dia mau mencuri?" Hanna mulai curiga sembari terus menonton.
Dalam video Gia terus berdiri di dalam ruang guru sampai OG itu memanggilnya dan mengusirnya keluar.
Dalam video Gia pun keluar, kemudian kamera berbalik kembali pada pintu ruang guru yang jaraknya sudah lumayan jauh dari tempat Gia berdiri lalu beberapa menit kemudian kamera masih mengarah ke samping pintu ruang guru dan menunjukkan OG itu keluar dan akan mengunci pintu, namun pintu tak bisa di geser.
"Loh! Loh! Kok pintunya gak bisa di geser?" Gumam Hanna terkejut.
Dalam video Gia masih berdiri di sana tak jauh dari ruang guru.
OG pun memanggil satpam dan satpam mencoba menggeser paksa pintunya namun pintunya tak bisa di tutup. Kemudian satpam memasang rantai pada tiang untuk menghalangi lubang pintu.
Kini kamera pun beralih ke arah lain saat Gia berbalik dan berjalan pulang.
Hanna terus men-skip beberapa kali dari setiap menit dalam videonya dan terus mencari bagian yang terpenting.
Saat sedang terus men-skip video, ia menghentikan video di durasi yang menunjukkan pukul 1 malam.
"Loh, ini Gia lagi tidur yaa?? Kok pakai seragam?"
CCTV yang ada di dalam Bros yang di pasang Gia waktu itu berhasil mengambil suara dengkuran Gia.
"Ternyata Gia kalau tidur suka ngorok yaa!" Gumam Hanna terkekeh.
Kemudian Hanna men-skip kembali videonya dan berniat menonton di bagian keesokannya. Namun saat sedang men-skip, hampir saja terlewat bagian terpenting dan tak boleh di lewatkan yaitu bagian yang membuat Hanna syok di durasi pukul 01.30 malam.
Dalam video, kamera menunjukkan pergerakan Gia sedang menyetir mobil.
"Gia mau kemana ini?"
Suara yang ada di dalam kamera tak bisa terdengar jelas suara Gia yang terus bergumam di dalam mobil karna malam itu cuaca sedang di landa hujan besar.
Hanna kembali menonton dan menyimak tanpa men-skip video.
Setelah beberapa saat menonton, kamera mengambil pergerakan Gia tengah malam di sekolah.
"Ngapain tengah malam Gia ke sekolah? Apalagi pas lagi hujan?" Hanna mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Ia terus menyaksikan video tersebut hingga ia lupa untuk tidur.
Dalam video, Gia masuk dengan menaiki pagar kemudian berjalan mengendap-endap menelusuri koridor menuju ke ruang guru.
Dan sesampainya di ruang guru, Gia mencoba membuka lemari kaca dengan jepit rambutnya hingga berhasil terbuka.
Saking kesal dan syoknya, Hanna mematikan videonya.
"Gilaaa!!! Si Gia kok bisa sampai begitunya. Kenapa dia nekat banget datang ke sekolah malam-malam apalagi pas hujan besar gitu. Dia benar-benar nekat sampai menerobos rantai yang menjadi penghalang pintu demi bisa membuka lemari yang ada di ruang guru. Sebenernya mau apa dia ke sana??"
Hanna kembali memutar videonya dan lanjut menonton.
Dalam video, setelah berhasil membuka lemari, Gia mengeluarkan satu persatu map kemudian ia mengeluarkan semuanya. Dalam video tertangkap saat Gia berhasil menemukan lembar jawaban para siswa beserta kunci jawaban.
Dan di sinilah Hanna mulai paham, bagaimana Gia bisa mendapatkan nilai yang sangat bagus pas remedial ujian waktu itu.
Selang beberapa menit menonton video dan menyimak semuanya tanpa ia skip lagi, Hanna terus menonton sampai ia melihat kelakuan Gia saat mengelabui pak satpam.
Beberapa menit kemudian... Kamera kembali berhasil menangkap pergerakan Gia yang setelah selesai menyalin kunci jawabannya di kertas kosong yang sudah ia namai dirinya. Ia pun dengan sengaja mengubah jawaban milik Adi dan Egi melalui kertas kosong yang ia perbarui. Dan jawaban milik Adi dan Egi yang sebenarnya ia sembunyikan di saku rok nya.
Setelah selesai menonton semua dan menyimak segalanya tentang kebusukan Gia waktu itu melalui CCTV.
Sekarang Hanna paham dan mengetahui semua faktanya bagaimana waktu itu Gia berhasil mendapat nilai yang bagus sementara Adi dan Egi mendapat nilai yang jelek.
Dan entah kenapa tulisan Gia sangat mirip sekali dengan tulisan Adi dan Egi sehingga tak menimbulkan kecurigaan para guru yang menilainya.
"Jadi selama ini? Pantas saja gak ada satupun guru yang curiga sama dia. Tulisan dia ternyata memang sama banget! Pantesan saja dia nekat banget menukar jawaban."
Hanna tak menyangka sahabatnya sendiri nekat melakukan aksi curangnya tersebut dan Gia juga tega telah mengubah jawaban Adi dan Egi menjadi jawaban yang asal-asalan dan banyak yang salah.
Hanna benar-benar syok dan sangat kecewa berat. Ia langsung menangis seketika melihat perlakuan sahabatnya itu yang sungguh benar-benar licik dan tak manusiawi.
"Gue harus kasih tau semuanya mengenai kejadian ini besok!"
Hanna berniat akan membongkar segalanya mengenai kebusukan Gia esok hari.
__ADS_1
...----------------...
...Bersambung....