
...•...
...•...
...•...
...•...
...•...
Ujian Di Mulai.
Semua murid mulai mengerjakan ujiannya. Hari ini adalah ujian terakhir. Egi mulai mengeluarkan kotak pensilnya, setelah di buka. betapa terkejutnya setelah ia melihat semua pulpen miliknya yang ia bawa banyak sekali, sudah tidak ada, bahkan tak menyisakan satu pulpen pun yang ada di kotak pensilnya. Egi langsung panik kemudian memanggil pengawas.
"Kak?"
"Iya, ada apa?" Tanya pengawas sembari menghampiri Egi.
"Kak, semua pulpen saya hilang." Ucapnya panik.
"Apa? Bagaimana bisa? Mungkin kamu lupa membawa pulpen."
"Saya tidak lupa kak, saya membawanya banyak setiap hari. Tapi sekarang, semua pulpen saya mendadak hilang kak. Tidak ada satupun! Sepertinya ada yang mencuri semua pulpen saya."
"Apa merek pulpen kamu?" Tanya pengawas.
"Semuanya merek 'No Local' kak." Jawab Egi.
Kemudian pengawas kembali berjalan ke depan dan berdiri di hadapan para murid.
"Berhenti sebentar! Mohon perhatiannya! Jangan dulu ada yang mengerjakan!"
Semua siswa saling menatap kaget satu sama lain saking bingungnya.
"Teman kita membawa banyak sekali pulpen. Dan dia baru saja kehilangan semua pulpen yang di bawanya yang mereknya 'No Local'. Barangkali ada yang tahu di mana pulpennya atau ada yang melihat seseorang yang mencurinya?"
Ucapan pengawas membuat Gia mulai ketar-ketir.
"Saya harap kalian periksa tas teman sebangku kalian masing-masing. Dan bantu untuk mencari semua pulpen milik Egi yang semuanya bermerek 'No Lokal' di semua tas teman sebangku kalian dan di setiap kolong bangku."
Masing-masing murid langsung memeriksa tas teman sebangkunya masing-masing.
"Gia, siniin tas Lo!" Pinta Hanna.
"Mau apa?" Gia mulai panik.
"Pengawas suruh kita buat periksa tas teman sebangkunya masing-masing. Gue periksa tas Lo dan Lo periksa tas Gue. Barangkali ada orang yang sengaja mau fitnah kita dengan menyembunyikan semua pulpen Egi yang mereknya mahal itu di salah satu tas kita." Bisik Hanna menjelaskan. Gia langsung menelan salivanya.
"Gak usah! Biar Gue saja yang periksa tas Gue sendiri!" Tolak Gia. Ucapan Gia menimbulkan kecurigaan bagi Hanna.
"Lo ini kenapa? Pengawas menyuruh kita buat periksa tas teman sebangkunya masing-masing! Atau jangan-jangan... Ooo, jadi Lo yang mencuri semua pulpen Egi?"
__ADS_1
Gia langsung terkejut dan mulai berkeringat dingin.
"Apa-apaan sih Lo! Jangan tuduh Gue sembarangan ya! Ngapain Gue curi pulpen Egi? Sementara Gue juga bawa pulpen banyak. Hanya orang-orang yang gak punya pulpen saja yang berhak mencuri pulpen orang!" Bantah Gia.
"Ya sudah! Siniin tas Lo! Kalau bener Lo gak curi pulpen Egi!" Hanna langsung menarik paksa tas Gia lalu menyerahkan tas miliknya ke arahnya.
Hanna mulai memeriksa tas Gia, satu persatu barang yang di bawa mulai ia keluarkan. Gia terus memperhatikan Hanna tanpa memeriksa balik tas Hanna.
Setelah mengeluarkan semua isi barang yang di keluarkan Hanna dari tas Gia tanpa menyisakan satupun di dalamnya. Kemudian ia memeriksa kotak pensil Gia dan menghitung jumlah pulpen yang di bawanya.
"Mana? Gak ada pulpen Egi di sini. Pulpen Lo gak ada yang nambah. Cuman segini-gini aja jumlahnya. Dan gak ada satupun pulpen milik Lo yang mereknya No Local." Gerutu Hanna sembari memasukkan kembali semua barang yang ia keluarkan ke dalam tas nya.
"Emang gak ada!" Ketus Gia.
Ia langsung bernafas lega akhirnya rencana liciknya tak di ketahui. Bagaimana tidak? Semua pulpen Egi, masih ia sembunyikan di ****** ********. Jadi tidak akan ada yang tahu. Tapi ia mulai merasakan sakit di bagian alat vital nya. Ia merasa seperti tertusuk-turuk banyak pulpen jika ia bergerak sedikit saja.
Kemudian ia memutuskan untuk mengeluarkan semua pulpennya dan menyimpannya di kotak pensilnya.
Sebagian murid saling berpencar setelah selesai memeriksa tas teman sebangkunya. Mereka berpencar mencari semua pulpen Egi di setiap kolong bangku. Tapi hasilnya nihil. Mereka tetap tak menemukan semua pulpen Egi yang mereknya agak lain dari pulpen yang di bawa masing-masing siswa, baik di dalam tas maupun di setiap penjuru bangku, semua pulpen milik Egi tetap tak di temukan.
Pengawas langsung menghela nafas dan berpikir para siswa tak ahli memeriksa maupun mencari barang. Kemudian pengawas memutuskan untuk memanggil tim razia yang ahli menggeledah barang yang merupakan siswa dari kelas 12 yang jumlahnya ada enam orang.
Tim razia pun datang dan mulai menggeledah semua tas para siswa. Setelah di periksa, tak ada satupun yang berhasil menemukan pulpen Egi di setiap tas milik para siswa termasuk tas Gia yang paling terakhir di geledah. Untungnya tadi sebelum tim razia datang, Gia mengurungkan niatnya untuk memasukkan semua pulpen Egi ke dalam tasnya.
Kemudian tim razia menyuruh para siswa berdiri di depan untuk di periksa. Masing-masing siswa berdiri di depan dengan mengantri untuk di periksa. Gia tetap mempertahankan semua pulpen Egi di balik ****** ***** nya. Meskipun ia sedikit merasakan perih. Kemudian ia berjalan pelan-pelan ke depan.
Tibalah saatnya Gia di periksa. Seorang perempuan yang merupakan salah satu Tim razia yang memeriksa. Ia hanya memeriksa saku seragamnya dan saku roknya tanpa menggeledahnya lebih dalam.
"Kamu kenapa?" Tanya siswa perempuan itu yang memeriksa Gia. Ia merasa aneh melihat Gia yang raut wajahnya seperti seseorang yang sedang merasakan kesakitan.
Setelah semua murid selesai di periksa. Dan tak ada satupun yang menemukan semua pulpen milik Egi. Tim razia pun kembali ke kelas mereka masing-masing. Para siswa pun di suruh untuk melanjutkan kembali mengerjakan ujian. Pengawas menganggap Egi lupa tak membawa pulpen dan menyuruh beberapa siswa agar mau meminjamkan Egi pulpen.
Sebagian siswa mau meminjamkan Egi Pulpen. Tapi ia menolaknya. Ia masih belum tinggal diam mencari semua pulpennya di setiap penjuru bangku. Kemudian Gia berjalan pelan-pelan menghampiri Egi.
"Nanti saja carinya, nanti juga ketemu. Ini pakai pulpen aku dulu!" Ucap Gia sembari menyerahkan pulpen miliknya yang bisa di hapus.
"Gak usah! Makasih." Tolak Egi. Gia langsung mendengus kesal dan memberikan paksa pulpennya pada Egi seperti yang pernah ia lakukan pada Adi waktu itu.
"Ayolah, jangan malu-malu! Dari pada kamu gak mengerjakan sama sekali dan terus sibuk cari pulpen yang ujung-ujungnya gak bakal ketemu."
"Ayo cepat kerjakan! Keburu waktunya abis. Nanti kalau sudah selesai, kamu bisa cari lagi pulpennya."
Gia terus memaksa Egi agar mau mengerjakan soal menggunakan pulpennya. Egi yang tak tau di balik kebaikan Gia ternyata hanya ada udang di balik batu, ia langsung menerimanya begitu saja dan menganggap Gia adalah teman yang baik dan perhatian.
"Terima kasih!"
Egi kembali duduk di bangkunya dan mulai mengerjakan soal menggunakan pulpen yang Gia pinjamkan.
"Akhirnya rencana Gue berhasil." Batin Gia.
Gia kembali duduk di bangkunya dengan puas hati dan mulai mengerjakan soal.
__ADS_1
Setelah Gia menyelesaikan soal ujiannya dengan asal-asalan, seperti biasa dengan liciknya ia memberi nama kertas ujiannya dengan nama Egi.
Sambil menunggu Egi mengumpulkan lembar ujian terlebih dahulu, ia melihat Hanna yang masih mengerjakan soal.
"Belum selesai?" Tanya Gia dengan songongnya.
"Belum! Lo sudah selesai?" Tanya Hanna balik.
"Sudah dong! Dari tadi!" Jawab Gia dengan nada meledek.
Hanna langsung kaget karna Gia sudah selesai mengerjakan soal padahal waktunya baru saja 30 menit.
"Lo ngerjain asal-asalan ya?" Tuduh Hanna.
"Enggak! Kata siapa? Gue kerjain sendiri pakai cara pikir Gue dan logika Gue!" Bantah Gia.
"Tapi, tumben Lo sudah lagi? Yakin semua jawaban Lo bakal benar?" Tanya Hanna meragukan.
"Yakinlah! Karna dari semalam, Gue terus belajar dan menghafal sampai pagi. Jadi nilai Gue pasti bakalan baguslah." Ucapnya dengan gaya angkuhnya. Tapi tetap saja Hanna tak mempercayainya .
"Lo mau nyontek? Bleeee... Gak akan Gue kasih!" Lanjutnya sambil terus meledek Hanna.
"Ih dihh... Siapa juga yang mau nyontek ke Lo! Lagian nanti juga Lo bakal dapet nilai gitu-gitu saja gak ada perubahan, masih bagusan nilai gue dari pada Lo." Nyinyir Hanna.
Gia langsung tersenyum sinis.
"Btw.. Kalau Lo sudah selesai, kenapa gak Lo kumpulin saja?" Tanya Hanna penasaran.
Gia berpikir dulu sejenak mencari alasan untuk menjawab.
"Ah Gue, mau nunggu yang lain selesai juga. Masa Gue doang sih yang duluan ngumpulin. Nanti yang pinter-pinter pada iri lihat Gue ngumpulin duluan. Nanti Gue bakal di kira sombong. Harus ada solidaritasnya dong haha! Gue mau nunggu yang lain sudah, biar nanti ngumpulinnya bareng." Jawab Gia setelah berpikir sejenak mencari alasan.
"Oh!" Ucap Hanna singkat.
"Sudah sana kerjain soalnya! Bukannya ngerjain, malah ngobrol." Sewot Gia.
"Eh, Lo sendiri kan yang ngajak Gue ngobrol duluan!" Sewot Hanna sembari mengerjakan soal.
30 menit kemudian.
Sebagian siswa sudah selesai mengerjakan soal lalu mengumpulkannya. Sementara Gia masih diam di bangkunya menunggu giliran Egi mengumpulkan lembar ujian.
Setelah Hanna selesai mengerjakan soal, ia langsung berdiri dan akan mengumpulkannya. Namun tanpa sengaja ia melihat kertas ujian milik Gia yang namanya 'Egi'. Sontak Hanna langsung terkejut dan bertanya.
"Gi-Gia?"
"Hmm?" Jawab Gia sembari melirik Hanna yang memperhatikan kertas ujiannya.
"Lembar ujian Lo, kenapa Lo kasih nama Egi bukan nama Lo?" Tanya Hanna curiga.
Gia langsung kaget dan mulai panik, ia langsung menutupi nama Egi dengan telapak tangannya.
__ADS_1
...----------------...
...Bersambung....