
Keesokan paginya.
Pukul 08.00 Pagi.
Gia masih tertidur pulas.
Padahal, semalam ia sudah memasang alarm pukul 06.00 pagi di jam weker nya agar tidak telat datang ke rumah Egi. Karna Egi sudah menyuruhnya untuk datang lebih pagi.
Namun kemarin, ia tidak sempat melihat kalau jam weker nya sudah habis baterai, itu sebabnya alarmnya tidak berbunyi.
*****
Beralih di rumah Egi.
Sepasang kekasih yaitu Egi dan Olivia masih belum bangun dari tidurnya setelah menghabiskan malam bersama.
Tak lama, Olivia terbangun dari tidurnya sambil menatap Egi.
Ia pun mengelus lembut wajah Egi yang masih tertidur pulas.
Tak lama, Egi pun terbangun dari tidurnya.
"Selamat pagi!" Ucap Olivia sembari tersenyum manis.
"Pagi juga sayang!" Balas Egi sembari tersenyum manis melihat gadis pujaannya masih cantik setelah bangun tidur.
"Kamu sudah bangun lagi sayang?"
"Sudah." Balas Olivia.
"Sayang, aku boleh gak pinjam dulu switer kamu, sudah lama aku gak pakai switer kamu. Aku kangen banget sama wanginya."
"Iya boleh sayang, sweater nya ada di dalam lemari."
Olivia langsung beranjak dari kasur. Sembari mencari sweater milik Egi di dalam lemari.
Setelah menemukannya, Olivia langsung mengenakan sweater nya, sementara Egi masih berbaring sembari memperhatikan Olivia yang sedang mengenakan pakaiannya.
Setelah selesai mengenakan sweater milik Egi, Olivia kembali duduk di kasur sembari membawa tasnya dan duduk di samping Egi yang masih berbaring.
Egi pun langsung bangkit dengan posisi duduk sembari terus memperhatikan wajah cantik Olivia kemudian mulai membelai rambutnya.
Kemudian Olivia membuka tasnya dan mengeluarkan pil KB, lalu ia meminumnya dengan air botol yang selalu ia bawa di dalam tasnya.
"Kamu punya pil KB sendiri?" Tanya Egi heran. Olivia langsung terdiam sejenak.
"Iya waktu itu aku beli, aku selalu membawanya buat jaga-jaga kalau setiap ketemu kamu."
"Aku kira kamu gak akan beli, baru saja aku akan mengambilkannya buat kamu."
"Gak usah, sudah ada kok." Ucapnya sembari tersenyum manis pada Egi.
Begitulah hubungan antara Egi dan Olivia.
Olivia selalu minum pil KB setelah berhubungan intim dengan Egi, agar tak menimbulkan hadirnya janin bayi dalam perutnya yang bisa merusak statusnya yang masih seorang pelajar begitupun juga Egi yang tak ingin itu sampai terjadi, ia selalu menyiapkan pil KB khusus untuk Olivia setiap kali ia ingin berhubungan intim dengannya.
"Kamu lapar?" Tanya Egi sembari bersandar manja di bahu kekasihnya.
"Lapar sayang!"
"Ayo, mau masak bareng?"
"Ayo!"
.....
Di dapur.
Olivia dan Egi sedang masak bersama.
"Sayang, mau makan apa?" Tanya Olivia sembari membersihkan sayuran.
"Sandwich saja sayang, pakai telur sama sayur."
"Kamu siapin rotinya yaa, aku yang menggoreng telurnya."
Setelah menyiapkan beberapa roti, Egi langsung menatap mesra Olivia yang akan menggoreng telur, dengan romantisnya Egi memeluknya dari belakang.
"Sayang lepasin! Aku mau menggoreng." Ucap Olivia terbawa perasaan.
"Biar aku saja yang menggoreng, kamu duduk saja sayang."
"Gapapa, biar aku saja, buatan aku lebih enak dari pada buatan kamu." Ledek Olivia sembari tertawa.
"Masa sih?"
"Iya sayang, aku kan perempuan. Cita rasa masakan perempuan jauh lebih enak dari pada buatan lelaki."
"Hmm... Ya sudah sayang, aku sudah menyiapkan rotinya, tugas aku apalagi sekarang?"
"Tugas kamu sekarang, peluk aku saja dari belakang." Goda Olivia.
"Hmm... Iya sayang." Ucap Egi sembari memeluk erat tubuhnya dari belakang. Sementara Olivia memasak sembari tersenyum senang di peluk Egi.
*****
Pukul 10.00.
Beralih di rumah Gia.
Gia yang masih tertidur pulas akhirnya terbangun dari tidurnya. Lalu dengan mata yang masih melek, ia melihat jam weker nya yang masih menunjukkan pukul 20.42 Malam.
"Masih malam, kirain sudah pagi. Perasaan, Gue tidur sudah lama banget deh." Gumamnya sembari menguap.
Kemudian ia mengecek ponselnya, lalu betapa kagetnya Gia melihat jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul 10.00, sementara jam wekernya menunjukkan pukul 20.42 malam.
"Jam 10?"
Gia langsung bangkit dengan posisi duduk dengan ekspresi kaget, ia mengambil jam wekernya dan mengeceknya.
"Gila! Ternyata jamnya habis Baterai." Gumamnya panik.
"Jam 10, Gue telaatt!!" Lanjutnya sambil berteriak.
Ia pun membuka tirai jendelanya, sinar matahari langsung masuk menyinari kamarnya.
"Gila! Bagaimana ini?"
Lalu dengan cepat ia mengambil ponselnya dan menelepon Egi.
"Egi pasti bakal marah banget." Gumamnya sembari menggigit kuku jarinya.
Di sisi lain, setelah mereka selesai membuat sandwich dan akan makan bersama, ponsel Egi berdering.
"Tunggu sebentar." Ucapnya pada Olivia sembari melihat orang yang meneleponnya yaitu Gia yang ia namai kontaknya dengan nama 'Benalu'.
"Ada yang telepon, kamu makan duluan saja." Ucap Egi sembari beranjak pergi. Olivia mengangguk sembari memakan sandwich nya.
Egi pun berjalan pergi, berusaha menjauh dari ruang makan untuk menjawab panggilan Gia, agar Olivia tak mendengarnya dan tak menimbulkan kecemburuan maupun kecurigaan.
"Ada apa?" Ketus Egi.
^^^"Egi! Eh maksudnya bos, maafkan aku! Aku telat, jam weker aku mati, jadi alarm nya gak nyala sampai aku telat bangun. Bos tolong maafkan aku, jangan salahkan aku! Salahkan saja alarm nya."^^^
"Gapapa, kamu datang saja jam 3 sore."
^^^"Apa? Jam 3 sore? Beneran? Pekerjaan aku nanti jadi sebentar dong."^^^
"Iya gapapa! Jangan lupa datang ya."
Egi langsung mematikan teleponnya sepihak. Di sisi lain Gia langsung berjingkrak-jingkrak senang sembari melompat-lompat di kasur.
Setelah selesai mengangkat telepon dari Gia, Egi kembali ke ruang makan sembari melihat Olivia sedang mengecek ponselnya.
"Kamu sudah habiskan semuanya?"
"Iya, sayang maaf ya! Aku gak bisa lama-lama di sini, ibuku terus menghubungiku dari kemarin malam, agar aku segera pulang."
"Tumben, gak biasanya ibumu suruh kamu pulang. Apa kamu gak kasih tau ibu kamu, kalau kamu lagi menginap di rumahku?"
"Sudah, tapi tetap saja, ibuku menyuruhku untuk pulang."
"Ya sudah, biar aku antar kamu sampai rumah." Ucap Egi dengan raut wajah yang mulai kembali galau. Olivia mengangguk.
__ADS_1
"Besok kamu pasti sibuk lagi?" Lanjut Egi bertanya.
"Iya, tapi kalau aku sudah gak sibuk, aku pasti akan mengabari kamu. Tapi lain kali kamu jangan menelepon aku duluan, kalau aku gak angkat, berarti aku sedang sibuk banget. Jadi mulai sekarang biar aku saja yang menelepon kamu duluan." Tegas Olivia.
"Iya sayang." Ucap Egi sembari mengangguk tersenyum walaupun dalam hatinya ia akan kembali merasakan galau.
.....
Saat Egi sedang berada di garasi untuk mengeluarkan mobil, Olivia menunggunya di luar gerbang sembari memainkan ponselnya.
Sebelum mengeluarkan mobil, diam-diam Egi menelepon Gia.
Di sisi lain, Gia sedang bersiap-siap akan pergi ke bukit, untuk melanjutkan kembali hobinya dalam melukis. Setelah bersiap diri dengan topi kupluk yang ia kenakan, tiba-tiba ponselnya berdering menandakan telepon dari Egi.
"Egi telepon? Ada apa?"
Dengan cepat, ia langsung mengangkat teleponnya.
"Halo Egi, eh maaf maksudnya bos."
^^^"Datang saja ke rumah aku sekarang!"^^^
"Apa? Bukannya tadi kamu menyuruh aku buat datang jam 3 sore."
^^^"Gak jadi, kamu datang saja sekarang! Awas kalau kamu telat." Egi langsung mematikan teleponnya.^^^
"Ha, halo?" Gia langsung kesal sembari melempar ponselnya ke kasur.
"Ikhh, sialan! Kenapa gak sore saja sih?" Gerutu Gia kesal sembari melepas topi kumpluknya lalu mengacak-acak rambutnya.
"Pas banget mau pergi!" Gumamnya.
*****
Setelah mengantar Olivia sampai ke depan rumah mewah milik majikan ibunya.
"Oh, jadi ini rumah majikan ibu kamu yang baru?"
"Iya Egi, sekarang aku jadi tinggal di sini bersama ibuku." Jawabnya.
"Oh begitu."
Sebelum masuk ke dalam, Olivia kembali memberi pelukan hangatnya pada Egi sebagai salam perpisahan karna beberapa hari ke depan, ia tak akan bisa menemuinya lagi karna sibuk.
"I love you Egi." Ucap Olivia. Egi langsung melepas pelukannya.
"I love you too." Balas Egi sembari mencium keningnya.
Mereka pun saling bertatapan mesra sembari tersenyum haru. Apalagi Egi yang akan kembali berat merindukan sosok kekasihnya yang ia cintai sejak SMP.
Setelah Olivia masuk ke dalam rumah majikan ibunya. Egi kembali masuk ke dalam mobil.
*****
Beralih di rumah Gia.
Gia sedang bersiap diri untuk pergi ke rumah Egi.
"Mah, Gia keluar dulu ya mah." Pamit Gia.
"Mau kemana kamu?" Tanya ibunya penasaran.
"Gia mau main dulu ke rumah teman mah."
"Teman yang mana?"
Gia terdiam sejenak, memikirkan alasan.
"Hanna mah."
"Oh, ke rumah Hanna."
"Iya mah."
"Ya sudah, kalau begitu pulangnya jangan sampai sore ya."
"Iya mah."
Setelah itu Gia pergi dengan menggunakan taksi.
*****
Setelah sampai di rumah Egi.
Dengan ramahnya, satpam membukakan gerbang untuknya, Gia langsung mengangguk sopan sembari berjalan.
"Mana ya? Kok lama banget?"
Gia kembali menekan bel nya, namun tetap saja setelah di tunggu tak ada yang membukakannya pintu.
Dengan kesalnya, Gia langsung menekan bel nya hingga berkali-kali sembari memanggil-manggil Egi.
"Egii."
..."Egiii."...
^^^"Egiiii."^^^
"Budeg banget! Gue telepon saja Egi, biar dia membuka pintunya."
Gia langsung meneleponnya. Dan tanpa menunggu lama, Egi mengangkat teleponnya.
^^^"Ada apa?"^^^
"Bos, aku sudah sampai di rumah kamu, kamu di mana? Kok gak ada orang ya di dalam? Bi Mirah kemana? Bukannya bukain pintu malah gak ada."
^^^"Bi Mirah kan masih libur, sementara aku lagi di luar. Kamu masuk saja, kuncinya ada di satpam, kamu pinta saja."^^^
"Baik bos Egi."
^^^"Oh ya, setelah kamu masuk, buatkan aku nasi goreng ekstra bawang."^^^
"Tapi bos..." Belum selesai Gia bicara, dengan cepat Egi menyelanya.
^^^"Apa? Apa? Apa? Lakukan saja tugasmu dan jangan banyak mengeluh."^^^
Gia langsung terdiam sejenak, memikirkan bagaimana cara ia memasak, sementara ia sendiri tidak bisa memasak.
^^^"Masa bikin nasi goreng saja gak bisa?"^^^
"Iya bos!"
^^^"Pokoknya begitu aku datang, kamu harus sudah selesai membuatnya! Masak yang enak yaa."^^^
"Baik bos."
*****
Di dapur.
Gia mengeluarkan semua sayuran dan semua bumbu-bumbu dari dalam kulkas, hingga membuat meja penuh akan semua bahan-bahan yang ia keluarkan semuanya.
"Pertama-tama apa dulu ya? Bikin nasi goreng pakai apa saja ya? Gue jarang banget makan nasi goreng." Gumam Gia sembari menggaruk tengkuknya.
"Kayaknya Gue harus lihat dulu tutorial cara masak nasi goreng."
Kemudian ia mengeluarkan ponsel dari sakunya, lalu membuka membuka video tutorial memasak nasi goreng di YouTube.
Video yang Gia tonton berdurasi 15 menit. Ia menonton video nya tanpa men-skip durasinya.
Tak lama Egi pulang, Gia masih menonton videonya sembari mempraktekkan caranya yaitu pertama yang ia lakukan memotong bawang.
Setelah memarkirkan mobilnya, Egi masuk ke dalam dan memanggil-manggil namanya sambil berjalan menuju dapur.
"Giaa."
..."Giaaa."...
^^^"Giaaaa."^^^
Gia langsung tersentak kaget. Dengan teriakan Egi.
"Gawat! Egi sudah pulang!" Gia langsung mematikan videonya.
Egi pun datang dan masuk ke dalam dapur, lalu betapa kagetnya ia melihat meja dapurnya sudah berantakan di penuhi semua sayuran dan bumbu-bumbu.
"Apa-apaan ini? Kenapa berantakan sekali? Bukannya bikin nasi goreng, malah bikin dapur berantakan." Tanya Egi dengan nada membentak.
"Tadi kamu suruh aku masak, jadi aku keluarkan semua bahan-bahannya." Jawabnya.
"Ya gak semua bahannya di keluarkan! Kamu ini mengotori dapur saja. Cepat bereskan!"
"Baik bos." Gia mulai membereskan semuanya. Namun lagi-lagi Egi meneriakinya.
__ADS_1
"Sudah, jangan dulu di bereskan! Buatkan aku nasi goreng dulu. Aku lapar!"
"Baik bos."
"Setelah itu, kamu bereskan semuanya."
"Siap bos!" Ucap Gia sembari kembali mencoba memasak.
Egi langsung berjalan pergi, dan duduk di meja makan.
Setelah melihat setengah dari videonya. Gia mulai mengiris-ngiris bawang Bombay. Saat sedang mengiris bawang, Egi memanggilnya.
"Gia! Bawakan aku minum."
"Minum apa bos?"
"Air putih saja! Masa mau minum air comberan." Ketus Egi.
"Baik bos!"
Gia langsung mengambilkannya segelas air dari kulkas tanpa mencuci tangannya dulu.
"Cepat!" Teriak Egi dari ruang makan.
Gia merasa terburu-buru, ia langsung berlari sembari memberikannya segelas air.
"Ini bos!"
Setelah memberinya air, Egi langsung menyuruh Gia untuk kembali ke dapur dengan gerakan tangannya. Gia langsung kembali berjalan cepat menuju dapur.
Egi langsung meneguk airnya. Namun, baru seteguk saja ia langsung memuntahkannya.
"Bau bawang! Gak becus banget!" Gerutu Egi sembari batuk-batuk.
Di dapur.
Ia mulai memotong sayuran, mulai dari wortel, bunga kol, paprika hijau, dan segala sayuran yang ada.
"Duh, sebaiknya gak usah kecil-kecil deh potongnya, lebih baik besar saja biar lebih cepat." Ia langsung memotong asal semua sayurannya.
"Ini bawang putih sama bawang merah ukurannya sudah kecil, sebaiknya gak usah di potong."
Setelah selesai memotong-motong semua sayurannya, ia memasukkan seperempat minyak dan semua sayurannya ke wajan hingga wajan pun penuh dengan sayuran.
"Gimana ya cara menyalakan kompor?" Lalu ia kembali membuka ponselnya dan kembali melihat video tutorial cara menyalakan kompor.
"Oh begitu. Gampang-gampang!"
Setelah bisa menyalakan kompor, ia mulai memasak. Lalu ia melihat satu plastik penuh ketumbar yang masih bergeruntulan.
"Ini apa ya? Kayaknya ini pilus deh. Masukkan saja biar tambah enak." Gumamnya sembari memasukkan semua ketumbar yang masih utuh ke wajan.
Ia pun mulai memasak dengan minyak yang banyaknya hampir seperempat.
"Oh iya lupa! Nasinya." Gia langsung memasukkan sepiring nasi lalu mulai menggorengnya.
"Kayaknya sayurannya ke banyakan deh. Tapi gapapa, makan sayuran yang banyak bisa bikin badan jadi lebih sehat." Gumamnya sembari memasak.
Setelah selesai membuat nasi goreng, Gia langsung menyajikannya di piring, setelah itu ia berjalan menuju ruang makan. Namun sepertinya ia lupa tak mematikan kompor. Sehingga minyak yang ada dalam kaleng yang ia taruh di samping kompor tumpah mengenai kompornya.
Di ruang makan.
Gia langsung menyajikannya di atas meja.
"Silahkan di makan bos!" Ucap Gia dengan senyuman merekahnya.
Egi langsung di buat bingung melihat nasi goreng buatan Gia.
"Apa ini?" Tanya Egi sembari menurunkan sebelah alisnya.
"Nasi goreng!"
"Nasi goreng kok gini ya? Bawang bombay nya tebal banget, kamu gak iris tipis-tipis bawangnya?"
"Sengaja bos, tapi kalau di iris tipis-tipis nanti kelamaan, bos pasti lapar."
"Ini bawang putih dan bawang merahnya masih bergeruntulan, bunga kol dan wortelnya masih keras. Dan apa ini? Semuanya harusnya di potong-potong bukan bergeruntulan gini!"
"Anggap saja itu nasi goreng model baru bos." Ucapnya sembari cengengesan.
"Nasi goreng model baru katamu? Ini seperti makanan buat kambing, apa-apaan ini? Semuanya masih mentah." Pekik Egi.
"Bos, itu bukan mentah! Tapi setengah mateng, kalau sayuran di masak lebih matang. Akan hilang tingkat fresh nya. Lebih baik bos coba dulu, seberapa enak masakan aku."
Egi langsung mencoba masakannya. Baru satu kunyahan, Egi mulai merasakan rasa yang tak enak di lidahnya.
"Gak enak! Pahit sekali." Batinnya.
"Berapa siung bawang putih yang kamu pakai?"
"30 siung bos!"
Mendengar jawaban Gia, Egi langsung memuntahkan kunyahannya.
"Ah, kenapa bos?" Tanya Gia panik.
"Kamu mau meracuni aku ya? Ini pahit banget! Nasi sedikit tapi bawang banyak. Gak kira-kira kamu masukkan bawang banyak banget."
"Tadi kan bos yang bilang sendiri, harus ekstra bawang."
"Ya ekstra bawang, bukan berarti kamu masukkan semuanya."
Gia langsung menunduk malu. Tak lama Egi mulai mengendus-endus sesuatu.
"Bau apa ini?"
Gia juga mengendus bau yang sama.
"Ini bau gosong!" Gumamnya.
Dengan cepat, Egi langsung berlari kencang menuju dapur, Gia langsung ikut berlari mengikuti Egi.
Setelah sampai di dapur.
Betapa syok nya Egi dan Gia melihat dapurnya terbakar. Gia langsung melotot kaget.
"Kebakaran! Kebakaran! Kebakaran!" Teriak Gia sembari berlari keluar.
Sementara Egi yang panik langsung berlari ke kamar mandi, lalu ia menyalakan keran, ia mengisi semua ember dengan air. Lalu ia mulai menyemburkan semua airnya pada api yang mulai membesar.
Di luar.
Gia berlari sembari memanggil satpam.
"Pak, pak, tolong pak! Dapur kebakaran!"
"Kebakaran?"
Satpam langsung bergegas berlari masuk ke dalam.
Di dalam.
Api tak kunjung padam. Api mulai merambat ke dinding, Egi masih berusaha mengisi air di ember dan menyiramkannya.
Satpam akhirnya datang dan membantu Egi memadamkan apinya dengan menyiramkan semua airnya.
Sementara Gia hanya diam saja di luar pintu tak ikut membantu sembari memandangi Egi dan satpam yang berusaha memadamkan api.
"Ayo bos! Pak satpam! Siram semuanya! Semangat!" Teriak Gia menyemangatinya.
Setelah api benar-benar padam, Egi sangat kelelahan, ia langsung terduduk lemas di lantai sembari mengelap keringatnya. Egi terus ngos-ngosan sembari memandangi dapurnya yang indah dan modern kini sudah menjadi rusak akibat terbakar. Lalu Gia menghampirinya.
"Kamu gapapa bos?" Tanya Gia sembari menggenggam tangannya. Egi langsung menepisnya.
"Kenapa dapurnya bisa terbakar begini? Kenapa?" Teriak Egi. Gia langsung ketakutan dengan teriakannya.
"Aku gak tau, bos!"
"Aku tau apa penyebabnya, kamu pasti lupa mematikan kompor, iya kan?"
Gia hanya terdiam tanpa menjawab perkataan Egi.
"Kamu ini ya, benar-benar keterlaluan! Dasar benalu! Apa kamu sengaja ingin membakar rumahku hah?" Tuduh Egi. Gia langsung naik pitam dengan perkataan Egi.
"Kenapa kamu jadi menyalahkan aku? Kamu sendiri yang menyuruh aku memasak, asal kamu tau ya, aku ini gak bisa masak, kenapa kamu masih saja menyuruhku memasak?"
"Kalau kamu gak bisa memasak, kenapa kamu gak bilang sebelumnya?"
"Tadi di telepon, aku berusaha bilang, tapi kamu terus saja menyela perkataanku." Pekik Gia sembari menangis.
Egi yang masih sangat emosi dengan Gia langsung mengusirnya.
"Pergi! Sana pergi! Jangan pernah kembali lagi! Kamu adalah benalu di hidupku! Pergilah!" Usir Egi sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Sembari terus menangis, Gia langsung berdiri dan pergi dari rumahnya.
__ADS_1
...----------------...
...Bersambung....