
Hari Sabtu.
Para siswa yang ikut remedial wajib datang ke Sekolah untuk pembagian jadwal, kecuali siswa lainnya yang mendapat nilai peringkat bagus di liburkan.
Masih pukul 06.00 pagi.
Belum ada siapapun di sekolah, kecuali Adi yang sudah datang lebih awal, tapi ia sedang menunggu seseorang di luar.
Adi punya rencana ketemuan dengan seseorang di sekolah. Dan ia sudah merencanakan untuk bertemu orang tersebut dari kemarin.
Sembari melihat jam yang melingkari tangannya, ia terus celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri. Tapi tak lama muncullah seorang gadis dengan jaket hitam dan topi di kepalanya.
Gadis itu berjalan mengendap-endap menghampiri Adi kemudian mengagetkannya dari belakang.
"Daarrr..."
Adi langsung kaget setengah mati dan berbalik ke belakang melihat siapa orang yang telah mengagetkannya.
"Nungguin yaa??" Ucap gadis itu dengan nada meledek.
Gadis itu tak lain dan tak bukan ialah Elis. Si gadis cupu berkacamata yang pernah memergoki kelicikan Gia waktu itu. Dan juga sempat ikut berpesta dengan Gia juga kemarin.
Orang-orang sering mengira gadis ini bodoh, padahal sebenarnya ia sangat pintar, baik dalam pembelajaran maupun dalam berbuat kelicikan.
"Lo ini lama banget! Keburu yang lain datang nihh!" Gerutu Adi.
"Tenang saja! Masih jam 6 kok. Santai saja!"
"Cepat katakan! Siapa yang membuat kecurangan saat ujian kemarin?" Tanya Adi antusias.
"Duitnya mana dulu?"
Adi langsung mengeluarkan uang sebesar 400 ribu.
"Cepat katakan!"
"Ada pokoknya. Perempuan!" Ucap Elis memberi teka-teki.
"Gia??" Tebak Adi. Elis mengangguk.
"Kurang ajar dia!" Adi langsung naik pitam.
"Benarkan dugaan Gue! Kalau anak ****** itu yang sudah menyogok para guru."
"Bukan! Dugaan Lo itu salah! Dia gak menyogok para guru kok." Bantah Elis.
"Lalu seperti apa? Selain melakukan itu."
"Lo nanya? Buktinya seperti apa?" Ucap Elis dengan nada meledek.
"Yang benar jawabnya!" Pekik Adi.
"Duit lagi dong!" Pinta lagi Elis.
"Lo ini duit, duit, duit mulu! Aneh? Padahal Lo ini anak teman nyokap Gue yang kaya raya dan punya perusahaan berlian dimana-mana. Tapi kenapa Lo masih memalak orang? Tingkah Lo kayak orang miskin saja!"
"Kalau Lo mau tau, sebenarnya Gue lebih senang melihat teman sendiri susah ketimbang lihat pengemis yang kesusahan." Ucapnya memberi alasan sembari cengengesan. Adi hanya menatapnya heran.
"Ayolah!! Di dunia ini gak ada yang gratis! Ada duit ada bukti! Sudah cepetan!" Pinta Elis sembari menyeringai.
"Dasar cupu-cupu keji! Kejam juga ya Lo." Ketus Adi sembari kembali mengeluarkan uang sakunya dan memberikannya pada Elis.
"Masa cuman 200 ribu? Masa anak DPR cuman kasih Gue 200 ribu? Keluarga Lo mulai kere ya? Mentang-mentang bapak Lo mau abis jabatan."
__ADS_1
"Lo ini keterlaluan yaa! Sudah cepat kasih tau! Nanti Gue tambah lagi."
Elis mulai berlagak mesum dengan berani menyodok saku celana Adi.
"Berani banget Lo yaa!" Pekik Adi sembari menepis tangannya.
"Gue lihat, gak ada lagi duit yang menyisakan di saku celana Lo. Gimana Lo mau nambahin Gue duit lagi? Dasar pembohong!" Nyinyir Elis.
"Lo ini ya! Sudah cepat bilang! Kalau enggak, Gue bakal laporin Lo ke kepala sekolah kalau Lo suka malak duit orang. Biar Lo di keluarin!" Ancam Adi. Elis berdenyit kesal.
"Ikh... Iya! Iya! Tapi Gue cuman bakal kasih tau Lo ini saja ya, buat jaga-jaga pas Lo remedial nanti." Ucap Elis dengan nada berbisik.
"Apa?" Adi berdenyit heran. Elis celingak-celinguk sebentar lalu mulai membisikkan sesuatu pada telinga Adi.
"Lo masih simpan pulpen dari Gia kan?"
"Iya ada, kenapa gitu?"
"Mana? Coba keluarkan!"
Adi langsung mengeluarkan pulpennya dari saku.
"Lo tau? Ini tuh pulpen ajaib yang bisa di hapus. Jangan pakai pulpen ini lagi pas remedial nanti! Entar Lo bakal dalam bahaya lagi." Jelasnya masih berbisik.
"Apa! Pulpen yang bisa di hapus? Beneran?" Adi langsung berdenyit heran sembari menatap aneh pulpen tersebut.
"Iyaa!! Coba Lo tulis nama Lo di kertas!"
Adi langsung mengeluarkan bukunya dari tas, lalu mulai menulis namanya di buku.
Setelah menulis namanya di buku, Adi langsung geram karna ia menganggap Elis sedang mempermainkannya. Kemudian ia hendak akan memukulnya.
"Lo ini mau main-main sama Gue yaa..."
Elis langsung menangkis tangan Adi yang akan memukulnya.
"Bertele-tele bangett!!!" Ucap Adi yang masih di rundung rasa emosi.
"Ini sih karna Lo bayar Gue terlalu murah!" Kemudian Elis mengeluarkan penghapus yang ia bawa.
"Perhatiin Gue baik-baik yaa!!"
Perlahan Elis mulai menghapus nama Adi yang tadi ia tulis. Kemudian menggantinya dengan nama 'GIA'.
"Sekarang Lo paham kan?" Ucap Elis dengan senyuman layaknya pemeran antagonis.
Adi mulai mengerti apa yang Elis maksud, ia mulai geram dengan emosinya yang perlahan mulai membara. Dengan emosinya yang sudah menggebu-gebu, ia pun berteriak dengan sekeras-kerasnya.
"GIAAAAAAAA..."
.....
Pukul 07.00 Pagi.
Para siswa mulai berdatangan. Gia dan Hanna yang baru saja tiba mampir dulu sebentar ke kantin untuk membeli Cemilan, setelah itu mereka beranjak pergi menuju kelas.
Saat tengah berjalan, Adi langsung mencegat mereka dengan raut wajah yang sudah memerah akibat menahan emosi terlalu lama.
"Apa-apaan ini?" Pekik Gia.
"Hei! Ayo kita bicara empat mata! Hanya Gue dan Lo!"
Dengan kasar, Adi langsung menarik tangan Gia dan menggiringnya berlari entah mau di bawa kemana?
Hanna yang kaget langsung mengejarnya.
__ADS_1
"Heh! Lo mau bawa Gia kemana?" Teriak Hanna sembari mengejarnya.
Adi langsung berhenti berlari dan menatap tajam Hanna.
"Diam Lo!! Jangan ikut campuurrr!!!" Bentak Adi. Hanna langsung tersentak kaget.
"Lo ini ya selalu turut campur sama masalah dia! Apa sih hubungan Lo sama dia sampai segitunya?" Pekik Adi. Hanna hanya terdiam kaget.
"Ini hanya urusan Gue sama dia saja! Gue gak ada urusan apa-apa sama Lo! Sana pergi!" Pekik Adi lagi sembari mengusir Hanna.
Lalu Adi kembali menggiring Gia pergi sembari membawanya berlari lagi.
Hanna langsung sakit hati dengan perkataan Adi yang membentaknya.
Baru kali ini Adi memekiknya dengan cara membentaknya seperti itu.
Perlahan air mata pun mulai menetes membasahi pipinya. Padahal sebenarnya ia sudah mulai menaruh rasa pada Adi.
Kemudian dengan rasa sedih yang mendalam, Hanna langsung berlari menuju kelas.
.....
Kembali pada Gia yang di giring Adi sembari berlari.
Sepanjang jalan, Gia terus saja memberontak, tapi cengkraman kuat tangan Adi tak mampu membuatnya bisa lepas meskipun ia memberontak sambil mencakar-cakar tangannya sampai memerah.
Sikap Adi pada Gia menjadi pusat perhatian banyak orang. Sehingga banyak siswa yang mulai bertanya-tanya satu sama lain.
Kemudian sebagian siswa mulai mengikuti mereka menuju ruang guru.
.....
Sesampainya...
Adi langsung menggiringnya masuk, kemudian ia mendorongnya hingga Gia terpental mengenai tembok.
Para siswa yang mengikuti mereka langsung syok melihat momen mencekam ini. Mereka mulai bertanya-tanya satu sama lain sembari mengintip dari luar jendela.
"AUUWWW..." Gia meringis kesakitan.
"Ada apa ini?" Teriak Bu Ranti histeris.
"Adi apa-apaan kamu ini? Berbuat kasar seperti itu pada Gia. Ini namanya penyiksaan pada seorang perempuan! Kamu mau dibawa ke jalur hukum hah?!" Pekik Bu Ratna.
"Maaf Bu, tapi saya kesini ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting. Saya ingin membongkar segalanya tentang kebusukan orang ini!"
"Ada apa?" Tanya pak Wiryo tiba-tiba datang menghampiri, di ikuti para guru lainnya yang ikut menghampiri juga.
"Bapak dan ibu guru semua yang ada di sini. Saya ingin menyampaikan sesuatu."
Semua orang langsung tegang.
"Sebenarnya ada yang berbuat kelicikan dan kecurangan saat ujian kemarin yaitu dengan menukar jawaban saya sehingga saya mendapat nilai terendah."
Para guru hanya menatap melongo dengan pernyataan Adi yang menjelaskannya secara emosional.
"Dan pelakunya adalah..." Adi menghela nafas panjang dan mulai menyebut namanya sembari menatap ke arah Gia yang sudah terpojokkan di sudut tembok.
"GIAA!!! Dia sendiri dalang di balik semua ini! Dialah pelakunya!" Ucap Adi lantang sembari menunjuk Gia.
Para guru kini semakin di buat melongo sembari menatap satu sama lain kemudian mereka menatap ke arah Gia.
Gia yang semakin tersudutkan dan telah di bongkar kedoknya hanya bisa ngos-ngosan ketar-ketir.
__ADS_1
...----------------...
...Bersambung....