AFTERNOON WITH YOU

AFTERNOON WITH YOU
Kerja seharian.


__ADS_3

Keesokan paginya.


Di sekolah.


Gia sedang berjalan lesu menuju kelasnya. Setelah sampai di kelas, ia melihat Egi sedang murung di bangkunya.




Gia merasa bersalah dan malu pada diri sendiri, rasanya ia ingin sekali minta maaf, karena kemarin ia belum sempat minta maaf. Tapi, ia takut Egi akan kembali emosi dan memarahinya lagi di depan semua orang.


Gia pun langsung berjalan menuju bangkunya. Saat berjalan melewati Egi, diam-diam Egi meliriknya tanpa Gia ketahui.



Egi pun langsung mengalihkan kembali pandangannya ke depan.


Setelah duduk di bangkunya, Hanna memperhatikan Gia yang menunjukkan raut wajah yang lesu.


"Lo kenapa?"


"Gapapa kok."


"Jangan bohong deh!"


Tak lama bel masuk berbunyi.


*****


Jam istirahat.


Tanpa di ketahui banyak orang, Egi mengajak Hanna untuk mengobrol di bawah tangga.


"Ada masalah?" Tanya Hanna.


"Iya, kemarin dia bikin kekacauan."


"Lalu?"


"Aku gak mau membahasnya lagi."


"Apa kamu sudah selesai menghukumnya? Kalau sudah selesai, ayo kita laporkan sekarang!" Ajak Hanna penuh semangat.


"Jangan dulu! Aku masih belum puas menghukumnya. Tadinya aku ingin memberinya pelajaran yang gak akan pernah dia lupakan seumur hidup, tapi apa yang aku lakukan malah sebaliknya."


"Lalu sekarang apa? Sampai kapan kamu akan membiarkannya begitu saja? Kita harus laporkan secepatnya sebelum semuanya terlambat."


"Kamu tenang saja, beri aku waktu sampai beberapa hari untuk memberinya pelajaran. Setelah itu, kita akan melaporkan semua kebusukannya." Ucap Egi. Hanna mengangguk dengan raut wajah yang sedikit kesal.


*****


Pulang sekolah.


Masih di dalam kelas, saat semua orang sudah pulang, Gia masih berdiam diri di dalam kelas sembari mengenakan jas sekolahnya. Lalu ia menggerai rambutnya sembari bercermin.


"Ternyata, Gue masih cantik!" Kemudian ia keluar kelas.


Saat Gia tengah berjalan mencari Hanna untuk mengajaknya pulang bareng. Tiba-tiba Egi datang menghampirinya.


"Egi!" Gia langsung mendongak kaget.


"Gia, aku..."


Belum selesai Egi bicara, Gia langsung menyelanya.


"Egi, aku mohon jangan marahi aku lagi. Aku minta maaf sudah merusak segalanya. Tolong maafkan aku, aku gak sengaja." Ucap Gia memohon-mohon sembari menangis histeris.



"Gapapa..." Ucap Egi sembari menunjukkan raut wajah yang biasa saja.


Kemudian Gia mengeluarkan kertas cek 200 juta dari sakunya.


"Ini sebagai gantinya untuk biaya renovasi, ambil saja. Aku mohon, asal kamu gak marah lagi sama aku." Ucap Gia sembari terus menangis dan menyuruh Egi menggenggam kertas cek tersebut.


"Enggak Gia, gapapa! Aku sudah maafkan kamu kok."


"Benarkah? Secepat itukah?" Tanya Gia sembari menghapus air matanya. Egi mengangguk.


"Ini sebaiknya kamu simpan saja untuk kebutuhan kamu. Aku sudah memanggil tukang renovasinya kemarin." Ujar Egi, Gia hanya terdiam.


"Besok kan tanggal merah, kamu boleh kembali bekerja di rumah aku." Lanjutnya.


"Apa? Tapi Egi, aku takut merusak lagi segalanya."


"Gak akan! Aku gak akan menyuruh kamu lagi bekerja di dapur, aku akan memberi tugas yang ringan sesuai yang kamu bisa. Sekalinya bekerja lagi di dapur, kamu akan di temani bi Mirah."


"Baik Egi."


"Mulai besok, aku akan tunggu kamu jam 7 pagi. Jangan lupa yaa!" Ucap Egi. Gia mengangguk setuju.


*****


Keesokan paginya.


Singkat cerita di rumah Gia.


Sekolah kembali libur, di karenakan hari ini tanggal merah.


Di dapur.


Sebelum berangkat ke rumah Egi, Gia menata makanan di kotak makannya untuk di berikan kepada Egi.



"Egi pasti suka." Gumamnya sembari tersenyum.


Tiba-tiba ibunya datang ke dapur.


"Kamu mau lagi ngapain?"


"Ini lagi menyiapkan bekal mah." Jawabnya.


Lagi-lagi ibunya bertanya kemanakah ia akan pergi lagi apalagi ibunya heran melihat Gia selalu pergi lebih pagi beda dari biasanya, apalagi yang membuat ibunya lebih heran, ia akan pergi sembari membawa kotak makan.


Namun seperti biasa, Gia selalu menjawab dengan alasan yang sama yaitu main ke rumah Hanna namun hari ini dengan tambahan kata sambil piknik. Dan lagi-lagi ibunya selalu percaya dengan beribu alasan bohong dari putrinya tersebut dan mengizinkannya pergi.


*****


Pukul 07.00 pagi.


Gia kembali berjalan riang menuju rumah Egi sembari bernyanyi di sepanjang jalan, sehingga orang-orang di jalan yang memperhatikannya menganggap Gia aneh.


Setelah sampai di rumah Egi, ia menekan bel pintunya.

__ADS_1


Tak lama, Egi pun membuka pintunya.


"Halo Egi! Eh, maksudku bos. Aku membawakan sarapan buat kamu." Ucapnya kembali memunculkan senyumannya yang merekah. Tapi Egi malah berdenyit kaget.



"Sarapan? Tapi aku sudah sarapan."


"Oh, ya sudah gapapa, kamu bisa makan ini nanti siang."


"Oh, terima kasih! Masuklah." Ucap Egi mempersilahkan sembari menerima makanan pemberiannya.


Gia langsung masuk ke dalam. Setelah masuk, ada banyak sekali tukang renovasi yang berkeliaran di sekitar rumahnya, saat melewati dapur, sebagian tukang renovasi memperbaiki setiap dinding dan atap.


Tak sedikitnya dari mereka memperhatikan kedatangan Gia.


.....


Di halaman belakang rumah.


Setelah selesai mengenakan seragam pelayan, Gia mulai menghadap Egi untuk bersiap mendengar tugas yang akan diberikannya.


"Tugas kamu hari ini, siram semua tanaman di sini."


"Siram tanaman? Oh, itu gampang."


"Ya sudah, siram semuanya dengan benar ya!"


"Siap bos Egi!" Ucap Gia sembari memberi hormat.


Gia mulai menyiram semua tanamannya.



Egi kembali berjalan pergi, namun ia berbalik dan memanggil Gia sekali lagi.


"Gia!"


"Iya bos?" Gia langsung berbalik.


"Kalau airnya sudah habis, kamu isi saja gembornya di keran yang di dekat kolam.


"Baik bos." Ucap Gia bersemangat lalu mulai menyiram semua tanamannya.


Egi pun kembali pergi masuk ke dalam.


Sembari menyirami tanaman, Gia celingak-celinguk melihat kesana-kemari, melihat sekitar halaman penuh dengan tanaman dan pohon-pohon.


Namun matanya kini tertuju pada sebuah pohon mangga yang tumbuh dengan berukuran kecil tapi berhasil menghasilkan buah yang amat banyak.



"Waw, banyak sekali mangga nya." Gia langsung tergiur melihat banyak mangga yang tumbuh dengan lebat. Rasanya ia ingin sekali memetiknya.


"Jadi pengen satu deh buat di bawa pulang."


Kemudian ia menaruh gembornya di samping pot, lalu ia berjalan menghampiri pohon mangga tersebut.


Setelah berada di hadapan pohon, Gia si gadis gak sabaran akhirnya nekat memanjat pohon tersebut yang tingginya memang sangat rendah, itu sebabnya ia berani memanjat pohon tersebut tanpa adanya rasa takut sedikitpun hingga ia berhasil sampai ke dahannya.


"Wah, lumayan tinggi ya."


Lalu ia berdiri di dahannya mencoba meraih mangga yang sudah sangat matang yang jaraknya lumayan jauh.


Lalu belum juga ia berhasil meraih buah mangga tersebut, ia malah terpeleset hingga jatuh menimpa beberapa tanaman di bawahnya.


"Aduh." Gia meringis kesakitan, sembari melihat bajunya yang kotor penuh dengan tanah basah.


Kemudian ia berdiri sembari melihat tanaman yang baru saja di timpanya.


"Hah!"


Sontak Gia langsung kaget sekaligus panik melihat semua tanaman bunga hancur dan sebagiannya lagi batangnya patah akibat di timpanya.


"Bagaimana ini?" Gumamnya panik.


"Duh, Egi pasti bakal marah lagi sama Gue. Gimana ini?" Gia mulai gelisah. Ia mulai mencari cara untuk memperbaiki semuanya tanpa di ketahui Egi.


Kemudian ia memiliki ide, ia pun berlari menuju gudang yang berada tak jauh dari kolam renang, setelah masuk, ia mengambil gunting, solatip, dan beberapa perkakas lainnya yang ia butuhkan serta keranjang bunga.


Setelah mengambil peralatan, ia keluar dan mulai memperbaiki semua tanaman yang baru saja ia hancurkan tanpa sengaja.


Pertama yang ia lakukan, menggunting beberapa bunga yang hancur setelah itu ia masukkan ke dalam keranjang untuk di buang.


Lalu setelah itu, ia mulai menyambungkan beberapa batang bunga dengan memberi solatip pada batangnya agar tak kelihatan patah dan rusak.


Ia berusaha memperbaiki semua tanamannya dengan cepat sebelum Egi kembali.


Satu jam berlalu.


Setelah selesai memperbaiki semuanya. Gia langsung mengelap keringatnya sembari menghela nafas.


"Akhirnya sudah selesai." Ucap Gia lega sembari memperhatikan semua bunga yang sudah ia perbaiki.


Ya walaupun sudah ia perbaiki, namun tetap saja tak terlihat seperti tanaman aslinya karna masih kelihatan jelas solatip yang menempel pada semua batang bunga tersebut.


Kemudian ia membuang semua bunga yang sudah rusak tadi ke tong sampah. Kemudian ia melihat jam di tangannya hampir menunjukkan pukul 08.30.


"Gue harus kembali ke dalam, keburu Egi datang kemari." Gumamnya sembari berlari masuk ke dalam.


Namun sebelum masuk ke dalam, ia mampir dulu ke kolam renang, lalu membersihkan seragamnya yang kotor di sana.


Setelah selesai membersihkan seragamnya, dengan raut wajah yang masih panik, Gia berjalan masuk ke dalam.


.....


Di dalam.


Ia mulai mencari keberadaan Egi.


"Egi, ke mana ya?"


Tak lama bi Mirah datang dari belakang dan mengagetkannya.


"Lagi cari den Egi ya non?"


Gia langsung kaget sembari berbalik ke belakang.


"Bibi?" Ucapnya setengah kaget. Bi Mirah semakin terheran-heran melihat gelagatnya.


Sudah dari tadi Gia panik, sekarang bi Mirah mengagetkannya membuatnya makin lebih panik.


"Den Egi ada di atas non."


"Oh, di atas."

__ADS_1


"Non, kenapa?"


"Ah, gapapa bi, aku cuman haus saja."


"Kalau begitu non minum saja. Sepertinya non sangat lelah sekali." Ucap bi Mirah sembari melihat keringat di kening Gia yang terus mengucur.


"Ah iya bi." Ucapnya sembari cengengesan.


.....


Di dapur.


Saat Gia sedang berjalan menuju dapur, ia kembali kaget melihat Egi berada di sana sedang memperhatikan tukang renovasi yang sedang bekerja.


"Di sebelah sana juga ya pak, perbaiki semua plafon nya." Ucapnya pada tukang.


Lalu diam-diam Gia mulai masuk ke dalam dapur. Egi langsung kaget melihat kedatangan Gia.


"Gia, kamu mau ngapain ke sini? Kamu sudah siram semua tanamannya?"


"Iya, sudah aku siram semuanya." Ucapnya dengan nada gemetar.


"Oh, baguslah. Itu seragamnya kenapa kotor?" Tanya Egi, Gia langsung memperhatikan seragamnya.


Walaupun tadi ia sudah membersihkan seragamnya dengan air kolam, tetap saja itu tak menghilangkan noda tanah yang masih menempel di seragamnya. Ia hanya terdiam dengan raut wajah bingung mau menjawab apa.


Kalau ia katakan yang sebenarnya, kalau tadi ia memanjat pohon mangga sampai terpeleset menimpa tanaman bunga hingga semuanya rusak. Egi akan kembali memarahinya lagi.


"Katakan!" Tegas Egi.


"Tadi pas aku lagi menyiram tanaman, aku terpeleset di tanah."


"Oh begitu, ya sudah kamu ganti baju saja. Gak ada seragam lagi, tapi kamu pinjam saja baju bi Mirah."


"Baik Egi! Eh, maksudku bos. Aku boleh minum? Aku haus." Pinta Gia masih gemetar.


"Silahkan, ambil saja di kulkas."


Gia langsung berjalan dengan raut wajah yang masih panik dan gemetar.


Ia mulai minum beberapa gelas air untuk menghilangkan rasa dahaganya yang membuat tubuhnya terasa panas.


Di rasa, rasa paniknya telah hilang, Gia kembali menghampiri Egi yang masih tetap fokus memperhatikan tukang.


"Egi, tugas aku sekarang apalagi?" Pinta Gia minta tambahan tugas, tanpa ada rasa kapok.


"Oh ya, sebelumnya lebih baik kamu ganti baju dulu dan makan dulu. Kamu pasti belum makan kan dari pagi?"


Gia menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, kalau begitu kamu makan dulu saja. Aku sudah membeli makanannya tadi, makanannya ada di atas meja.


"Baik bos." Balasnya lesu sembari berbalik pergi menuju ruang makan.


Di ruang makan.


Setelah ganti baju, Gia memilih makan dulu untuk mengisi perutnya yang dari tadi keroncongan.


Setelah masuk ke ruang makan, ia terkejut melihat bi Mirah sedang makan makanan yang ada di kotak nasi miliknya yang baru saja tadi pagi ia berikan pada Egi.


"Makan non." Tawar bi Mirah sembari tersenyum meskipun mulutnya masih mengunyah makanan.


Dengan kesal, Gia menghampiri bi Mirah.


"Bibi, kenapa bibi makan makanan yang ada di kotak nasi itu? Itu punya Egi bi!"


"Tapi non, den Egi sudah memberikannya pada bibi dan menyuruh bibi untuk memakannya." Jawabnya.


Seketika Gia langsung geram mendengarnya, ia mulai sedih, kesal, kecewa, dan semuanya bercampur aduk dalam hatinya. Ia mulai mengerucutkan bibirnya berusaha menahan amarahnya di hadapan bi Mirah.


"Egi benar-benar keterlaluan, gak menghargai banget." Batinnya.


"Non, ayo makan dulu. Tadi den Egi membelikan mie di warung, lalu menyuruh bibi membuatkannya khusus buat non." Ucapnya sembari menggeser piringnya untuk Gia.


"Baik bi." Balas Gia sambil menahan emosi.


Rasa emosi yang masih tertanam di dalam diri Gia masih belum terkendali. Saking emosi dan kecewanya pada Egi, ia memutuskan untuk makan mienya langsung di pancinya tanpa memindahkannya terlebih dahulu ke piring. Bi Mirah langsung heran melihat tingkah Gia seperti itu. Lalu bi Mirah hanya tersenyum melihatnya sembari kembali melanjutkan makan.


Sambil makan mie dengan raut wajah yang mulai sedih, Gia terus memperhatikan bi Mirah yang makan makanannya yang tadinya untuk Egi.



"Awas Lo ya Egi, tunggu saja pembalasan dari Gue." Umpatnya dalam batin.


.....


Setelah selesai makan, ia memutuskan ke kamar mandi untuk mencuci semua baju Egi yang sudah tersedia di keranjang cucian dekat mesin cuci.


Di kamar mandi.


Untuk menghilangkan emosinya, ia mulai bernyanyi sendiri menyanyikan sepenggal lirik lagu dari kartun Marsha and the bear yaitu 'Laundri day' sembari memasukkan satu persatu pakaian Egi ke dalam mesin cuci.



..."Esli utrom deti umyvaiutsia...


...Solntse vnebe iarche ulybaetsia....


...Esli utrom deti umyvaiutsia...


...Solntse vnebe iarche ulybaetsia."...


Sembari asik bernyanyi. Tak lama Egi datang dan berdiri di ambang pintu, membuatnya langsung berhenti bernyanyi.


"Ada apa bos?" Tanya Gia sambil tetap menunjukkan senyuman manisnya meskipun dalam hati, ia sangat marah.



"Aku mau kasih tau, kalau pakaian putih dan yang berwarna. Kamu pisahkan mencucinya. Jangan di satukan!" Ucapnya memberitahu.



"Siap bos!" Ucap Gia sambil kembali hormat.


Egi langsung kembali pergi meninggalkannya. Sementara Gia menatap sinis kepergiannya.


"Suka banget ya suruh-suruh orang. Lihat saja Egi, begitu aku sudah merampas hp kamu dan menghapus videonya. Kamu gak akan bisa menyuruh-nyuruh aku lagi." Ucapnya dalam batin.



"Tunggu saja pembalasanku Egi, semua penderitaan aku sebagai babumu akan segera berakhir secepatnya. Dan Kartu as nya hanya satu, tetap terlihat baik dan polos di depannya, meskipun dalam hati emosi dan kerjakan sesuatu sesuai perintahnya meskipun melakukannya dengan gak ikhlas." Lanjutnya lagi dalam batin.


...----------------...


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2