
...•...
...•...
...•...
...•...
...•...
Masih di Sekolah.
Egi berlari menuju ruang guru untuk mempertanyakan segalanya. Ia yakin pasti ada kesalahan yang di buat oleh para guru dalam memberikan nilai. Ia masih belum tahu penyebab yang sebenarnya seperti apa.
Sesampainya di Ruang guru, Egi melihat Adi yang sedang berdebat dengan para guru.
"Apapun yang saya jawab pasti selalu benar bu! Saya tidak tau kenapa jawaban saya tiba-tiba bisa berubah begini?" Pekik Adi tak percaya.
"Itu kamu tanyakan sendiri pada diri kamu. Kenapa kamu salah dalam menjawab soal!" Ketus Bu Ratna.
"Gia saja yang dulu sering mendapat nilai terendah sekarang berubah menjadi pintar. Kamu sendiri yang sudah lama pintar seharusnya lebih pintar lagi dari Gia." Timpal Bu Mirda.
Perkataan Bu Mirda membuat Adi kembali teringat pada nilai Gia yang berada di urutan teratas.
Tokk...
Tokk...
Tokk...
Egi mengetuk pintu di saat perdebatan Adi dan para guru masih belum selesai.
"Ada apa Egi? Kamu kemari untuk mengusul juga?" Tebak Bu Ratna. Egi mengangguk.
"Boleh saya masuk?" Izin Egi dengan nada rendah.
"Silahkan!"
Egi langsung masuk dan mulai mengeluh sama seperti Adi dan melakukan sedikit perdebatan kecil hingga berjam-jam.
"Kenapa kalian ini kemari cuman mengajak kami berdebat? Kalian sendiri yang mengisi, kalian sendiri yang dapat nilai jelek, dan kalian sendiri yang menyalahkan kami." Ketus Bu Ranti.
"Ini bukan soal salah atau menyalahkan. Selama saya masih bersekolah di sekolah saya yang dulu, saya selalu mendapat peringkat nilai teratas. Kenapa setelah saya pindah ke sekolah ini dan melakukan ujian, kenapa kalian memberi saya nilai yang jelek? Padahal saya mengerjakan dengan bersungguh-sungguh dan saya yakin 95% dari jawaban saya semuanya benar." Jelas Egi dengan nada tegas.
Para guru langsung naik pitam dengan kata-kata yang di lontarkan Egi. Lalu mereka mulai mengatainya.
"Oh, jadi kamu menyalahkan kami? Kamu menuduh kami sengaja memberi nilai yang buruk di lembar ujian kamu?"
"Sudah salah. Sok kepedean bakal dapat nilai paling tinggi."
"Baru hari pertama ujian di sekolah ini saja nilai kamu sudah sejelek itu. Kami kira kamu ini benar-benar pintar. Makanya pihak sekolah ini menyuruh kamu pindah ke sini."
"Bagaimana bisa kamu mengikuti olimpiade berikutnya? Kalau nilai ujian kamu saja sejelek ini. Pihak sekolah ini pasti akan menyesal sudah memaksa kamu untuk pindah ke sekolah ini."
Egi langsung terdiam menunduk setelah menerima teguran dan sindiran yang menohok dari beberapa guru. Kemudian pak Wiryo memberikan lembar jawaban ujian Egi yang sudah bernilai jelek. Hanya beberapa pelajaran saja yang mendapat nilai bagus.
Egi semakin terkejut. Ia tak percaya dengan apa yang ia lihat di depan matanya.
__ADS_1
"Mulai Minggu depan kalian harus ikut remedial!" Ucap pak Wiryo.
Egi langsung tegang. Adi yang tak terima mulai kembali angkat bicara.
"Baik, kita akan ikut remedial. Tapi ibu dan bapak harus mengikut sertakan Gia juga."
Para guru langsung melongo dengan usulan dari Adi yang ia ucapkan dengan lantang.
"Kenapa Gia harus ikut remedial juga? Dia kan sudah mendapat nilai yang paling bagus di semua ujian."
"Apa ibu dan bapak percaya, Gia sekarang berubah menjadi pintar dan mendadak nilainya sudah berada di urutan teratas melebihi yang lain?" Tanya Adi sembari tersenyum miring. Para guru saling menatap kaget satu sama lain.
"Siswa yang tadinya bodoh saja butuh proses untuk menjadi pintar secara bertahap. Tak langsung melebihi di atas. Mereka butuh belajar. Tapi Gia yang sudah dari dulu selalu berada di peringkat terbawah kini tiba-tiba berada di yang paling teratas, melebihi nilai para siswa pintar lainnya. Apa bapak dan ibu tidak merasa curiga? Bisa jadi Gia memakai cara curang saat mengerjakan ujian."
Mendengar penuturan Adi, Egi mulai berpikir dan mencerna kata-kata Adi.
Para guru langsung menatap satu sama lain. Mereka mulai mencerna kata-kata Adi dan mulai berdiskusi.
"Baik. Mulai Minggu depan, Gia akan di ikut sertakan juga dalam mengikuti remedial." Ucap pak Wiryo setelah mengambil keputusan bersama guru yang lainnya.
Adi merasa puas dengan keputusan yang di lontarkan pak Wiryo dan guru lainnya. Sementara Egi hanya menatap para guru dengan tatapan mata yang sinis.
Setelah itu Egi dan Adi langsung keluar ruangan. Mereka memutuskan untuk kembali ke kelas. Ya meskipun mereka tahu kalau hari ini tidak ada pembelajaran lagi dan tinggal menunggu pengumuman jadwal remedial dan libur. Mereka memutuskan untuk menunggu datangnya pengumuman di kelas saja bersama semua teman-teman yang lainnya yang sepertinya sedang berada di dalam kelas.
Saat berjalan, Adi berusaha mengajak Egi mengobrol.
"Gue yakin, ada kesalahan dari penilaian. Coba Lo pikir masa orang bodoh yang biasanya sering dapat nilai paling jelek sekarang nilai ujiannya jadi bagus. Apa Lo gak curiga?"
Adi yang biasanya jarang berbicara dengan Egi dan selalu menatap sinis. Kini mulai mau mengajak Egi berbicara membahas masalah penilaian.
"Asal Lo tau yaa, dari kelas 10 saja si Gia selalu dapat nilai yang jelek, bahkan setiap mengerjakan tugas maupun ujian, dia gak pernah sekalipun dapat nilai yang bagus, selalu saja remedial." Jelas Adi.
Adi menghentikan langkahnya dan mencegat Egi agar menghentikan langkahnya juga agar mau mendengarkan pembicaraannya.
"Tapi sekarang? Gue jadi curiga. Ini pasti ada persekongkolan di antara para guru dan Gia. Di lihat dari wajah mereka, sepertinya ada yang tidak beres."
"Gue curiga, pasti si Gia sudah menyogok para guru, supaya dia di kasih nilai yang bagus pas ujian dan kita di kasih nilai terburuk supaya kita di rendahkan."
Adi mulai curiga jika Gia menyogok para guru supaya mendapat nilai yang bagus. Padahal kejadian yang sebenarnya bukan seperti itu.
Egi hanya bisa terdiam sembari mencerna kata-kata Adi.
"Kita harus cari bukti bahwa adanya persekongkolan licik antara Gia dan guru lainnya. Biar kita bisa melaporkan tindakan ini pada kepala sekolah." Ucapnya mengajak Egi kerja sama.
"Kalau kita gak segera mendapatkan bukti, kita gak akan bisa ikut olimpiade berikutnya." Ucapnya lagi sembari mencengkram kuat bahu Egi.
Kemudian Adi dan Egi kembali melanjutkan berjalan, Adi terus menyerocos sepanjang jalan tanpa balasan sepatah katapun dari Egi yang terus mencerna kata-kata Adi sembari memikirkan nasib nilainya.
Setelah sampai di kelas.
Egi dan Adi terkejut karena tak mendapati satupun teman-temannya yang berada di kelas. Kemudian Adi mengajak Egi ke kantin untuk mencari semua teman-temannya di sana yang entah pergi kemana tidak ada satupun yang berada di kelas.
.....
Sesampainya di kantin.
Adi dan Egi langsung di kejutkan dengan suasana yang tak terduga. Ya mereka melihat semua teman-temannya sedang berjoget riang di ikuti musik koplo yang menggema.
__ADS_1
Sembari berjoget, mereka bersorak riang setelah salah satu siswa perempuan dengan kacamata hitamnya yang bergaya naik ke atas meja dan berjoget riang layaknya di atas panggung sembari menabur-nabur saweran pada semua teman-temannya yang berada di bawahnya.
Ya siapa lagi siswa perempuannya kalau bukan Gia si gadis pecicilan yang selalu ingin menjadi primadona.
Gia terus menyawer-nyawer uang bekalnya sampai semua temannya berebutan.
Adi yang sudah kelewat muak melihat semua ini, langsung berjalan cepat menuju ke arah mereka untuk mematikan musiknya. Sementara Egi tak mengikutinya dan ia memutuskan untuk pulang saja.
Adi langsung mematikan musiknya. Semua orang langsung berhenti berjoget setelah musiknya di matikan. Semua orang mulai bertanya-tanya.
"Apa-apaan ini?"
"Kenapa musiknya di matikan??"
"Iya, kenapa?
Semua mata mencari-cari orang yang sudah mematikan musiknya. Tapi tiba-tiba...
"Ada acara apa ini?" Teriak Adi dari belakang.
Semua orang langsung menoleh ke arah Adi.
"Sepertinya ada yang sedang berbahagia di sini. Kenapa kalian gak ngajak-ngajak?" Tanya Adi sembari menunjukkan raut wajah biasa-biasa saja seolah-olah tak terjadi apa-apa.
"Kita sedang merayakan keberhasilan Gia, karna sudah mendapatkan nilai bagus dengan peringkat tertinggi." Jawab Elis mewakili semuanya. Gia hanya bisa menatap bengong sembari nyengir.
"Wow! Selamat yaa!" Ucap Adi sembari bertepuk tangan. Semua orang ikut mengiringi tepuk tangan Adi untuk Gia sembari bersorak dan bersiul.
"Keberhasilan yaa? Yakin?" Lanjut Adi bertanya dengan senyuman sinisnya setelah selesai bertepuk tangan.
"Iya. Makanya ini jadi hari yang spesial buat Gia. Sampai Gia sendiri yang menyewa kantin ini dan mentraktir kita semua." Ujar lainnya dengan antusias.
"Ayo Adi ikut gabung! Kita rayakan keberhasilan Gia bersama, lumayan Lo di traktir."
"Iyaa! Kita bisa pilih makanan sepuasnya, karna semuanya Gia yang bayar!"
Yang lain mulai mengajak Adi untuk ikut bergabung. Adi langsung tersenyum sinis lalu berjalan menghampiri mereka semua kemudian berdiri tegak di depan Gia yang masih berdiri di atas meja.
"Turun!" Adi langsung menarik tangan Gia.
"Lo ini apa-apaan sih? Lo mau Gue jatuh hah!" Pekik Gia.
"Sudah turun saja! Jangan banyak tingkah!" Geram Adi. Gia langsung turun.
"Apa-apaan sih Lo ini?"
"Lo pasti senang kan? Dapat nilai ujian paling bagus di antara semua siswa yang lainnya. Nilai yang bagus dari jerih payah Lo dengan penuh kelicikan." Ucap Adi dengan tatapan yang masih sinis.
Jlebbb!!
"Maksud Lo?" Hanna langsung berdenyit kaget dengan perkataan sinis Adi pada sahabat tercintanya.
Gia langsung gemetaran dengan ucapan Adi yang menohok. Tapi tiba-tiba ada seseorang yang berlari ke kantin dan berteriak memanggil namanya.
"GIAAAAAA..."
...----------------...
__ADS_1
...Bersambung....