AFTERNOON WITH YOU

AFTERNOON WITH YOU
Pengawasan ketat.


__ADS_3

Sesampainya di Rumah.


untuk persiapan remedial, Gia berusaha menghafal semua mata pelajaran di buku selama 5 jam lamanya.


"Duh gimana ya? Pusing banget! Masih belum ngerti! Apa Gue harus berbuat curang lagi biar bisa dapat nilai bagus?" Gumamnya.


"Duh gimana ini? Semua pelajaran masih belum bisa masuk ke otak Gue." Gumamnya kesal sembari menjambak rambutnya sendiri.


Saat sedang berusaha belajar, tiba-tiba ponselnya bergetar memunculkan notifikasi pesan dari beberapa kekasih virtualnya.


Kemudian ia membalas satu persatu pesannya hingga berjam-jam lamanya sampai ia lupa untuk belajar kembali.


Bahkan keesokan harinya pun masih tetap sama. Ia terus membalas chatting dan berteleponan dengan beberapa kekasih virtualnya.


Sementara buku-bukunya di biarkan begitu saja menumpuk di sampingnya tanpa ia pelajari lagi.


Ia terus saja asik membalas chat dan berteleponan dengan orang lain tanpa memedulikan dirinya sendiri yang sebentar lagi akan menghadapi ujian.


*****


Hari Senin.


Di rumah.


Gia sedang bersiap-siap diri untuk pergi ke sekolah dan melaksanakan remedial.


Sembari menyisir rambutnya, ia melihat kotak kecil berbentuk persegi panjang dari pemberian ibunya.


Gia langsung membuka kado pemberian ibunya tersebut.


Setelah di buka, Gia langsung berdecak kagum dengan hadiah pemberian ibunya yang berupa sebuah kunci. Ia langsung berlari turun ke bawah menemui ibunya.


"Mama! Mama! Mama!"


"Iya sayang?" Ibunya menghampirinya.


"Ini kunci apa?" Tanya nya sembari memperlihatkan kuncinya.


"Itu kunci mobil dari Eropa sayaanggg!!" Jawab ibunya.


"Buat Gia mah??"


"Iya, itu pemberian dari papa kamu. Sesuai janji, kalau kamu dapat nilai yang bagus dalam ujian, papa kamu akan membelikan kamu mobil."


"Jadi papa sudah tau kalau Gia dapat nilai yang bagus?"


"Sudah! Kemarin siang mama langsung kasih tau papa kamu lewat video call kalau anak mama yang cantik ini dapat nilai yang bagus. Papa kamu langsung bangga mendengarnya."


"Ahhhh... Mamaa!!! Gia senang banget!" Gia langsung senang dan memeluk ibunya.


"Oh ya, ngomong-ngomong kamu mau kemana lagi pakai jas sekolah?" Tanya ibunya heran.


"Gia mau ke sekolah mah." Jawabnya.


"Bukannya libur yaa??"


"Ah, em.." Gia bingung harus menjawab apa.


"Gia ada janji sama teman-teman buat reuni mah, karna sebentar lagi kan libur." Jawabnya beralasan.


"Kenapa gak pakai baju biasa saja kalau mau reuni? Kalau pakai jas sekolah nanti kotor, mama males cucinya. Kamu sendiri gak pernah sekalipun mencuci pakaian kamu! Selalu mama yang cuciin." Ibunya mulai mengomel.


Gia kembali berpikir sejenak mencari alasan sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal..


"Ah, emm, hari ini Gia sama teman-teman ada rencana mau foto studio mah, jadi harus pakai Jas almamater sekolah."


"Oh gitu."


"Iya mah."


"Ya sudah, kamu hati-hati yaa! Jangan lama-lama!"


"Siap mah!" Ucapnya sembari cengengesan.


"Kalau begitu, mobilnya boleh Gia pakai sekarang gak ke sekolah?"


"Gak boleh!" Tegas ibunya.

__ADS_1


"Kenapa mah? Gia kan sudah bisa menyetir mobil sendiri." Rengek Gia.


"Memang bisa, tapi kamu masih belum lancar! Waktu itu saja kamu pakai mobil mama sampai banyak nabrak pohon, hingga akhirnya mobil mama harus di Service beberapa kali akibat rusak gara-gara ulah kamu!"


"Emm... Mama!" Rengek Gia sembari memanyunkan bibirnya.


"Terus kapan dong Gia bisa pakai mobil Gia sendiri?"


"Setelah kamu lulus sekolah, kamu harus mengikuti sekolah mengemudi terlebih dahulu." Ujar ibunya. Gia hanya bisa cemberut sembari terus memanyunkan bibirnya.


*****


Pukul 07.00 Pagi.


Ini adalah hari di mana waktunya untuk melaksanakan Remedial.


Seperti biasa Hanna dan Gia selalu berangkat berbarengan.


"Eh Gi. Gue punya sesuatu buat Lo!" Ucap Hanna tiba-tiba sembari mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Gia langsung penasaran.


"Ini buat Lo! Ini oleh-oleh dari bokap Gue yang baru saja pulang dari Perancis." Ucapnya sembari memberikan kotak kecil berisi Bros bermotif bunga. Gia langsung membuka cepat kotaknya.


"Woww!! Bagus banget! Ini kan Bros dari brand favorit Gue!" Gia langsung kegirangan.


"Iya! Lo kan pernah bilang ke Gue kalau Lo pengen banget beli Bros ini, tapi Lo masih belum kesampaian."


"Iya, ini mahal banget harganya. Makasih banget ya Han! Gue senang bangeettt!! Lo benar-benar sahabat terbaik Gue. Muachhh!" Ucap Gia saking bahagianya.



"Ya sama-sama, ya sekaligus ini sebagai hadiah pemberian Gue buat ulang tahun Lo yang tahun kemarin belum sempat Gue kasih kado." Ucap Hanna sembari tersenyum lebar. Gia semakin kegirangan mendengar ucapan sahabatnya itu.


"Kalau gitu, coba Lo pakai di kerah jas Lo. Pasti Lo bakal kelihatan lebih cantik kalau pakai Bros yang mahal."


"Beneran?"


"Beneran! Pakai saja." Ucap Hanna meyakinkan.


Gia langsung memasang Brosnya di jas almamaternya.


"Ini bagus kan?"


Tak lama, seorang siswa memanggil Gia untuk pergi ke ruang guru.


"Gia, di panggil ke ruang guru!"


Gia langsung bergegas meninggalkan Hanna dengan berlari menuju ke ruang guru.


.....


Sesampainya di ruang guru, Gia di hadapkan dengan Adi dan Egi.


"Kemari Gia! Duduk di sini!" Perintah pak Wiranto.


Gia langsung duduk di samping Adi. Tiba-tiba Gia mulai gemetar ketakutan setelah duduk di sampingnya, ia masih syok dengan kejadian kemarin.


"Hari ini kalian bertiga akan mengikuti remedial! Bapak harap kalian berdua harus jujur dalam mengerjakan soal. Jangan sampai salah satu di antara kalian ada yang menyontek apalagi berbuat curang. Karena CCTV di dalam kelas sudah kembali aktif dan mulai memantau pergerakan kalian." Ujar pak Wiranto.


"Apaa?? CCTV Sekolah sudah kembali jalan." Batin Gia kaget.


"Jadi jangan ada yang menyontek, jangan melihat kesana-kemari, maupun banyak gerak sedikit pun! Hanya diam di bangku saja dan fokus mengerjakan!" Lanjutnya memberi arahan.


"Baik pak!!" Sahut Egi dan Adi berbarengan. Gia hanya diam saja melamun.


"Ada apa Gia? Kenapa kamu diam saja? Apa kamu keberatan?" Tanya pak Wiranto mempertanyakan. Gia langsung terkejut.


"Tidak pak!" Jawabnya sembari cengengesan.


"Kalau begitu Adi dan Gia silahkan kembali lagi ke kelas kalian terlebih dahulu. Dan Egi, bapak masih ingin bicara sebentar sama kamu."


Adi dan Gia mengangguk lalu mereka keluar. Setelah Gia dan Adi benar-benar berlalu. Pak Wiranto mulai kembali berbicara pada Egi.


"Egi!"


"Iya pak?"


"Bapak harap kamu mendapat nilai yang tinggi. Karna kalau sampai kamu mendapat nilai jelek lagi, berarti sekolah ini telah membuat kesalahan yang sangat fatal telah memindahkan kamu ke sekolah ini."

__ADS_1


Egi hanya tertunduk diam mendengar ucapan pak Wiranto.


"Egi, kamu adalah harapan besar bagi sekolah ini untuk mengikuti olimpiade berikutnya. Kami tidak ingin meragukan kepintaran kamu. Bapak harap kamu bersungguh-sungguh dalam mengerjakan ujian agar tidak mengecewakan sekolah ini." Ucap lagi pak Wiranto.


"Baik pak, saya akan mengerjakan dengan bersungguh-sungguh. Saya tidak akan pernah mengecewakan sekolah ini." Ucap Egi menjanjikan.


.....


Saat sedang berjalan menuju kelas, tiba-tiba Adi menarik tangan kanan Gia lalu mencengkramnya. Gia langsung mendongak kaget.


"Aww!! Lepasin!!" Berontak Gia.


"Awas ya kalau Lo sampai berbuat curang lagi!" Pekik Adi sembari melepas pergelangan tangan Gia secara kasar lalu pergi dengan berjalan cepat mendahului Gia.


Sementara Gia masih merasa syok sambil mengusap-usap tangannya yang masih sakit akibat di cengkram Adi.


Tak lama bell berbunyi.


Semua siswa yang ikut remedial berbondong-bondong masuk ke dalam kelas.


Di dalam kelas.


Seperti biasa saat ujian, para siswa di wajibkan menyimpan tas mereka terlebih dahulu di depan dekat papan tulis dan tak ada satupun yang boleh menaruh tas di bangku.


Kini kelas Gia di awasi oleh pengawas waktu itu lagi yang merupakan mahasiswa yang sedang KKN. Hanya saja yang mengawas di kelas Gia kali ini sangat banyak, yaitu sebanyak 6 orang.


Pengawas mulai membagikan lembar soal beserta lembar jawaban yang masih kosong.


Para siswa juga di beri pulpen khusus untuk mengerjakan. Dan para siswa di beri peringatan untuk mengerjakan dengan pulpen pemberian dari para pengawas saja tidak boleh menggunakan pulpen milik sendiri.


Para siswa tidak di perbolehkan mengerjakan soal menggunakan pulpen yang mereka bawa selain memakai pulpen pemberian dari pengawas.


Hal itu membuat Gia semakin di buat kaget dan langsung tegang. Kalau ia mengerjakan soal dengan pulpen dari pemberian sekolah, ia tidak akan bisa lagi berbuat curang.


"Waktunya hanya 90 menit. Kerjakan dari sekarang!!"


Pengawas memberi aba-aba. Para siswa mulai bergegas mengerjakan soal.


Gia semakin di buat bingung dan panik, masalahnya ia tidak bisa menggunakan kembali pulpennya yang bisa di hapus, ia pun tidak bisa menyontek karna tempat duduknya kali ini berjauhan dengan yang lain dan kali ini para siswa harus duduk sendiri-sendiri.


Gia duduk di bangku tengah sesuai arahan pengawas dengan meja yang sudah di beri nama, sementara Adi duduk di belakang bagian pojok kanan, dan Egi duduk di belakang bagian pojok kiri.


Dan Hanna sendiri duduk tak jauh dari Gia, namun tetap saja beda bangku.


Hanna terus memperhatikan gerak-gerik Gia yang kelihatan panik, tak lupa ia terus memperhatikan Bros yang masih menancap di kerah seragamnya.


Sebenarnya Bros yang di berikan Hanna pada Gia bukanlah Bros biasa.


Melainkan terdapat sebuah CCTV dengan kamera yang sangat kecil yang di pasang di dalam mata Bros itu.


Hanna sengaja memasangnya untuk memantau pergerakan Gia dalam mengerjakan ujian.


Hanna sendiri memang masih menaruh rasa curiga pada Gia.


Apalagi rasa curiganya semakin bertambah semenjak di ruang guru kemarin saat Gia terus membantah tentang ia pernah memberi pulpen itu pada Adi, padahal Gia sendiri juga pernah memberi pulpen yang sama pada Hanna, bahkan selain itu Hanna sendiri yang menyaksikan Gia memberikan pulpen secara langsung pada Adi waktu itu.


Itu sebabnya ia memasang kamera pada Bros itu, supaya ia bisa mengetahui cara Gia mengerjakan ujian seperti apa.


Setengah jam kemudian.


Gia baru mengerjakan soal sebagian saja itupun secara asal, ia tak bisa melihat ke arah lain, karena salah satu pengawas terus saja mengawasinya dengan berdiri di sampingnya sembari memantaunya.


Sepertinya ini sudah di rencanakan oleh para guru dan pengawas untuk mengawasinya secara ketat, karna mereka sudah mencurigai Gia. Itu sebabnya, sepertinya hanya Gia saja yang terus di awasi. Sementara sebagian pengawas lain mengawasi dari depan.


Setelah 90 menit berlalu.


Soal ujian berikutnya kembali di mulai di pelajaran kedua.


Ya, hari ini para siswa melaksanakan Remedial sebanyak enam pelajaran dalam satu hari dan tak ada istirahat di saat hari remedial.


Di pelajaran kedua, seperti biasa Gia yang paling banyak di awasi, kini pengawas yang mengawasinya di samping telah di ganti, sementara yang tadi, kini mengawasi di depan.


Hingga pelajaran berikutnya dan berikutnya sampai pelajaran terakhir pun, Gia tetap di awasi oleh masing-masing pengawas yang saling bergantian.


Tak ada pilihan lain dan tak bisa berbuat apa-apa! Kali ini ia jujur selama mengerjakan soal itupun dengan asal-asalan, karena selama beberapa hari, ia belum belajar sedikitpun akibat ulahnya sendiri yang malas belajar dan memilih berpacaran.


...----------------...

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2