
...•...
...•...
...•...
...•...
...•...
Masih di dalam basement sekolah.
Bak mengejar maling ayam, Egi masih tetap mengejar Gia yang kabur sambil berteriak.
"Gia tunggu! GIAAAAA."
Gia terus berlari kencang tanpa melirik sekalipun ke belakang.
Egi yang sudah kewalahan langsung berhenti mengejarnya.
Egi pun tak bisa berlari lagi, karna Gia berlari sangat kencang sekali seperti seekor tupai yang di kejar macan.
Sambil ngos-ngosan, Ia hanya bisa memperhatikan Gia yang terus berlari hingga berhasil melewati pintu keluar.
Tak lama bell masuk kelas berbunyi.
Di rasa capeknya masih belum hilang, Egi pun memutuskan untuk kembali ke kelas dengan berjalan saja.
.....
Di dalam Kelas.
Jam pelajaran kedua.
Gia ketar-ketir ketakutan sembari memperhatikan Egi dari belakang.
Bahkan tangannya pun ikut gemetar tak kuasa untuk menulis pelajaran karna saking takutnya ia jika Egi akan melaporkannya pada semua guru.
Hanna yang memperhatikan Gia dari tadi langsung beralih melihat ke arah Egi yang sedang santai menulis pelajaran.
Hanna pasti sudah tahu, kalau Egi sudah memberinya pelajaran. Itu sebabnya Gia bergetar hebat.
*****
Pulang sekolah.
Gia keluar duluan dari kelas mendahului siswa lainnya untuk menghindari Egi, ia pun sampai terpaksa meninggalkan Hanna di kelas.
Hanna yang kaget melihat tingkah Gia langsung berlari mengejarnya.
Pukul 15.00 di Taman.
Di balik semak-semak belukar, Gia berusaha bersembunyi agar tidak di ketahui orang-orang termasuk Egi.
"Siapa sih yang sudah videoin Gue waktu itu, perasaan waktu itu gak ada orang lain lagi selain Gue, kecuali pak satpam. Tapi kan waktu itu pak satpam kabur, boro-boro mau videoin Gue. CCTV yang ada di ruangan juga rusak parah. Mana mungkin bisa videoin Gue!"
"Apa jangan-jangan ini semua gara-gara Elis, tapi video Elis kan beda kejadian sama malam itu. Gak mungkin juga malam itu Elis mengikuti Gue.
Gia terus bergumam sendiri di balik semak-semak sembari terheran-heran memikirkan kejadian yang sudah terjadi.
"Orang-orang pasti sudah tau segalanya tentang Gue. Gimana nih? Gue harus apa?" Gumamnya panik.
Namun, tiba-tiba...
"Dorrr!!"
Hanna mengejutkan Gia dari belakang. Gia pun serentak kaget dan langsung panik.
"Haha, ngapain Lo sembunyi di sini? Lo takut di cari sama siapa?" Tanya Hanna sembari tertawa meledek.
"Lo belum pulang?" Ketus Gia sembari cemberut dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Belum, Gue dari tadi nyariin Lo! Lo ngapain di sini?"
__ADS_1
"Gue lagi nongkrong saja." Jawabnya beralasan.
"Aneh, gak biasanya. Harusnya kalau mau nongkrong, ajak-ajak Gue juga kek, biar Gue gak panik nyari-nyari Lo." Nyinyir Hanna sembari duduk di bangku di taman.
Meskipun Hanna sudah tahu sifat buruk sahabatnya, tapi ia masih tetap setia mencarinya dan menemani Gia kemanapun ia pergi.
Tapi Gia sendiri malah menghiraukan ucapan Hanna, ia terus memperhatikan area sekitar dari balik semak-semak.
Hanna yang kaget melihat tingkah Gia, langsung bertanya.
"Sebenarnya Lo lagi sembunyi dari siapa sih?"
"Enggak, Gue gak sembunyi dari siapa-siapa!" Bantah Gia dengan ucapannya yang selalu berbohong.
"Tapi kok gelagat Lo kayak orang yang habis maling ayam." Ledek Hanna lagi sembari tertawa.
"Dih! Apaan sih Lo. Garing banget!" Ketus Gia.
"Tadi pas Gue keluar, di kelas gak ada yang ngomongin Gue kan?" Lanjut Gia penasaran.
"Gak ada lah! Ngapain orang-orang pada ngomongin Lo, gak ada gunanya deh." Jawab Hanna disertai kekehan.
"Semua orang sudah pada pulang belum?" Tanya nya lagi.
"Ya sudahlah dari tadi, cuman kita berdua doang yang belum pulang."
Mendengar jawaban Hanna, Gia pun langsung lega.
"Kalau semua orang sudah pulang, berarti Egi juga sudah pulang." Batin Gia.
Akhirnya Gia bisa pulang dengan tenang tanpa adanya rasa takut lagi.
*****
Di perjalanan pulang.
Sepanjang jalan Hanna terus mengajaknya mengobrol untuk menghilangkan keheningan yang ada, namun Gia tak seperti biasanya hanya menjawab singkat. Biasanya setiap pulang sekolah, Gia yang paling banyak bicara dan banyak mengomel hal-hal yang lain. Tapi kali ini, justru ia yang jadi pendiam dan tak banyak bicara.
Hanna kali ini sengaja banyak bicara, agar Gia tak mencurigainya bahwa ia yang telah memberitahu Egi tentang kecurangannya waktu itu dalam mengerjakan ujian.
"Egi!" Hanna mendongak kaget. Gia kembali gemetar ketakutan.
"Ikut denganku!"
Tanpa basa-basi, Egi pun dengan kasarnya menarik tangan Gia dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.
"Egi, kamu mau bawa Gia kemana?" Teriak Hanna. Tapi Egi menghiraukan teriakkan Hanna.
Egi pun melajukan mobilnya dan tak lupa mengunci pintu mobil agar Gia tak lagi berhasil kabur.
"Hanna! Tolongin Gue!" Teriak Gia dari dalam mobil.
Hanna hanya memperhatikannya saja tanpa mengejarnya ataupun merasa panik, karna ia tahu kalau Egi pasti akan memberinya pelajaran yang terbaik untuk sahabatnya itu.
*****
Tak jauh dari sekolah, Egi langsung mengeluarkan Gia dari dalam mobil dan menariknya menuju jembatan yang di bawahnya arus sungai yang sedang mengalir deras.
Egi pun langsung menyeret Gia dan menghadangnya di sisi jembatan.
"Egi, kamu mau apa?" Tanya Gia ketakutan sembari melirik sungai yang di belakangnya.
"Ayo, katakan yang sebenarnya! Mengakulah!" Pekik Egi sembari mencengkram erat kedua lengannya.
Gia semakin ketakutan, apalagi di bawahnya sungai sedang mengalir deras, dia takut terjatuh.
"Kalau kamu gak mau jawab, aku bakal mendorong kamu dari sini!" Ancam Egi. Gia meringis ketakutan.
"Ayo cepat! Katakan kalau kamu adalah orang di balik video itu. Cepat katakan yang sebenarnya! Kalau enggak, aku bakal dorong kamu sampai kamu jatuh ke dalam sungai!"
"Egi jangan dorong aku, iya, iya aku ngaku..."
"Katakan!" Tegas Egi.
"Aku mohon Egi! Tolong maafkan aku, aku terpaksa nekat melakukan semuanya, agar aku bisa mendapat nilai yang bagus, aku ingin membuat kedua orang tuaku bangga, selama ini aku selalu mendapat nilai yang jelek dari semenjak aku duduk di bangku SD. Aku malu Egi karna aku ini bodoh sementara adikku pintar. Aku iri melihat adikku yang selalu di banggakan ibuku dan di puji oleh semua teman-teman ibuku, sementara aku enggak di banggakan." Jelasnya panjang lebar dengan bibir gemetar.
__ADS_1
"Aku gak butuh cerita menyedihkan kamu itu! Yang aku butuhkan pengakuan kamu tentang malam itu!" Pekik Egi.
"Iya, aku mengakui...."
"Tunggu sebentar!" Sela Egi sembari mengambil ponselnya dari dalam sakunya, lalu ia menyalakan perekam suara.
"Cepat katakan yang sebenarnya mengenai kecurangan kamu malam itu! Ayo ngaku!"
"Iya, aku orang yang sudah berbuat curang waktu itu, aku menyelinap ke sekolah tengah malam dan masuk ke dalam ruang guru, kemudian aku mengganti semua jawabanku sama jawaban punya kamu dan punya Adi juga, sampai kamu dan Adi dapat nilai jelek sementara aku dapat nilai yang bagus." Gia mengaku sembari sesenggukan.
Egi langsung tersenyum menyeringai, ia pun langsung mematikan perekam suara setelah merekam pengakuan Gia.
"Bagus, akhirnya aku dapat bukti, aku akan laporkan videonya beserta pengakuan kamu pada semua guru termasuk kepala sekolah."
Saat Egi akan bergegas pergi, Gia mencegah dengan berlutut sambil menarik kaki Egi.
"Jangan lakukan itu! Aku minta maaf! Tolong maafkan aku! Aku janji gak akan lakukan itu lagi. Tolong jangan kasih tau semuanya ke siapa-siapa! Aku mohon Egi, kasihanilah aku."
"Orang curang yang sampai tega mengubah lembar jawaban milik orang lain, sampai orang tersebut mendapat nilai jelek, gak pantas di maafkan maupun di kasihani."
"Aku mohon Egi, sebagai gantinya aku akan menuruti semua perintah dan keinginan kamu, aku akan mengabdi dengan menuruti semua keinginan kamu. Asal kamu gak bongkar rahasia aku."
"Benarkah?" Egi langsung berbalik ke bawah menatap Gia yang masih berlutut di hadapannya.
Gia mengangguk mengiyakan ucapannya.
"Kalau begitu kamu ulangi perkataan kamu sekali lagi." Ucap Egi sembari menyalakan kembali perekam suara di ponselnya lalu mendekatkannya pada mulutnya.
"Ayo katakan!"
"Aku mohon Egi, maafkan aku, sebagai gantinya aku akan menuruti semua perintah kamu, aku akan mengabdi dengan menuruti semua keinginan kamu. Asal kamu gak bongkar rahasia aku."
"Janji?"
Gia langsung terdiam sejenak.
"Aku janji!" Ucapnya.
Egi langsung mematikan perekam suaranya.
"Aku akan terus mendengar ini dan mengingat semua pengakuan dari kamu." Ucapnya. Gia langsung berdiri dengan mata yang sembab.
"Jadi bagaimana Egi! Kamu gak akan kasih tau siapa-siapa kan? Aku akan menuruti semua perintah kamu, asal kamu gak bongkar rahasia aku." Rengek Gia.
"Beri aku waktu untuk memikirkannya sekali lagi." Ucap Egi dengan tenangnya.
"Aku mohon Egi!" Gia semakin merengek.
"Baiklah, akan aku simpan kata-kata kamu. Asal kamu berjanji untuk menepati semua perkataan kamu tadi."
"Iya, aku janji!" Ucap Gia antusias.
"Berikan saja nomormu, kalau aku sudah berubah pikiran, aku akan menghubungi kamu malam ini." Pinta Egi sembari mengetik angka nol sambil mendengar Gia menyebut nomor teleponnya.
"Nomorku 08xxxx."
"Nomor telepon rumah sekalian!" Pinta Egi lagi.
"Apa?" Gia berdenyit kaget.
"Iya, kenapa? Bagaimana aku bisa menghubungi kamu kalau nanti malam kamu gak pegang hp."
"Ah iya."
Gia langsung memberi nomor telepon rumahnya. Egi pun mengetiknya dan menyimpan nomornya di ponselnya.
"Baiklah, beri aku waktu untuk memikirkan tawaran kamu itu. Nanti malam aku bakal telepon kamu kalau aku sudah berubah pikiran." Ujar Egi, Gia mengangguk.
...----------------...
...Bersambung....
__ADS_1
.