
...•...
...•...
...•...
...•...
...•...
Setelah masuk ke ruang guru.
Adi mencengkram lengan Elis sekuat-kuatnya. Elis mencoba memberontak sembari menatap kaget Gia yang sudah berada di sana.
Termasuk Gia sendiri yang terkejut melihat keberadaan Elis di sini.
"Ayo Elis, Lo kasih tau yang sebenarnya tentang kecurangan Gia waktu itu!" Suruh Adi.
Elis langsung di buat bingung, ia harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak? Sementara di sisi lain ia di hadapkan dengan para guru.
"Iya Elis. Ayo katakan yang sebenarnya! Apakah yang di ucapkan Adi benar atau tidaknya?" Pinta Bu Ratna.
Elis mulai gugup, kemudian ia menatap Gia dengan malu-malu. Gia langsung memelototinya sembari sumpah serapah dengan gerakan bibir.
Elis semakin di buat takut, ia mencoba bungkam.
"Ayo Elis! Cepaattt!!! Katakan yang sebenarnya!!!" Paksa Adi. Elis langsung pasrah.
"I-iya Bu. Itu semua benar." Ucap Elis sembari menunduk takut.
Semua guru langsung di buat syok dan saling menatap satu sama lain. Termasuk para murid yang mengintip dari luar jendela. Egi yang melihat kejadian ini dari balik jendela langsung syok dan geram.
Sementara Gia sendiri sang pelaku langsung terciduk setelah Elis membongkar rahasianya.
"Kalau begitu coba buktikan! Kamu tulis nama kamu dengan pulpen itu di kertas." Pinta pak Wiryo pada Adi sembari memberikan selembar kertas kosong.
"Baik pak!"
Adi langsung menuliskan namanya di meja sembari di pantau para guru yang berdiri mengelilingi meja.
Setelah Adi menulis namanya, Kemudian Adi menghapus namanya menggunakan penghapus.
Para guru yang menyaksikan langsung syok dan terheran-heran.
"Beginilah Bu, cara Gia berbuat licik." Jelas Adi sembari tersenyum puas.
Para guru langsung menatap ke arah Gia dengan tatapan mata yang syok.
"Gia, jadi kamu yang memberi pulpen ini pada Adi?"
Gia terus membantah sembari terus menggelengkan kepala.
"Gia, ayo jujur! Katakan yang sebenarnya!" Pinta Hanna sembari menatap Gia dengan raut wajah yang sedih.
Gia langsung menunduk dengan tangan yang gemetar.
Kemudian Bu Ranti membawa beberapa lembar kertas ujian milik Gia dan Adi. Lalu menaruhnya di atas meja.
"Ini! Coba kamu hapus nama kamu dan Gia di lembar jawaban ujian ini!" Pinta Bu Ranti.
"Baik Bu!"
Adi langsung antusias menghapus namanya terlebih dahulu di lembar ujian yang sudah di tukar Gia waktu itu.
Namun, setelah berkali-kali di hapus, anehnya nama Adi tak bisa terhapus.
"Kenapa ini?" Adi berdenyit kaget.
"Kenapa Di? Namanya bisa di hapus tidak?" Tanya Bu Ratna heran.
Adi hanya diam tanpa menjawab sembari terus berusaha menghapus dengan terus menggosok-gosok penghapus di lembar ujiannya.
__ADS_1
Masih tak bisa di hapus, kemudian Adi mencoba menghapus nama Gia di lembar jawabannya.
Tapi tetap saja nama Gia pun sama tak bisa di hapus.
Adi semakin heran, kenapa namanya dan nama Gia tak bisa di hapus di lembar jawabannya.
Para guru kembali saling menatap satu sama lain sembari berbisik-bisik.
Adi terus berusaha mencoba menghapus dengan sekuat tenaga di beberapa lembar satu persatu, sampai keringat pun dingin pun perlahan mengucur dari keningnya.
Setelah melakukan upaya yang dilakukannya selama bermenit-menit. Hasilnya tetap nihil, namanya dan nama Gia dari setiap lembar jawaban tetap saja tak ada yang bisa di hapus.
Adi langsung menyerah dengan nafas terengah-engah. Kemudian ia menatap Elis dengan sorot mata mempertanyakan. Elis hanya bisa terdiam gugup walaupun sebenarnya dalam batinnya ia kaget.
"Bagaimana Adi? Namanya sudah kamu hapus?" Tanya pak Wiranto sembari mengecek satu persatu lembar jawaban.
"Tapi di sini nama kamu dan Gia masih ada dan belum ada yang terhapus." Celetuk pak Wiranto sembari menatap Adi.
Adi hanya terdiam sejenak, sembari masih ngos-ngosan kelelahan.
"Saya tidak tahu pak. Kenapa nama saya dan Gia di semua lembar jawaban ini tidak bisa di hapus." Ucap Adi merasa tertekan.
"Kalau namanya tidak bisa di hapus. Berarti kamu ini dari tadi mengada-ngada." Ujar Bu Ranti.
"Apa yang saya katakan, itu semua berasal dari Elis yang memberitahu saya kalau selama ini Gia berbuat curang saat mengerjakan ujian."
"Tapi yang kamu dan Elis tuduh pada Gia, semua itu tidak ada yang benar." Ujar Bu Ratna kecewa. Adi langsung tertunduk malu.
"Adi! Kami tau, kamu pasti sangat sedih karena nilai kamu menjadi turun. Tapi Lainkali apa yang orang lain katakan dan tuduhkan, jangan sekali-kali kamu percaya begitu saja kalau tanpa adanya bukti!" Ucap Bu Ranti menasehati.
"Iya Bu!" Ucap Adi mengangguk sebentar kemudian kembali menunduk.
"Elis! Kenapa kamu menuduh Gia berbuat seperti itu pada Adi? Apa kamu syirik pada Gia sampai memfitnahnya seperti itu??" Lanjut Bu Ratna menegur Elis.
Elis hanya bisa menggelengkan kepala dengan mulut menganga sembari menatap Bu Ranti. Rasanya Elis ingin berbicara, tapi entah kenapa rasa takut dan groginya berhasil membungkam mulutnya. Gia yang masih tersudut di pojok, langsung tersenyum menyeringai.
Beralih pada Adi yang masih tertunduk malu.
"Adi, mulai sekarang! Kamu harus benar-benar belajar. Kamu dan siswa yang lainnya tetap akan mengikuti remedial. Termasuk Gia juga akan di ikut sertakan juga dalam mengikuti remedial." Pak Wiranto memberi nasehat. Adi hanya bisa mengangguk malu.
Setelah itu mereka langsung keluar, Termasuk para siswa yang mengintip di luar di bubarkan juga oleh guru BK.
Saat para siswa masih sedang di bubarkan, tanpa di ketahui banyak orang, diam-diam Gia menarik tangan Elis menuju basement yang ada di bawah sekolah, yang bangunannya tidak boleh di kunjungi siswa karena masih dalam tahap pembangunan.
Sesampainya di sana, Gia langsung tak segan-segan menampar Elis dengan sekeras-kerasnya.
PLAAAKKKKK!!!
Elis langsung memegangi pipinya yang sudah memerah merona sembari merengek kesakitan.
Saking emosinya, Gia langsung menarik kerahnya.
"Beraninya Lo membongkar rahasia Gue!!!" Pekik Gia. Elis semakin ketakutan.
"Padahal Gue sudah kasih Lo uang setengah juta! Tapi kenapa Lo masih mau bongkar rahasia Gue hah??"
"Maafin Gue Gi! Adi yang maksa Gue, dia juga sampai kasih Gue uang yang lebih besar dari pada pemberian Lo." Jelas Elis. Gia semakin emosi.
"Tapi sumpah! Gue gak kasih lihat video itu ke Adi! Gue seriuss!!!" Lanjutnya sembari merengek ketakutan.
Gia langsung melepas kerahnya.
"Untungnya pulpennya gak bisa di hapus setelah 24 jam." Ucap Gia tenang sembari menggeser poninya kemudian melipat tangannya.
"Kalau begitu! Hapus videonya sekarang!" Pinta Gia sembari melotot. Elis merengek ketakutan.
Kemudian Gia mengambil paksa ponsel Elis dari sakunya.
"Apa kata kuncinya?" Tanya Gia mencoba membuka ponsel Elis.
"Elis imut dan secantik Lisa Blackpink 54321. Gak pakai spasi!"
__ADS_1
Gia membuka ponselnya, kemudian menghapus videonya.
"Sudah terhapus! Sekarang Lo gak punya lagi bukti tentang Gue!" Ucap Gia puas.
"Sebenarnya video Lo sudah Gue sebar ke beberapa card milik Gue."
"Apa Lo bilang?" Gia langsung mendongak kaget.
"Video Lo bukan cuman ada di ponsel itu saja. Tapi Gue simpan juga di penyimpanan yang ada di laptop Gue dan di beberapa ponsel yang Gue punya."
"Kurang ajar!! Keterlaluan banget sih Lo!!!" Gia langsung naik pitam.
"Maafin Gue Gi! Tapi Gue janji gak akan pernah nyebarin video Lo. Asal Lo mau transfer Gue uang tiap bulan."
"Apa Lo bilang? Lo mau memeras Gue hah?" Pekik Gia.
"Kalau Gue gak begitu. Gue gak bisa dapetin uang. Asal Lo tau, keluarga Gue lagi banyak masalah. Karna bokap Gue Gi... Bokap Gue..." Elis mulai menangis. Gia menahan emosi sembari mendengarkan ucapan Elis.
"Bokap Gue di penjara Gi, gara-gara korupsi." Ucapnya sembari terisak tangis. Gia langsung syok.
"Semua orang gak ada yang tau. Jadi Gue butuh uang buat bebasin bokap Gue secepatnya." Jelas Elis sembari terus menangis tanpa henti. Perlahan Gia mulai menatap Elis penuh kasihan.
"Gue mohon Gi! Gue janji gak akan sebarin video Lo asal Lo mau transfer Gue tiap bulan." Lanjut Elis sembari mengusap air matanya.
"Berapa yang Lo mau?" Tanya Gia mulai iba.
"Gak banyak, cuman 8 juta saja Gi!" Pinta Elis.
Gia berpikir sejenak, kemudian ia mengingat kalau ia masih menyimpan ATM milik ayahnya yang belum sempat ia kembalikan. Hanya milik ibunya saja yang sudah di kembalikan tapi punya ayahnya belum.
"Ya sudah kalau begitu Lo antar Gue ke ATM. Tapi janji ya! Lo gak akan sebarkan video Gue dan gak akan membongkar rahasia Gue lagi!"
"Gue janji!" Ucap Elis dengan mata sayu.
Tak lama Hanna menelpon Gia.
^^^["Halo Gi! Lo dimana? Dari tadi Gue nyari Lo kemana-mana!"]^^^
"Maaf Han! Gue tadi pulang duluan, soalnya nyokap Gue jemput." Ucapnya beralasan.
^^^["Oh, kok tumben?"]^^^
"Iya Han, Nyokap Gue minta Gue anterin ke Arisan." Ucapnya beralasan lagi.
^^^["Oh ya sudah! Harusnya tadi Lo bilang dulu ke Gue sebelum pulang! Biar Gue gak panik nyariin Lo."]^^^
"Iya Gue buru-buru! Maaf ya Han, kalau ada info kasih tau Gue lewat WhatsApp."
^^^["Iya Gi."]^^^
Setelah selesai bertelepon dengan Hanna. Gia mengajak Elis ke Bank.
*****
Sesampainya di bank.
Gia langsung mengecek ATM ayahnya. Setelah melihat nominalnya, ternyata saldo milik ayahnya masih banyak yaitu sebesar 350 juta. Elis pun langsung melongo melihat nominal saldo yang di miliki ayahnya Gia.
"Wah lumayan nih buat Gue bayar si Elis!" Batin Gia.
Gia langsung menarik uang sebesar 8 juta. Lalu memberikannya kepada Elis.
"Nih!"
"Wahh!! Makasih banyak ya Gi!" Ucap Elis senang sembari memasukkan uangnya ke dalam tas.
"Tapi Lo harus janji yaa!! Awas Lo!!!" Ucap Gia memperingatkan.
"Gue janji!!" Balas Elis dengan senyuman sumringahnya.
Setelah itu Elis langsung berbalik badan berjalan pulang sembari tersenyum menyeringai.
__ADS_1
...----------------...
...Bersambung....