AFTERNOON WITH YOU

AFTERNOON WITH YOU
Bekerja lagi.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Siang hari.


Sama seperti kemarin, setelah pulang sekolah, Egi mengajak Gia ke rumahnya untuk melaksanakan tugasnya sebagai seorang pelayan.


Di perjalanan menuju rumah Egi. Gia mulai bertanya sembari membawakan kembali tas miliknya.


"Sampai kapan aku akan bekerja terus di rumah kamu?"


"Sampai aku memecat kamu." Jawab Egi sedikit bercanda.


"Kalau aku bekerja terus di rumah kamu, apa kamu akan membayarku?" Tanya lagi Gia dengan polosnya.


"Tentu saja!" Jawab Egi.


"Benarkah?" Tanya Gia kurang yakin.


"Kamu lihat saja nanti! Makanya kamu harus kerja yang benar."


*****


Sesampainya di rumah Egi.


Egi memberikan satu kotak besar yang di bungkus kertas kado pada Gia.


"Apa ini?" Tanya Gia penasaran dengan raut wajah yang senang.


"Hadiah ulang tahun." Jawab Egi lagi-lagi dengan bercanda.


"Beneran? Tapi ulang tahunku kan masih lama." Ucap Gia percaya begitu saja dengan lelucon Egi.


"Buka saja!"


Tanpa berkata-kata lagi, Gia membuka kotaknya, lalu ia mengeluarkan barang dari kotak tersebut.


"Apa ini?" Gia berdenyit heran.



"Itu baju buat kamu?" Jawab Egi.


"Hah! Buat aku? Tapi kok bajunya mirip kayak baju pembantu." Gia semakin terheran-heran sembari memperhatikan bajunya.


"Memang baju pembantu!" Tutur Egi.


"Apa?" Gia langsung syok.


"Mulai sekarang, saat bekerja kamu harus selalu pakai baju ini!"


"Egi, kamu benar-benar mau jadiin aku pembantu di rumah ini?" Gia langsung menatap kesal.


"Sudah jangan banyak bicara! Cepat cobalah bajunya, cukup atau enggak." Suruh Egi.


"Enggak! Aku gak mau pakai baju ini!" Tolak Gia.


"Oh, jadi begitu yaa, kamu gak mau menuruti perintah aku? Berarti kamu langgar janji kamu."


Gia hanya bisa diam sembari menatapnya kesal.


"Ya sudah, sepertinya kesepakatan kita sudah berakhir di sini. Besok mau gak mau, aku akan ke ruang guru dan melaporkan semuanya tentang..." Egi mulai mengancamnya lagi, namun dengan cepat Gia menyela perkataannya.


"Syutttt... Iya, iya! Di mana ruang gantinya? Aku akan pakai baju ini." Ucapnya langsung panik.


"Di atas."


Dengan raut wajah kesalnya, Gia langsung bergegas pergi menuju ruang ganti.


.....


Setelah berlama-lama mencari ruang ganti di lantai atas, hingga Gia kebingungan mencarinya karna saking banyaknya ruangan di rumah Egi, ia akhirnya menemukan ruang ganti setelah ia bertemu bi Mirah sedang menjemur pakaian. Bi Mirah menunjukkan jalan jika ruang ganti tersebut berada di dalam kamar tamu yang tak jauh dari kamar Egi.


Di ruang ganti.



Setelah mengganti baju, Gia langsung bercermin di cermin besar yang berada di sudut lemari.


"Bajunya cukup sekali. Gak longgar maupun kekecilan, Egi tau saja kalau ukuran baju Gue segini." Gumamnya sembari merapi-rapikan bajunya.


"Apakah mama Gue juga pakai baju seperti ini ya saat bekerja dulu?" Gumamnya lagi.


Setelah selesai merapikan bajunya, Gia langsung keluar menemui Egi yang tiba-tiba saja sudah ada di depan pintu tanpa Gia ketahui kapan datangnya.


"Kamu dari tadi di sini?" Tanya Gia kaget. Egi hanya terdiam tanpa menjawab sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Jangan-jangan, kamu tadi mengintip yaa?" Gia langsung emosi.


"Dih, enggak yaa! Aku baru juga datang." Jawabnya sembari memperhatikan penampilan Gia yang sudah memakai baju pembantu dari bawah sampai atas.


"Cukup juga bajunya." Ucap Egi.


"Memang cukup!"


"Mulai sekarang kamu harus memanggil aku bos!" Tegas Egi.


"Apa, bos?" Gia berdenyit heran.


"Iya, bos Egi!"


"Hmm... Baiklah Egi."


"Bos Egi!" Egi menekankan suaranya.


"Siap bos!" Gia langsung tegak sembari hormat.

__ADS_1


"Ya sudah, tunggu apalagi? Ayo cepat bekerja!"


"Kerja apa bos?" Tanya Gia bingung. Egi mulai berpikir.


"Ayo ikut denganku!"


Gia langsung mengikutinya dari belakang.


.....


Egi mengajaknya ke halaman di belakang rumahnya yang di penuhi rumput liar.


Egi langsung mengambil perkakas yang ada di gudang luar, Gia hanya diam memperhatikannya saja.


"Tugas kamu potong semua rumput liar di halaman ini!" Ucap Egi sembari memberi gunting pemotong rumput.


"Apa? Potong rumput pakai ini?" Gia langsung berdenyit kaget.


"Kenapa? Kamu keberatan?"


"Enggak! Aku cuman kaget saja. Soalnya di rumahku, kalau potong rumput halaman, ayahku sering menggunakan mesin pemotong rumput. Kamu punya gak mesin pemotong rumput? Biar lebih praktis."


"Ada di dalam, tapi sebaiknya, kamu potong rumput pakai gunting saja."


"Kenapa?" Tanya Gia kaget.


"Kalau pakai mesin pemotong rumput, maka pekerjaan kamu akan menjadi lebih mudah dan cepat."


"Ya memangnya kenapa?"


"Kalau kamu pakai mesin itu, pekerjaan kamu malah jadi lebih singkat dan gak lama. Kamu juga gak akan merasa capek. Jadi kamu gunakan saja gunting itu."


"Kamu di sini sengaja ya, biar aku terus bekerja dan merasa capek. Kamu senang banget ya lihat anak orang kesusahan."


"Ya namanya juga bekerja, kalau kamu memakai cara yang mudah, sama saja kamu gak bekerja." Ujar Egi. Gia langsung menatap kesal.


"Sudah jangan banyak bicara lagi! Cepat lakukan saja tugasmu dan jangan banyak mengeluh." Ucap Egi sembari pergi lalu duduk di kursi yang ada di teras.


"Cepat bekerja!" Teriak Egi.


"Iyaa!"


Gia langsung melakukan tugasnya memotong rumput menggunakan gunting.


"Panas banget!" Gumamnya sembari mengusap keringatnya yang perlahan mulai mengalir dari keningnya.


Egi terus memperhatikan Gia bekerja sembari menyeruput secangkir kopi yang sudah di sediakan bi Mirah di atas meja.


.....


Pukul 14.00 siang.


Cuaca masih panas.


Gia masih memotong rumput, karena rumput liar yang berada di belakang rumah Egi seperti tak terurus sehingga banyak sekali dan lebat. Dan tak lupa sesekali ia melirik ke belakang melihat Egi yang terus mengawasinya.


"Rumput yang di sebelah kanan itu masih panjang, kamu potong lagi yang benar!" Teriaknya.


"Iyaa!" Balas Gia berteriak juga sembari mengelap keringatnya.


Pukul 16.00.


Setelah selesai mencabut semua rumput, ia menghampiri Egi yang masih duduk di sana.


"Semuanya sudah beres, aku boleh pulang?"


"Pulang? Kenapa buru-buru sekali!" Nyinyir Egi sembari menghabiskan kopinya.


"Lalu aku harus bekerja apalagi? Aku capek, haus, pengen minum." Keluh Gia sembari duduk di kursi.


"Kalau mau minum, ambil saja di dapur."


"Dapurnya di mana?"


"Di ujung."


"Hah, capek! Ambilkan dong sama kamu."


"Enak saja! Main suruh-suruh. Aku ini bos kamu! Ambil saja sendiri!" Pekik Egi.


"Aku capek Egi!" Rengek Gia.


"Bos Egi!" Egi menekankan suaranya lagi.


"Iya-iya bos Egi. Aku capek banget!" Rengek Gia.


"Aku gak peduli. Sana pergi!"


"Kamu benar-benar memperbudak aku!" Gia langsung geram dan berjalan pergi ke dalam.


.....


Sesampainya di dapur.


Gia langsung minum air galon sembari melihat bi Mirah sedang mencuci piring.


"Lagi cuci piring bi?" Tanya Gia basa-basi.


"Ah iya non." Jawab bi Mirah.


Tak lama Egi datang menghampiri mereka.


"Bibi, sebaiknya istirahat saja, jangan cuci piring lagi! Biar Gia saja yang mencuci semua piringnya."


Mendengar kalimat itu, Gia langsung kaget. Egi sudah benar-benar mempekerjakannya sebagai seorang pembantu.

__ADS_1


"Tapi den..." Belum selesai bi Mirah bicara, Egi menyelanya.


"Sudah bibi istirahat saja, bibi jangan khawatir kalau gaji bibi bakal di potong. Itu gak akan terjadi." Ucap Egi meyakinkan.


"Baik den. Mari non!" Bi Mirah pun pergi untuk istirahat.


Setelah bi Mirah pergi. Gia kembali kesal pada Egi yang terus-terusan memperbudaknya.


"Tadi potong rumput, sekarang cuci piring!" Nyinyir Gia.


"Kenapa? Kamu keberatan?" Pekik Egi.


"Ya tentu saja keberatan! Karna di rumahku sendiri, kedua orang tuaku belum pernah memperkerjakan aku, di rumah aku di manja dengan berbagai cemilan, setiap hari aku rebahan. Tapi di sini, aku di pekerjakan seolah-olah aku ini benar-benar pembantu kamu. Gak ada waktu istirahat sekalipun buat aku. Kamu gak tau rasanya jadi aku bagaimana! Aku ini capek bekerja terus!" Rengek Gia.


"Kamu benar-benar capek bekerja?" Tanya Egi. Gia mengangguk.


"Apa datang ke sekolah tengah malam di saat hujan deras dan menyelinap ke dalam ruangan gak capek?" Sindir Egi.


Jleeebbb!!


Gia tak bisa berkata-kata lagi.


"Denger yaa! Bekerja itu sama saja seperti belajar. Rasa capek dalam bekerja terbukti dari keringat yang mengalir dari kepala hingga tubuh, sementara belajar terbukti capek dari pikiran dan otak yang terus di asah sampai menyebabkan insomnia dan menimbulkan stress." Jelas Egi. Gia hanya terdiam tak tahu maksud dari perkataan Egi.


"Kalau kamu terus saja bersifat malas, sampai kapanpun kamu gak akan pernah bisa mengajari hidup kamu apa artinya hidup yang sesungguhnya. Itu sebabnya aku sedang melatih kamu untuk memiliki kegiatan tanpa bermalas-malasan."


"Ya kalau kamu mau kasih aku kegiatan, jangan jadi pembantu juga dong! Emangnya aku ini apaan? Aku ini capek! Sudah 2 hari aku bekerja di sini!"


"Ya, kamu harus menerimanya! Bukannya kamu sudah janji akan mematuhi semua perintahku dan apapun keinginanku. Apa kamu mulai lupa lagi?" Ketus Egi.


"Egi, kalau kamu butuh pembantu lagi, kamu panggil saja ibuku, ibuku dulu mantan pembantu. Suruh saja ibuku membersihkan semuanya. Ibuku sudah ahli bekerja dalam bidang ART."


"Benarkah?" Egi berdenyit kaget.


"Iyaa! Ibuku lebih punya banyak pengalaman, jadi kalau kamu butuh pembantu lagi, panggil saja ibuku."


"Hahaha! Kamu itu lucu yaa!" Egi langsung tertawa.


"Aku serius!" Pekik Gia.


"Hmm... Enggak deh, sebaiknya kamu saja yang bekerja, kamu kan belum berpengalaman. Biar kamu punya pengalaman juga dalam bidang ART, kamu jangan mau kalah sama ibu kamu yang sudah banyak pengalaman." Ucap Egi dengan sedikit bercanda. Gia langsung menatap geram.


"Sudah jangan bercanda! Kembali bekerja."


Gia langsung mengerucutkan bibirnya dan mulai mencuci piring.


Pukul 17.00.


Setelah selesai bekerja, Egi memberinya ongkos pulang naik bus.


"Anterin pulang dong naik mobil!" Pinta Gia sembari cengengesan.


"Gak ada! Kamu jalan kaki saja sampai ke halte!" Tolak Egi.


"Setidaknya kalau gak anterin sampai rumah, anterin sampai ke halte dong." Pinta Gia lagi dengan mata berbinar-binar.


"Enggak! Aku males keluar. Kamu pulang saja sendiri. Biasakan jalan kaki sampai ke halte!"


"Tapi bos, jarak dari rumah kamu sampai ke halte itu jauh. Aku capek jalan kaki mulu!" Rengek Gia.


"Biasakan!" Ucap Egi singkat dengan mata malas sembari masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya.


Gia yang masih berdiam diri di luar langsung mengerucutkan bibirnya. Ia pun mulai kembali berjalan pulang.


"Kalau terus-terusan kayak gini, bisa-bisa lemes nih badan Gue. Gimana ya cara Gue bisa lepas dari semua ini?" Gumamnya sembari berjalan.


*****


Pukul 20.00 Malam.


Ini saatnya Egi akan makan malam, ia pun mulai menyendokkan nasi dan menaruh lauk pauk di atas piringnya. Setelah itu ia langsung menyuap makanannya dengan sendok.


Setelah menyuapkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya, tiba-tiba ia mulai merasakan rasa pahit di lidahnya. Egi pun langsung memuntahkan kunyahannya.


"Kenapa ini jadi pahit banget?" Gumam Egi sembari memperhatikan sendoknya.


Lalu ia kaget melihat masih ada bercak sabun cuci piring pada sendoknya, lalu ia memperhatikan piringnya. Betapa kagetnya Egi melihat masih ada bercak-bercak sabun pada alat makannya.


"Ini semuanya masih belum bersih. Gia ini gimana sih? Cuci piring gak bersih gini, sampai masih banyak sabun."


"Bi? Bi Mirah?" Teriak Egi.


"Oh ya, bi Mirah kan sudah pulang." Gumamnya.


Lalu ia mengambil alat makannya dan pergi menuju dapur.


Sesampainya di dapur, ia mulai memeriksa satu persatu semua piring dan sendok. Dan betapa kagetnya Egi ternyata semua alat makannya tak ada satupun yang bersih, semuanya masih di penuhi bercak sabun.


Egi langsung geram, dan saking emosinya sampai ia membanting piring plastik pada wastafel.


"Gak becus banget kerjanya!"


Kemudian Egi mulai membersihkan kembali alat-alat makannya yang tadi siang di cuci Gia tak bersih.


*****


Beralih di rumah Gia.


Sembari berbaring di kasur, Gia sedang memikirkan cara agar bisa bebas dari Egi.


"Gimana ya caranya? Apa Gue harus hapus video sama rekaman suara Gue, biar Egi gak ngancam Gue mulu? Iya, Gue harus bisa ambil alih hp Egi, bagaimanapun caranya." Gumamnya.


Lalu Gia memejamkan mata dan bersiap tidur.


...----------------...

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2