
Di dalam Mall.
Gia sedang melihat-lihat beberapa toko pakaian yang memajang banyak sekali baju dan dress yang sangat bagus dan cantik-cantik. Dalam hatinya ia ingin sekali membeli pakaian, dan berharap orang yang bersamanya kali ini mau membelikannya pakaian.
"Kamu mau beli apa?" Tanya Doni.
Mendengar ucapan Doni, Gia langsung antusias menjawabnya.
"Baju!"
"Kalau begitu pilihlah! Kamu mau baju yang mana?"
Mendengar ucapan Doni, dengan senang hati Gia langsung menuntun Doni ke toko pakaian pilihannya. Kemudian ia mulai memilih pakaian sesuai keinginan dan minatnya.
Saat tengah memilih beberapa pakaian, ia melihat dress berwarna kesukaannya yaitu merah muda yang sangat cantik dan sepertinya cocok untuk ia pakai ke pesta. Gia langsung mengambil gaun itu dan menunjukannya pada Doni.
"Yang ini bagus kan?"
"Iya itu bagus!" Jawab Doni.
"Aku boleh beli gaun ini?" Tanya Gia sekali lagi.
"Kenapa tidak? Silahkan sayang!" Ucap Doni mempersilahkan, Gia langsung senang.
Gia langsung melihat harganya yang tercantum di kertas kecil yang di kaitkan di pinggang gaun itu. Ternyata harga gaun itu di bandrol 450 ribu. Gia langsung menelan salivanya.
"450 ribu? Mahal banget." Batin Gia.
"Kenapa diam? Gaunnya gak cocok?" Tanya Doni sembari menatap Gia yang terus terdiam kaku selama beberapa detik.
"Harga gaunnya mahal!" Rengek Gia dengan wajah memelas. Doni langsung melihat harga gaun itu.
"Gapapa, kalau kamu suka beli saja!" Ucap Doni membujuk.
"Beneran?" Tanya Gia memastikan.
"Iya sayang!" Balas Doni dengan senyuman manisnya.
"Makasih ya sayang!" Ucap Gia senang sambil tersenyum merekah. Ia yakin Doni akan membayar belanjaannya.
"Tapi kamu yakin mau beli gaun itu saja? Gak pilih baju yang lain?" Tanya Doni.
"Boleh gitu?" Tanya Gia terkejut.
"Boleh sayang! Silahkan pilihlah baju apa saja yang kamu suka." Ucap Doni mempersilahkan.
"Hmm.. Makasih banyak yaa Doni sayang!" Ucap Gia senang sembari mengecup singkat pipi Doni.
Kemudian ia kembali memilih baju. Gia mengambil beberapa baju yang menurutnya cocok untuknya. Sementara Doni mulai mengeluarkan ponselnya lalu memainkan game sambil menunggu Gia memilih-milih pakaian.
"Ini aku beli 4 baju gapapa kan sayang?" Tanya Gia sembari menunjukkan beberapa pakaian yang ia jinjing dengan beberapa harga yang berbeda.
"Kenapa kamu tanya ke aku? Kalau ada yang kamu suka pilih saja. Terserah kamu mau beli berapa." Ucap Doni.
"Hmm... Makasih banyak Doni sayang, atas tawarannya. Tapi ini sudah cukup! Minggu depan kita belanja lagi." Ucap Gia dengan hati yang berbunga-bunga.
__ADS_1
Kemudian ia mengajak Doni ke kasir untuk melakukan pembayaran.
Hari ini Gia sangat senang, walaupun tadi Gia sangat enggan untuk melihat wajah Doni apalagi menemuinya saat tahu wajah aslinya. Tapi sekarang, itu sudah tidak masalah lagi baginya. Yang penting Doni mau mentraktirnya dan membelikannya pakaian.
"Semuanya jadi 1,9 juta." Ucap Kasir.
Gia langsung mangap sambil menatap Doni dari samping.
"Don, semuanya jadi 1,9 juta! Gapapa kan Don?" Tanya Gia sembari menatap Doni dengan wajah senang.
"Ah iya gapapa. Bayar saja!" Ucap Doni.
Gia langsung tersenyum senang sembari menunggu Doni mengeluarkan dompet. Tapi tak lama setelah ia menunggu sembari memperhatikan Doni sejak dari tadi. Ia mulai merasa aneh melihat Doni hanya diam saja mematung tak mengeluarkan uang sepeserpun.
"Mbaa, semuanya jadi 1,9 juta!!" Tegas kasir mengulang lagi perkataannya dengan menekankan suaranya. Gia langsung kaget.
"Ah-iya!" Gia langsung gugup pada kasir itu.
"Don, kenapa diam saja? Cepetan bayar!" Lanjut Gia menyuruh Doni untuk membayar belanjaan nya.
"Apa? Kenapa harus aku yang bayar? Itukan belanjaan kamu!" Ucapan Doni membuat Gia langsung kaget.
"Tapi, bukannya kamu yang mau bayarin?" Tanya Gia lagi.
"Siapa yang bilang? Kapan? Aku gak ngomong gitu ke kamu! Tadi aku cuman bilang silahkan beli apapun yang kamu mau. Itu saja! Aku gak bilang mau bayarin semua belanjaan kamu!" Ucap Doni sambil menatap Gia aneh.
Gia hanya terdiam tak memperpanjang masalah. Seketika dalam hatinya Gia mulai emosi, lalu dengan terpaksa ia mengeluarkan dompetnya untuk membayar sendiri karna kasir terus saja memaksanya agar ia segera membayar belanjaannya. Saat akan mengeluarkan dompet Gia berniat mengerjai Doni agar ia mau membayar semua belanjaannya.
"Masa sih kamu gak bawa uang?" Tanya Doni tak percaya.
"Iya Don, gimana nih? Bayarin dulu dong sama kamu!" Pinta Gia.
"Aduh gimana ya? Kalau buat bayar segitu aku gak bisa! Semuanya kemahalan! Kalau kamu gak bawa uang, kenapa belanja?"
Perkataan Doni membuat Gia langsung naik pitam. Ingin sekali ia meneriaki Doni dan berkata-kata kasar padanya.
"Mba, maaf belanjaannya batalin saja!" Pinta Gia pada kasir sambil cengengesan.
"Gak bisa mba! Semua harganya sudah di masukan ke dalam struk. Mba harus bayar! Kalau mba gak bawa uang, pakai kartu kredit saja." Ucap kasir menolak pembatalan.
Gia hanya bisa menghela nafas sambil masih tetap menahan emosi. Mau bagaimana lagi? Kalau ia terus meminta pada kasir untuk mengajukan pembatalan, akan jadi masalah karna kasir terus saja menolak permintaannya yang ada ia akan malu di lihat orang-orang yang sedang mengantri di belakangnya.
Dengan terpaksa, ia mengeluarkan kartu kredit milik ayahnya yang belum sempat ia kembalikan waktu itu setelah membayar hutang pada Andrean. Ia langsung memberikan kartu kreditnya pada kasir sambil berbisik pada Doni.
"Kalau kamu gak mau bayarin, ngapain tadi kamu menyuruh aku buat belanja baju hah?!!!!"
Doni yang mendengar bisikan Gia yang terdengar emosi hanya bisa terdiam kaku.
Setelah belanja pakaian. Gia dan Doni kembali berjalan. Kali ini Gia tak ingin merangkul tangan Doni lagi karna ia masih emosi. Sambil berjalan Gia dan Doni saling membisu tanpa berbicara sepatah katapun.
.....
Masih di waktu dan tempat yang sama. Di suatu restoran yang masih berada di dalam Mall, terlihat Egi sedang memberi kejutan pada kekasihnya Olivia dengan sebuah kue.
__ADS_1
"Surpriseeee..." Ucap Egi sambil membuka kain yang ia tutup di mata Olivia.
"Waahhh!!!" Olivia langsung terkejut.
"Gimana suka kuenya?" Tanya Egi dengan senyumannya yang merekah.
"Wah Egi, ini kue nya bagus sekali. Pasti kue ini mahal banget." Ucap Olivia gugup.
"Jangan pikirkan harganya! Yang penting kamu suka kuenya." Ucap Egi sambil memotong kuenya lalu menyuapinya.
"Gimana enak?" Tanya Egi meminta saran.
"Enak!" Jawab Olivia sambil mengunyah kue.
"Tapi Egi, aku malu! Kenapa kamu bawa aku ke restoran? Aku kan baru selesai di rawat, aku harus pulang. Kenapa kamu malah ajak aku kesini? Harusnya kamu bawa aku pulang dulu baru kita kesini. Aku kan belum dandan, apalagi aku masih pakai baju tidur, belum mandi. Aku kucel banget. Aku malu!" Lanjutnya mengeluh.
"Gapapa sayang, kamu tetap cantik kok meskipun belum dandan. Aku sengaja bawa kamu kesini supaya setelah pulang dari rumah sakit, kamu bisa langsung makan kue. Kamu selalu bilangkan dari kemarin kalau kamu sudah sembuh, kamu pengen makan kue." Ucap Egi sambil memuji dan menyuapinya lagi.
"Tapi Egi, tetap saja aku malu! Seharusnya kamu bawa aku pulang dulu. Lihat aku kucel begini, belum mandi, badan aku pasti bau." Ucap Olivia sedikit merengek sambil mengendus kerah bajunya.
"Ya sudah kamu tunggu dulu di sini. Aku mau kesana dulu." Ucap Egi sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Kemana?" Tanya Olivia tak ingin di tinggal sendiri.
"Cuman sebentar!" Ucap Egi sambil mengecup singkat bibir Olivia lalu pergi.
Sementara Olivia hanya duduk termenung sambil cemberut.
.....
Kembali pada Gia dan Doni yang masih berkeliling di area mall. Doni melihat Gia masih cemberut sepanjang jalan.
"Kencan yang menyebalkan." Batin Gia.
"Eh, kamu sudah makan belum?" Tanya Doni.
"Belum!" Jawab Gia kesal sembari berbohong sedikit kalau sebenarnya ia sudah makan terlebih dahulu di rumah sebelum berangkat.
"Kalau begitu, kita ke restoran yuk! Kita makan!" Ajak Doni.
"Ah, tapi uangku dikit lagi." Ucap Gia beralasan memancing Doni agar mau mentraktirnya.
"Pakai uangku saja!" Ucap Doni membuat Gia langsung menyetujuinya dan kembali tersenyum senang.
"Ayo!"
Doni langsung menggandengnya ke restoran tempat di mana ada Olivia yang tengah duduk menunggu Egi kembali.
...----------------...
__ADS_1
...Bersambung....