AFTERNOON WITH YOU

AFTERNOON WITH YOU
Menari di atas penderitaan orang.


__ADS_3

Pukul 05.00 pagi.


Hujan sudah benar-benar reda. Di perjalanan menuju rumahnya, sembari menyetir, Gia melihat sebagian warga berkerumun di jalan dekat tiang listrik yang roboh akibat ditabraknya semalam.


"Bagaimana ini pak RT? Kenapa tiang listriknya bisa roboh seperti ini?"


"Sepertinya akibat di sambar petir semalam bu. Malam tadi hujan besar sekali. Itu sebabnya kemungkinan tiang listrik ini roboh akibat di sambar petir." Duga pak RT.


"Lalu bagaimana ini? Tidak akan ada listrik sama sekali!" Para warga mulai panik.


"Kalian tenang saja, jangan khawatir! Saya sudah menghubungi petugas PLN. Mereka akan segera kemari untuk memperbaikinya." Ujar pak RT.


Dengan pelan-pelan Gia menyetir mobilnya dan memalingkan wajahnya supaya tak ada yang melihatnya. Dan jangan sampai warga melihatnya menyetir, karna mereka tahu Gia belum di perbolehkan menyetir mobil oleh ibunya apalagi statusnya yang masih sekolah. Bahaya sekali kalau salah satu warga melihatnya menyetir, bisa-bisa ia akan di curigai di balik robohnya tiang listrik.


"Semoga mama belum bangun!" Harap Gia.


.....


Sesampainya di rumah.


Gia menjalankan mobilnya pelan-pelan menuju garasi. Setelah selesai memarkirkan mobilnya, Gia kembali masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang kemudian setelah sampai di kamar, ia langsung mengganti pakaiannya. Setelah itu ia merebahkan dirinya di kasur untuk kembali tidur.


"Akhirnya bisa tidur nyenyak." Gumamnya sembari memejamkan mata.


*****


Pukul 08.00 pagi.


Beralih di Rumah Hanna.


Hanna baru saja terbangun dari tidurnya dan mulai memeriksa CCTV di laptopnya untuk mengetahui pergerakan Gia selama mengerjakan remedial ujian kemarin.


"Gue penasaran! Gia berbuat curang seperti apa?" Gumamnya sembari mengecek laptop.


Setelah di cek, kamera mengambil pergerakan Gia selama lebih dari 20 jam lamanya.


"Wow, banyak banget sampai 20 jam! Kayaknya pas pulang sekolah kemarin, Gue lupa gak matiin CCTV nya secara otomatis." Gumamnya lagi sembari menguap.


Hanna pun langsung menonton videonya selama 3 jam lamanya dengan mata yang masih menahan kantuk, tapi ia mencoba melotot dan tetap fokus melihat pergerakan Gia dalam mengerjakan ujian, setelah selesai menonton setengahnya, sama sekali tak ada gerak-gerik mencurigakan yang tertangkap sedikitpun.


"Ternyata dugaan Gue salah! Ternyata Gia benar-benar mengerjakan ujian dengan sungguh-sungguh tanpa berbuat curang." Gumamnya.


"Syukurlah kalau dugaan Gue selama ini salah!"


Kemudian ia mematikan CCTV yang ada di Bros pemberiannya secara otomatis melalui laptopnya. Padahal ia belum mengetahui faktanya secara pasti sebelum ia selesai menontonnya sampai habis.


"Lainkali Gue gak akan curiga lagi! Mulai sekarang Gue harus percaya sama sahabat Gue sendiri kalau sahabat Gue sudah benar-benar berubah jadi orang yang pintar!" Hanna menegaskan dirinya sendiri.


"Hah! Gue jadi iri sekali sama sahabat Gue yang sudah pintar sementara Gue masih bodoh." Gumamnya lagi sembari menutup laptopnya.


"Btw, sekarang dia lagi ngapain yaa? Gue harus telepon dia." Hanna pun mulai menelpon Gia.


"Drrtttt."


..."Drrtttt."...


^^^"Drrtttt."^^^


"Tumben, si Gia gak angkat telepon Gue. Kemana dia?" Gumam Hanna.


Hanna tak tahu, kalau Gia saat ini sedang tertidur pulas. Karna semalaman ia tidak tidur akibat melancarkan aksi curangnya hingga semalaman.


*****


3 Hari Kemudian.


Di rumah.


Gia tengah bersiap untuk pergi ke sekolahnya, Karena hari ini adalah hari pembagian nilai remedial.


"Kamu mau kemana lagi pakai seragam dan jas sekolah? Kamu masih belum libur?" Tanya ibunya kaget.


"Memang libur mah, tapi Gia cuman mau ngambil lembar ujian yang sudah di nilai saja. Papa pasti bakal bangga melihat nilai ujian Gia nanti." Mendengar ucapannya, ibunya langsung senang.


"Ya sudah sana pergi! Ambil nilai ujiannya, mama ingin segera melihatnya secara langsung."


"Iya, siap mah!" Ucap Gia sembari cengar-cengir.


*****


****Di Sekolah****.


Nilai remedial ujian di bagikan. Dan harapan Gia akhirnya jadi kenyataan. Ia berhasil mendapat nilai tertinggi melebihi yang lain. Bahkan kali ini semua nilai ujiannya bernilai 100 berkat kunci jawaban yang ia salin waktu itu.


Hanna semakin terkejut melihat semua nilai Gia yang bernilai 100. Bahkan ia tak bisa menutup mulutnya yang menganga karna saking terkejutnya.


"I-itu benaran?" Tanya Hanna gelagapan.


"Ya beneran lah! Nih lihat saja sendiri!" Ucap Gia bangga.


"Lo hebat banget Gi!" Puji Hanna sembari menangis terharu.


"Gue memang hebat!" Ucap Gia dengan angkuhnya.


Sementara Adi dan Egi masih mendapat nilai yang sama seperti sebelumnya.


Mereka saling menatap nilai ujian dengan tatapan kosong sekaligus di buat bingung dengan diri mereka sendiri.

__ADS_1


"Gak mungkin! Gak mungkin lagi!" Gumam Egi tak percaya.


.....


Di ruang guru.


Egi, Adi, dan Gia di panggil ke ruang guru. Mereka di hadapkan langsung dengan pak Wiranto dan wali kelas mereka yaitu Bu Ratna.


"Teruntuk Gia, saya melihat semakin ada peningkatan di diri kamu dalam mengerjakan ujian." Puji Bu Ratna. Gia mengangguk tersenyum.


"Dan teruntuk Adi!"


Adi langsung menegakkan badan dan siap mendengarkan.


"Ada apa Adi? Mengapa nilai kamu jadi menurun? Bagaimana kamu bisa mengikuti olimpiade berikutnya kalau nilai ujian kamu saja malah menurun?" Tanya Bu Ratna sebagai wali kelas yang sangat kecewa dengan murid andalannya.


Adi langsung menunduk malu.


"Adi!" Panggil pak Wiranto sebagai guru BK.


"Selama melihat CCTV, tak ada sedikit kecurigaan yang di lakukan Gia atas apa yang kamu tuduhkan." Jelas pak Wiranto.


"Dan kami mendapat laporan dari Gia, kalau kamu pernah melakukan kekerasan fisik padanya." Jelasnya lagi.


Adi langsung berdenyit kaget kemudian menatap Gia.


"Maksud bapak apa? Melakukan kekerasan? Itu semua bohong pak, saya gak melakukan kekerasan apa-apa pada Gia!" Bantah Adi.


"Gak usah bohong Lo ya! Para guru di sini sudah lihat CCTV waktu Lo mencengkram keras lengan Gue waktu itu di lorong. Lebam bekas cengkraman Lo saja masih ada di pergelangan tangan Gue." Pekik Gia sembari memperlihatkan lebam yang masih memerah. Adi langsung diam membisu sembari mengalihkan pandangannya.


"Kamu sudah membaca sendiri kan peraturan di sekolah ini? Bahwa berbuat curang dalam menyontek, membully, maupun melakukan kekerasan akan ada hukumannya! Sebagai gantinya, bapak akan memberi kamu hukuman karna telah menuduh tanpa bukti dan melakukan kekerasan pada Gia." Ucap pak Wiranto.


"Yesss." Seru Gia dalam hati sembari tersenyum nyengir.


"Ayo Adi! Ikut bapak keluar! Bapak akan memberi pengarahan buat kamu!" Ucap pak Wiranto sembari berjalan keluar.


Adi langsung berjalan keluar mengikuti pak Wiranto tapi sebelum keluar, ia melewati Gia. Dan Gia masih sempat-sempatnya berbisik.


"Mampus Lo."


Adi menghiraukan bisikan kejam Gia sembari terus berjalan menunduk.


"Gia!" Panggil Bu Ratna.


"Iya Bu?" Balas Gia.


"Sekarang kamu boleh pulang dan bisa menikmati liburan kamu! Belajar yang rajin yaa!" Ucap Bu Ratna sembari memberi semua lembar jawaban Gia yang sudah di beri nilai.


"Baik Bu! Terima kasih banyak." Ucap Gia lalu bergegas keluar.


Tapi sebelum keluar, ia melirik Egi terlebih dahulu yang masih menunduk.


Gia langsung kesal karna di hiraukan Egi. Kemudian Gia langsung bergegas keluar dari ruangan.


"Kesel banget! Egi gak balas ucapan baik Gue! Mampus Lo dapat nilai jelek." Gumam Gia sembari mendengus kesal.


.....


Di halaman sekolah.


Gia berjalan melewati halaman, namun tanpa sengaja ia melihat Adi yang sedang di beri arahan oleh pak Wiranto.


"Adi, sebagai hukuman yang tertera dalam peraturan sekolah ini. Kamu harus membersihkan halaman beserta semua toilet di sekolah ini. Dan setelah selesai membersihkan semuanya, kamu harus kembali ke ruang guru untuk menerima surat skorsing."


Adi langsung syok mendengar pernyataan pak Wiranto.


"Ayo bersihkan semuanya. Saya akan terus pantau kamu. Jadi jangan berleha-leha." Ucapnya lagi setelah itu pergi meninggalkan Adi.


Setelah pak Wiranto berlalu, Gia langsung menghampiri Adi.


"Halo Adi, gimana kabarnya? Baru dapat hukuman yaa?? Kasihan!" Ucapnya dengan nada meledek.


"Ini semua gara-gara Lo!!!" Pekik Adi menyalahkan Gia.


"Loh kok jadi gara-gara Gue? Emangnya letak kesalahan Gue di mana kampreettt???" Ucap Gia sambil membusungkan dada.


Adi langsung diam sembari memalingkan wajahnya. Kemudian Gia menepuk-nepuk bahunya.


"Adii! Lihat nih nilai Guee. Baguskan?" Ucap Gia dengan nada di nyanyikan sembari menunjuk beberapa lembar ujiannya yang bernilai 100.


Tapi Adi tetap mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Bersihkan yang benar yaa!! Lo ini anak yang rajin. Jarang-jarang lohh... Ada anak anggota DPR kerjanya jadi OB." Ucapnya lagi-lagi mengejek sembari tertawa lalu pergi.


Adi menatap tajam kepergian Gia yang sudah berjalan jauh.


"Awas Lo yaa!! Gue bakal tetap mengawasi Lo! Sampai mana Lo bakal lolos lagi." Gumam Adi.


Kemudian ia mulai menyapu daun-daun yang berserakan di halaman.


.....


Kembali ke ruang Guru.


"Egi! Baru pertama kali kami melihat kinerja kamu dalam mengerjakan ujian." Ujar Bu Ratna. Egi terus menunduk.


"Sebelumnya sekolah ini memiliki harapan yang sangat besar agar kamu bisa mengangkat derajat sekolah ini jadi yang lebih tinggi di antara sekolah terkenal lainnya, jika kamu berhasil memenangkan olimpiade lagi." Ujar lagi Bu Ratna.

__ADS_1


"Tapi seketika harapan kami langsung sirna. Sepertinya ini akan menjadi dampak buruk bagi sekolah ini dengan memasukkan kamu ke dalam olimpiade mengatasnamakan sekolah ini." Ucap Bu Ratna lagi dengan penuh kekecewaan. Egi langsung menatap kaget.


"Kamu belum taukan syarat menjadi siswa di sekolah ini? Baik saya akan menjelaskan segalanya tentang sekolah ini." Bu Ratna mulai menceritakan. Egi mulai siap mendengarkan segalanya.


"Sebenarnya sekolah ini hanya menerima siswa yang paling pintar saja dari kalangan atas. Sekolah ini tidak menerima siswa yang bodoh apalagi siswa dari kalangan menengah." Jelasnya. Egi kembali menunduk.


"Siswa yang bodoh boleh saja bersekolah di sini, asal dia mau membayar lebih seluruh biayanya. Contohnya seperti beberapa siswa bodoh di sekolah ini, kamu pasti sudah tau siapa saja, meskipun baru beberapa hari bersekolah di sini. Tapi kalau siswa bodoh yang berasal dari kalangan menengah sepertinya tidak akan mampu membayar seluruh biaya agar bisa bersekolah di sini." Jelas lagi Bu Ratna.


"Asal kamu tau ya Egi, salah satu siswa kebanggaan sekolah ini yang paling sempurna dengan kepintarannya dan paling jago dalam setiap mata pelajaran yaitu Adi. Itu sebabnya kami mengikut sertakannya ke dalam olimpiade waktu itu melawan sekolah kamu. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini peningkatan Adi jadi menurun? Padahal kami sudah banyak menyaksikan bagaimana pintarnya Adi dalam mengerjakan setiap soal. Sementara kamu? Kami baru saja mengenal kamu dan baru saja menyaksikan kamu dalam mengerjakan ujian. Dan ternyata apa yang sekolah ini lihat tentang kamu pada saat olimpiade waktu itu semuanya zonk." Ucap Bu Ratna dengan nada merendahkan. Egi terus menunduk tanpa kembali menatap Bu Ratna.


"Egi! Melihat pencapaian yang baru saja kamu lakukan di sekolah ini. Sepertinya sekolah ini takkan bisa mengikut sertakan kamu dalam olimpiade. Dan kami sudah membuat keputusan untuk kamu. Tapi itu terserah kamu mau memilih yang mana antara kembali ke sekolah kamu yang dulu atau menetap di sekolah ini? Tapi kalau kamu ingin menetap di sekolah ini, kamu harus membayar semua biaya administrasinya, karna selama ini sekolah ini telah memberikan beasiswa khusus untuk kamu sendiri agar kamu bisa mengikuti olimpiade mengatasnamakan sekolah ini. Namun sayangnya kamu tidak akan bisa ikut olimpiade. Tapi kalau misalnya kamu memilih pindah ke sekolah kamu yang dulu. Tangan kami terbuka lebar untuk mempersilahkan kamu kembali ke sekolah kamu yang dulu."


Egi diam sejenak berusaha membuat keputusan.


"Silahkan! Kamu boleh berpikir matang-matang di luar." Ucap Bu Ratna mempersilahkannya pergi. Namun tanpa berlama-lama Egi mulai menjawab.


"Baik Bu, saya memilih untuk kembali ke sekolah saya yang dulu!" Ucapnya dengan nada yang lantang.


*****


Pulang sekolah, Gia langsung memperlihatkan nilai terbarunya pada ibunya.


"Mah, lihat nih nilai ujian Gia!"


"Nilai ujiannya sudah di bagikan semua?" Tanya ibunya sembari menerima beberapa lembar nilai ujian milik putrinya tersebut.


"Sudah mah, mama lihat saja!"


Ibunya mulai mengecek satu persatu.


"I-ini beneran?" Tanya sang ibu kaget.


"Beneran lah mah." Ucapnya mencoba meyakinkan ibunya.


"Kok nilainya 100 semua? Kemarin-kemarin mama lihat nilai kamu di foto gak ada yang nilainya 100." Tanya ibunya terheran-heran.


"Mama salah lihat kali!" Bantah Gia.


"Gimana mama senang gak anak mama yang cantik ini dapat nilai yang bagus-bagus?" Lanjutnya mengalihkan pembicaraan dengan bertanya sembari cengar-cengir.


"Mama senang banget sayaanggg!!!!" Ibunya langsung mengecup seluruh wajah Gia.


"Mmuaahhh! Mmuaahhh! Mmuaahhh." ( Suara kecupan )


"Mama gak nyangka, kamu sudah berubah menjadi pintar!" Ucap ibunya bangga. Gia hanya bisa cengengesan.


"Mama kira, kamu gak akan berubah, tapi sekarang kamu sudah berubah menjadi pintar. Mama sangat bangga sekali sama kamu." Ucap ibunya lagi saking bangganya pada putri satu-satunya.


"Ayo kita adakan pesta lagi. Mama akan perlihatkan semua nilai kamu yang bagus pada semua teman-teman mama termasuk teman mama yang sudah pernah meledek kamu waktu itu." Ucap ibunya antusias.


"Oke mah!"


"Mulai sekarang, apapun permintaan kamu. Mama akan mengabulkan segalanya khusus buat putri mama tercinta yang cantik ini." Ucap ibunya girang sembari mencubit dagunya.


"Beneran mah?"


"Iya sayang! Apapun itu! Cepat katakan apapun yang kamu inginkan!!"


"Gia pengen mengadakan pesta selama seminggu, boleh gak mah?"


"Apa pesta selama seminggu?" Ibunya berdenyit heran. Gia hanya bisa cengengesan.


"Ya tentu saja boleh lah sayang!! Mau adakan pesta selama 2 Minggu saja gapapa kok sayang. Apapun untuk anak kesayangan mama. Keinginan kamu, keinginan mama juga."


Gia dan ibunya langsung girang sambil tertawa senang.


*****


Keesokan harinya.


Sesuai janjinya waktu itu, Gia berencana akan menikmati liburannya dengan mengadakan pesta.


Waktu itu Gia sempat berjanji kepada semua teman-temannya akan mengadakan pesta selama 7 hari 7 malam. Tapi bagi Gia satu Minggu tak akan cukup untuk menikmati pesta.


Jadi ia akan mengadakan pesta selama 2 Minggu lamanya sampai ia kembali masuk ke sekolah.


Ia dan ibunya mengadakan pesta di hotel bintang lima dengan mengundang semua teman-teman ibunya beserta semua teman-teman sekelasnya Gia.


"Huaaahhhhh."


Gia bersorak riang sambil berjoget-joget di atas meja makan sambil menyawer semua teman-temannya yang berjoget di bawahnya.


Semua temannya bersorak riang sembari berjoget dan minum jus.


Pesta di adakan dari siang sampai malam. Dan pesta kembali di adakan keesokan siangnya hingga keesokannya lagi dan seterusnya. Pesta tetap di mulai di jadwal yang sama selama 2 Minggu lamanya. Dan orang-orang yang hadir masih tetap orang yang sama yang selalu ingin menumpang makan mengatasnamakan sebagai tamu undangan.


Namun, ada dua siswa yang tak datang ke pestanya yaitu Adi dan Egi.


Adi sendiri masih menjalankan hukumannya di sekolah, entah sampai berapa lama? Hanya guru BK yang menentukan sampai mana hukuman Adi akan selesai.


Sementara Egi sang korban dari kecurangan Gia hanya bisa diam melamun di balkon rumahnya sembari memandangi pemandangan dengan tatapan mata yang sedih.


Sebelumnya Gia sudah mengundangnya melalui surat yang di kirimkan lewat pos karena ia tak punya nomor telepon Egi. Tapi Egi memutuskan untuk tak datang dan lebih memilih membereskan pakaian karna ia akan segera bersiap untuk kembali pindah ke sekolah lamanya.


Gia tak tahu kalau Egi akan kembali ke sekolah lamanya. Karna ia terus saja menikmati pesta merayakan kesuksesannya dalam ujian yang ia kerjakan dengan penuh kecurangan.


...----------------...

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2