
Keesokan harinya.
Pukul 13.00 siang.
Di Sekolah.
Setelah pelajaran selesai, sebagian siswa yang mengikuti kegiatan ekskul di wajibkan menjalani kegiatannya.
Egi yang tak pernah absen sekalipun selalu semangat mengikuti ekskul basket yang di adakan seminggu sekali.
"Bagus sekali! Permainan yang bagus Egi." Puji pelatih sembari tepuk tangan.
Pelatih pun meniupkan peluit nya menandakan permainan sudah selesai.
Setelah selesai bermain basket, Egi langsung istirahat lalu ia memanggil Gia.
Gia pun datang sambil berlari, lalu ia tersenyum sumringah setelah sampai di hadapannya, ia pun langsung memberikan sebotol minuman milik Egi.
"Ini bos! Silahkan di minum." Ucapnya sembari masih menahan senyumannya.
Sambil minum, asisten barunya itu dengan niat baiknya mengelap keringat Egi dengan handuk kecil miliknya.
"Semangat sekali kamu hari ini!" Puji Egi.
"Tentu saja bos! Bos kan sering bilang 'Lakukan saja tugasmu, dan jangan banyak mengeluh.' Aku selalu mengingat kata-kata itu setiap bos mengatakannya." Ucapnya sumringah.
Egi mengangguk tersenyum melihat Gia yang sangat semangat bekerja hari ini tak seperti kemarin-kemarin.
.....
Pukul 15.00.
Masih di Sekolah.
Setelah ekskul selesai. Egi memutuskan untuk kembali mengganti baju olahraganya dengan seragam.
Saat Egi akan membuka laci, tiba-tiba saja jarinya terluka terkena serpihan pengait laci yang terlepas.
"Bos kenapa?" Gia langsung berlari menghampiri Egi.
"Tangan bos berdarah?" Tanyanya dengan raut wajah panik.
"Gapapa!"
Kemudian Gia menarik lengan Egi dan mengajaknya ke UKS.
"Ayo kita ke UKS!"
"Gak usah, ini cuman terluka sedikit." Tolak Egi.
"Tetap saja harus di obati!" Paksa Gia. Egi pun tiba-tiba menurut saja.
.....
Sesampainya di UKS.
Gia mulai mengobati jari Egi yang sedikit berdarah dengan beberapa lapisan perban yang ia gulung d jari mungilnya.
"Sudah jangan banyak-banyak perbannya! ini lukanya cuman sedikit." Pekik Egi.
"Gapapa! Biar gak terjadi banyak pendarahan."
Mendengar ucapan Gia, seketika Egi ingin tertawa. Tapi ia mencoba menahan tawanya, bagaimanapun ia harus terlihat tegas di hadapan Gia.
*****
Setelah pulang dari sekolah, mereka turun dari bus, Egi merasa haus, ia pun mengajak Gia ke taman yang berada di pinggir jalan untuk istirahat sebentar.
Di Taman.
Egi mulai menyuruh Gia untuk membelikannya minuman. Dan tak lupa ia selalu memperingatkan Gia untuk selalu memanggilnya bos.
"Ini bos!" Ucapnya lagi sembari memberi minuman yang baru saja ia beli dan lagi-lagi tetap mempertahankan senyumannya.
Egi langsung menikmati minumannya yang berupa es jeruk di kala cuaca yang sedang panas. Memang lebih enak menikmati minuman dingin yang menyegarkan di siang hari yang sedang panas.
"Ada lagi bos, makanan yang mau bos beli? Cemilan, gorengan, atau rujak? Biar aku yang belikan." Tawar Gia dengan senang hati.
"Hmm... Gak usah!"
"Oh, baiklah bos!" Ucapnya dengan kembali menunjukkan raut senyumannya yang sumringah tak seperti biasanya.
*****
Sesampainya di rumah.
Egi memberikannya seragam baru, karna Gia mengeluh minta ganti seragam baru karna seragam kemarin kotor dan bau.
Setelah memakai seragam pembantu yang baru di berikannya, ia berdiri tegak di hadapan Egi, bersiap mendengar perintahnya.
Egi tak lagi menyuruhnya mencuci piring karna ia tahu, Gia tak akan becus mengerjakannya.
Jadi sekarang Egi memberinya tugas membersihkan rumahnya, ia memberi sapu dan sapu pel sembari menyuruhnya membersihkan semuanya.
"Sapu lantainya kemudian kamu pel."
"Sampai lantai atas?" Tanya Gia penasaran.
"Ya iya dong! Bersihkan semuanya!" Tegas Egi.
"Siap bos!" Ucap Gia semangat tanpa mengeluh sedikitpun.
Gia langsung menyapu lantai sembari tetap tersenyum riang. Egi yang memperhatikan gelagat Gia hari ini merasa aneh, ia jadi berbeda dari waktu kemarin-kemarin yang selalu banyak mengeluh setiap kerja. Tapi hari ini ia malah jadi bersemangat dalam bekerja sembari tetap tersenyum seolah-olah tak ada beban sedikitpun.
Sepertinya Gia sudah mulai berubah dan mulai menerima hukuman yang di berikan Egi akibat aksi curangnya dalam mengerjakan ujian waktu itu. Namun sikap baiknya yang berubah drastis saat ini benar-benar sangat berbeda dari biasanya. Seolah-olah ia memiliki maksud dan niat lain di balik senyuman manisnya.
Tapi tidak masalah, Egi tetap tak peduli dengan perubahan sikapnya. Ia memutuskan untuk rebahan di kamarnya, karena ia tak perlu mengawasinya lagi karena sudah ada CCTV yang mengawasinya.
Setelah Egi berjalan pergi, Gia memperhatikan kepergian Egi yang sedang menaiki anak tangga menuju ke kamarnya. Gia mulai kembali menunjukkan ekspresi kesalnya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Gue harus bisa mengambil hati Egi, biar Egi percaya sama Gue. Dan lihat saja suatu saat nanti, begitu Egi sudah percaya sepenuhnya sama Gue. Secepatnya Gue bakal ambil tindakan." Batinnya. Lalu ia kembali menyapu dengan emosi.
Sambil menyapu, tak sengaja ia melihat sebuah foto keluarga Egi yang terpampang di dinding.
"Oh, jadi ini kedua orang tua Egi." Gumam Gia sembari memperhatikan fotonya.
"Jadi ini wajah mendiang papanya yang kata Egi papanya sangat baik sampai membuatkan sekolah gratis untuk anak-anak yang gak mampu." Gumamnya lagi sambil memperhatikan wajah ayahnya Egi.
Namun tiba-tiba matanya beralih melihat wajah ibunya Egi yang terpampang di foto itu, Gia kembali bergumam lagi.
"Oh ya, Gue baru sadar, selama Gue kerja di sini, Gue sama sekali belum pernah melihat ibunya Egi. Ibunya ke mana ya? Setiap hari Gue cuman lihat pembantunya doang. Apa jangan-jangan ibunya sudah meninggal juga? Kasihan banget Egi kalau dia anak yatim, di sini dia cuman tinggal sendiri sama pembantunya doang."
Gia langsung melamun sambil memperhatikan foto keluarga Egi, ia terus memikirkan rumah sebesar ini hanya di tinggali dua orang saja yaitu Egi dan pembantunya, bahkan ia sampai lupa untuk kembali menyapu.
.....
Beralih di Kamar.
Sembari merebahkan tubuhnya, Egi berusaha menelepon kekasihnya yaitu Olivia, berulang kali ia terus menghubunginya. Namun, Olivia sama sekali tak mengangkat teleponnya membuat Egi jadi galau.
Egi langsung menghela nafas panjang, untuk menghilangkan rasa galaunya ia mengganti bajunya dengan memakai kaos merah muda, namun seketika kegalauannya berubah menjadi rasa kesal yang amat dalam di selimuti amarah yang mulai memuncak.
Lalu dengan rasa kesalnya yang tak bisa tertahan di dada, ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya menuju ke bawah untuk melampiaskan semua emosinya pada Gia sebagai sasarannya.
Setelah Egi turun, ia mulai mencari keberadaan Gia, lalu ia melihat keberadaan Gia yang tak jauh dari penglihatannya sedang melamun sembari memandangi foto keluarganya. Kelakuan Gia seperti itu semakin menambah kekesalan dan emosinya Egi.
__ADS_1
Egi langsung menghampirinya dan mulai melampiaskan emosinya dengan menegurnya.
"Ngapain kamu diam saja? Bukannya kerja!"
Gia langsung tersadar dengan teriakan Egi, ia langsung berbalik ke hadapannya.
"Ah maaf, aku lagi melihat foto keluarga kamu." Jawabnya sembari cengengesan.
"Kerja yang benar! Jangan melihat yang lain. Dari kemarin gak becus banget kerjanya! Sekarang makin gak becus." Egi mulai melampiaskan emosinya membuat Gia berdenyit kaget.
"Aku gak becus gimana Egi? Sejak kemarin aku terus bekerja dengan benar." Tanya Gia kaget dengan Egi yang tiba-tiba memarahinya.
"Gak becus! Semua kerjaan kamu gak ada yang benar mulai dari kamu, ujian, cuci piring, potong rumput, sekarang menyapu. Apakah gak ada yang benar sekalipun dari hidup kamu? Benar-benar gak becus kamu ya sebagai manusia! Dasar pemalas!" Pekiknya.
Bukannya merasa sedih atau tersinggung dengan perkataan Egi, Gia justru malah tertawa sembari berkata.
"Maaf Egi, perasaan kemarin aku cuci piring bersih kok."
"Bersih dari mana? Masih ada sisa sabun."
"Benarkah? Ah maaf. Sepertinya aku lupa gak bilas lagi pakai air. Soalnya kemarin kan waktunya sudah sore, aku takut pulangnya terlalu sore. Jadi kemarin aku buru-buru. Jadi wajarlah, apalagi aku kan baru pertama kali cuci piring."
"Terus apa yang kamu bisa?"
"Rebahan sama nonton televisi." Ucapnya sembari cengengesan.
"Sudah, sana kembali menyapu! Jangan banyak omong lagi."
"Loh, kamu kan yang dari tadi ngajak aku ngobrol." Ucap Gia berdenyit kaget, Egi langsung skakmat lalu ia memutuskan untuk keluar untuk meredakan amarahnya.
Gia pun tak peduli dengan perlakuan Egi padanya, ia pun mulai kembali menyapu.
Saat sedang menyapu, tak sengaja ia menyenggol vas besar yang berisi banyak hiasan bunga yang berada tepat di sampingnya hingga jatuh dan semua bunganya berhamburan keluar. Tapi untungnya vas bunganya tidak pecah meskipun bahannya dari keramik.
Egi langsung berbalik ke belakang, menatapnya dengan tatapan kaget.
"Ya ampun! Gak becus banget sih kerjanya!" Bentak Egi.
"Ah maaf Egi, biar aku bereskan." Gia langsung panik sembari berusaha memasukkan semua bunganya ke dalam vas. Egi semakin di buat kesal melihatnya.
Meskipun sudah melampiaskan semua emosinya pada Gia, bukannya meredakan justru malah makin menambah emosinya Egi, jadi semakin menjadi-jadi dan lebih meningkat rasa amarahnya.
"Ckk, sudah sana kembali menyapu! Biar aku yang bereskan." Ucapnya sembari memasukkan satu persatu bunganya.
"Maaf ya Egi! Aku gak sengaja." Ucap Gia sekali lagi, tapi Egi tak meresponnya.
Sembari menyapu, ia terus memperhatikan Egi yang masih membereskan vas bunga dengan ekspresi muka masam.
Untuk menghilangkan kekesalan Egi, Gia pun mulai mengajaknya mengobrol dengan sedikit basa-basi.
"Egi, ternyata wajah mendiang papa kamu mirip banget ya sama kamu."
"Memang mirip, karna aku ini anaknya." Balasnya sembari tetap fokus memasukkan bunga.
"Oh iya." Ucap Gia sembari cengar-cengir.
Lalu ia masih melihat raut wajah Egi yang masih menunjukkan ekspresi cemberut. Gia pun kembali mengajaknya bicara.
"Seandainya papa kamu masih hidup, pasti akan ada banyak kebaikan yang di lakukan papa kamu hingga saat ini." Ucap Gia. Egi pun terdiam sejenak.
"Papaku memang orang yang baik, bahkan semasa hidup pun, kebaikannya tak terhitung sampai akhir hayatnya. Entah seberapa banyak kebaikan yang sudah di perbuat oleh papaku semasa hidupnya? Hanya Tuhan yang tahu. Tapi kini semua kebaikan semasa hidupnya hanyalah tinggal kenangan." Ucap Egi dengan raut wajah yang mulai sedih.
"Egi, kamu jangan sedih, meskipun papa kamu sudah gak ada, tapi kebaikannya akan selalu ada di setiap kenangan." Ucap Gia sembari berhenti menyapu dan memilih mengobrol dengan Egi.
"Kamu benar, selama ini keluarga yang paling aku rindukan hanyalah ayahku saja, bukan yang lain." Egi mulai curhat. Gia langsung berdenyit heran.
"Kalau ibumu?"
"Dia masih ada! Untuk apa aku merindukannya." Jawabnya.
Justru pertanyaan Gia mulai kembali memancing emosi Egi, ia pun langsung berdiri sembari menatap tajam Gia.
"Setiap keluarga selalu memiliki masalah." Ucapnya.
"Lalu?" Gia semakin di buat penasaran.
"Itu sebabnya aku tinggal sendiri! Sudah kamu dari tadi bertanya mulu, cepat bekerja!" Pekik Egi.
"Baik Egi."
"Panggil aku bos!" Tegas Egi.
"Ah, baik bos."
Gia kembali lanjut menyapu, sementara Egi kembali membereskan vas bunga.
"Bos?"
"Apalagi?"
"Besok kan hari Minggu, besok aku boleh libur?" Pinta Gia.
"Enggak boleh!"
"Kenapa bos? Besok kan hari Minggu!" Rengek Gia.
"Mau hari Minggu atau hari apa saja, sama saja bagiku. Besok kamu harus datang lebih pagi, soalnya besok bi Mirah libur, jadi kamu yang harus gantikan."
Gia langsung cemberut sambil kembali menyapu.
*****
Pukul 20.00 Malam.
Di rumah Gia.
Gia sedang makan malam bersama ibunya. Di saat masih mengunyah makanan. Ibunya mulai bertanya.
"Sayang, kamu kenapa akhir-akhir ini sering telat pulang?" Tanya ibunya dengan ekspresi khawatir.
Gia berpikir sejenak mencari alasan untuk menjawab pertanyaan ibunya.
"Gia baru-baru ini ikut ekskul mah."
"Ekskul apa?"
"Ekskul basket mah." Jawabnya terus beralasan.
"Tapi kan tubuh kamu sudah tinggi menjulang, ngapain kamu ikutan ekskul basket? Kalau kaki kamu jadi makin panjang gimana?"
"Aahh, mama gak akan lah! Malah kalau Gia ikut ekskul ini, tubuh Gia jadi makin sehat dan kuat."
"Hmm... Ya sudah deh terserah kamu saja. Tapi yang bikin Mama khawatir kamu sering banget pulang sampai sore, jidat kamu sering berkeringat, enggak seperti biasanya. Terus badan kamu juga jadi makin kurus kayak kurang gizi. Mama khawatir banget sama kamu sayang. Kalau bisa kamu ikut ekskulnya jangan sampai setiap hari." Ibunya memberi nasihat. Gia hanya mengangguk sembari tersenyum.
"Iya mah."
"Mah, papa kapan ya pulang lagi? Kok papa lama banget sih kerja di luar kotanya." Gia mulai membahas hal yang lain.
"Katanya sih bulan depan, soalnya papa kamu lagi sibuk-sibuknya kerja di sana. Banyak banget projek yang datang."
"Hmm... Baguslah mah, semakin banyak projek yang datang, semakin banyak uangnya papa."
"Ya tetap saja, mama selalu kangen sama papa kamu."
"Gak usah di kangenin mah! Kan ada handphone, video call saja papa kalau mama kangen banget." Goda Gia.
"Hmm... Kamu gak akan ngerti apa yang lebih di kangenin dari papa kamu." Ucap Ibunya tertawa sembari kembali melanjutkan makan malamnya.
*****
__ADS_1
Pukul 23.00 Malam.
Beralih di rumah Egi.
Di kamar.
Egi tengah merebahkan tubuhnya sembari memandangi dua foto dirinya dan Olivia kekasihnya. Ia melihat-lihat foto-fotonya sembari senyum-senyum sendiri.
"Cantik sekali." Gumamnya.
Egi sangat merindukan kekasihnya, apalagi sudah beberapa hari ia tidak bertemu dengannya karna setiap kali ia menghubunginya, Olivia selalu menjawab kalau ia sedang sibuk mengerjakan tugas, namun kadang ia jarang mengangkat teleponnya. Itu membuat Egi semakin merindukan sosok kekasihnya itu.
Egi bingung, ia harus berbuat apa? Ia tak bisa terus menerus menahan rasa rindunya. Lalu ia pun berusaha memberanikan diri untuk menghubungi kembali Olivia meskipun hari sudah malam.
"Ayo angkat." Gumam Egi
Drrtttt.
...Drrtttt....
^^^Drrtttt.^^^
Olivia masih belum menjawab panggilannya, lalu Egi mengulanginya lagi dengan terus menghubunginya hingga 5x sampai Olivia mengangkat teleponnya.
Setelah berusaha hingga beberapa kali, Olivia akhirnya mengangkat teleponnya hingga seketika terukir senyuman di bibir Egi.
^^^"Halo sayang." ^^^
"Sayang, aku kangen banget sama kamu!" Ucap Egi to the point.
^^^"Aku juga kangen banget sama kamu sayang." ^^^
"Sayang kamu masih sibuk gak? Aku pengen banget ketemu kamu. Aku kangen banget pengen di peluk lagi sama kamu." Egi mulai mencurahkan isi hatinya yang tertahan sejak beberapa hari terakhir.
^^^"Lagi enggak kok sayang, ayo saja kalau kamu mau ketemu aku." ^^^
"Kamu lagi di mana sayang?"
^^^"Aku lagi di jalan, baru pulang les." ^^^
"Les apa? Sejak kapan kamu ikut les? kenapa kamu gak kasih tau aku?" Egi berdenyit heran.
^^^"Les bahasa Inggris, sebenarnya baru kemarin, kebetulan majikan baru ibuku yang membiayai semuanya." ^^^
"Oh begitu, baik sekali majikan ibu kamu. Tapi kamu pulang semalam ini, kamu pasti kedinginan, aku bawakan kamu jaket yaa."
^^^"Gak usah sayang, aku pakai mantel kok." ^^^
"Ya sudah. Kalau begitu, aku ke sana sekarang ya sayang."
^^^"Jangan lupa, kamu harus pakai jaket, biar gak dingin." ^^^
"Iya sayang."
Setelah teleponan dengan Olivia, Egi langsung memakai jaketnya lalu ia bersiap pergi menemui Olivia.
*****
Sesampainya di jalan yang sudah di sharelok Olivia. Egi langsung senang melihat kekasihnya ada di seberangnya.
Olivia melambaikan tangannya sembari tersenyum sumringah, Egi langsung tersenyum bahagia di campur terharu.
Mumpung jalan sedang sepi belum ada motor maupun mobil yang lewat, Egi langsung berlari menyebrang, lalu ia memeluk erat Olivia.
"Sayang, aku kangen banget."
"Aku juga kangen banget sama kamu sayang."
Mereka berdua saling menumpahkan kerinduan dengan berpelukan dan berciuman di tempat yang sepi dan hari yang sudah hampir mendekati tengah malam.
Setelah selesai berpelukan, Egi ingin punya waktu berdua saja dengan kekasihnya itu, lalu ia mengajak Olivia ke rumahnya untuk menghabiskan malam bersamanya seperti yang ia lalui semasa pacaran dulu.
*****
Sesampainya di rumah Egi.
Egi membawanya ke kamar.
"Malam ini dingin sekali ya." Ucap Olivia sembari melepas mantelnya.
Kemudian Egi memeluknya dari belakang sembari menciumi kepalanya.
"Sekarang sudah gak dingin lagi kok sayang, kan ada aku." Ucap Egi dengan rayuan gombalnya.
Olivia langsung berbalik dan kembali memeluk Egi.
"Kangen banget aku tuh sayang." Ucapnya manja. Egi langsung tersenyum senang sembari memeluknya dan menciumi pipi dan telinganya menunjukkan kebucinannya.
"Aku juga sayang."
Kemudian Egi membawanya ke kasur dan mendudukkannya di pangkuannya.
Egi pun mulai mencumbunya dengan mencium bibirnya, ia ********** dengan nikmat, hingga Olivia pun sangat menikmatinya.
"Sayang, aku ingin punya waktu berdua lebih lama lagi sama kamu. Malam ini kamu tinggal ya di rumah aku. Besok kan hari Minggu. Kamu gak ada kegiatan lagi kan sayang?" Tanya Egi sembari memeluk erat kekasihnya.
"Gak ada sayang!"
Egi langsung tersenyum senang dan lagi-lagi ia ******* bibirnya sembari menggerayangi tubuhnya. Perlahan-lahan Olivia mulai mendesah.
"Sayang, kalau gerah lepas saja bajunya." Rayu Egi sembari ikut mendesah juga.
Saking bucinnya Olivia pada Egi, ia menurut saja dan melepas semua pakaiannya. Dan tiba-tiba tangan nakal Egi mulai meraba-raba dadanya lalu sentuhan itupun maju perlahan hingga ke bagian intimnya.
Mereka berdua akhirnya berbaring di kasur sambil berpelukan.
"Kamu senang sayang?" Tanya Olivia.
"Aku senang banget! Dari kemarin aku kangen banget sama kamu." Jawab Egi.
"Sayang, lepas juga pakaian kamu!" Pinta Olivia manja.
"Baiklah sayang."
Egi mengangguk dan melepaskan semua pakaiannya, setelah itu ia kembali berbaring sembari memeluk kekasihnya.
Hingga pada akhirnya, mereka menghabiskan waktu bersama dalam pelukan yang hangat.
Sebenarnya ini bukan kali pertamanya mereka tidur bersama, sebelumnya mereka pernah tidur bersama hingga berkali-kali sembari melakukan aktivitas layaknya sepasang suami-istri.
Bisa di bilang Egi sudah tak perjaka lagi dan Olivia juga sudah tak perawan lagi, di usia mereka yang masih pelajar. Mereka melakukan kencan dewasa semasa pertama kali pacaran hingga sampai sekarang.
Karna beginilah gaya pacaran anak muda di zaman sekarang, semuanya serba di lewati meskipun dalam peraturan hukum dan agama di larang.
Namun bagi orang awam seperti mereka yang kurang pengawasan dan didikan ketat dari orang tuanya, larangan adalah perintah.
...----------------...
...Bersambung....
__ADS_1