AFTERNOON WITH YOU

AFTERNOON WITH YOU
Nekat.


__ADS_3

...•...


...•...


...•...


...•...


...•...


Setelah selesai melaksanakan remedial, Gia berjalan lesu sendirian melewati koridor. Saat melewati ruang guru, ia melihat para pengawas dan beberapa guru sedang berbincang-bincang sembari membereskan semua lembar-lembar jawaban para siswa.


"Semua lembar jawaban dan semua kunci jawaban ini taruh saja di sini! Besok pagi kita akan memeriksanya dan menilai semuanya." Ucap ibu guru.


"Kunci jawabannya di satukan saja Bu?" Tanya pengawas.


"Iya satukan saja! Satukan dengan semua lembar jawaban dari setiap mata pelajaran."


"Baik Bu, kalau lembar jawaban yang masih kosong ini taruh di mana Bu?" Tanya pengawas satu lagi.


"Di keranjang saja, biar nanti OG yang akan membuangnya." Balas ibu guru yang lain.


"Baik Bu!"


Para pengawas langsung memasukan semua lembar jawaban beserta kunci jawabannya di dalam beberapa map, setelah itu di masukkan ke dalam lemari kaca yang terdapat banyak map di sana.


Mendengar percakapan antara guru dan pengawas, membuat Gia sedikit berdenyit heran. Ia pikir, semua jawabannya akan di nilai semuanya sekarang, ternyata mereka akan menilainya besok.


Entah kenapa semua kunci jawabannya di satukan dengan lembar jawaban para siswa? Kenapa tidak di bawa pulang saja agar tidak hilang?


Dan ada banyak sekali lembar jawaban kosong yang masih menumpuk di sana. Sepertinya mereka menyediakan kertas jawaban kosong terlalu banyak karna yang mengikuti remedial juga banyak sekali.


.....


Sore Hari.


Pukul 16.00.


Semua orang sudah pulang, tapi ada satu siswa yang masih berdiam diri di sekolah yaitu Gia yang masih belum pulang juga, ia masih duduk termenung sendirian di taman.


"Bagaimana ini?" Batin Gia.


Gia terus melamun tanpa henti.


Jangan tanyakan di mana Hanna? Karna Hanna sudah pulang duluan, sebab Gia sudah menyuruhnya untuk pulang terlebih dahulu.


Kemudian Gia teringat sesuatu saat ia keluar melewati ruang guru tadi, ia mulai mengingat kembali saat para pengawas menyimpan beberapa lembar jawaban para siswa beserta kunci jawaban di lemari kaca.


Rasanya ingin sekali Gia memeriksa kembali jawabannya dan membenarkannya.


Dengan cepat ia langsung berdiri lalu berlari menuju ruang guru.


.....


Sesampainya di ruang guru.


Semua guru dan para pengawas sudah pulang. Di dalam hanya ada seorang wanita yang merupakan OG (Office Girl) yang sedang menyapu.


Gia berniat masuk, tapi ia menunggu dulu OG itu keluar terlebih dahulu.


Selang satu jam kemudian. OG itu keluar dari ruangan, ia terkejut melihat keberadaan Gia yang sedang mematung di samping pintu.


"Sedang apa neng di sini?" Tanya OG.


Gia langsung terkejut di tanyai begitu, ia langsung memikirkan ide untuk mendapat alasan.


"Ah maaf bu, ada barang saya yang ketinggalan di sini."


"Oh, barang apa ya neng?" Tanya OG itu lagi. Gia berfikir sejenak masih mencari alasan.


"Cincin saya bu!"


"Hah, cincin?" OG itu berdenyit heran.


"Iya cincin! Cincin saya jatuh di sini." Gia menekankan suaranya sembari menggigit bibir bawahnya.


"Tapi selama ibu membersihkan ruangan, ibu tidak melihat cincin satupun di dalam. Mungkin cincin neng jatuh di tempat lain."


Gia mulai bingung, alasan apalagi yang harus ia keluarkan supaya bisa masuk ke dalam ruangan.


"Ah kalau begitu, boleh saya cek dulu ke dalam sebentar buat cari cincin saya?" Pinta Gia.


"Boleh, tapi sebentar ya neng! Soalnya pintunya mau ibu kunci."


"Baik bu!"


Gia langsung masuk ke dalam.


Sebenarnya yang ia tuju yaitu berkas lembar jawaban para siswa.


Setelah masuk, Gia memperhatikan lemari kaca yang ada di hadapannya. Rasanya ia ingin sekali membuka semua pintu-pintu lemari ini dan mencari semua lembar jawaban beserta kunci jawabannya. Tapi OG itu terus saja memperhatikannya dari luar.


"Kenapa gak pergi saja sih tuh OG! Ikut campur saja urusan orang." Gumamnya kesal.


"Sudah ketemu belum neng cincinnya?" Teriak OG menanyakan.


"Belum bu!" Jawab Gia panik.


"Maaf neng, sebaiknya neng pulang saja! Biar ibu yang carikan besok pagi. Soalnya ruangan ini harus secepatnya di kunci." Ucap OG itu baik-baik.


Gia langsung mendengus kesal dan mencoba tersenyum agar OG itu tidak mencurigainya.


"Baik Bu!"


Sebelum keluar, tanpa sengaja Gia melihat CCTV di atas pintu ruangan yang masih belum di perbaiki.


"Kok masih rusak yaa??" Batin Gia.


Berarti selama ia di dalam, ia masih aman saat masuk sendiri ke dalam, karna CCTV nya masih rusak.


Dengan cepat Gia langsung bergegas keluar dan berjalan pelan-pelan menjauhi ruangan. OG itu pun kembali masuk setelah Gia keluar.


Saat berjalan, tiba-tiba ia mengurungkan niatnya untuk pulang. Ia masih penasaran ingin kembali masuk ke dalam ruangan itu lagi. Tapi bagaimana caranya?


"Ya Tuhan... Bantu aku! Beri aku petunjuk supaya aku bisa masuk ke ruangan itu lagi tanpa di ketahui orang." Batin Gia berdoa.


Saat Gia masih berdiri mematung tak jauh dari ruangan. Tiba-tiba OG itu keluar, dan saat akan menggeser pintu untuk menutupnya, tiba-tiba pintunya macet tak bisa di geser.


"Ada apa ini?" OG itu langsung panik kemudian berlari memanggil satpam.


Satpam pun datang dan mencoba menggeser paksa pintu itu. Karna pintu yang ada di ruang guru tersebut merupakan pintu geser.


Namun pintu tetap saja tak bisa geser, sehingga kemungkinan pintu itu tak akan bisa di kunci.


Hal itupun di ketahui Gia yang memperhatikan sedikit kericuhan yang terjadi di luar pintu ruang guru.


Ia hanya bisa menyimak sembari memperhatikan.


"Kenapa pintunya gak bisa di geser? Bagaimana pintunya bisa di kunci? Kalau pintunya sendiri gak bisa di tutup." Gumam Gia.


"Besok saja kita panggil tukang! Sebaiknya pintunya kita borgol dulu pakai rantai" Ujar pak Satpam pada OG.


Setelah itu pak satpam memasang rantai pada pintu dan mengaitkannya pada tiang yang tertancap di tembok.


Setelah beberapa menit memperhatikan, Gia pun langsung berbalik badan sambil berjalan saat OG itu kembali berjalan ke arahnya.


Saat berjalan, tak lupa ia terus bolak-balik melirik ruang guru yang pintunya masih sedikit terbuka dengan rantai yang di pasangkan.

__ADS_1


*****


Pukul 18.00.


Sesampainya di Rumah.


Gia langsung lesu tak berdaya saat berjalan menuju kamarnya.


"Sayang, kenapa baru pulang?" Teriak sang ibu dari dapur. Gia menghiraukan pertanyaan ibunya dan terus saja melamun.


Sang ibu langsung menghampiri Gia yang masih berjalan lesu.


"Ada apa sayang? Kenapa kamu lesu begitu?"


Gia langsung menatap sang ibu dengan tatapan yang lesu.


"Gapapa mah! Gia cuman lemes saja." Jawabnya.


"Kamu ini sudah dapat nilai bagus, harusnya libur! Pakai ada acara mau foto studio segala! Padahal lulus juga belum."


Ibunya menegur sambil mengingatkan alasan Gia yang dilontarkannya tadi pagi sebelum berangkat ke Sekolah, alasan Gia memberi alasan tersebut agar ibunya tidak curiga bahwa ia akan ikut remedial.


Gia hanya bisa diam lesu dengan tatapan mata yang kosong.


"Ya sudah kalau begitu kamu istirahat saja dulu. Mau mama bawain makanan?" Tawar sang ibu.


"Gak mah, Gia gak lapar!" Tolak Gia sembari berjalan menaiki anak tangga.


.....


Di kamar.


Gia sedang berbaring terlentang tak berdaya sembari menatap ke langit-langit dengan tatapan mata yang kosong.


Ia terus melamun sampai ia lupa mengganti jas almamaternya.


Saking dalamnya ia melamun, tak butuh waktu lama ia terlelap tidur dengan jas almamater yang masih ia kenakan.


.....


Saat tidur.


Gia bermimpi sedang berkumpul bersama teman-temannya di sekolah.


Di dalam mimpinya, tiba-tiba seorang guru datang menghampirinya sambil memberikan nilai ujiannya.


Gia langsung menerima nilai ujiannya dengan senang hati. Dan guru itu pun pergi.


Setelah itu, Gia langsung melihat nilai ujiannya yang bernilai 0.


Seketika ia langsung kaget tak percaya melihatnya. Kemudian satu persatu teman-temannya mulai mengolok-oloknya.


"Hahahaha!!!! Tolooll."


"Lihat nih nilai Gue lebih bagus dari Lo."


"Begoo banget Lo jadi cewek."


"Ngotak Lo begoo."


Dalam mimpi, Gia dibully sembari menangis histeris.


"Masih ingatkan hukumannya? Siap-siap Lo harus minum air WC pakai sedotan. Hahaha!!" Ucap Adi sambil tertawa renyah.


"AAAKKKHHHHHHH!!!!!"


Gia langsung berteriak histeris sembari bangkit dari tidurnya dan ngos-ngosan.


Keringat mulai mengucur deras membasahi pipinya. Ia terus mendesah ketakutan.


"Mimpi apa barusan? Benar-benar jelek banget!" Gumamnya syok.


"Gak! Gak! Itu semua gak boleh terjadi!" Gumam Gia tak ingin mimpinya jadi kenyataan.


Kemudian ia memperhatikan tubuhnya yang masih memakai jas almamater sekolahnya beserta Bros pemberian Hanna.


Lalu ia mulai teringat kembali saat pintu ruang guru tak bisa di kunci.


"Mungkin Tuhan mencoba membantu Gue dengan membuat pintu itu macet! Supaya Gue bisa masuk ke dalam sana dan mengganti jawaban Gue. Sepertinya tuhan sudah mendengar doa Gue dengan memberi Gue jalan yang terbaik!" Gumamnya senang.


"Gue harus dapat nilai yang bagus! Bagaimanapun caranya? Gue harus ke sana dan mengganti semua jawaban Gue!!" Gumam Gia antusias lalu bangkit dari kasur.


Setelah itu ia membuka tirai, saat melihat keluar dari balik jendela. Keadaan di luar sedang hujan deras disertai petir yang menggelegar.


"Bagaimana ini?"


Gia langsung turun ke bawah dengan berjalan pelan-pelan supaya tak ada yang mendengar suara langkah kaki yang bisa membangunkan ibunya.


Kemudian ia mengambil payung dari gudang. Setelah itu ia nekat keluar dari rumah di tengah malam yang sedang di guyur hujan.


"Gila hujannya besar banget! Apa Gue harus jalan kaki saja ke sekolah?"


Lalu ia melihat teras rumahnya yang sudah di banjiri air karna saking derasnya hujan. Gia pun teringat, kalau kemarin ayahnya baru saja memberinya hadiah mobil, ia pun memutuskan untuk naik mobil pemberian ayahnya tersebut.


Kemudian ia kembali ke dalam. Dan berjalan mengendap-endap masuk ke dalam kamar ibunya untuk mengambil kunci mobil pemberian ayahnya.


Setelah masuk ke dalam kamar ibunya, ia melihat ibunya masih terlelap tidur. Gia pun kembali berjalan mengendap-endap seperti seorang maling menuju laci kecil yang terpampang di dekat kasur.


Ia pun membuka pintu laci lalu mengambil kunci, Gia pun memutuskan untuk menyetir sendiri menuju sekolahnya.


Kalian pasti bertanya apakah Gia bisa menyetir? Tentu saja bisa! Namun belum selancar para pengendara lain, karna ia sendiri belum memiliki SIM. Dan beberapa kali Gia selalu mengalami kegagalan dalam belajar mengemudi, ia selalu menabrak apapun yang ada di sekitar jalan kecuali manusia dan hewan.


Kembali pada Gia yang berusaha menyalakan mobil, kemudian ia melajukannya sendiri di tengah derasnya hujan di sertai petir.


Masih dalam komplek perumahan.


Saat mengemudikan mobil, Gia ngebut dan kehilangan kendali saat mengemudikannya.


"Duh gimana nih?" Teriak Gia panik.


Gia terus memaksakan diri menyetir mobil hingga akhirnya mobil pun oleng lalu menabrak tiang listrik sampai roboh dan semua listrik komplek pun padam secara berjamaah.


Gia langsung panik tak karuan setelah menabrak tiang listrik. Ia gemetar dan berhenti untuk tidak menyetir lagi, karna bisa membahayakan dirinya sendiri.


"Duh gimana nih?" Gumam Gia ketakutan.


Tapi rasa egonya gara-gara mimpinya tadi membuat ia tak ingin menyerah.


Ia harus menjalankan rencananya demi mendapatkan nilai yang bagus apapun itu resikonya.


Gia pun kembali menyetir tanpa memedulikan semua rumah warga yang listriknya padam akibat ulahnya sendiri.


*****


Di perjalanan, kebetulan sekali jalan sedang sepi. Kali ini Gia ngebut dengan versi hati-hati di tengah hujan yang masih belum kunjung reda.


Sesampainya di Sekolah.


Kebetulan sekali lampu di sekolah juga padam akibat tiang listrik yang baru saja ia tabrak tadi. Karna sekolah Gia dengan komplek perumahannya masih satu daerah.


Gia mencoba masuk lewat belakang sekolah. Karna kalau lewat depan, pasti ada satpam yang jaga dan ia bisa ketahuan, ia tak ingin itu sampai terjadi.


Sembari menggenggam payung hitamnya, Gia mencoba menaiki pagar.


Berkali-kali ia mencoba menaiki pagar, ia terus saja terjatuh karna pagarnya licin akibat di guyur hujan.


Dan setelah beberapa kali berusaha, akhirnya ia berhasil melewati pagar dengan melompat. Ya walaupun pagarnya licin tapi ketinggian pagarnya sangat rendah bagi tubuh Gia yang tinggi menjulang.

__ADS_1


Dengan rasa takut yang mendalam, Gia terpaksa masuk dan berjalan mengendap-endap menelusuri koridor menuju ruang guru dengan bantuan senter ponselnya sebagai pencahayaan.


Gia terus was-was sembari melirik ke belakang takutnya ada orang jaga yang melihat keberadaannya.


Sesampainya di ruang guru.


Inilah saatnya Gia melakukan aksi nekatnya yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Dan ini akan menjadi pengalamannya yang pertama dan mungkin yang terakhir dalam hidupnya.


Gia langsung masuk begitu saja dengan bantuan senter di ponselnya, ia masuk dengan merunduk karena pintunya di halangi rantai. Tapi payung hitamnya ia biarkan begitu saja di luar.


Setelah masuk, Gia berusaha membuka lemari kaca yang terdapat berkas-berkas.


"Apa? Ini di kunci!" Gia langsung mendengus kesal sembari menendang meja.


"Sialaann!!!"


"AWWW!!!!"


Gia meringis kesakitan. Kemudian ia mencoba membuka laci dengan jepit rambut yang masih menancap di rambutnya.


Ia berusaha membuka pintu laci dengan jepitnya. Setelah beberapa menit ia berusaha, akhirnya pintu laci pun terbuka.


"Yessss!!" Seru Gia dengan suara pelan.


Ia langsung mengecek satu-persatu map yang terdapat berkas-berkas di dalamnya.


"Di mana semua lembar jawabannya? Ada banyak sekali map di sini." Gumamnya sembari terus mencari.


Setelah melakukan upaya pencarian selama beberapa menit.


"Ketemuu!!" Seru Gia senang. Ia langsung mengecek nama pelajaran di lembar jawaban tersebut di dalam map menggunakan senter ponselnya.


"Ternyata semua lembar jawaban ini, pelajaran matematika!!" Gumamnya.


Ia langsung mengeluarkan semua lembar jawabannya beserta kunci jawabannya dari dalam map.


Betapa senangnya Gia melihat kunci jawabannya di taruh di atas lembar jawaban para siswa. Kemudian ia mencari lembar jawaban miliknya.


Setelah itu, ia mulai mencocokan jawabannya dengan kunci jawaban. Setelah ia mengecek hasilnya, ternyata jawaban miliknya sangat berbeda dengan kunci jawaban dan banyak sekali yang salah.


"Tuh kan benar dugaan Gue!! Jawaban Gue banyak yang salah." Gumam Gia kesal.


Tak lama ada suara seseorang berjalan dari luar. Dengan cepat Gia langsung bersembunyi di bawah meja sembari mematikan senter ponselnya. Dan tak lupa semua lembar jawaban beserta kunci jawabannya ia sembunyikan juga bersamanya.


Orang itu berjalan menggunakan senter. Dan ternyata itu pak satpam yang berjaga sedang berjalan. Saat melewati ruang guru, satpam itu melihat ada payung hitam di depan ruangan tersebut.


"Payung siapa ini? perasaan tadi gak ada payung." Gumam pak satpam terheran-heran sambil mengambil payung tersebut.


Pak satpam langsung memperhatikan ke arah ruang guru menggunakan senternya.


"Sepertinya ada seseorang di dalam!" Gumam pak satpam curiga.


Pak satpam langsung mendekati pintu ruangan.


"Haloo!! Apa ada orang di dalam?" Teriak satpam dari luar.


Gia langsung kaget sembari membungkam mulutnya.


Kemudian satpam itu mencoba masuk ke dalam ruangan.


"Haloo!!"


Mendengar suara langkah kaki yang masuk, Gia langsung memikirkan cara agar satpam itu segera meninggalkan ruangan.


Kemudian Gia tertawa cekikikan seperti kuntilanak.


"HIHIHIHIIII."


"Siapa di sana?" Teriak satpam kaget.


"Gue setan pak." Jawab Gia gemetar  dengan suara yang kecil.


"Hah? Bohong! Setan kan gak bisa ngomong Gue elu!"


"Iya juga yaa!" Gumamnya sembari tetap bersembunyi di bawah meja.


"Setan juga gaul pak! HIHIHI." Teriaknya dengan nada yang lebih kecil.


"Cepat keluar! Saya tau ada orang di sana!" Teriak pak satpam.


Gia semakin gemetar, ia bingung harus melakukan apa? Kemudian ia menyalakan nada dering suara kuntilanak yang ada di ponselnya.


Setelah suara itu di nyalakan dengan volume yang keras, seketika pak satpam langsung ketakutan lalu lari terbirit-birit keluar.


"Hah! Setaannn! Setaannn! Setaannn!" Teriak satpam itu sambil berlari.


Setelah satpam itu sudah berlari benar-benar jauh dari ruangan. Gia kembali menyalakan lampu senternya dan keluar dari bawah meja sembari menghela nafas panjang.


"Huh! Untung gak ketahuan!"


Kemudian ia mulai melancarkan aksinya.


"Sialann!! Ternyata jawaban Gue banyak yang salah! Gue harus ganti!!" Gumam Gia sembari *******-***** lembar jawabannya kemudian memasukkannya ke dalam saku jasnya.


Kemudian ia melihat kertas jawaban yang masih kosong ada banyak di keranjang. Ia pun langsung mengambil beberapa lembar jawaban dan menggantinya dengan mencoba menyalin kunci jawabannya menggunakan pulpen yang sudah tersedia di meja.


Setelah selesai menyalin semua jawabannya.


"Hah! Syukurlah sudah selesai. Akhirnya bisa tenang." Gumam Gia senang sambil menuliskan namanya di lembar jawaban yang baru saja ia buat.


"Tapi pasti ada lembar jawaban mata pelajaran yang lain yang belum Gue ganti. Semoga semuanya ada kunci jawabannya."


Gia kembali mengeluarkan beberapa map dari dalam lemari lalu memeriksa satu persatu lembar-lembar jawaban para siswa. Kali ini ia tak kesulitan lagi mencari lembar jawabannya yang lain karna setiap map sudah ada nama kelasnya.


"Wah, berarti setiap kunci jawaban dari semua mata pelajaran selalu di satukan dengan lembar jawaban para siswa! Kalau Gue tau ini sebelumnya, mungkin dari dulu Gue sudah lakuin ini dan bisa dapat nilai yang bagus!" Gumamnya.


Ia kembali mengganti jawabannya dengan kunci jawaban. Tak lupa lembar jawaban yang sudah ia kerjakan tadi siang, ia remas-remas dan di masukkan ke dalam saku jasnya.


Ia nekat melakukan aksi itu sampai hujan pun reda.


Pukul 03.15 Pagi.


Setelah selesai menyalin semua kunci jawaban selama berjam-jam dengan mata yang melek menahan kantuk. Gia langsung menguap.


"Gue pasti bakal dapat nilai 100 kali ini! Semuanya!!" Gumamnya bangga.


Setelah selesai menyalin semua kunci jawaban di setiap mata pelajaran. Ia berniat untuk pulang, tapi sebelumnya ia membereskan terlebih dahulu berkasnya supaya tak meninggalkan jejak.


Saat akan memasukkan semua berkasnya ke dalam lemari. Lembar jawaban Egi dan Adi tertinggal di meja. Gia langsung mengambilnya dan akan memasukkannya ke dalam lemari. Namun tiba-tiba sifat egoisnya mulai keluar.


"Kalau Egi sama Adi dapat nilai yang bagus, bakal ketahuan nanti kalau Gue yang berbuat licik waktu itu."


Kemudian Gia mengeluarkan semua lembar jawaban milik Egi dan Adi, lalu ia memutuskan untuk merubah jawaban milik Adi dan Egi dengan menggantinya dengan yang baru.


Semua lembar jawaban Adi dan Egi ia masukkan ke dalam saku jasnya hingga saku jasnya padat.


Gia mulai kembali membuat jawaban asal-asalan untuk lembar jawaban milik Egi dan Adi. Karna tulisan tangannya hampir mirip sama jeleknya dengan tulisan keduanya. Jadi guru manapun tak akan ada yang mencurigainya apalagi bisa membedakannya.


Ia membuat jawabannya berbeda dengan kunci jawaban agar jawaban mereka banyak yang salah.


Ia terus melakukan aksi liciknya tersebut sampai pukul 04.30 pagi.


Setelah selesai mengganti semuanya, tak ada yang ketinggalan. Gia memasukkan kembali semua lembar jawaban beserta lembar jawaban baru milik Adi dan Egi yang baru saja ia buat secara asal-asalan.


Kemudian ia bergegas pergi tanpa di ketahui satpam maupun OB atau OG yang baru saja datang.


...----------------...

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2