
Keesokan paginya.
Masih di rumah Egi.
Sebelum berangkat ke sekolah, Olivia bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan, sementara Egi masih tertidur pulas.
Sembari masih mengenakan gaun malam, Olivia berjalan menuju dapur.
Sesampainya di dapur.
Olivia kaget melihat banyak orang yang sedang merenovasi dapur Egi. Begitupun juga para tukang renovasi ikut kaget melihat keberadaan Olivia di rumah ini apalagi sepagi ini dengan memakai gaun malam.
"Non siapa?" Tanya salah satu dari mereka.
"Harusnya saya yang bertanya kalian siapa? Sedang apa di rumah ini?" Teriak Olivia dengan nada emosi.
"Kami ini tukang renovasi, den Egi yang menyuruh kami untuk memperbaiki dapur." Jawab yang tadi bertanya.
"Non sendiri siapanya den Egi? Sedang apa di rumah ini?"
"Saya pacarnya Egi!" Pekik Olivia sembari pergi tak jadi memasak.
Setelah keluar dari dapur, Olivia berpapasan dengan bi Mirah.
"Non Olivia?" Bi Mirah berdenyit kaget melihat keberadaannya.
"Bi, cepat buatkan dua piring nasi goreng pakai omelet dan dua gelas susu! Nanti bawa ke kamar." Perintah Olivia dengan nada ketus lalu kembali berjalan pergi.
Kemudian beberapa dari tukang renovasi diam-diam mulai membicarakannya.
"Wah, ternyata tuan muda di rumah ini bukan sembarang anak muda yaa."
"Iya, masih pelajar sudah gak perjaka lagi."
"Iya, gak nyangka! Ternyata gaya pacaran anak SMA sekarang kayak orang yang sudah menikah. Berbeda kayak pacaran anak zaman dulu gak ada gitu-gituan, semuanya serba di batasi."
"Itu perempuannya murahan banget, mentang-mentang pacaran sama anak orang kaya. Jadi kasihan sama orang tuanya kalau tau anaknya sudah gak perawan lagi."
"Sudah... Sudah... Jangan ngomongin lagi orang di rumah ini, nanti kalau sampai kedengaran orangnya, nanti kita gak di kasih gaji."
"Iya bener, ayo kita mulai bekerja lagi."
.....
Di kamar.
Olivia langsung melepas gaun malamnya dan melemparnya ke kasur, seketika Egi langsung terbangun kaget melihat Olivia tiba-tiba datang sambil marah-marah.
"Ada apa sayang?" Tanya Egi sembari memeluknya dari samping.
"Gapapa... Cuman aku kesal saja sama tukang renovasi di dapur kamu, tadinya aku mau masakin sarapan buat kamu, tapi mereka terus saja menggoda aku. Jadi, aku gak jadi masak gara-gara mereka." Ucapnya mengada-ada.
"Siapa yang menggoda kamu? Yang mana?"
"Banyak!" Ucapnya terus mengada-ada dengan raut wajah kesalnya.
"Ya sudah, ayo kita tidur lagi." Ucap Egi sembari menariknya untuk kembali tidur bersama. Tapi Olivia langsung menepis tangannya.
"Apa kamu mau tidur terus? Kita harus berangkat ke sekolah!" Tegas Olivia. Egi langsung berdenyit kaget, kemudian ia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi.
Egi langsung tersadar, kemudian ia langsung berdiri dan berlari ke kamar mandi untuk segera mandi.
Setelah Egi selesai mandi, Olivia langsung masuk ke dalam kamar mandi yang sama untuk mandi juga.
Sambil menunggu Olivia mandi, Egi melihat tumpukan pakaiannya yang kemarin di cuci Gia.
Egi langsung memeriksanya satu persatu, dan betapa syoknya ia melihat beberapa pakaiannya yang telah di cuci kemarin semuanya jadi berubah warna dan luntur. Kemudian ia berteriak memanggil bi Mirah.
"Bi... Bibi... Bibiii..."
"Iya den?" Dengan cepat bi Mirah datang menghampirinya.
"Ini kenapa pakaian saya jadi banyak yang luntur begini?"
"Bibi gak tau den, kemarin non Gia yang mencuci pakaiannya." Ucap bi Mirah menjelaskan. Egi langsung tersadar dan teringat pada Gia.
Egi pun seketika mulai geram. Kemudian ia menyuruh bi Mirah untuk kembali ke dapur. Setelah bi Mirah pergi, rasanya Egi ingin sekali mengamuk dan berteriak menyebut nama Gia. Namun situasi yang tak mendukung Egi untuk marah-marah sendiri, karna masih ada keberadaan Olivia di rumahnya, membuat ia harus tetap sabar menahan emosinya. Egi tak ingin terlihat emosi dan pemarah di hadapan kekasih tercintanya.
"Tadi ada apa sayang?" Tanya Olivia setelah keluar dari kamar mandi sembari mengenakan baju mandinya dengan handuk yang di lilit di kepalanya.
Tiba-tiba Egi datang menghampirinya sembari tersenyum. Ia langsung memeluk kekasihnya untuk menghilangkan rasa emosinya yang hampir membara.
"Gapapa sayang! Tadi aku suruh bi Mirah buat mengawasi tukang renovasi untuk bekerja dengan benar dan jangan menggoda kamu lagi."
"Oh begitu. Tapi ngomong-ngomong kenapa dapur kamu harus di renovasi? Padahal arsitekturnya sudah bagus banget, seharusnya gak usah di renovasi lagi."
"Iya, tapi waktu itu kebakaran." Jawab Egi jujur.
"Apa, kebakaran? Kok bisa?" Olivia berdenyit kaget.
"Iyaa."
__ADS_1
"Tapi kok bisa sayang? Gak becus banget sih bi Mirah kerjanya."
"Bukan salah bi Mirah sayang! Ini semua salahku, aku lupa mematikan kompor." Bantah Egi dengan tak mengungkapkan siapa pelaku sebenarnya.
"Oh, kamu harus hati-hati dong sayang!"
"Iya sayang. Demi kamu, aku akan coba lebih berhati-hati lagi." Ucap Egi dengan rayuannya gombalnya sembari kembali memeluknya dengan erat. Olivia percaya begitu saja dengan perkataan Egi.
*****
Di Sekolah.
Sebelum masuk ke dalam kelas. Egi kembali memarahi Gia perkara baju-bajunya yang ia cuci tak benar.
"Sudah ku bilang! Baju yang berwarna putih jangan di satukan dengan yang berwarna. Gara-gara kamu, baju aku yang berwarna jadi luntur mengenai bajuku yang berwarna putih."
"Maaf Egi, tolong jangan marah lagi. Aku janji akan mengganti baju kamu dengan baju punya ayahku. Kebetulan ayahku punya baju yang berwarna putih juga tapi mereknya beda masih merek lokal dan harganya murah."
"Masa aku harus pakai baju bapak kamu hah! Ada-ada saja." Ketus Egi.
"Maaf Egi." Ucapnya dengan wajah memelas.
"Maaf! Maaf! Terus saja minta maaf." Nyinyir Egi. Gia langsung cemberut.
Jam istirahat.
Seperti biasa, Gia menjadi asisten pribadi Egi dengan selalu membawakan tasnya maupun makanannya saat jam istirahat.
Gia merasa keberatan dan tak ikhlas melakukannya, namun mau bagaimana lagi, ia terpaksa harus menuruti semua perintahnya agar videonya tak Egi sebarkan pada para guru termasuk semua teman-temannya. Bagaimana pun ia harus tetap bersikap baik, banyak senyum, dan terlihat bersemangat di depannya demi bisa mengambil hatinya.
Karna berulang kali ia terus gagal oleh beberapa kesalahan yang dilakukannya. Sehingga membuatnya sulit mendapatkan hati Egi, tapi kali ini ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan kepercayaannya.
Karna yang ia butuhkan saat ini kepercayaan Egi, agar setelah ia sudah berhasil mendapat kepercayaannya, Gia bisa leluasa merebut ponselnya dan menghapus videonya.
.....
Di saat jam istirahat.
Hanna menghampiri Adi yang masih menjalani hukuman. Ia pun dengan baik hatinya memberi bekal makanannya.
Diam-diam mereka duduk bersama di belakang sekolah, karna kalau ada salah satu guru yang melihat mereka duduk bersama di sekitar sekolah, Hanna akan mendapat hukuman karna mendekati siswa yang sedang menjalani hukuman. Karna peraturan di sekolah ini, siswa yang sedang menjalani hukuman tak boleh di dekati maupun di ajak bicara, karna itu sama saja mengganggu siswa yang sedang menjalani hukuman yang di berikan pihak sekolah dan bagi siapapun siswa yang mendekatinya akan di hukum juga.
"Makan yang banyak ya." Ucap Hanna.
"Makasih ya." Ucap Adi sembari mengunyah makanan.
Setelah selesai makan. Mereka berbincang-bincang sembari memandang pemandangan alam di sekitar.
"Kenapa Adi?"
"Gue gak enak sama Lo! Setiap hari Lo selalu membawakan Gue makanan. Gue merasa seperti memperkerjakan Lo." Ucap Adi tertunduk malu.
"Gapapa Adi! Gue lakukan ini, karna sebagai teman yang baik, kita harus sama-sama perhatian."
"Tapi Gue gak enak Han!"
"Gapapa Adi. Jangan sungkan! Gue melakukan semua ini karna Gue perhatian sama Lo. Semua teman-teman yang lain gak ada satupun yang memperhatikan kondisi perut Lo."
"Sekali lagi, terima kasih banyak ya Han. Lo memang sahabat Gue yang terbaik." Ucap Adi tersenyum senang.
Karna selama Adi menjalani hukumannya, hanya Hanna saja yang memperhatikannya dan memberinya makan di saat jam istirahat. Setelah ia sudah tidak berbarengan lagi dengan Gia.
Hanna mengambil kesempatan bagus di saat Gia sedang menjadi asisten pribadi Egi, ia jadi bisa leluasa bertemu Adi tanpa di ketahui Gia kemana pun ia pergi.
"Sama-sama Adi! Oh ya ngomong-ngomong berapa lama Lo di skorsing? Dan sampai kapan Lo harus terus menjalani hukuman ini? Lo juga perlu kembali lagi belajar. Kalau Lo terus kayak gini, Lo gak akan dapat pelajaran dari setiap materi yang sudah di pelajari."
"Gue gak tau Han! Ini semua tergantung dari pihak sekolah. Gue harap, dengan Gue menjalani hukuman ini tanpa banyak mengeluh, pihak sekolah bisa secepatnya menghentikan skorsing buat Gue, dan Gue bisa belajar kembali."
"Malang sekali nasib Lo Adi! Lo harus menjalani skorsing dan hukuman dari setiap kesalahan yang belum pernah Lo perbuat. Padahal Gue tau, Lo gak salah, sebenarnya yang salah itu orang yang sudah mencurangi Lo saat ujian kemarin dan yang sudah menjatuhkan nama baik Lo sampai Lo kena skorsing. Seandainya Gue laporkan bukti tentang Gia lebih awal, mungkin ini semua gak akan terjadi." Ucap Hanna dengan ekspresi sedih.
"Maksud Lo apa Han? Bukti tentang Gia?" Tanya Adi dengan ekspresi kaget.
Hanna langsung tersadar dengan ucapannya, ia hampir keceplosan mengungkapkan tentang Gia yang sebenarnya pada Adi.
"Jadi Lo tau, kalau Gia memang dalangnya yang sudah mencurangi Gue saat ujian kemarin? Berarti itu semua benar dong? Lo ada buktinya?" Tanya lagi Adi. Hanna hanya tertunduk diam.
"Bukti apa yang Lo punya tentang Gia?" Adi mulai mempertanyakan. Hanna hanya diam saja tanpa menjawab.
"Jawab Han!" Tegas Adi.
"Sebenarnya..."
Saat Hanna akan mengungkapkan segalanya, tiba-tiba bel masuk kelas berbunyi. Dengan cepat Hanna berlari meninggalkan Adi sendiri.
*****
Siang hari.
__ADS_1
Setelah pulang sekolah.
Seperti biasa Gia kembali bekerja di rumah Egi. Kali ini Egi memberinya tugas mengepel lantai. Gia pun menyetujui. Lalu ia mulai mengepel sembari di awasi Egi.
Setelah Egi memperhatikan cara Gia mengepel, ia langsung berdenyit heran, karena cara Gia mengepel salah, harusnya Gia mengepel sambil berjalan mundur bukan berjalan maju seperti salah satu episode di film Upin Ipin.
"Bukan begitu cara mengepel!" Egi langsung merebut sapu pel nya.
Kemudian ia mulai memberinya contoh cara mengepel dengan baik dan benar.
"Perhatikan caranya! Begini nih, kalau kamu mengepel sambil berjalan maju begini sama saja bohong, lantai malah makin kotor bukannya bersih." Jelasnya sembari memperagakan caranya mengepel.
Bukannya memperhatikan dengan baik, tapi Gia malah menyorakinya dengan menyemangatinya sambil loncat-loncat.
"Ayo Egi terus! Pel yang di sebelah sana dan di sebelah sana juga. Ayo Egi, semangat!"
Seketika Egi langsung diam dan berbalik sembari menatap sinis ke arahnya. Gia langsung tegang sambil menelan ludah.
"Ini pel yang benar!" Pekik Egi sembari memberikan lagi sapu pel nya.
"Iya Egi."
"Bos!" Tegas Egi memperingatkannya.
"Siap bos!" Ucap Gia bersemangat sembari memberi hormat.
Gia mulai mengepel dengan baik dan benar seperti yang di contohkan Egi tadi.
Setelah memperhatikan Gia sudah bisa mengepel lantai dengan benar, Egi pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
Saat mengepel, Gia melihat ada noda kuning di lantai. Ia mulai mencoba menggosoknya dengan sapu pel, namun noda tersebut tak kunjung hilang.
"Sepertinya kurang sabun! Sok-sokan ngajarin Gue, tapi sendirinya masih salah, masa pel lantai sabunnya cuman sedikit."
Kemudian ia bergegas pergi ke kamar mandi lalu menuangkan sabunnya pada seember air.
Saat menuangkan sabun, ia tak sengaja menuangkannya terlalu banyak.
"Astaga! Kebanyakan."
Ia langsung menutup botolnya.
"Duh gimana nih, sabunnya tinggal sedikit lagi, tapi gapapa deh semakin banyak sabun, lantai bakal semakin bersih dan wangi." Gumamnya. Lalu ia keluar dan kembali mengepel.
Ia mengepel semua lantai dengan meninggalkan jejak gelembung sabun pada setiap lantai.
Di sisi lain, Egi sedang berada di ruangannya, ia sedang meredakan emosinya dengan meniup seruling.
Setelah memainkan alat musik tersebut, Egi mengambil gitarnya dan mulai memainkannya sembari menyanyikan lagu yang berjudul 'kangen' dari band dewa 19. Ia menyanyikan lagu tersebut sembari mengingat kenangan manis setiap malam bersama kekasihnya.
..."Kau berkata padaku kata cinta yang manis dalam bisikanmu......
...Kau katakan padaku saat ini kuingin hangat pelukmu......
...Dan belai lembut kasihmu......
...Takkan kulupa selamanya, saat kau ada di sisiku......
...Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya......
...Menahan rasa ingin jumpa......
...Percayalah padaku, aku pun rindu kamu, ku akan datang......
...Melepas semua kerinduan, yang terpendam..."...
.........
Setelah selesai bernyanyi, Egi bergegas ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.
30 menit kemudian...
Di bawah.
Gia masih mengepel, tiba-tiba Egi turun sembari bertanya.
"Gia, kamu masih belum selesai mengep..."
Belum selesai ia bicara. Egi malah terpeleset dan terjatuh dengan posisi miring dan siku tangan kanannya menahan lantai setelah menginjakkan kakinya di lantai yang baru saja Gia pel.
"Egiiiii..." Teriak Gia panik.
"AAKKKHHH..." Egi berteriak kesakitan.
...----------------...
__ADS_1
...Bersambung....