
...•...
...•...
...•...
Pukul 03.00 pagi.
Cerita beralih di rumah sakit ketika Egi di rawat sudah di rawat akibat salah minum obat.
Sambil berbaring lemas di ranjang pasien, pak supir menghampirinya.
"Den, apa saya harus beritahu bi Mirah kalau den saat ini sedang di rawat?"
"Gak usah pak, saya sebentar lagi akan pulang."
"Tapi den, ini kan baru satu impusan."
"Gapapa pak, saya gak mau. Orang-orang di rumah mengkhawatirkan keadaan saya." Ucap Egi lemas. Pak supir hanya terdiam mendengarkan anak majikannya itu.
"Pak, setelah pulang dari sini, bapak jangan kasih tau bi Marni dan yang lainnya, kalau saya habis di rawat."
"Baik den."
.....
Pukul 04.00 pagi.
Setelah berhasil menetralkan obat di dalam tubuhnya, Egi memutuskan untuk pulang.
Setelah sampai di rumah, Egi masuk ke dalam rumahnya lewat pintu belakang agar tak ketahuan bi Mirah maupun Olivia.
*****
Keesokkan paginya.
Egi sedang bersiap diri mengenakan seragam sekolahnya. Begitupun Olivia juga yang masih belum pulang dari rumahnya dan memilih berangkat ke sekolahnya dari rumahnya.
Setelah mengenakan seragam sekolahnya, diam-diam Egi mulai memeluk Olivia yang sedang berdandan dari belakang.
"Sayang, sekarang aku sudah sembuh kok gak mual-mual lagi." Ucap Egi.
Olivia langsung melepas pelukannya dan berbalik menatap Egi.
"Selama kamu belum pulih, aku gak akan ke rumah kamu dulu." Ucapnya dengan datar.
"Kok kamu gitu sih! Memangnya kenapa kalau aku sakit? Kamu keberatan melihatnya, atau kamu gak mau mengurus aku?"
"Dengar ya Egi! Aku ini punya kesibukkan! Aku gak bisa selalu ada buat kamu apalagi mengurus kamu yang lagi sakit." Ketus Olivia. Kemudian ia berbalik menatap cermin dan kembali berdandan.
"Ya sudah kalau begitu." Ucap Egi agak kesal.
"Ini semua salah Gia." Batin Egi.
>>
Setelah mengantar kekasihnya sampai ke sekolahnya.
Sebelum naik bus menuju sekolahnya, Egi mampir terlebih dahulu ke salah satu toilet umum, bukan untuk buang air kecil maupun BAB. Tapi di toilet, ia kembali memasang alat penyangga pada tangan kanannya karna setelah sampai di sekolah nanti, Egi akan mulai kembali melanjutkan dramanya sebagai seseorang yang tersakiti dan lemah di depan Gia.
*****
Beralih pada Gia dan keluarganya yang sedang sarapan.
"Gia, mau papa antarkan kamu ke sekolah?" Tawar ayahnya.
"Beneran pah? Papa mau antarkan Gia ke sekolah."
"Iya, mau gak?"
"Mau banget pah! Lagian selama ini Gia bosan naik taksi."
"Kok naik taksi sih? Papa kan sudah belikan kamu mobil, harusnya kamu naik mobil dong."
"Enggak di bolehin sama mama pah." Ucap Gia sambil memanyunkan bibirnya.
"Loh, kok gak boleh sih mah?"
"Pah, Gia masih belum punya SIM! Bikin KTP saja masih belum." Jelas ibunya.
"Benar juga ya yang di bilang ibu kamu!" Ucap ayahnya sambil mengunyah makanannya.
"Yah papa!" Rengek Gia manja.
"Kamu harus bikin KTP kamu dari sekarang, sebentar lagi kamu akan menginjak 18 tahun. Masa sudah 18 tahun masih belum punya KTP."
"Gia malas bikin pah." Ucap Gia.
"Loh, jangan suka malas-malasan! Gak baik! Bikin KTP itu penting buat menandakan kamu sudah sah jadi penduduk di masyarakat kita."
"Hmm... Iya pah."
__ADS_1
Saat masih sedang makan, tiba-tiba ponsel Gia berbunyi.
Gia langsung mengecek ponselnya, dan ternyata Egi yang meneleponnya.
"Siapa yang telepon?" Tanya ayahnya.
"Teman pah." Jawab Gia.
"Hanna?"
"Iya pah." Jawabnya beralasan.
"Ya sudah kalau gitu cepat angkat!"
"Iya, Gia permisi dulu ya pah."
Gia langsung bergegas pergi menuju dapur.
Di dapur.
Gia mengangkat teleponnya.
"Iya Egi?"
^^^["Gia, jangan lupa kamu bawa lagi obat yang kemarin."]^^^
"Baik Egi, aku pasti akan selalu membawanya buat kamu. Biar kamu cepat sembuh." Ucap Gia.
^^^["Kalau begitu, cepatlah berangkat."]^^^
"Baik Egi."
Egi langsung mematikan teleponnya, Gia kembali berjalan menuju ruang makan.
"Hanna bilang apa?" Tanya ayahnya kepo.
"Oh itu pah, dia nanyain tugas matematika sudah beres atau belum. Gia bilang sudah. Tapi dia belum, katanya dia mau lihat jawaban punya Gia."
"Gimana sih ceritanya, dia sendiri kan yang sudah membuat banyak perubahan buat kamu. Tapi kenapa dia jadi yang mau nyontek jawaban ke kamu? Harusnya dia bisa mengerjakannya sendiri."
"Gia gak tau pah." Ucap Gia dengan santainya sambil mengunyah makanan.
*****
Pukul 07.00 pagi.
Di sekolah.
Ayahnya mengantarkan Gia sampai ke sekolah.
"Belajar yang rajin ya nak!"
"Siap papa!" Ucap Gia sambil hormat.
"Pulangnya mau papa jemput gak?"
"Ah enggak pah! Pulangnya Gia mau mampir dulu ke rumah Hanna." Ucap Gia.
"Baik, papa pulang dulu yaa." Ayahnya mulai melajukan mobilnya.
"Hati-hati pah." Gia langsung melambaikan tangannya.
Setelah ayahnya berlalu, Gia langsung berjalan masuk ke dalam sekolah. Setelah melewati gerbang, tiba-tiba ponsel Gia berbunyi. Gia langsung mengecek ponselnya.
"Ya ampun! Egi telepon, pasti dia sudah nunggu Gue lama di halte." Gumamnya panik.
"Angkat jangan yaa? Atau Gue ke kelas duluan? Tapi kasihan Egi, tangannya masih belum. Dia pasti bakal keberatan angkat tas nya."
Tak pikir lama-lama, Gia langsung mengangkat teleponnya.
"Halo Egi."
^^^["Kamu di mana? Aku dari tadi nunggu kamu di sini?"]^^^
"Ma-maaf Egi, aku baru sampai, aku akan ke sana sekarang."
Gia langsung bergegas lari menuju halte.
.....
Di halte.
Egi dengan penampilannya tangannya pakai alat penyangga bak seorang pasien, sedang menunggu Gia di sana.
"Lama sih tuh anak? Gak becus banget kerjanya." Gumam Egi kesal.
Tak lama Gia datang sambil berlari ke arahnya.
"Maaf Egi aku telat." Ucap Gia sambil ngos-ngosan.
__ADS_1
Egi langsung menatap Gia datar.
"Kenapa Egi?" Tanya Gia kaget melihat raut wajah Egi yang kelihatan seperti sedang marah tak seperti biasanya.
"Kamu lama banget, tangan kiri aku dari tadi pegel pegang terus tas!" Bentak Egi.
"Ah maaf!"
"Susah tau gak sih, kalau cuman punya satu tangan." Egi mulai marah-marah.
"Iya maaf! Ya sudah siniin tas nya."
Gia langsung mengambil alih tas nya.
"Mana obat yang kemarin?" Pinta Egi.
"Buat apa?"
"Siniin!"
"Kamu mau minum obatnya sekarang?"
"Bukan! Aku minta kamu kembali kan obat itu!"
"Enggak! Kamu itu jorok! Simpannya suka di mana saja. Kemarin saja aku menemukan obat kamu itu di dalam kotak yang isinya balon." Ucapnya menolak. Egi semakin di buat emosi melihatnya.
"Jadi, obatnya biar aku saja yang pegang!" Lanjutnya kekeh.
"Asal kamu tau ya, sebenarnya obat itu bukan obat dari dokter!" Tegas Egi.
"Apa?" Gia langsung berdenyit heran.
"Iya! Makanya kembalikan obatnya."
"Lalu ini obat apa?" Tanya Gia sambil mengeluarkan dua bungkus obatnya dari dalam saku roknya.
"Yang jelas itu bukan obat dari dokter!" Ucap Egi sambil berusaha merebut obatnya tapi Gia tak mau memberikannya.
"Aku tanya, ini obat apa dulu? Apa jangan-jangan kamu sudah gak mau minum obat lagi?"
Egi langsung terdiam emosi dengan ucapannya.
"Jangan-jangan kamu menolak sembuh, supaya aku selalu merawat kamu. Begitu kan Egi?" Tebak Gia sambil tersenyum merekah.
Egi langsung terdiam sejenak, memikirkan jawaban apa yang akan ia jawab supaya Gia tak mencurigainya.
"Omong kosong! Asal kamu tau yaa! I-itu bukan obat dari dokter! Tapi..." Egi mulai gelagapan.
"Tapi apa?" Gia semakin di buat penasaran.
"Sebenarnya obat itu racun tikus." Jawabnya asal.
"Apaaa!" Gia langsung syok.
"Iya! Gara-gara kemarin kamu kasih obat itu ke aku. Aku jadi keracunan!" Ucap Egi penuh emosi.
"Serius?" Mendengar ucapannya, Gia langsung panik.
"Iyaaa!" Tegas Egi.
"Memangnya di rumah kamu ada tikus?" Tanya lagi Gia tak yakin.
"Banyak nanya lagi! Bukannya minta maaf."
"Ah maaf... Sumpah! Aku benar-benar gak tau. Terus bagaimana keadaan kamu sekarang? Bagaimana rasanya? Semoga kamu gak cepat mati!" Ucap Gia tambah panik.
"Banyak nanya banget sih! Siniin obatnya!"
"Aah... Lalu kenapa kemarin kamu gak kasih tau aku, kalau ini racun tikus? Aku kan gak tau."
"Seharusnya kemarin kamu perlihatkan dulu obatnya ke aku." Ucap Egi tak mau kalah.
"Ya salah kamu sendiri, seharusnya sebelum kamu minum obat, kamu lihat dulu obatnya baik-baik sebelum di minum!" Ucap Gia membela diri.
"Ya tetap saja semuanya salah kamu. Main ambil saja barang punya orang!" Egi tak mau kalah dan tetap berusaha menyalahkannya.
"Karena kemarin aku kira itu obat!"
"Asal kamu tau ya, gara-gara kamu! Semalaman aku jadi di rawat di rumah sakit, aku jadi mual-mual terus gara-gara kamu!"
"Ya kamu sendiri yang..."
Perdebatan pun akhirnya terjadi antara Gia dan Egi yang sama-sama tak mau kalah dan tetap pada pendiriannya.
Perdebatan mereka sampai menjadi tontonan banyak orang yang berada di halte. Perdebatan mereka berlangsung cukup lama sampai setengah jam lamanya.
Hingga akhirnya, pukul 07.30.
Mereka akhirnya bergegas menuju sekolah, sambil adu mulut. Meskipun begitu, Gia tetap melaksanakan tugasnya membawa tas Egi sampai ke dalam kelas.
Sesampainya di sekolah, mereka telat setengah jam. Sampai akhirnya mereka dikenai sanksi harus membayar denda sebesar 200 ribu karena sudah terlambat masuk kelas.
__ADS_1
...----------------...
...Bersambung....