
...•...
...•...
...•...
...•...
...•...
Masih di kamar mandi.
Dengan perasaan emosi yang masih belum berhenti, Gia memasukkan satu persatu bajunya dengan cepat ke dalam mesin cuci sembari marah-marah.
"Dasar cowok brengsek! Kenapa dia tega kasih makanan pemberian Gue kepada orang lain? Apa jangan-jangan, lollipop pemberian dari Gue juga waktu itu di kasih ke bi Mirah?" Gia mulai curiga.
"Ehhh... Aakhh..."
"Kalau benar, tega banget dia!." Gumamnya lagi sembari memasukkan semua bajunya lalu menutup mesin cuci tersebut dengan cara membantingnya.
Entah Ia tak ingat atau pura-pura lupa kalau baru tadi Egi baru saja memberitahunya untuk memisahkan baju yang berwarna putih dengan warna yang lainnya.
Menurut para readers, Gia lupa atau di sengaja yaa?🤔
Setelah memasukkan semua baju, ia memasukkan hampir lima liter deterjen ke dalam mesin cuci, setelah itu ia mulai menyalakannya.
Sembari menunggu, Gia mengambil ponsel di sakunya, lalu ia membuka aplikasi Dating Apps. Kini ia mulai di sibukkan kembali mencari calon pacar di aplikasi ajaib tersebut.
2 jam kemudian...
Setelah selesai mencuci, ia mengeluarkan semua bajunya untuk di jemur. Namun saat masih tengah mengeluarkan baju-bajunya, betapa kagetnya Gia melihat baju-baju Egi luntur dan berubah warna.
"Aneh banget." Gia berdenyit heran.
Lalu satu persatu ia keluarkan dengan cepat sembari mencari beberapa baju Egi yang berwarna putih.
"Semua baju yang warnanya putih kemana ya?"
Setelah mengeluarkan semuanya, Gia semakin dibuat bingung sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil terus bergumam.
"Kemana ya?"
Lalu satu persatu baju ia perhatikan.
"Perasaan tadi Gue gak lihat baju warna ungu deh, tapi kok sekarang ada. Warnanya juga pucat banget lagi." Gumamnya sembari memperhatikan baju yang lainnya."
"Dan ini juga, sejak kapan baju putih jadi berubah warna gini?"
Lalu ia kembali mengingat kata-kata Egi tadi.
"Ya Tuhan! Gawat! Gue pasti bakal di marahin lagi sama Egi. Duh, gimana nih?" Gia kembali gelisah.
"Sudah deh lebih baik jemur saja, ada bagusnya kalau baju putih jadi memiliki warna."
Sebelum menjemur, ia menghampiri dulu bi Mirah yang sedang menyapu.
"Bi, jemur bajunya di mana ya?" Tanya Gia setelah mengganti bajunya.
"Di luar saja non, di sana ada jemuran."
"Oh baiklah bi! Bibi, boleh gak aku pinjam lagi seragam punya bibi, soalnya seragam yang tadi basah."
"Boleh, tapi seragam bibi yang lainnya ukurannya besar-besar semua. Tapi non kalau mau menjemur lebih baik pakai baju biasa saja. Bibi punya baju yang seukuran dengan non."
"Oh, ya sudah gapapa bi."
Bi Mirah kembali membawanya ke kamar, dan meminjamkan bajunya.
Gia pun langsung mengganti bajunya. Setelah ganti baju, Gia memperhatikan dirinya di cermin.
"Pakai baju ini, benar-benar kelihatan seperti pembantu." Gumamnya sembari cemberut.
*****
Di luar.
Saat Gia akan menjemur pakaian, ada beberapa tukang renovasi sedang beristirahat di sana sembari memperhatikan penampilan Gia.
"Eh ada neng cantik. Mau menjemur neng?"
Gia hanya bisa cengengesan sembari mengangguk.
"Neng kembarannya NYI Iteung ya? Kabayan nya kemana neng?" Timpal satunya lagi dengan bercanda.
"Neng cantik kok kerjanya jadi pembantu sih? Mending jadi istri aa saja." Goda satunya yang berkumis tebal dan sudah paruh baya.
Mereka pun tertawa, Gia langsung nyengir melihat mereka.
Lalu tanpa berlama-lama, ia mulai menjemur semua pakaian Egi secara cepat dan asal tak bertahap, agar ia bisa secepatnya kembali masuk ke dalam dan tidak di goda terus para tukang yang sudah bapak-bapak.
.....
Di halaman belakang rumah.
Egi keluar untuk melihat beberapa tanamannya yang tadi di siram Gia.
Namun betapa syok nya Egi melihat Tanamannya tinggal tersisa setengahnya lagi.
Ia pun mulai memperhatikan satu persatu tanaman bunga yang masih ada, dan betapa terkejutnya Egi ternyata sisa tanaman bunga yang masih ada telah rusak dan batang nya di beri solatip agar tak terlihat rusak.
Seketika Egi pun mulai geram lalu dengan emosinya ia berteriak.
"GIAAAAAA..."
.....
1 jam kemudian...
Gia sedang beristirahat sembari ngopi dan duduk di sofa sambil menonton televisi, ia bergaya layaknya tuan rumah di rumahnya Egi.
Namun tiba-tiba sang pemilik rumah yaitu Egi datang menghampirinya.
"Ngapain duduk di situ?" Pekik Egi. Gia langsung kaget dan bangkit berdiri.
"Kenapa Egi? Apa aku gak boleh duduk sebentar? Aku capek!" Tanya Gia dengan wajah memelas.
"Setiap pekerjaan yang kamu kerjakan, semuanya gak ada yang benar satupun!" Ucap Egi marah.
"Memangnya pekerjaan apa lagi yang gak aku kerjakan dengan benar?" Gia berdenyit heran.
"Ayo ikut aku!" Ucapnya dengan nada emosi sembari menarik lengannya menuju halaman belakang.
__ADS_1
.....
Di halaman belakang.
Egi memperlihatkan tanamannya yang telah rusak akibat kelakuan Gia.
Gia langsung menutup mulutnya pura-pura kaget seolah-olah tak tahu apa-apa.
"Kenapa bisa begini Egi?"
"Jangan pura-pura gak tau deh! Aku sudah melihat semuanya di CCTV."
Jleeebbb!!
Gia langsung berakting menangis sembari berlutut di kaki Egi.
"Egi, aku mohon jangan marah lagi! Aku janji, aku akan menggantinya dengan Enceng gondok. Tapi asal kamu jangan marah lagi, aku mohon!"
Egi langsung menariknya berdiri sembari berkata.
"Asal kamu tau yaa, semua tanaman di sini mahal harganya. Kamu akan mengganti semua tanaman yang kamu rusak dengan Enceng gondok? Heh!" Egi langsung nyengir. Gia langsung menunduk malu.
"Oke kalau begitu, sekarang ikut denganku membeli tanaman." Ajak Egi. Gia mengangguk setuju.
Sebelum pergi, Egi menyuruh Gia kembali mengganti bajunya dengan pakaiannya. Karna mana mungkin Gia pergi keluar dengan pakaian yang agak kusut seperti seorang pembantu.
20 menit kemudian...
Setelah selesai membeli tanaman di toko terdekat, mereka mulai menanam tanaman bersama.
Egi mengajari Gia cara menanam tanaman yang baik dan benar, Gia melakukannya dengan senang sembari belajar cara menanam dan merawat tanaman.
"Apa kamu pernah menanam tanaman sebelumnya?" Tanya Egi.
"Belum, ini pertama kalinya bagi aku." Jawabnya.
"Kalau begitu, kamu harus belajar dari sekarang! Ayo masukkan satu persatu tanamannya ke dalam pot, taruh pelan-pelan jangan di tekan."
"Baik bos." Ucapnya sambil mengikuti arahan dari Egi.
.....
Setelah selesai menanam tanaman, Egi membawanya ke lantai atas, setelah itu ia memberi sapu dan kemoceng.
"Ini bersihkan semuanya."
"Tadi sudah di sapu bi Mirah." Ungkap Gia.
"Memangnya kenapa kalau di sapu lagi? Kan biar makin bersih." Ketus Egi.
"Baik Egi."
"Bos!" Tegas Egi.
"Baik bos." Ucapnya kembali hormat.
Egi pun kembali ke kamarnya. Gia mulai menyapu di sekitar luar kamar Egi.
Di kamar, Egi sedang senyum-senyum sendiri memandangi satu foto Olivia yang ia genggam. Tiba-tiba Olivia mengirim pesan mengajaknya ketemuan hari ini. Seketika Egi langsung senang sembari membalas pesan dari kekasih tercintanya.
Saat ia melepas semua pakaiannya, tanpa sengaja saat Gia sedang menyapu melewati kamarnya, betapa syok nya Gia melihat jelas Egi yang sedang tak memakai baju.
Gia pun mulai membulatkan matanya sembari menganga saking terpesonanya dengan tubuh Egi yang kekar dan berotot. Meskipun ia hanya melihat dari bagian punggungnya saja, tapi Gia berharap Egi berbalik ke depan agar ia bisa melihat dadanya yang bidang dan perutnya yang sixpack.
Sembari memperhatikan Egi yang sedang mengganti baju, tiba-tiba saat Egi akan melepas celananya, Gia langsung kaget dan berteriak.
"AAKKKHHH..."
Egi langsung kaget dengan teriakan Gia, ia pun langsung menutupi tubuhnya dengan handuk. Kemudian ia menghampiri Gia yang masih berdiri di ambang pintu.
Dengan cepat, Gia pun menutup wajahnya.
"Sedang apa kamu di situ? Mau ngintip yaa?" Tanya Egi dengan nada membentak.
"Eng-enggak! Aku baru saja lewat." Jawabnya beralasan.
Egi langsung kesal sekaligus menahan malu, karna Gia sudah melihat tubuhnya yang seksi.
"Sana, kembali bekerja!" Ucapnya sembari menutup pintu.
"Baik bos." Ucap Gia sembari masih menutup wajahnya.
Setelah mengganti pakaiannya, Egi menyemprotkan parfum sebanyak mungkin di tubuh dan pakaiannya. Lalu ia mulai bergaya di depan cermin sembari Merapikan poni.
"Sempurna." Gumamnya sembari tersenyum senang.
Sebelum pergi, ia memasukkan dulu foto Olivia di album keluarganya di lembar paling terakhir, setelah itu ia simpan di atas lemari. Lalu ia keluar dari kamarnya.
"Aku pergi dulu."
"Kemana?" Tanya Gia.
"Gak usah kepo!" Ketus Egi sembari tetap berjalan tanpa melirik sedikitpun ke arahnya.
Gia yang memperhatikan Egi yang sudah turun tangga, langsung celingak-celinguk memperhatikan kamar Egi yang pintunya masih terbuka lebar.
Lalu ia melihat ponsel Egi ada di atas meja belajar, sepertinya Egi lupa membawanya. Ini menjadi kesempatan yang bagus bagi Gia untuk menghapus video dan rekamannya.
Dengan cepat, Gia masuk ke dalam kamarnya, setelah itu ia mengambil ponselnya dan mencoba membukanya.
"Dih, pakai di password segala! Password nya apa ya?" Gumamnya kesal.
Lalu ia mulai mencoba menebak dan mengotak-atik ponsel Egi dengan mencoba memasukkan segala password yang ia ingat. Namun hasilnya nihil, beberapa password yang ia masukkan beberapa kali masih gagal.
"Apa ya password nya?"
Namun tiba-tiba album foto keluarga Egi terjatuh. Gia langsung kaget sembari menengok ke bawah.
"Buku apa ini?"
Gia langsung mengambilnya dan penasaran dengan isinya, ia langsung membukanya dan melihat-lihat.
"Ini album foto keluarganya Egi. Lihat ah! Semoga dapat jawaban biar bisa buka password hp nya." Gumamnya sembari melihat satu persatu fotonya.
.....
Di garasi.
__ADS_1
Saat Egi akan mengeluarkan mobil, tiba-tiba ia merasakan firasat yang tidak enak, lalu ia meraba sakunya mencari-cari ponselnya.
"Ponsel aku ketinggalan." Gumamnya panik.
Kemudian ia memutuskan untuk kembali masuk ke dalam sembari berlari.
.....
Masih di dalam kamar Egi.
Gia masih asik melihat satu persatu fotonya.
"Ternyata Egi waktu pas masih bayi kayak gini ya mukanya." Gumamnya sembari tertawa.
Kemudian saat ia akan melihat lembar foto yang terakhir. Tiba-tiba Egi datang dan merebut album nya. Serentak Gia langsung panik melihat keberadaannya yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.
"Beraninya kamu! Sedang apa kamu di sini?" Teriak Egi dengan emosinya.
"A-aku? Aku lagi menyapu, kebetulan album foto keluarga kamu jatuh, jadi aku mengambilnya dan melihat-lihat dulu sebentar." Jawabnya sembari cengengesan.
"Suruh siapa kamu masuk ke dalam kamarku?"
"A-aku..." Belum selesai Gia bicara, lagi-lagi Egi menyelanya dengan membentaknya.
"Diam! Gak ada yang boleh masuk ke dalam kamarku, kecuali bi Mirah. Camkan itu!"
Gia mengangguk ketakutan.
"Keluar dari kamarku!" Usir Egi. Gia langsung keluar dari kamarnya tanpa meninggalkan kata sedikitpun.
Egi langsung menyimpan album keluarganya di dalam lemari lalu ia menguncinya sembari mewaspadai Gia dari belakang. Setelah itu ia pun pergi sembari tak lupa membawa ponselnya.
Setelah keluar kamar, ia langsung mengunci pintunya. Gia langsung berbalik melihat Egi yang sedang mengunci pintu kamarnya.
"Egi, maafkan aku." Ucap Gia, Egi langsung menatap sinis ke arahnya tanpa merespon ucapannya lalu ia pergi.
*****
Pukul 17.00 sore.
Ini sudah saatnya Gia pulang,
Setelah keluar, ia melihat bi Mirah sedang kesusahan mengangkat karung yang entah isinya apa. Gia pun dengan niat hati mau membantunya.
"Biar aku bantu bi."
"Ah, gak usah non! Biar bibi saja." Tolak bi Mirah malu-malu.
"Gapapa bi! Bibi sudah tua pasti mudah capek, jadi biar aku saja yang mengangkat karungnya, karna aku masih muda, tenaga aku jauh lebih kuat beda dari bibi." Ucapnya lagi-lagi sembari menunjukkan senyumnya yang ramah.
"Baik non."
Gia langsung mencoba mengangkat karungnya, namun belum juga ke angkat, Gia keberatan mengangkat karungnya tersebut.
"Bisa gak non?"
"Bisa-bisa kok bi." Jawabnya mencoba meyakinkan.
Ia pun berusaha mengangkat karung tersebut sekuat tenaga. Namun apalah daya wanita seperti Gia yang tadinya pemalas dan suka rebahan belum terbiasa bekerja apalagi mengangkat yang berat.
Pada akhirnya, ia meminta bi Mirah untuk mengangkat karung tersebut bersama-sama. Bi Mirah langsung menertawakan kelakuannya lalu ia dan Gia mengangkat karungnya bersama-sama.
"Dulu waktu pas bibi seumuran non, bibi kuat banget angkat karung lebih berat dari ini."
"Yang benar bi?" Tanya Gia kaget dengan ekspresi capek.
"Iya non, kalau non sepertinya belum terbiasa mengangkat yang berat-berat ya, jadi gak bisa."
"Iya bi, tapi ini karungnya mau di bawa kemana?"
"Ke tong sampah non."
"Apa! Ke tong sampah? Emang ini isinya apaan bi?"
"Sampah non." Jawabnya. Seketika Gia langsung kaget sembari meneguk air liurnya.
Setelah memasukkan karung tersebut ke dalam tong sampah, Gia langsung mengelap-elap tangannya ke bajunya dengan ekspresi jijik.
Kalau sebelumnya Gia tau kalau karung tersebut berisi sampah, pasti ia takkan mau mengangkat karung tersebut.
*****
Pukul 23.00 malam.
Setelah selesai berkencan di luar, Egi mengajak kekasihnya untuk menginap lagi di rumahnya.
Di kamar.
Mereka sedang asik tiduran bersama dalam pelukan yang hangat.
"Sayang kenapa diam saja? Aku lagi pengen banget sayang." Ucap Egi memberi kode sembari masih bersandar manja di pelukannya.
"Maaf ya sayang, bukannya gak mau, tapi aku lelah." Jawabnya.
"Lelah kenapa sayang?" Egi langsung beralih menatap Olivia.
"Aku sudah lelah seharian. Aku gak mau tambah lelah lagi." Ucap Olivia sembari membalas tatapannya.
"Ya sudah kalau begitu, malam ini kita hanya tidur biasa saja. Jangan melakukan apa-apa."
"Gapapa sayang?"
Egi langsung menggenggam erat tangannya sembari berkata.
"Iya gapapa sayang. Aku tau, kamu masih lelah. Aku gak akan memaksa kamu kok." Ucapnya sembari mencium tangannya lalu menaruhnya di pipinya.
"Makasih banyak ya sayang." Ucap Olivia sembari nyosor mencium bibirnya.
Egi pun tanpa ragu-ragu langsung membalas ciumannya dengan ******* bibirnya sembari memeluk erat tubuhnya.
"Sayang, mulai sekarang kamu harus tidur bersamaku setiap malam." Ucapnya. Olivia mengangguk sambil tersenyum.
Kemudian mereka memutuskan untuk tak berhubungan badan malam ini kecuali berciuman. Mereka berciuman sepanjang malam, sampai akhirnya mereka tertidur lelap.
...----------------...
...Bersambung....
__ADS_1