
...•...
...•...
...•...
Saat akan pergi menjemput Olivia, Egi berpamitan pada bi Mirah yang sedang menyiram bunga.
"Bi, aku keluar dulu yaa."
Bi Mirah langsung memperhatikan tangan kanan Egi yang tak memakai alat penyangga, tapi bi Mirah tak kaget ataupun syok sekalipun melihatnya, karena ia sudah tau kalau Egi sudah lama sembuh.
*****
Setelah pulang dari rumah Egi.
Di rumah Gia.
Gia di sambut hangat oleh ayahnya yang sudah pulang dari luar kota.
"Papa!" Gia langsung berlari memeluknya.
"Sayang, anak papa dari mana saja? Kok baru pulang?" Tanya ayahnya.
"Gia, main dulu ke rumah Hanna pah."
"Setiap hari dia selalu main ke rumah Hanna pah." Sela ibunya datang tiba-tiba menghampiri mereka.
"Hampir setiap hari anak ini selalu pulang jam segini pah. Dulu anak ini belum pernah pulang sesore ini. Tapi sekarang? Kalau kamu main terus, sekalian saja kamu tinggal di rumah Hanna!" Lanjut ibunya marah-marah.
"Mama, jangan begitu dong! Namanya juga anak muda, kalau sudah punya sahabat pasti bakal selalu main ke rumah temennya, daripada bosan diam terus di rumah. Mama juga dulu waktu pas masih muda kayak gitu. Sampai waktu pas pacaran sama papa, mama malah cuekin papa demi bisa ngobrol sama temen mama."
"Ah papa ini, jangan inget-inget masa lalu terus! Ya gak setiap hari juga pah, setiap hari anak ini gak pernah meluangkan waktu sekalipun buat membantu mama di dapur, semenjak dia sering main ke rumah Hanna, gak ada yang bantuin mama dan nemenin mama belanja ke pasar." Ucap ibunya kesal.
"Sudah-sudah! Kan sekarang ada papa, biar papa yang bantuin segala kebutuhan mama." Ucap ayahnya mencoba menenangkannya.
"Tetap saja, minggu depan papa bakal pulang lagi." Rengek ibunya.
"Selama papa ada di sini, papa akan selalu ada buat mama." Ucap ayahnya dengan rayuan gombalnya sambil membawanya berjalan menuju kamar mereka.
Gia hanya bisa tersenyum melihat keromantisan kedua orang tuanya.
*****
Malam hari.
Setelah menjemput Olivia, seperti biasa Egi membawanya ke rumahnya.
Di sana, mereka sedang asik bermain game bersama.
"Ayo! Ayo terus!"
"Ayo sedikit lagi!"
"Yaahh..."
"Yeyy! Aku menang lagi." Seru Egi sambil mencium pipinya.
"Emmuaahhh..."
Olivia langsung cemberut sembari menatap bete pada Egi.
"Ayo main lagi!"
__ADS_1
"Gak! Aku gak mau main lagi!" Ketus Olivia.
"Kenapa sayang?" Tanya Egi sambil mengelus pipinya, Olivia langsung menepisnya.
"Sudah 4x kamu mengalahkan aku."
"Ya namanya juga permainan."
"Kalau kamu menang terus, kamu saja yang main sendiri."
"Ya sudah, kalau begitu main sekali lagi ya. Aku yakin, pasti kali ini kamu yang bakal menang."
"Kamu bohong!"
"Enggak! Aku beneran kok sayang. Ayo main lagi." Rayu Egi. Olivia pun mengangguk setuju dan kembali memainkan permainan.
Saat bermain, Olivia fokus memainkan permainannya agar bisa menang, sementara Egi sengaja memperlambat cara mainnya dengan bermain asal agar Olivia bisa memenangkan permainannya.
20 menit kemudian.
"Yeyy! Aku yang menang." Sorak Olivia senang.
"Kamu senang? Tanya Egi sambil tersenyum senang.
"Aku senang sayang!" Jawabnya.
"Ayo main lagi!" Seru Olivia. Egi langsung merebut stick wireless nya dan meletakkannya di meja.
Kemudian ia menatap Olivia sambil memeluknya.
"Sudah cukup bermainnya! Permainan sudah berakhir! Kamu gak kangen gitu di peluk sama aku?" Ucap Egi mulai mengeluarkan rayuan gombalnya.
"Kangen banget sayang! Apalagi pas kamu sakit, aku gak bisa hadir merawat kamu. Tapi aku senang melihat kamu bisa sembuh lagi."
Egi pun mulai mencium bibirnya lagi setelah sekian lama ia tidak mendapat sentuhan dari bibir Olivia.
Mereka pun kembali berciuman panas.
Namun di tengah kemesraan mereka, Egi mulai merasakan pusing dan mual.
"Kenapa sayang?" Tanya Olivia kaget.
Egi langsung bergegas lari menuju ke kamar mandi, dan mencoba memuntahkan rasa mualnya. Olivia langsung datang menyusulnya.
"Kenapa sayang?"
Egi berusaha memuntahkan isi perutnya, tapi sayangnya tidak keluar.
"Kamu kenapa sayang?" Olivia mulai panik.
"Gapapa sayang! Tiba-tiba aku merasa mual." Ucap Egi sambil memegang perutnya.
"Ya sudah kalau begitu kamu istirahat saja." Ucap Olivia sambil menuntunnya berjalan ke kamar.
Namun tiba-tiba rasa nafsu Egi pada Olivia tak bisa tertahan lagi, ia menarik tubuhnya ke dalam pelukannya lalu mulai kembali mencium bibirnya secara paksa.
"Egi, kamu kenapa?" Olivia langsung kaget setengah mati.
"Aku sudah gak kuat lagi sayang!" Ucap Egi mendesah.
Kemudian ia kembali ******* bibirnya secara paksa, sampai Olivia hampir kehabisan nafas gara-gara terus di cium Egi.
*****
Sementara di rumah Gia.
__ADS_1
Gia sedang makan malam bersama kedua orang tuanya dan adiknya.
Sambil makan, mereka semua berbincang-bincang.
"Pah, sebentar lagi Gio akan masuk asrama. Dia akan tinggal di sana sampai kelulusan nanti. Tapi di sana Gio gak di bolehkan pegang hp." Ucap ibunya memberitahu dengan nada sedih.
"Apa! Beneran mah?" Tanya Gia dengan raut wajah yang senang.
"Iya kenapa? Kamu senang adik kamu ini akan tinggal di asrama?" Nyinyir ibunya.
"Ya tentu saja senang mah! Kalau Gio sudah tinggal di asrama. Gak akan ada yang bisa gangguin Gia lagi menguasai hp nya." Ucap Gia senang.
"Pah, hp Gio di sita sama kak Gia pah buat di pakai kencan, kak Gia juga sudah ganti pola hp milik Gio. Gio jadi gak bisa pegang hp lagi pah." Ucap Gio mengadu pada ayahnya. Hingga tanpa sadar kakaknya diam-diam mengambil ayam goreng miliknya yang berada di piringnya.
"Ya biarin! Bleee..." Ledek Gia sambil menjulurkan lidahnya.
"Kamu ini selalu saja mencari kesempatan." Ucap ibunya sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan Gia yang mengambil ayam goreng milik adiknya.
"Pasti Gia senang banget mah kalau gak ada Gio. Apalagi gak akan ada yang bisa bangunin lagi dia tiap pagi." Timpal ayahnya sambil tertawa.
"Gia sekarang sering bangun pagi sendiri pah, tanpa di bangunin lagi Gio." Jelas ibunya.
"Wah, beneran mah?"
"Iya, mama jadi heran melihat perubahan anak ini yang tiba-tiba berubah secara drastis. Dia ini bangun pagi tapi pulang sore." Nyinyir ibunya.
Gia langsung cemberut sambil melahap ayam goreng hasil curiannya dari piring adiknya.
"Ya bagus kalau begitu, harusnya mama senang dengan perubahan putri kita ini. Ternyata bergaul dengan Hanna memberi perubahan yang positif untuknya. Kita harus berterima kasih padanya kalau ketemu Hanna nanti. Karna Hanna, Gia sekarang sudah jadi berubah menjadi lebih dewasa lagi dan pintar." Ucap ayahnya. Gia hanya bisa cengengesan.
"Banyaklah bergaul dengan Hanna, supaya sifat kamu makin dewasa dan lebih baik lagi." Ucap ayahnya menasehati.
"Iya pah."
"Papa, belikan kakak hp! Biar kakak gak pakai terus hp punya Gio." Pinta Gio dengan nada merengek.
"Iya nanti papa belikan pas ulang tahun kakak kamu."
"Beneran pah?" Tanya Gia senang.
"Beneran! Ya sudah cepat habiskan makanannya." Ucap ayahnya sambil kembali melahap makanannya.
"Kakak ambil ayam goreng punya Gio?" Pekik adiknya.
"Enggak!" Ucap Gia pura-pura.
"Tapi kok gak ada?"
"Makanya kalau lagi makan, jangan sambil ikutan ngobrol! Jadi di comot sama tuyul kan ayamnya." Nyinyir Gia dengan santainya sambil menghabiskan makanannya.
"Tuyul gak curi daging ayam! Ini pasti ulah kakak, kakak yang sudah curi ayam goreng punya Gio. Kakak tuyulnya!" Rengek Gio sambil mendorong-dorong bahu kakaknya.
"Sudah-sudah! Ini ambil lagi ayamnya masih banyak, kenapa cari yang gak ada." Ucap ibunya menenangkan pertikaian mereka sambil memberi se-baskom ayam goreng.
"Betul tuh! Bleee... Sana cepetan pergi ke asrama." Ledek Gia.
Gio Langsung mencubit pipi kakaknya yang terus meledeknya.
"Kalau Gio sudah pergi, kakak pasti bakal kangen sama Gio." Ucap adiknya.
Gio langsung meledek ucapan adiknya sambil mengerucutkan bibirnya.
...----------------...
...Bersambung....
__ADS_1