
...•...
...•...
...•...
...•...
...•...
"Egiiii..."
Dengan cepat Gia menghampirinya. Namun saat ia akan berlari, ia juga hampir terpeleset, untungnya ia masih bisa menyeimbangkan tubuhnya.
Agar tak terpeleset, ia mencoba berjalan pelan menghampiri Egi.
"Egi, kamu gapapa?"
"Gapapa gimana? Cepat panggil dokter sekarang!" Teriak Egi sembari meringis kesakitan memegang tangan kanannya yang cedera.
Dengan cepat Gia menghubungi pihak rumah sakit dan mengatakan untuk mendatangkan ambulans.
Setelah ambulans datang, Egi menolak di bawa ke rumah sakit karena yang cedera parah hanya tangannya saja, kalau kakinya hanya sedikit cedera sebelah tapi tak begitu parah.
Setelah ambulans pergi tanpa membawa pasien, Egi meminta bi Mirah untuk menelepon dokter langganannya.
30 menit kemudian...
Di kamar.
Setelah dokter dan perawat datang, Egi merebahkan tubuhnya di kasur dengan posisi Fowler (setengah duduk) dan dokter mulai memeriksanya.
"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Gia khawatir.
"Kakinya hanya cedera sedikit, tapi tangan kanannya mengalami patah tulang." Jawab dokter.
Gia langsung syok mendengarnya, termasuk Egi sang korban yang mulai menunjukkan ekspresi sedih sembari mencoba menahan rasa sakitnya.
Kemudian dokter mulai memasang alat penyangga pada tangan kanannya, sehingga Egi terus merasakan rasa sakit dan linu yang amat dalam saat di pasangkan alat penyangga tersebut.
Gia dan bi Mirah hanya bisa memperhatikannya dengan ekspresi wajah panik. Terutama Gia, ia panik sekaligus merasa bersalah melihat kondisi Egi yang meringis kesakitan. Ia sampai tak tega melihatnya.
"Untuk sementara tolong di jaga, jangan biarkan dia banyak bergerak dulu. Perbannya nanti harus di ganti minimal seminggu dua kali, dan jangan lupa sebelum di pasang dengan perban yang baru, oleskan salep merah terlebih dahulu, setelah itu pasang perbannya." Saran dokter pada bi Mirah dan Gia untuk menjaga Egi dengan baik sembari memberikan obatnya.
"Sampai kapan tangan saya harus memakai penyangga?" Tanya Egi sambil meringis kesakitan.
"Sampai tangan kamu kembali pulih, asal kamu harus rutin periksa minimal seminggu dua kali ke klinik. Dan ingat jangan terlalu banyak bergerak." Tegas dokter. Egi hanya bisa menghela nafas panjang sembari memasang raut wajah pasrah.
Setelah dokter dan perawat pergi.
Egi meminta bi Mirah untuk menyiapkan makanan untuknya. Dengan cepat, bi Mirah langsung bergegas pergi ke dapur. Sementara Gia masih di dalam kamar sembari memperhatikan Egi dengan raut wajah yang sedih.
Kemudian ia mendekati Egi yang terus memperhatikan tangannya yang memakai alat penyangga.
"Egi..."
__ADS_1
"Mau apa kamu?" Egi langsung sewot.
"Biasa saja ngomongnya, jangan sewot gitu." Gia langsung merengek dengan raut wajah hampir menangis.
"Apa tadi kamu menambahkan lagi sabun sampai lantainya jadi licin?"
"Iya, tapi gak terlalu banyak kok, cuman setengah botol saja."
"Setengah botol katamu? Setengah botol itu banyak banget! Itu takarannya sama saja buat lima bulan pemakaian. Pantesan lantainya jadi licin banget, kalau mau menambahkan sabun minimal satu tutup botol atau dua tutup botol saja jangan banyak-banyak!"
"Maafkan aku Egi, aku gak tau! Aku belum pernah punya pengalaman mengepel sebelumnya. Aku pikir, kalau menambahkan lebih banyak sabun, lantainya akan kelihatan jauh lebih bersih dan wangi."
"Alasan kamu ya! Emang dasarnya kamu ini benalu dan pembawa petaka di rumah ini. Ini semua salahku, karena sudah membawa orang seperti kamu kembali masuk ke rumah ini. Aku pikir kamu akan bekerja dengan baik dan lebih hati-hati lagi, ternyata kamu malah makin memperburuk keadaan." Bentak Egi, Gia langsung menangis.
"Kemarin kamu membakar dapur dan sekarang kamu membuat aku jadi cacat! Itukah bakat alami yang kamu punya selama ini? Atau kamu sudah merencanakannya dari awal?"
Gia terus menangis tanpa henti sambil mendengarkan bentakan Egi.
"Gak ada gunanya kamu menangis meskipun sekalinya kamu menangis sambil mengeluarkan darah. Emang kamu ini manusia pembawa petaka, gadis sial! orang pembawa sial seperti kamu gak pantas berada di rumah ini!" Pekiknya. Gia menunduk sembari terus menangis sesenggukan.
"Pergi dari sini! Aku gak mau lihat wajah kamu lagi! Jangan pernah kembali lagi ke rumah ini! Pergiiii!!" Teriak Egi mengusirnya.
"Maafkan aku, Egi." Ucap Gia sembari menghapus air matanya lalu berlari keluar dari kamarnya.
.....
Di ruang ganti.
Sebelum pergi dari rumahnya, Gia mengganti seragam kerjanya sembari menangis sesenggukan. Ia merasa bersalah apalagi di tambah kata-kata Egi yang menyinggungnya, membuatnya merasa sedih dan semakin merasa bersalah.
"Non, mau kemana?"
"Saya mau pulang bi."
"Oh, besok non akan ke rumah lagi?" Tanya bi Mirah. Gia langsung sedikit tersenyum sembari menggelengkan kepala sebagai jawaban tidak.
"Hmm... Sebaiknya datang saja non. Sepertinya den Egi lebih membutuhkan non di bandingkan bibi." Ucap bi Mirah sembari menggenggam tangannya.
"Enggak bi, Egi lebih membutuhkan bibi di banding aku. Aku sudah gak berguna lagi di rumah ini."
"Non jangan berkata begitu! Justru dengan adanya non di rumah ini, rumah ini jauh lebih hangat dari sebelumnya."
"Tapi bi, Egi sudah menyuruh aku buat gak datang lagi ke rumah ini." Ucapnya sembari menahan tangisnya.
"Bibi tau, saat ini perasaan den Egi sedang tidak baik-baik saja, apalagi di kondisinya yang seperti ini. Tolong non di maklumi saja perkataan den Egi, jangan dimasukkan ke dalam hati."
"Tapi ini semua salah aku, bibi!" Gia langsung mengeluarkan tangisannya yang tak bisa terbendung lagi.
"Non, yang sabar ya! Jangan menangis." Bi Mirah mencoba menenangkannya.
"Egi, sudah benar-benar marah sama aku. Aku sudah gak bisa di maafkan lagi."
"Non, tenang saja. Den Egi pasti akan memaafkan non."
"Benarkah? Tapi aku sudah melakukan banyak kesalahan, Egi pasti gak akan pernah memaafkan aku, bi."
"Den Egi pasti memaafkan non. Lebih baik besok datang lagi ke rumah ini."
__ADS_1
"Kalau Egi mengusirku lagi, bagaimana bi?"
"Gak akan non! Di saat kondisinya seperti ini, den Egi lebih membutuhkan seorang teman seperti non Gia untuk menjaganya. Lambat laun den Egi akan memaafkan non, kalau non selalu ada di sisinya."
"Tapi bi..." Belum selesai Gia bicara. Bi Mirah menyelanya.
"Non, jangan khawatir! Apapun yang terjadi bibi yang akan selalu membantu non, bibi janji! Non hanya perlu mengikuti arahan bibi saja untuk bisa mengambil hati den Egi."
Mendengar perkataan bi Mirah, Gia seperti mendapat pencerahan. Ia pun langsung tersenyum haru lalu mengangguk setuju dengan perkataan bi Mirah.
*****
Pukul 22.00 malam.
Gia masih belum tidur, ia terus memikirkan Egi.
"Besok Gue harus ke rumahnya gak ya?" Gumamnya bingung.
"Tapi Gue masih merasa bersalah banget. Gue malu kalau ke rumahnya lagi."
Kemudian ia mengambil ponselnya lalu ia mengirim pesan pada Egi.
...["Egi, bagaimana keadaan kamu? Apa kamu masih sakit? Sekali lagi maafkan aku. Aku gak bermaksud bikin kamu cedera. Aku gak sengaja. Egi, aku mohon maafkan aku. Lainkali aku akan mencoba untuk lebih hati-hati lagi. Aku janji! Aku mohon, tolong maafkan aku ya. 🙏🥺"]...
Ia langsung mengirim pesan tersebut dan berharap semoga Egi membacanya dan membalasnya.
.....
Beralih di rumah Egi.
Sementara Egi hanya melihat pesan dari Gia tanpa membalasnya sepatah katapun.
Kemudian ia memilih untuk berbalas pesan dengan Olivia.
["Sayang, kamu dimana?"]
^^^["Aku sibuk sayang. Maaf ya, aku gak bisa nginap di rumah kamu sekarang. Soalnya aku lagi banyak tugas."]^^^
["Ya sudah gapapa, sayang."]
^^^["Kamu lagi apa sekarang sayang?"]^^^
["Aku lagi kangen sama kamu. Pengen, peluk, tidur dan cium kamu lagi sayang."]
^^^["Maaf sayang, mungkin lain kali saja sayang, kalau aku sudah gak sibuk lagi."]^^^
["Iya sayang, padahal aku lagi butuh banget kamu sekarang."]
Egi mengakhiri percakapannya tanpa menunggu balasan lagi dari Olivia.
...----------------...
...Bersambung....
__ADS_1