
Beberapa hari kemudian.
Di Sekolah.
Nilai ujian tengah semester para siswa sudah di nilai. Mereka mengumumkan nilai rata-rata para siswa lewat secarik kertas yang di tempelkan di beberapa Mading di depan kelas masing-masing.
Para siswa berkerumun ingin melihat masing-masing nilai mereka.
"Apa ini?"
"Beneran?"
"Serius nih, Gue gak salah lihat?"
"Ya Tuhan! Aku gak percaya."
"Hah! Kayanya mataku salah lihat."
"Hah! Gak mungkin orang yang biasanya bodoh bisa pintar secepat itu!"
Para siswa mulai berbisik-bisik tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Ya mereka saat ini merasa aneh setelah melihat nilai ujian para siswa. Yang membuat mereka terkejut ialah nama Gia berada di peringkat teratas dengan nilai rata-rata ujian mata pelajaran 98,0. Sementara Egi sang pemenang Olimpiade matematika yang sering di juluki si Pintar mendapat peringkat paling bawah dengan nilai rata-rata 45,8. Sementara siswa pintar kedua dengan urutan nilai rata-rata paling bawah di atas Egi yaitu Adi mendapat nilai 48,8.
Sungguh ironis, kedua siswa sepintar Egi dan Adi mendapat peringkat nilai terburuk di antara para siswa bodoh lainnya. Sungguh sulit di percaya.
Para siswa mulai membicarakan Adi dan Egi. Mereka tak menyangka Adi dan Egi akan mendapat nilai terkecil. Terutama Adi teman mereka dari kelas sepuluh yang seperti mereka ketahui, ia sering mendapat nilai yang sangat bagus dengan urutan tertinggi setiap semester, itu sebabnya ia di ajukan untuk mengikuti olimpiade. Tapi sekarang? Rasanya sangat mustahil Adi mendapat nilai sekecil itu.
Apalagi yang lebih parahnya lagi Egi. Beberapa bulan yang lalu ia sempat berhasil mengalahkan Adi dalam olimpiade. Ia mulai di kenal banyak orang sebagai siswa paling pintar semenjak mengalahkan Adi dalam olimpiade. Yang kemudian membuat sekolah ini memohon-mohon agar Egi pindah dan mau bersekolah di sini. Pasti seharusnya sang juara seperti Egi lebih pintar dari Adi dan semua siswa yang lainnya. Seharusnya ia mendapat nilai ujian tertinggi bukan yang terendah.
Tak lama. Adi datang, ia melihat teman-temannya berkerumun di depan Mading.
"Sedang apa mereka? Sepertinya nilainya sudah keluar!" Gumam Adi. Lalu ia menghampiri mereka dan melihat nilainya.
Setelah melihat nilainya di mading, betapa syok nya Adi melihat namanya berada di urutan paling bawah dengan nilai terkecil.
"APA-APAAN INI?"
Semua orang langsung kaget mendengar teriakkan Adi.
"Kenapa nama Gue jadi berada di peringkat paling bawah? Kenapa nilai Gue jadi kecil begini???"
Adi langsung emosi sembari menatap sinis teman-temannya.
"Kita gak tau! Kita juga di sini kaget banget lihat nama Lo berada di urutan paling bawah." Ucap salah satu temannya dengan nada gemetar.
"Nama Egi juga berada di urutan paling bawah." Timpal yang lainnya.
"Gue gak peduli dengan nilai orang ini, tapi yang bikin Gue kaget, kenapa nilai ujian Gue jadi turun?"
Adi semakin emosi, ia mendengus kesal. Kemudian ia melihat-lihat kembali nilai-nilai para siswa. Setelah melihat semua nilai teman-temannya, betapa terkejutnya Adi melihat nama Gia yang biasanya selalu berada di urutan paling bawah kini berada di urutan paling atas dengan nilai paling tinggi.
Adi langsung menggelengkan kepala terheran-heran. Bagaimana bisa siswa sebodoh Gia tiba-tiba berada di peringkat nilai teratas dengan nilai tertinggi. Sementara dirinya si siswa yang sudah di kenal pintar sejak kelas 10 berada di peringkat paling bawah.
"Siapa guru yang sudah salah memberi nilai semua ini?" Tanya Adi pada teman-temannya dengan nada yang masih emosi.
Teman-temannya langsung menjawab dengan gelengan kepala tidak tahu.
__ADS_1
"Sepertinya mereka salah memberi nilai seseorang!"
Dengan rasa emosi yang masih menggebu-gebu, Adi langsung pergi menuju ruang guru.
Tak berselang lama. Gia dan Hanna yang baru saja tiba melihat nilai mereka di papan Mading. Saat melihat, Hanna sudah terbiasa melihat nilainya yang selalu berada di urutan paling bawah. Tapi kali ini ia sangat syok melihat nama Gia berada di peringkat teratas dengan nilai paling tinggi. Sementara Egi dan Adi berada di peringkat paling bawah. Seketika Hanna langsung melongo tak percaya.
Sementara Gia langsung senang tak karuan melihat namanya berada di urutan teratas dengan nilai rata-rata paling tinggi. Ia langsung membungkam mulutnya dan tertawa bahagia, karena apa yang ia harapkan dan sudah ia rencanakan benar-benar sesuai ekspektasi.
"Gi-Gia?" Ucap Hanna gemetar. Gia langsung menatap senang Hanna.
"Cubit Gue atau tabok Gue! Ini beneran kan?"
Sesuai permintaan, tanpa aba-aba Gia langsung menabok pipi Hanna dengan keras sehingga Hanna merasakan rasa perih di pipi.
"Ya beneran lah! Nih Lo lihat sendiri! Nama Gue berada di peringkat paling atas dan nama Lo berada di peringkat paling bawah. Bleee!" Ucap Gia dengan sombongnya sembari menarik dagu Hanna ke depan.
"Aneh! Kok tiba-tiba Lo bisa dapat nilai paling tinggi? Biasanya Lo selalu dapat nilai paling bawah!"
"Memangnya orang bodoh bakal bodoh seterusnya gitu? Ya orang bodoh juga bisa jadi pintar kali! Bleee!"
"Dan orang pintar bisa berubah jadi bodoh gitu?" Tanya Hanna terheran-heran.
"Maksud Lo?" Gia langsung berdenyit heran.
"Lihat nama Adi dan Egi berada di peringkat paling bawah. Mereka kan pintar! Kok bisa-bisanya nilai mereka berada di peringkat paling bawah? Sementara Lo berada di peringkat paling atas."
Gia langsung kaget, lalu ia melihat kembali nilai-nilai para siswa. Dan ia langsung kaget tak percaya melihat nama Adi dan Egi berada di peringkat paling bawah dengan nilai rata-rata terkecil.
Gia langsung menelan salivanya, ia tak percaya dengan apa yang ia lihat, kemudian ia mengucek-ngucek matanya memastikan ini benar atau tidaknya.
"Kok mereka bisa ada di urutan terbawah yah?" Hanna semakin heran tak percaya.
.....
Adi mulai mengeluh pada para guru yang sedang duduk. Di antaranya Pak Wiryo, Bu Ratna, Bu Mirda, Bu Ranti dan pak Wiranto.
"Pak? Bu? Apa-apaan ini! Kenapa nilai saya berada di urutan paling bawah? Biasanya saya selalu mendapat nilai di peringkat paling atas!"
"Seharusnya kami yang bertanya! Kenapa kamu bisa mendapat nilai sekecil itu?" Ucap Bu Mirda dengan menekankan suaranya.
"Apa? Kenapa ibu jadi bertanya balik begitu kepada saya?" Adi langsung berdenyit heran.
"Lihat ini!"
Pak Wiryo langsung emosi sembari melempar beberapa lembar ujian Adi yang sudah di beri nilai.
Dengan cepat, Adi langsung melihat lembar ujiannya satu persatu. Dan kebanyakan dari semuanya mendapat nilai paling buruk sebagiannya lagi mendapat nilai yang bagus. Tak ada rasa aneh pada Adi setelah melihat tulisannya.
"Sebagian dari mata pelajarannya, nilai kamu oke-oke saja. Tapi untuk mata pelajaran yang sebagiannya? Kamu mendapat nilai yang paling buruk!" Ucap Bu Ratna.
"Bagaimana kamu bisa mendapat nilai sekecil itu di mata pelajaran tersebut? Sementara dulu saat kamu masih kelas 10, kamu sering mendapat nilai tertinggi. Tapi sekarang saat setelah kelas 11?" Ucap bu Ranti terheran-heran.
"Bagaimana kamu bisa mengikuti olimpiade berikutnya? Kalau kamu sendiri nilai ujiannya berubah jadi jeblok begini!" Ucap Bu Ratna dengan nada menegur.
"Kamu ini sebelum ujian, belajar dulu atau tidak?" Tanya pak Wiryo penuh penekanan.
__ADS_1
"Pak, bu, sepertinya ada kesalahan dalam penilaian. Coba ibu dan bapak periksa kembali nilai saya!" Pinta Adi.
"Sudah jelas nilai kamu segitu! Masih saja..."
Percekcokan pun di mulai antara Adi dan para guru.
.....
Pukul 09.30 pagi.
Egi baru saja tiba, ia berjalan menelusuri koridor menuju kelas. Ia sengaja datang agak siang. Karna ia tahu kalau hari ini hanya pembagian nilai saja.
Kemudian dua orang laki-laki yang merupakan teman sekelasnya mencegat Egi.
"Egi, Lo gila ya?" Ucap Sean yang merupakan siswa terpintar ketiga yang pernah mendampingi Adi dalam mengikuti olimpiade.
Ucapan Sean, membuat Egi berdenyit heran.
"Gak nyangka ya, orang yang berhasil mengalahkan nama baik sekolah kita dulu. Sekarang nilai ujiannya dapat nilai jeblok." Timpal Ditto si siswa terpintar keempat dengan tatapannya yang sinis.
"Kalian ini ngomong apa? Tiba-tiba datang-datang menghampiri Gue cuman buat ngomong yang gak jelas." Ucap Egi kesal.
"Gak jelas kata Lo? Lo yang gak jelas!" Sean langsung membentak Egi dengan cipratan air liur yang keluar dari mulutnya. Egi langsung mengusap air liur yang berhasil meludahi wajahnya.
Sementara Ditto mulai memasang wajah bullying. Ia mendorong bahu Egi dengan kasar sembari mengatainya.
"Bisa-bisanya orang bodoh kayak Lo mengikuti olimpiade antar sekolah dan berhasil mengalahkan sekolah kita."
Sean turut ikut membully Egi dengan menarik kerahnya sembari mengatainya.
"Jangan-jangan ada campur tangan atau sogokan."
Egi langsung mencengkram tangan Sean dan melepaskan tangannya dari kerahnya.
"Kalian berdua jangan bicara omong kosong ya! Selama ini Gue gak pernah sekalipun ngomong apalagi sok akrab sama kalian! Dan kalian sekalinya ngomong sama Gue cuman buat membully Gue doang. Salah Gue di sini apa?"
Egi langsung naik pitam. Pasalnya Egi dan kedua orang ini memang tidak pernah akrab apalagi saling bicara. Selama ini Egi si introver lebih memilih diam menyendiri ketimbang berkumpul dengan teman-teman sekelasnya. Sekalipun ia bicara, kalau ada yang mengajaknya ngobrol.
"Masalahnya? Karna nilai ujian Lo jeblok! Lo tau jeblok?" Sean langsung menunjuk-nunjuk kepala Egi.
"Lo lihat sendiri nilai Lo di Mading! Kalau Lo sudah lihat nilai Lo, pikir lagi sebelum Lo ikut olimpiade berikutnya dan kembali lanjut di sekolah ini. Karna sekolah ini hanya menerima orang-orang yang pintar saja! Bukan orang yang bodoh!" Ucap Ditto.
Sean dan Ditto langsung tertawa meledek dengan tatapan yang sinis pada Egi. Lalu mereka pergi meninggalkannya. Egi yang semakin penasaran langsung berlari cepat menuju papan mading.
Sesampainya di depan mading, ia langsung melihat nilainya.
Dan benar saja, nilai rata-rata Egi jeblok dan berada di urutan paling bawah. Egi langsung syok.
Kemudian ia menggosok-gosok matanya untuk memastikan ia tak salah lihat.
Tapi apalah daya kenyataan tetaplah kenyataan. Seketika Egi langsung tak berdaya dan berjalan mundur perlahan-lahan dengan tatapan yang kosong.
"Gak! Gak mungkin."
...----------------...
__ADS_1
...Bersambung....