
Setelah liburan selama 2 Minggu lamanya, sekolah pun kembali di mulai.
"Wah Gi, hebat banget Lo ngadain pesta selama dua Minggu. Gue selalu kenyang kalau pergi ke pesta Lo. Kalau boleh tau itu semua pakai duit bokap Lo kan?" Tanya Hanna penasaran sembari berjalan beriringan dengan Gia menuju kelas.
"Mmm..." Gia bingung harus menjawab apa? Padahal sebenarnya memang benar kalau itu pakai uang dari ATM milik kedua orangtuanya.
Setelah sampai di kelas, Gia berjalan menuju bangkunya. Sambil berjalan ia melihat bangku Egi yang masih kosong.
"Egi kemana yaa?? Pasti dia terlambat lagi." Batin Gia.
Selama belajar, istirahat, sampai pulang sekolah pun. Egi tak ada masuk kelas sama sekali. Gia langsung di buat bingung dan bertanya-tanya dalam benaknya.
"Kenapa Egi tak masuk kelas hari ini?"
Kemudian sebagai sesi absensi di kelasnya, Gia bertanya mengenai Egi pada Hanna
"Han, kenapa si Egi gak masuk yaa? Gue harus masukin absen apa nih? Izin, alpha, atau sakit?"
"Gue gak tau Gi!"
"Lo punya nomor WA nya gak? Kalau Lo ada, coba Lo chat Egi!"
"Gak ada Gi, semua murid di sini gak ada yang punya nomornya. Soalnya si Egi itukan orangnya privasi." Jelas Hanna. Gia hanya bisa diam mendengarkan tanpa menjawab.
"Ya sudah! Lo alphain saja si Egi. Apa susahnya? Dia kan gak ada kabar."
Dengan berat hati, Gia langsung menulis "Alpha" di absen nama Egi.
Saat akan pulang, Hanna pamit pulang duluan karna ayahnya menjemputnya menggunakan mobil.
"Gue pulang duluan ya Gi!"
"Hati-hati Han!"
Setelah Hanna berlalu pergi. Gia kembali berjalan menelusuri koridor sembari melamunkan Egi.
"Kok Egi gak masuk yaa?? Kesel banget deh!" Gumam Gia sedih.
"Sudah dua Minggu gak lihat Egi rasanya kayak 20 tahun gak ketemu Egi." Gumamnya lagi.
Tak lama Elis datang menghampirinya.
"Giaa!!"
"Mau ngapain Lo?" Tanya Gia dengan nada ketus.
"Transfer Gue duit lagi dong!" Pinta Elis.
"Apa? Transfer duit? Tapi kan ini belum sebulan kok Lo sudah minta transfer lagi??"
"Nyokap Gue lagi sakit Gi, Gue harus antar nyokap Gue sekarang ke rumah sakit. Sementara Gue gak ada duit. Lo kan tau sendiri kalau bokap Gue di penjara." Jelas Elis.
"Gue mohon Gi!" Pinta Elis memaksa dengan wajah memelas. Gia hanya bisa diam saja menghiraukan permintaan Elis.
"Kalau Lo gak transfer Gue! Gue bakal sebarin video Lo ke semua orang sekarang." Ancam Elis.
"Ah iya-iya okee! Ayo ikut Gue ke bank!" Gia mengabulkan permintaan Elis dengan raut wajah yang kesal di campur panik.
Gia dan Elis pun pergi ke bank.
*****
Keesokan harinya.
Masih tetap sama, Egi tetap tidak masuk kelas. Gia semakin di buat cemberut sembari duduk di bangkunya.
"Egi kemana ya?" Batin Gia bertanya-tanya.
Gia terus cemberut hingga pelajaran pun di mulai.
Saat belajar, Gia terus melamunkan Egi sampai ia tak fokus dalam belajar.
Hanna yang melihat Gia melamun langsung menyenggol lengannya yang sedang menahan dagu. Gia langsung kaget sambil menatap kesal Hanna.
"Syuttttt!! Perhatikan ke depan!" Bisik Hanna agar Gia memperhatikan Guru yang sedang menerangkan pelajaran di papan tulis.
"Jangan melamun terus! Nanti ke masukkan setan, bakal kesurupan Lo!" Tegas Hanna.
"Gue gak melamun kok!" Bantah Gia dengan nada kesal.
Sebenarnya Hanna sudah mengetahui kalau Gia saat ini sedang melamun kan Egi.
.....
Pulang sekolah.
Gia di panggil ke ruang guru. Sementara Hanna kembali di jemput ayahnya pulang, ia pun tak lupa berpamitan dengan Gia sebelum Gia masuk ke dalam ruang guru.
__ADS_1
Di Ruang guru.
Gia duduk berhadapan dengan Bu Ratna.
Saat duduk berhadapan dengan wali kelas saja, Gia tetap melamun. Sehingga Bu Ratna berdenyit heran melihat tingkah Gia hari ini.
"Gia?" Panggil Bu Ratna.
"Iya Bu!" Gia mendongak kaget.
"Kenapa melamun?" Tanya Bu Ratna. Gia langsung cengengesan.
"Kepala saya pusing Bu!" Jawabnya beralasan.
"Pusing kenapa?" Tanya lagi Bu Ratna.
"Saya tidak tau Bu, mungkin ini efek dari kebanyakan belajar." Jawabnya beralasan lagi. Dan lagi-lagi penuh kebohongan.
"Oh, sekarang kamu sudah mulai rajin belajar yaa." Puji Bu Ratna. Gia langsung terkekeh.
"Kalau boleh tau, ada apa ibu memanggil saya?" Tanya Gia langsung ke intinya karna ia tak ingin berlama-lama ada di sini.
"Jadi begini, berhubungan dengan nilai kamu kemarin, pak kepala sekolah sudah mengetahuinya. Bapak sangat bangga dan tak menyangka karena baru kali ini ada murid yang berhasil mendapat nilai 100 di semua mata pelajaran saat ujian." Jelas Bu Ratna. Gia hanya diam menyimak.
"Gia? Kemarin sempat di adakan rapat guru. Kami membicarakan tentang perubahan kamu dalam belajar yang sangat meningkat secara drastis dalam waktu yang singkat. Kamu mendapat nilai yang bagus terutama pelajaran matematika. Jadi kami memutuskan untuk mengikutsertakan kamu untuk mengikuti olimpiade menggantikan Adi dan Egi." Ujar Bu Ratna.
Jleeebbb!
Gia langsung syok dengan tatapan yang melotot.
"Jadi bagaimana? Apa kamu bersedia mengikuti olimpiade?"
Degg.
...Degg....
Jantung Gia berdegup kencang. Dan tangan beserta kakinya bergetar hebat.
"Ada apa? Kenapa kamu diam saja." Tanya Bu Ratna heran.
"Gue harus jawab apa nih? Gue gak mau ikut olimpiade." Batin Gia panik.
"Eeee, Olimpiade apa ya Bu?" Tanya Gia gemetar.
"Olimpiade matematika!"
Degg.
...Degg....
Gia semakin di buat deg-degan mendengarnya.
"Gilaa!! Matematika?? Gue kan gak bisa." Batinnya.
"Ah, maaf Bu! Tapi saya masih belum cukup pintar untuk mengikuti olimpiade." Tolak Gia dengan alasan yang cukup logis.
"Kamu sudah pintar Gia! Buktinya kamu bisa mengalahkan semua teman-teman kamu dalam mengerjakan ujian kemarin."
Degg.
...Degg....
Jantung Gia semakin berdegup kencang. Keringat mulai mengucur deras dari keningnya.
"Kamu jangan khawatir Gia, saat olimpiade nanti kamu akan bersanding dengan Sean dan Ditto." Jelas Bu Ratna.
Gia bingung harus menjawab apa? Bagaimana ia bisa mengikuti olimpiade sementara dirinya masih bodoh dalam pembelajaran, apalagi matematika.
"Olimpiadenya kapan Bu?"
"3 bulan lagi! Kamu tenang saja! Kamu masih ada waktu untuk belajar."
Setelah selesai berbincang-bincang dengan Bu Ratna. Gia kembali berjalan lesu.
"Gimana ini?" Gumamnya sedih.
Rasanya ingin sekali ia menjerit dan menangis sejadi-jadinya.
Sebenarnya yang ia inginkan hanyalah mendapat nilai yang sempurna dalam ujian agar bisa membuat ayah dan ibunya bangga. Tapi mengapa hasil usahanya dalam berbuat curang malah mengantarnya untuk mengikuti olimpiade.
.....
Di Taman sekitar sekolah.
Saat masih berjalan, Gia terus melamun memikirkan nasibnya ke depan. Saking asiknya melamun, tanpa sengaja ia bersenggolan dengan seorang pemuda.
"So-sorry!" Ucap Gia sembari melihat wajah pemuda itu. Namun betapa terkejutnya Gia, ternyata pemuda yang di senggolnya yaitu Egi.
__ADS_1
"Egiii!!!" Seru Gia senang.
"Gia!" Ucap Egi kaget.
"Kamu di sini? Kamu kemana saja? Kok gak masuk-masuk?" Tanya Gia langsung mempertanyakan. Egi langsung diam sambil terkekeh.
"Aku sampai alphain absen kamu selama 2 hari terakhir. Kamu kemana saja sih? Kamu sakit?" Tanyanya lagi sambil memperhatikan penampilan Egi dari bawah sampai atas hanya memakai celana jeans dan jaket Hoodie saja beserta topi hitam yang di kenakan nya.
Egi tak menjawab pertanyaan Gia. Ia malah mengajak Gia untuk duduk di bangku taman.
Setelah duduk di bangku taman, Egi mulai menjawab pertanyaan Gia tadi.
"Sebenarnya aku mau pindah!"
"Apa? Pindah?" Gia mendongak kaget. Egi mengangguk.
"Kenapa pindah?" Tanya Gia dengan nada membentak.
"Sekolah ini gak cocok buat aku." Jawabnya beralasan. Gia langsung terkekeh dengan raut wajah yang mulai sedih.
"Kamu pasti bercanda kan?" Ucap Gia mencoba meyakinkan diri kalau Egi hanyalah sekedar bercanda.
"Aku gak bercanda! Buat apa bercanda? Selama ini aku gak pernah mengajak orang bercanda karna aku ini orangnya serius.
Mendengar pernyataan Egi, seketika membuat Gia mulai sedih.
"Tapi pindah kemana?" Tanya Gia sembari menahan rasa sedih yang tertahan di dada.
"Aku mau kembali ke sekolahku yang dulu." Jawab Egi dengan raut wajah biasa saja.
Mendengar jawaban dari Egi. Gia langsung sakit hati, tak terasa air mata mulai mengalir membasahi pipinya. Rasa sedih sudah tak bisa terbendung lagi.
"Huft!! Jangan pindaahh!" Cegah Gia dengan nada rendah sambil menunjukkan ekspresi sedih. Egi langsung terkejut melihat Gia yang mulai berderai air mata.
"Gi-Gia, jangan menangis!" Egi mencoba menenangkan Gia.
"Hikks! Hikks! Hikks!! Jangaann pindaahhh!!!"
Pekik Gia sambil menangis sejadi-jadinya sambil berlutut di kaki Egi. Air mata pun sudah tak dapat terbendung lagi, ia terus menangis.
Sepertinya Gia sudah tak punya harga diri lagi menangis sambil berlutut di kaki Egi.
Egi pun semakin di buat kaget dan terheran-heran melihat tingkah Gia yang mencegahnya untuk pindah sambil menangis histeris.
"Jangan pindah Egi! Kenapa kamu pindah? Sekolah sebagus ini kenapa kamu harus memilih untuk pindah? Kamu kan harus ikut olimpiade." Ucap Gia sambil terus menangis.
"Gak Gia! Semua guru di sini sudah gak mempercayai aku. Itu sebabnya aku memilih untuk pindah." Ucap Egi dengan lesu.
Gia langsung menghapus air matanya dan kembali duduk di samping Egi sambil merangkul pergelangan tangannya.
"Setidaknya, kalau kamu tidak bisa ikut olimpiade. Kamu kan masih bisa bersekolah di sini!"
Egi hanya bisa terkekeh dengan ekspresi sedih yang sulit di tunjukkan.
"Aku memang masih bisa bersekolah di sini, tapi tetap saja aku harus membayar semua biaya sekolah ini. Sekolah ini terlalu mahal untukku." Ucapnya beralasan.
Sebenarnya Egi masih mampu membayar biaya sekolah ini berapapun itu. Tapi egonya yang sudah sakit hati dengan perkataan Bu Ratna waktu itu. Mengurungkannya untuk tak kembali lanjut bersekolah di sini.
"Gapapa Egi! Kamu gak usah pindah! Aku yang akan membayar semuanya! Aku yang tanggung! Kamu gak usah khawatir!" Ucap Gia dengan lantang.
Egi semakin terheran-heran dengan tingkah Gia yang terus saja mencegahnya untuk pindah.
"Tapi aku sudah mengisi surat kepindahannya." Ucap Egi sembari menunjukkan surat yang sudah di bungkus amplop coklat.
Dengan cepat, Gia langsung merebut suratnya dari tangan Egi lalu merobek-robek surat itu di depannya.
Egi semakin di buat geleng-geleng kepala melihat kelakuan Gia yang semakin aneh.
"Ayo Egi, kita ke ruang guru sekarang! Kamu tenang saja, aku yang akan membayar seluruh biaya sekolah kamu hingga seterusnya sampai kelulusan. Aku janji!" Ucap Gia teguh sembari menggiring Egi menuju ruang guru.
.....
Sesampainya di ruang guru.
Gia berlutut sambil memohon-mohon pada Bu Ratna dan semua guru yang ada di sana untuk tak memindahkan Egi kembali ke sekolah asalnya. Gia menangis sembari terus memohon-mohon.
Para guru di buat terheran-heran melihat kelakuan Gia.
"Saya janji Bu, saya akan membiayai semua kebutuhan Egi di sekolah ini. Asalkan Egi tetap bersekolah di sini. Saya mohon Bu! Saya mohon!" Gia terus memohon sambil berlutut dan menangis tersedu-sedu.
Bu Ratna dan semua guru langsung mengalihkan pandangannya ke arah Egi.
Egi langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain dan semakin di buat bingung dan malu, mengapa Gia melakukan semua ini untuknya?
...----------------...
...Bersambung....
__ADS_1