AFTERNOON WITH YOU

AFTERNOON WITH YOU
Kepergok.


__ADS_3

Hari Minggu.


Seperti biasa Gia datang ke rumah Egi untuk merawatnya. Di hari libur ia memutuskan untuk datang lebih pagi dari biasanya.


Setelah sampai di rumah Egi, ia nyelonong masuk ke dalam kamarnya. Lalu ia memperhatikan Egi dari ambang pintu masih belum terbangun dari tidurnya.


Setelah lama memperhatikannya, Egi mulai bangun dari tidurnya, Gia pun mendekatinya dan mengejutkannya.



"Selamat pagi!"


Sontak Egi pun terbangun kaget.


"Ka-kamu? Ngapain kamu di sini?"


"Mau merawat kamu." Jawabnya sambil duduk di kasurnya.


"Kenapa datang sepagi ini?"


"Memangnya kenapa? Harusnya kamu senang dong aku datang lebih dari tepat waktu."


"Ya gak sepagi ini juga, kamu lihat! Ini baru jam 6 pagi."


"Ya maaf! Sebenarnya aku juga gak biasa bangun pagi saat weekend, tapi entah kenapa akhir-akhir ini semenjak kamu sakit, aku jadi semangat bangun pagi buat merawat kamu."


Mendengar kesungguhan Gia, membuat Egi mulai terbawa perasaan. Ia tak menyangka seseorang seperti Gia memiliki hati yang tulus ingin merawatnya sampai sembuh. Meskipun begitu, ia masih tetap mengharapkan kehadiran Olivia di saat kondisinya masih seperti ini.


"Kamu mau mandi dulu atau mau sarapan dulu?" Tanya Gia memberi dua pilihan.


"Sarapan dulu." Jawab Egi.


"Ya sudah kalau begitu kamu cuci muka dulu, aku mau ke dapur mengambil sarapan."


Egi mengangguk. Gia pun keluar dari kamarnya. Setelah Gia keluar, Egi mengecek ponselnya dan mengharapkan balasan dari Olivia.


Egi langsung menghela nafas.


"Kemana dia?" Gumamnya.


Setelah mengambil sarapan untuk Egi, Gia membawanya ke dalam kamarnya dan mulai menyuapinya.


"Ini, makan yang banyak yaa! Biar kamu tetap sehat." Ucap Gia sembari menyuapinya.


Egi mengangguk sambil menerima suapan dari tangannya.


"Kamu kenapa?" Tanya Gia melihat ekspresi Egi yang sedih.


"Aku gapapa." Jawab Egi.


"Kalau ada masalah, cerita saja! Siapa tau aku bisa membantu kamu." Ucap Gia sambil menggenggam tangannya.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu?"


"Apa?"


"Apa kamu ikhlas mengurusku?" Tanya Egi, seketika membuat Gia berdenyit heran.


"Ya tentu saja ikhlas, kondisi kamu seperti ini semua gara-gara aku. Jadi aku harus bertanggung jawab mengurus kamu sampai kamu sembuh." Jelasnya.


"Makasih yaa!" Ucap Egi.


"Sama-sama." Sahut Gia sambil menyuapinya lagi.


*****


Keesokkan paginya.


Hari masih libur dikarenakan tanggal merah.

__ADS_1


Di hari liburnya, Gia lebih memilih merawat Egi. Ia juga mengantar Egi untuk memeriksanya ke rumah sakit.


"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Gia.


"Kondisi tangannya masih belum cukup pulih, dia harus selalu memakai penyangga."


"Sampai kapan tangannya bisa sembuh."


"Kita tunggu saja minimal 3 bulan atau maksimal 6 bulan."


Setelah selesai di periksa, mereka keluar ruangan. Ucapan dokter membuat Egi seketika mulai lemas sehingga ia meminta Gia untuk membelikannya minuman sementara ia akan menunggunya di kursi antrian.


Gia mengangguk setuju dan pergi untuk membeli minuman.


Setelah Gia pergi. Sambil duduk, Egi memperhatikan beberapa pasien yang sedang mengantri menuju ruang dokter. Kemudian matanya tertuju pada seorang pria yang sedang memberi keranjang buah pada seorang wanita yang wajahnya tak asing lagi ia lihat.



Setelah memperhatikan orang tersebut, betapa syok nya Egi melihat ternyata itu adalah Olivia yang sedang berdiri tak jauh dari pandangannya. Sementara Olivia juga kaget melihat keberadaan Egi di sana.



Mereka pun saling bertatapan dalam jarak yang tak cukup jauh.


Kemudian Egi menghampirinya.


"Sayang, kamu sedang apa disini?" Tanya Egi.


"A-aku...?" Tiba-tiba Olivia gelagapan.


"Siapa dia?" Tanya Egi sambil menunjuk pria yang berada di sampingnya.



"Halo Egi! Kamu pasti Egi pacarnya Olivia kan?" Sapa pria tersebut tiba-tiba.


"Kenalin aku Evan, aku teman sekelasnya Olivia." Ucapnya memperkenalkan diri sambil mengajaknya berjabat tangan.


Mereka berdua pun saling berjabat tangan.


"Maaf pakai tangan kiri." Ucap Egi grogi.


"Gapapa... Olivia sering banget membicarakan tentang kamu, dia bilang kamu itu cowok yang baik dan romantis." Ujar Evan. Olivia langsung tertawa malu-malu.


"Tangan kamu kenapa sayang?" Tanya Olivia khawatir.


"Ini, waktu itu aku jatuh di kamar mandi." Jawab Egi beralasan.


"Terus gimana? Kenapa bisa jatuh?" Tanya Olivia panik.


"Lantainya licin." Jawabnya beralasan lagi.


"Maaf sayang, aku gak bisa ke rumah kamu lagi. Akhir-akhir ini aku sibuk banget." Ucap Olivia dengan ekspresi sedih.


"Ya gapapa sayang... Aku ngerti kok." Ucap Egi memakluminya.


"Ngomong-ngomong kalian sedang apa di sini?" Lanjut Egi bertanya.


"Kami di sini mau menjenguk teman kami yang di rawat di sini. Kamu mau ikut bersama kami?" Jawab Evan sambil mengajaknya untuk ikut menjenguk.


"Ah enggak! Aku harus segera pulang, dokter sudah menyuruhku untuk banyak istirahat."


"Ya sudah kalau begitu, cepat sembuh ya Egi." Ucap Evan mendoakan.


"Terima kasih." Balas Egi.


"Hati-hati ya!" Ucap Olivia.


"Iya." Egi mengangguk lalu ia berjalan pergi.

__ADS_1


Sambil berjalan, ia kembali melihat ke belakang, memantau pergerakan Olivia dan Evan yang sudah masuk ke dalam ruangan pasien.


Kemudian Egi kembali berbalik dan berjalan pergi.


.....


Di luar.


Di sebuah kantin yang berada di rumah sakit. Gia sedang mengantri membeli minuman.


"Lama banget sih."


Setelah berlama-lama mengantri, akhirnya ia berhasil membeli sebotol minuman. Ia pun langsung bergegas kembali.


Setelah kembali masuk ke dalam rumah sakit, ia tak menemukan Egi.


"Egi kemana ya? Katanya dia mau nunggu di sini."


Gia kembali berjalan keluar dan mulai mencarinya.


"Egi kemana?" Gumamnya sambil mencari-cari.


Tak lama, Egi menghampirinya dengan mengagetkannya dari samping.



"Kenapa lama banget!"


Gia langsung berdenyit kaget.


"Maaf ya lama, soalnya di kantinnya penuh, banyak yang mengantri." Jawab Gia.


"Lainkali kalau penuh sebaiknya gak usah beli, daripada nunggu lama." Saran Egi.


"Maaf Egi, tapi aku rela mengantri lama demi bisa membeli minuman, daripada aku harus melihat kamu kehausan." Ucap Gia perhatian, sehingga membuat Egi jadi gugup.



"Mau aku bukain minumannya?"


Egi mengangguk.


Gia langsung membukakan tutup botolnya.


"Ini minumlah yang banyak." Ucap Gia sambil memberikan minumannya.


"Kamu mau minum juga?" Tawar Egi sebelum ia meneguk minumannya.


"Enggak! Aku gak haus." Tolak Gia pura-pura tidak haus.


Tapi Egi mempunyai bakat mengekspresikan wajah seseorang, ia tau kalau Gia hanya beralasan saja.


"Jangan bohong! Gak mungkin ada orang yang bisa menahan rasa haus di dunia ini, apalagi di cuaca yang sedang panas begini." Cibir Egi. Gia langsung cengengesan.


"Ayo, kamu dulu yang minum."


Egi memaksanya untuk minum, karna ia juga tak mau kalah perhatian dari Gia.


Gia langsung meminum setengahnya. Kemudian memberikannya lagi pada Egi.


Egi pun langsung menghabiskan minumannya meskipun itu bekas Gia.


"Ayo kita pulang." Seru Egi.


"Ayoo!" Sahut Gia.


...----------------...


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2