AFTERNOON WITH YOU

AFTERNOON WITH YOU
Hanya Gia.


__ADS_3

...•...


...•...


...•...


Setelah pulang dari klinik.


Gia kembali menyuapi Egi lagi di rumahnya.


"Buka mulutnya! Bilang AAA..."



"AAA..." Egi langsung membuka mulutnya dan menyantap makanannya yang berupa sup.


"Enak?"


Egi mengangguk sambil mengunyah.


"Kamu harus sering-sering makan sup, biar banyak protein." Saran Gia. Egi mengangguk-angguk mengiyakan saran darinya.


Kini Egi mulai nyaman di urus Gia, ia merasa sudah tak kesepian lagi semenjak Gia selalu ada bersamanya. Perlahan ia pun sudah tak mengharapkan kehadiran Olivia untuk merawatnya, karena ia sudah merasa Gia sudah cukup lebih baik mengurusnya dan membuatnya nyaman.


Tanpa mereka sadari, diam-diam bi Mirah memperhatikan mereka dari balik pintu. Bi Mirah akhirnya merasa lega melihat Egi bisa kembali makan dan kembali tersenyum lagi.


*****


Keesokkan harinya.


Setelah pulang sekolah, seperti biasa Gia selalu datang ke rumah Egi untuk merawatnya. Bukan hanya untuk menyuapinya makan saja, ia juga melakukan hal yang lainnya seperti membantu Egi mengganti pakaiannya, mengganti perbannya, mengajak Egi bercanda, menemani jalan-jalan ke tempat yang Egi sukai, dan lainnya.


Hingga Egi kini bisa kembali tersenyum senang ketika bersamanya, kini ia tak pernah menghiraukan ucapannya lagi, bahkan tak memperlakukannya lagi seperti dulu. Kini Egi benar-benar berubah, ia mulai bersikap baik dan menghargai Gia sebagai seorang teman.


Dan saat tengah membantu Egi mengganti pakaiannya.


"Ayo masukkan pelan-pelan tangannya." Ucap Gia sembari membantu Egi memakai bajunya.


Setelah selesai mengenakan bajunya, Gia pun langsung mengancingkan bajunya.



"Sudah selesai!" Tukas Gia.


"Oh ya, celananya belum." Lanjutnya, membuat Egi berdenyit kaget.


"Celananya mau di ganti juga?" Tanya Gia. Egi mulai gugup.


"Mau aku bantu lepaskan celananya?" Tawar Gia.


"Ah gak usah! Biar aku saja sendiri." Tolak Egi malu-malu.


"Memang bisa?"


"Bisa pakai tangan kiri! Kamu keluar saja." Pinta Egi.


"Baiklah!" Gia langsung keluar sambil tak lupa menutup pintunya.


Keesokkannya pun masih tetap sama, setelah pulang sekolah, Gia selalu menyempatkan waktunya untuk mengurus Egi, hingga keesokkannya dan keesokkannya lagi. Setiap hari Gia tak pernah absen mengurus Egi dan sekali-kali mengantarnya ke klinik untuk di periksa.


Bahkan tak ada rasa keluh kesah yang terpampang di wajahnya, ia begitu senang merawat Egi bahkan sebaliknya Egi juga senang di rawat olehnya.


Waktu siang yang biasanya ia gunakan untuk bermalas-malasan, kini ia gunakan waktu siangnya bersama Egi.


*****


Beberapa hari kemudian...


Tangan Egi masih belum sembuh, ia masih terus memakai penyangga. Namun Egi tak bisa terus-terusan tak masuk sekolah.



Hari ini ia mencoba memaksakan diri untuk masuk sekolah meskipun tangannya harus memakai alat penyangga.


*****


Di Sekolah.


Saat Gia tengah berjalan menuju kelasnya, ia melihat Adi sedang menyapu halaman. Gia langsung tersenyum sinis dan berjalan ke arahnya.



"Masih belum beres hukumannya?" Tanyanya.


Adi langsung berbalik menatapnya.



"Ngapain Lo ke sini?" Ketus Adi.


"Mau bantuin Lo nyapu." Ucapnya, Adi langsung berdenyit heran.


"Ya enggaklah! Gue ke sini cuman mau perhatiin Lo doang. Gue jadi kasihan sama Lo." Lanjutnya.


"Ya ini semua karna Lo, Gue di tuduh melakukan kekerasan dan pencemaran nama baik itu semua gara-gara Lo. Sekarang Lo puas melihat Gue di hukum seperti ini?" Ucap Adi menyalahkannya.


Bukannya merasa bersalah, Gia justru malah tersenyum puas.


"Hukuman di sekolah ini memang gak main-main, sekali menghukum siswa bisa sampai berbulan-bulan." Lanjutnya.


"Tepat sekali!" Sahut Gia.

__ADS_1


"Lo lihat saja, setelah Gue selesai menjalani hukuman ini, bakal ada siswa lain yang bakal menjalani hukuman juga."


"Benarkah? Btw, siapa nih? Kayaknya Lo sudah merencanakannya."


Adi langsung tertawa.


"Lo lihat saja nanti! Cepat atau lambat, gak lama lagi omongan Gue bakal jadi kenyataan. Semua kebohongan bakal terungkap, ibaratnya bunglon yang bisa merubah warnanya akhirnya bisa terlihat juga bentukannya."


Ucapan Adi seketika membuat Gia mulai ketar-ketir.


"Hahaha... Mengkhayal saja terus! Gue pastikan hukuman Lo bakal lebih lama lagi. Jadi sebaiknya lebih baik Lo keluar saja dari sekolah ini, dari pada Lo terus menetap tanpa ada kepastian kapan Lo bisa belajar kembali." Ucap Gia sambil tertawa untuk menghilangkan kepanikannya.


"Dengar ya! Meskipun Gue sudah ketinggalan banyak pelajaran, tapi Gue sudah tau pelajaran yang di pelajari sudah sampai mana?"


"Oohh... Sepertinya Lo sudah punya kartu AS ya." Ucap Gia meledek.


"Tentu saja." Jawab Adi tertawa.


"Kira-kira orang bodoh mana yang mau saja jadi kaki tangan Lo?"


"Hahaha... Kalau Gue kasih tau orangnya, Lo pasti gak bakal menyangka."


"Pasti Sean dan Ditto iya kan?" Tebak Gia.


"Bukan!" Bantah Adi.


"Lalu siapa?" Tanya Gia penasaran.


Saat Adi akan menjawab pertanyaan Gia, tiba-tiba pak Wiranto datang menghampiri mereka.


"Gia! Sedang apa kamu di sini? Gak lihat peraturan di sekolah ini? Kalau siswa yang tengah menjalani hukuman gak boleh di ganggu maupun di ajak ngobrol. Kamu mau di hukum juga?" Bentak pak Wiranto.


Gia langsung panik, sementara Adi langsung tersenyum sinis.


"Ma-maaf pak, saya gak ngajak dia ngobrol. Tapi dia yang memanggil saya dan mengajak saya untuk ngobrol, bahkan saya mau kembali ke kelas saja dia terus menghalangi saya dan mengajak saya untuk menemaninya ngobrol." Ucap Gia memfitnahnya. Adi langsung berdenyit kaget.


"Apakah itu benar Adi?"


"Dia bohong pak!" Bantah Adi dengan wajah panik.


"Mana ada siswa yang sedang menjalani hukuman mau ngaku, sebaiknya bapak temani saja dia mengobrol kalau bisa tambahkan lagi masa hukumannya, biar dia kapok pak." Ucap Gia mengompori nya.


Pak Wiranto semakin menatap sinis pada Adi.


"Keterlaluan!" Gumam Adi.


"Permisi pak, saya mau kembali ke kelas dulu." Pamit Gia di saat pak Wiranto masih menatap tajam Adi.


Sebelum pergi, Gia menjulurkan lidahnya terlebih dahulu pada Adi sambil berkata dalam pergerakan bibir tanpa bersuara.


"Rasain..."


Adi semakin di buat kesal dengan tingkahnya. Kini Adi mulai kembali dalam bahaya gara-gara Gia.


*****


Setelah Gia duduk di bangkunya, betapa kagetnya ia melihat kedatangan Egi.


"Egi!" Gumamnya melongo kaget.


Egi berjalan dengan tangan yang masih memakai penyangga tanpa memedulikan orang-orang yang melihatnya.


"Egi, kamu kenapa?" Tanya salah satu siswa perempuan yang menghampirinya.


"Oh, ini cuman cedera saja." Jawab Egi.


"Bagaimana bisa, orang yang tangannya pakai alat penyangga bisa sekolah?" Tanya yang lainnya.


"Iya, apalagi gimana kalau nulis pelajaran? Emang Lo bisa?" Timpal yang lainnya.


Semua orang mulai bertanya-tanya. Kemudian Egi mulai menjawab.


"Selama ada kemauan di situ ada jalan, jika kita berusaha, semuanya pasti bisa." Ucap Egi sambil melirik ke arah Gia.


Semua orang pun kembali duduk setelah mendengar jawaban dari Egi. Egi kembali duduk di bangkunya sambil mengeluarkan bukunya pakai tangan kirinya.


Saat Gia akan menghampiri Egi, tiba-tiba bel masuk kelas berbunyi.


Gia langsung kesal karena ia gagal untuk berbicara dengan Egi.


.....


Masih di dalam kelas.


Saat sedang belajar, Egi kesulitan menulis menggunakan tangan kirinya. Berkali-kali ia mencoba menulis, pulpennya selalu terjatuh dari tangannya.


Hanna yang sudah memperhatikan Egi dari tadi langsung berbisik pada Gia.


"Lihat Gi! Si Egi kasihan banget ya, dari tadi dia gak bisa nulis."


Gia langsung memperhatikan Egi, lalu ia mulai merasa kasihan melihatnya.


Tak lama, pak Wiryo memperhatikan gelagat Egi yang berusaha ingin menulis.


"Kamu kenapa Egi?" Tanya pak Wiryo. Egi langsung berdenyit kaget.


"Tidak bisa nulis?" Tanya lagi pak Wiryo. Egi hanya terdiam bingung mau menjawab apa.


"Kalau tidak bisa nulis, sebaiknya kamu pulang saja!" Suruh pak Wiryo dengan nada ketus.


"Tidak pak! Saya ingin tetap belajar." Tolak Egi.

__ADS_1


"Bagaimana orang seperti kamu bisa belajar, kalau tangan kamu saja tidak bisa di gunakan untuk menulis. Lebih baik pulang saja sana atau keluar dari sekolah ini!" Cibir pak Wiryo.


Seketika Egi mulai emosi dengan perkataan pak Wiryo yang tak memaklumi kondisinya, ia mencoba menahan emosinya.


"Saya akan pulang, tapi saya akan pulang sesuai jadwal. Meskipun saya tidak bisa menulis, tapi saya masih tetap bisa memperhatikan pelajaran." Tegas Egi. Pak Wiryo langsung nyengir.


"Memangnya kamu bisa mencatat semua materi ini di otak kamu hanya dengan memperhatikannya saja." Ucap pak Wiryo menyepelekan ucapan Egi.


Egi hanya terdiam lesu sembari menatap lengannya yang masih memakai alat penyangga.


.....


Jam istirahat.


Egi masih di dalam kelas, ia tak makan maupun jajan di kantin.


Tak lama, Gia yang habis jajan di kantin datang menghampirinya.


"Gak makan Gi?" Tanya Gia.


"Aku gak bekal." Jawab Egi.


"Gak bekal kenapa? Biasanya kamu suka bekal." Tanya Gia dengan ekspresi kaget.


"Orang yang memakai alat penyangga sepertiku gak mungkin bisa makan dengan benar." Ucap Egi.


Gia langsung skakmat tak bisa berkata-kata lagi. Ia mulai sedih melihat kondisi Egi yang seperti ini.


"Ya sudah, kalau begitu makan saja bekal punyaku. Kamu jangan khawatir! Aku akan suapin kamu lagi, tapi aku gak bisa suapin kamu disini, nanti banyak orang yang memperhatikan kita. Kita harus cari tempat lain, kira-kira di mana yaa?" Ucap Gia sambil memikirkan tempat. Egi langsung menatap Gia bingung.


"Aku tau, ayo ikut aku! Aku akan suapin kamu di basement tempat kita ngobrol waktu itu."


"Enggak Gia! Istirahat tinggal 5 menit lagi, waktunya gak akan cukup." Ucap Egi mengingatkannya.


Sontak Gia pun kaget, tak menyangka waktu istirahatnya hampir habis.


"Ya sudah, kalau begitu aku akan suapin kamu di sini." Ucap Gia panik sambil membuka kotak makannya.


"Tapi semua akan memperhatikan kita." Tegas Egi.


"Aku gak peduli yang penting perut kamu terisi!" Ucap Gia terburu-buru sambil menyuapinya.


Serentak orang-orang di dalam kelas mulai memperhatikan mereka.


"Semua orang sedang memperhatikan kita." Ucap Egi dengan mulutnya masih mengunyah makanan.


"Biarin! Yang penting perut kamu terisi." Ucap Gia penuh semangat sembari menyuapinya lagi.


Kemudian geng gosip di kelas Gia mulai membicarakannya.


"Lihat tuh, si Gia mulai caper lagi sama Egi." Ucap gadis itu bernama Tara.


"Biarkan saja, lagian si Egi kan sudah gak menarik lagi, dia itu sudah cacat." Ucap yang satunya lagi bernama Raisa.


"Walaupun tangannya begitu, gak selamanya dia itu cacat, gak lama lagi juga dia bakal sembuh." Tukas satunya bernama Erina.


"Benar juga yaa."


"Sepertinya dia melakukan semua itu biar si Egi banyak perhatiin dia di banding yang lainnya."


"Gue merasa kita bertiga bakal di kalahkan oleh si bodoh Gia." Ucap Tara sambil menatap sinis ke arah Gia yang masih menyuapi Egi.


*****


Siang hari.


Masih di dalam kelas.


Setelah pelajaran selesai, semua murid mulai keluar kelas untuk pulang. Sementara Egi masih di dalam kelas sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas menggunakan tangan kiri.


Tapi tiba-tiba...


"Egi!"


Gia datang menghampirinya.


"Iya Gia?"


"Aku tau, kamu belum menulis sama sekali pelajaran hari ini. Ini aku menuliskan pelajaran hari ini buat kamu. Ambillah!"


"Tapi kalau punya kamu?" Tanya Egi berdenyit kaget.


"Ada kok, tadi aku menulis khusus buat kamu pas tadi istirahat di kantin."


Egi langsung menatap melongo sambil ragu-ragu menerima pelajaran yang sudah di tulis Gia di beberapa kertas.


"Terima kasih! Aku gak tau bagaimana cara aku harus berterima kasih lagi, tapi kamu selalu membantu aku di setiap hal."


"Jangan sungkan Egi! Aku kan pernah bilang, aku ingin berubah menjadi lebih baik dan bisa memperbaiki setiap hal dari kesalahan yang aku lakukan. Aku akan merawat kamu dan menjaga kamu sampai sembuh. Jadi kalau kamu butuh bantuan, jangan sungkan untuk meminta bantuan dariku." Ucap Gia dengan tulusnya.


Egi langsung tersenyum sambil mengatakan.



"Terima kasih banyak ya Gia. Hanya kamu satu-satunya teman yang perhatian sama aku."


Gia langsung tersenyum malu-malu sambil menggeser poninya.


"Sama-sama Egi."


Mereka berdua pun saling bertatapan di iringi kekehan keduanya.

__ADS_1


...----------------...


...Bersambung....


__ADS_2