AFTERNOON WITH YOU

AFTERNOON WITH YOU
Merawat Egi.


__ADS_3

Keesokan paginya.


Di Halte.


Gia menunggu kedatangan Egi di halte, tapi Egi belum kunjung datang juga.


"Hari ini Egi sekolah gak yah?" Gumamnya sambil melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 07.00.


"Apa Egi gak akan sekolah?"


Tak ingin terlambat, Gia pun memutuskan untuk masuk ke dalam sekolah duluan.


.....


Di kelas.


Gia duduk murung sambil memperhatikan bangku Egi yang tidak ada orangnya.


"Ini semua salah Gue, Egi jadi cacat dan gak bisa sekolah gara-gara Gue. Kenapa harus Egi yang jatuh? Kenapa gak Gue saja yang jatuh." Batinnya merutuki diri.


Kemudian Hanna menghampirinya dan bertanya.



"Gi, Egi mana?"


"Egi sakit Han." Jawab Gia.


"Apa! Sakit? Sakit apa?"


"Dia demam." Jawabnya beralasan.


"Oh gitu, tapi ada suratnya?"


"Gak ada! Dia belum kirim surat."


Tak lama, bel masuk kelas berbunyi.


Namun, entah dalam kesadaran atau tidak, tiba-tiba saja Gia pindah tempat duduk di bangkunya Egi. Hanna di buat geleng-geleng dengan tingkahnya yang aneh.


Gia duduk sendiri di bangkunya Egi sambil terus melamun.


Bahkan di jam pelajaran masih di mulai. Saat guru sedang menerangkan pelajaran, Gia terus melamunkan Egi tanpa henti, sampai ia tak memperhatikan pelajaran yang di terangkan bu guru.



*****


Pulang sekolah.


Gia langsung naik bus menuju ke rumah Egi.



Sesampainya di rumah Egi.


Gia datang di sambut bi Mirah dengan senyuman sumringahnya.


"Silahkan non, masuk."


"Egi, di mana bi?"


"Den Egi masih di kamarnya non."

__ADS_1


"Apa dia bisa jalan?" Tanya Gia memastikan.


"Bisa non, hanya saja dia masih belum bisa menggunakan tangan kanannya. Makan saja tidak bisa, dari pagi den Egi belum makan."


"Kenapa gak bibi suapin?" Tanya Gia.


"Den Egi gak mau non. Lebih baik bibi sarankan non saja yang menyuapi den Egi."


"Apa! Aku?" Gia berdenyit kaget.


"Iya non."


"Kalau Egi gak mau gimana?"


"Den Egi pasti mau, selama non mendengar ide dari bibi." Ucap bi Mirah, membuat Gia semakin bingung dan bertanya-tanya.


.....


Di Kamar Egi.


Egi sedang berbalas pesan dengan kekasihnya.


["Sayang, kamu sudah pulang belum?"]


^^^["Sudah sayang."]^^^


["Kalau begitu datanglah ke rumahku, sejak pagi aku belum makan sayang."]


^^^["Kenapa belum makan? Makan dong, jangan suka menyiksa perut. Kasihan."]^^^


["Aku gak bisa makan sayang, tangan aku sakit. Aku pengen di suapin sama kamu."]


^^^["Manja banget sih kamu sayang. Ada saja alasannya.🤣"]^^^


["Aku beneran sayang."]


Saat ia akan berbaring, betapa kagetnya Egi melihat kehadiran Gia yang sedang memperhatikannya di ambang pintu sambil membawa nampan berisi makanan dan segelas air. Seketika Egi langsung naik pitam.



"Mau apa kamu ke sini? Sudah kubilang jangan pernah kembali lagi ke rumah ini!" Teriak Egi seketika emosinya mulai kembali naik.


Dengan penuh kesabaran seperti saran bi Mirah padanya, Gia pun berjalan menghampirinya dan duduk di sampingnya.


"Aku sengaja datang ke sini. Karna sejak kemarin, aku terus mengkhawatirkan kamu. Aku terus memikirkan kamu sepanjang hari. Aku tau, kamu masih marah dan gak suka lihat kehadiran aku di sini. Tapi aku kembali lagi ke sini bermaksud baik kok, aku ingin memperbaiki setiap kesalahan yang aku perbuat selama beberapa hari terakhir." Ucapnya.


"Memperbaiki kesalahan? Sampai kapanpun orang seperti kamu gak akan pernah bisa memperbaiki kesalahan. Skill orang seperti kamu hanya bisa merusak, mengacau, dan merugikan orang lain." Bentak Egi, Gia hanya tersenyum tipis Sembari berkata.



"Kamu meremehkan niat baikku Egi. Orang tak selamanya terus merusak, mengacau, atau merugikan orang seperti yang kamu katakan tadi. Karena setiap orang bisa berubah asalkan dia mau berusaha berbuat kebaikan."


"Benarkah? Sejak kapan orang seperti kamu mau berusaha? Bahkan ujian saja kamu gak mau mikir, bisanya mencuri jawaban milik orang lain."


"Iya memang waktu itu aku melakukan kesalahan seperti itu. Asal kamu tau ya, waktu itu butuh perjuangan berat untuk bisa mendapat nilai yang bagus tanpa berpikir maupun belajar. Malam itu, aku nekat merencanakan semua itu karena aku mau berusaha untuk mendapat nilai yang bagus bagaimanapun caranya asalkan gak belajar. Memang apapun yang aku lakukan saat itu memang sangatlah salah dan gak wajar." Jelasnya. Egi hanya diam sambil mendengarkan ucapannya.


"Waktu itu aku berusaha berniat jahat dengan menukar jawaban orang lain dengan mengganti jawaban yang salah. Karena aku iri, itu sebabnya aku ingin terlihat lebih baik, dan yang lebih hebat dariku bisa di jatuhkan. Tapi kali ini aku menyadari semua yang aku lakukan salah. Jadi sekarang aku ingin berubah menjadi lebih baik dan bisa memperbaiki segalanya." Lanjutnya lagi.


Egi mengabaikan ucapannya tanpa menjawab perkataan mulia yang keluar dari mulutnya. Ia masih tak yakin dengan ucapannya.


"Kali ini, aku mohon Egi! Izinkan aku untuk memperbaiki kesalahanku yang aku perbuat sama kamu, aku ingin berusaha berbuat kebaikan dengan menyembuhkan kamu supaya kamu kembali pulih dan bisa bersekolah lagi." Lanjutnya.


"Bagaimana kamu akan menyembuhkan aku? Apa kamu bisa mengembalikan kembali tanganku seperti semula?" Tanya Egi saking tak yakin dengan ucapannya.

__ADS_1


"Bisa! Selama aku mau berusaha, aku akan menjaga dan merawat kamu dengan baik sampai kamu sembuh." Ucapnya mencoba meyakinkan.


"Omong kosong!" Ketus Egi


"Aku benar Egi! Kalau kamu gak percaya, aku akan merawat kamu sekarang."


"Enggak! Aku gak mau! Bisa-bisa nanti aku tambah cacat. Pergi sana!" Usir Egi sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Ayolah Egi... Jangan khawatir! Dengan sedikit sentuhan lembut dari tangan Gia, kamu akan segera sembuh total secara permanen." Ucapnya dengan nada lebay sembari menggerakkan jari jemarinya. Seketika Egi mulai sedikit tertawa melihatnya tapi ia mencoba menahannya.


"Kamu tenang saja, aku akan memanjakan kamu sampai kamu ketagihan dan sampai ingin terus lagi, lagi, dan lagi di rawat olehku. Setelahnya kamu pasti bakal berusaha menolak sembuh biar terus di rawat sama aku." Rayu Gia lagi-lagi dengan nada lebaynya sambil tersenyum sumringah.



"Omong kosong!" Egi langsung nyengir dan menghiraukan ucapannya.


"Kata bi Mirah, kamu belum makan dari pagi. Ayo makan dulu! Buka mulutnya bilang AAA..." Ucap Gia sambil menyendokkan nasi dan mendekatkannya pada mulutnya.


"Aku gak mau di suapin sama orang kayak kamu!" Ketus Egi.


"Yakin? Menolak di suapin sama perempuan imut sepertiku? Kamu pasti akan menyesal."


"Sudah jangan bercan..."


Saat hendak memekiknya, Gia langsung menyuapinya.


"Hihi! Ayo Egi di makan! Gak baik bicara saat lagi makan." Ucap Gia sambil tersenyum senang.


Setelah selesai mengunyah makanannya, Egi kembali akan memekiknya.


"Sudah ku bilang..." Belum selesai Egi menyelesaikan perkataannya, Gia langsung menyuapinya lagi.


"Kenapa?" Tanya Gia dengan nada mengejek.


"Apa yang kamu lakukan?" Pekik Egi dengan mulut penuh nasi.


"Syuttt..."


Gia langsung membungkam mulutnya.


"Ayo! Kunyah... Kunyah... Telaann..."


Egi langsung mengunyahnya dengan cepat lalu menelannya.


"Anak pintar! Sekali lagi jangan bicara saat lagi mengunyah makanan." Ucap Gia dengan nada mengejek.


"Kamu ini ya... Emm..."


Lagi-lagi saat Egi akan buka suara, Gia berhasil menyuapinya lagi.


"Apa? Tadi bos bilang apa?" Gia mulai meledeknya.


Setelah Egi menelannya, ia berusaha kembali bicara.


"Kamuuuu..."


Gia terus menyuapinya lagi di saat Egi membuka mulutnya dan hendak akan bicara. Ternyata ia sedang mengerjai Egi agar mau makan.


"Makan yang banyak ya bos! Biar bos bisa kembali sehat dan bisa memperbudak aku lagi. Hahaha..." Ejek Gia sambil tertawa.


Egi langsung menatap Gia kesal dengan mulut masih mengunyah makanan.


 

__ADS_1


...----------------...


...Bersambung....


__ADS_2