
Siang hari.
Masih di Sekolah.
Sebelum pulang, dalam kesendirian Gia berhadapan sebentar dengan papan Mading yang masih di tempelkan kertas yang berisi nilai-nilai para siswa.
Ia menghela nafas panjang kemudian ia mengambil ponsel di sakunya lalu memotret nilai-nilai tersebut.
"Mama pasti bangga!" Gumamnya.
Sebelumnya ia sempat ke ruangan guru untuk meminta lembar jawabannya yang sudah di beri nilai. Biasanya lembar ujian yang sudah di nilai selalu di bagikan.
Namun kali ini semua lembar ujian para murid yang bernilai tinggi saja yang di bagikan, sementara nilai terendah di tahan oleh guru.
Hanya nilai ujian Gia saja yang bernilai tinggi yang di tahan oleh guru bersama nilai terendah lainnya.
Mungkin para guru tak percaya dengan nilai yang mereka berikan pada lembar jawaban milik Gia. Itu sebabnya mereka menahannya.
*****
Dalam perjalanan pulang.
Seperti biasa Gia selalu pulang bareng dengan Hanna sembari berbincang-bincang.
"Gi, Lo beneran ngerjain ujian hasil mikir Lo sendiri? Lo gak menyontek ke siapa-siapa kan?"
"Ya enggaklah! Kok Lo jadi sama kayak yang lainnya sih? Gak percaya sama omongan Gue! Gue ini sahabat Lo, harusnya Lo percaya sama Gue!" Ketus Gia.
"Bukan gitu Gi! Gue percaya kok sama Lo. Cuman Gue kaget saja, biasanya kan Lo selalu dapat nilai di peringkat paling bawah tapi sekarang mendadak Lo dapat peringkat paling atas mengalahkan yang lain."
"Ya makanya Gue dapat peringkat tertinggi dengan nilai paling bagus. Ya karna Gue ini sudah pintar." Ucapnya dengan angkuh.
"Woww!! Hebat banget Lo Gi! Kalau boleh tau apa sih rahasia Lo bisa sepintar itu? Gue jadi penasaran nih!"
"Banyak belajar!" Jawabnya singkat.
"Wahh!! Masa sih? Minggu lalu Gue juga banyak belajar. Tapi kenapa ya nilai Gue masih berada di peringkat paling bawah? Harusnya Gue juga dapat peringkat paling atas juga sama kayak Lo."
Sebenarnya Hanna menyimpan rasa curiga juga pada Gia. Ia tak percaya dengan apa yang Gia katakan.
Terlebih lagi ia masih mengingat kejadian saat memergoki lembar ujiannya yang bernama Egi tempo hari itu. Hal itu semakin menambah kecurigaannya. Tapi ia berusaha tak memperlihatkan rasa curiganya dengan pura-pura bersikap biasa saja.
"Ya karna Gue banyak belajar!" Jawabnya kekeh.
"Owalaahhh... Minggu lalu Gue juga banyak belajar lohh. Tapi kenapa yaa?? Gue masih berada di peringkat paling bawah gak di atas?"
"Mungkin Lo gak serius belajarnya!" Ucap Gia asal.
"Masa sih Gi?"
"Iyaa!!"
"Kalau gitu kasih tau Gue dong!! Gimana tekniknya??" Rayu Hanna sembari menjentikkan bulu matanya.
"Teknik apaan?" Gia berdenyit heran.
"Teknik Lo biar bisa dapat nilai paling tinggi? Gue juga mau dong pintar kayak Lo, biar dapat nilai paling tinggi juga."
"Ya banyak belajar lahh!" Jawab Gia mulai risih.
"Ih masa sih? Itu terus dari tadi yang Lo jawab! Lo pasti punya teknik khusus? Kasih tau Gue dong tekniknya kayak gimana? Gue juga pengen dong dapat nilai bagus pas remedial nanti. Gue janji, gak akan kasih tau siapa-siapa!" Ucap Hanna memaksa dengan wajah memelas.
"Gak ada teknik apa-apa! Yang penting Lo harus banyak belajar saja!" Ucap Gia sembari memalingkan wajahnya ke arah lain.
Hanna semakin memperhatikan raut wajah Gia mulai risih dengan pertanyaannya. Kemudian Hanna semakin sengaja, ia tak henti-hentinya terus bertanya.
"Kalau gitu kasih tau rahasia cara belajar Lo! Nanti Gue ikutin tips dari Lo supaya Gue bisa sama pintarnya kayak Lo."
Gia langsung berhenti melangkah dan menatap kesal Hanna.
Ia semakin kesal dengan sikap Hanna yang selalu bertanya. Rasanya ingin sekali ia menjambak-jambak rambut sahabatnya ini. Tapi ia berusaha tak memperlihatkan rasa emosinya pada sahabatnya. Ia mencoba bersabar dan pura-pura kembali tersenyum.
"Ya rahasianya Gue terus belajar! Gue belajar gak henti-henti! Gue selalu fokus belajar siang dan malam sampai lupa tidur bahkan sampai lupa makan. Lo gak tau bagaimana pengorbanan Gue saat itu demi mendapat nilai yang bagus!"
Gia bingung harus berkata apa? Ia terpaksa mengada-ngada seperti perkataan yang ia ucapkan kepada para guru dengan mata berbinar-binar. Hanna hanya mendengarkan kata-kata Gia dengan mulut menganga sembari mengangguk-anggukan kepala.
__ADS_1
"Berkat belajar terus-menerus, akhirnya Gue berhasil mengasah otak Gue sampai encer! Sekarang Gue sudah pintar seperti Albert Einstein! Itu sebabnya nilai ujian Gue dapat peringkat tertinggi dengan nilai yang paling bagus."
"Woww!! Sekarang Lo sudah mulai ada perubahan yaa!! Kalau begitu, Lo bisa dong ikut serta dalam olimpiade nanti."
Perlahan senyuman merekah yang di buat-buatnya berubah menjadi datar dengan apa yang Hanna ucapkan barusan.
Hanna terus mempertahankan senyuman lebarnya meskipun Gia sudah menatapnya dengan tatapan yang dingin dan datar.
Kemudian Gia menunduk dan menjawab dengan kekehan yang di buat-buatnya.
"Ya mungkin!"
"Haruslah! Sahabat Gue inikan sudah pintar! Sudah seharusnya ikut olimpiade berikutnya!" Ucap Hanna sembari merangkulnya dan kembali berjalan.
"Oh iya, Lo beneran belajar tiap hari kan?" Tanya Hanna sekali lagi.
"Banyak nanya banget sih Lo!!" Habis sudah kesabaran Gia.
Melihat gelagat Gia seperti itu, Hanna semakin mencurigainya.
"Ya Gue cuman penasaran saja! Kok Lo marah sih?"
Gia langsung berubah menjadi tegang.
"Gue cuman pengen tau saja gimana cara Lo belajar waktu itu? Setau Gue, Lo itu kan orangnya pemalas! Sehari-hari Lo selalu sibuk berkencan!" Celetuk Hanna memberi pertanyaan menjebak dengan membeberkan segalanya. Gia hanya bisa melongo tak menjawab apa-apa.
"Gue sering lihat WhatsApp Lo sering aktif. Chat dari Gue juga sering banget Lo balas tiap detiknya. Bahkan tiap Gue tanya Lo di WhatsApp, Lo lagi apa? Lo sering banget balas kalau Lo lagi rebahan, Lo abis ngompol, Lo lagi buka Dating Apps, Lo abis berantem sama Gio, Lo mau kencan, Lo lagi sibuk nangis, Lo lagi belajar dandan sama emak Lo, Lo lagi melukis, Lo lagi mikirin Egi. Hanya itu jawaban yang sering Lo balas ke gue! Tapi Lo belum pernah sekalipun balas kalau Lo lagi sibuk belajar!" Ucapnya panjang lebar membeberkan segalanya.
Jleeebbb!!
Gia semakin tegang dengan ucapan Hanna. Mulutnya mulai bergetar hebat.
"Apa-apaan sih Lo mengungkit yang enggak-enggak! Jadi bete Gue sama Lo! Gue kan waktu itu pernah balas chat Lo kalau Gue ini lagi sibuk belajar! Lo gak ingat? Mau Gue buktiin nih masih ada sisa chat Lo sama Gue waktu itu!"
"Iya, emang benar waktu itu Lo pernah balas gitu. Tapi Lo balas chat Gue kayak gitu kan cuman sekali. Besoknya lagi Lo jawabnya yang lain."
Gia mulai di buat grogi dengan perkataan Hanna.
Tapi tak lama Gia cengengesan dan mulai kembali mengada-ngada.
"Sebenarnya Gue selama ini belajar kok. Sumpah! Lo gak tau karna Gue ini gak pernah bilang-bilang orangnya. Gue ini privasi lohh!!"
"Ih Lo ini! Gak semuanya Gue publish kali! Semua orang punya privasi masing-masing. Gue sengaja gak ngasih tau Lo kalau Gue lagi sibuk belajar, supaya gak ke ganggu."
Sebenarnya sepanjang perjalanan Gia benar-benar panik dengan pertanyaan yang terus di lontarkan sahabatnya ini yang terus-menerus menginterogasinya layaknya wartawan.
Kesal ada, marah ada, benci ada. Semua itu tercampur aduk dalam emosi Gia saat ini.
Tapi Gia mencoba tetap menahan emosi nya selama dalam perjalanan pulang.
Gia memang di kenal tak pernah ribut dengan siapapun. Kecuali ribut dengan Adi. Itupun sekali-kali kalau ia ingin mencari masalah.
Ia biasanya akan balas dendam dengan meneror siapa saja yang pernah membuatnya kesal dengan ide gila dari semua kejahilannya.
Namun hari ini, Hanna telah berhasil membuat Gia emosi mendarah daging.
Apakah nanti Hanna akan menjadi sasaran selanjutnya dari kejahilan Gia?
*****
Sesampainya di rumah.
Dengan rasa bahagia dan penuh haru. Gia memberitahu ibunya kalau hari ini ia mendapat nilai tertinggi di kelasnya dengan menunjukkan foto nilai-nilai yang tadi ia foto di sekolah.
Dengan bangganya, ibunya langsung senang dan memeluk putri tercintanya.
"Akh! Mama bangga banget sama kamu sayang! Gak sia-sia mama selalu tegas sama kamu supaya belajar terus!"
"Iya mah, mama pasti sekarang senang banget kan? Anak mama yang paling cantik ini dapat nilai paling tinggi mengalahkan yang lain."
"Iya senang banget! Tapi mana lembar ujian kamu? Mama pengen lihat secara langsung!" Pinta ibunya.
Senyuman merekah seketika hilang dari raut wajah Gia.
"Lembar ujian siswa kelas 11 sengaja mah gak di bagikan. Yang di bagikan hanya lembar ujian kelas 10 saja. Kalau kelas 11 dan 12 sengaja gak di bagikan. Hanya di umumkan saja lewat papan Mading mah." Ucap Gia beralasan.
"Oh begitu, tidak apa-apa! Yang penting kamu dapat nilai paling tinggi. Mama bangga banget kamu bisa mengalahkan teman kamu yang paling pintar. Tapi yang mama heran, kenapa Adi jadi yang paling bodoh ya dapat nilai terendah? Setau mama, Adi itu kan anak paling pintar sejak jaman kamu SMP." Ibunya mulai mempertanyakan.
"Karna emm..." Gia mulai bingung mau menjawab apa?
__ADS_1
"Karna si Adi itu selalu pacaran mah, jadi dia itu sekarang bodoh dalam pelajaran. Itu sebabnya dia dapat nilai terendah."
"Apa pacaran? Pacaran sama siapa?"
"Pacaran sama teman Gia mah. Yang namanya emm..." Gia berpikir sejenak.
"Namanya siapa?" Tanya ibunya penasaran.
"Yang namanya Elis mah! Yang gayanya cupu gitu. Pakai kacamata terus rambutnya di kepang dua. Ikhh jelek banget pokoknya. Tompelan lagi mukanya."
"Ikh, kok mau-maunya ya cowok seganteng Adi pacaran sama yang kayak gitu?"
Ibunya bergidik ngeri, percaya begitu saja dengan omongan Gia yang banyak mengada-ngada.
"Iya mah."
"Dari pada pacaran sama perempuan yang modelnya kayak begitu. Mending pacaran saja sama kamu yang punya muka cantik terus pintar lagi." Celetuk ibunya sembari memuji. Gia langsung melotot kaget.
"Bisa-bisanya yaa! Gara-gara pacaran sampai bisa berubah jadi sebodoh itu. Memalukan! Padahal Adi itu anak anggota DPR. Bagaimana reaksi orang tuanya nanti yaa?"
Gia hanya terdiam tak tahu menahu dengan perkataan ibunya.
"Kalau begitu lupakan saja! Waktu itu mama sama papa sudah janji kan? Kalau Gia dapat nilai paling bagus. Mama sama papa akan membelikan Gia mobil."
"Oh iya benar! Mama baru ingat! Nanti mama bicarakan sama papa kamu kalau sudah pulang."
"Iya mah! Janji yaa!" Gia tersenyum senang.
"Kalau begitu malam ini. Mama akan adakan pesta untuk merayakan keberhasilan kamu."
"Setujuu mah!!" Gia bersorak bahagia.
Dan pada malam harinya, benar saja ibunya mengadakan pesta dadakan dengan begitu meriah. Pesta tersebut di peruntukan khusus untuk putri tercintanya yang telah berhasil mendapat nilai tertinggi dalam ujian. Dan tak lupa ibunya mengundang kerabat serta semua teman-teman arisannya untuk ikut merayakannya.
Ibunya dikenal memang selalu mengadakan pesta untuk anaknya. Setiap kali anaknya mendapat keberhasilan di Sekolah.
*****
Keesokkan Harinya.
Malam hari, di rumah Egi.
Setelah selesai berkencan di waktu weekend bersama kekasihnya. Egi membawanya ke rumahnya.
Sambil duduk berdua, kekasihnya bersandar manja di bahu Egi. Sementara Egi hanya terdiam lesu sambil mengelus-elus wajah pujaan hatinya.
"Egi, aku senang banget!" Ucapnya kegirangan.
"Ada apa?" Tanya Egi tak tahu menahu.
"Kemarin aku dapat nilai ujian paling bagus dengan peringkat paling pertama."
"Benarkah?"
"Iyaa!"
Egi pun langsung senang mendengar kabar bahagia dari kekasihnya. Rasanya kesedihan yang ia rasakan dari kemarin mulai sirna setelah Olivia memberi kabar baik tentang nilainya.
"Selamat yaa sayang! Kamu hebat!!" Ucap Egi bangga.
"Ini semua kan berkat kamu yang selalu mengajari aku matematika."
"Tetap pertahankan belajar kamu. Jangan berhenti meskipun kamu sudah pintar." Nasihat Egi. Olivia mengangguk dan kembali bersandar di bahu Egi.
Egi memeluknya begitu erat sembari menciumi kepalanya.
"Sayang kemarin nilai ujian kamu berapa? Pasti seperti biasa, selalu bagus kan?"
Perlahan senyuman yang terpampang bahagia di wajah Egi berubah kembali menjadi datar.
"Seperti biasa!" Ucap Egi bohong.
"Sudah kuduga! Pacarku ini memang jenius." Ucap Olivia senang. Egi hanya mengangguk mengiyakan dengan raut wajah pura-pura bahagia.
...----------------...
...Bersambung....
__ADS_1