
...•...
...•...
...•...
...•...
...•...
"Lo ini apa-apaan sih? Bukannya kumpulin malah lihat jawaban punya Gue! Lo mau nyontek ya?" Sewot Gia ketar-ketir.
"Bukan! Cuman Gue kaget, kok lembar ujian Lo di kasih nama Egi bukan nama Lo?" Tanya Hanna dengan penuh kecurigaan.
Jlebbb!!
Gia mulai panik, tapi ia langsung cengengesan dan berusaha menormalkan situasi dan mencari alasan agar tak ketahuan.
"Ini Gue tadi kepikiran Egi. Ya wajarlah kasihan banget dia, semua pulpennya hilang. Jadi Gue kepikiran terus sampai ke bawa tulis namanya. hehe!"
"Gue kira, Lo mau berniat curang." Ucap Hanna yang masih penuh kecurigaan.
"Lo gila ya! Jangan tuduh Gue sembarangan! Gue kan sudah jelasin kalau Gue kepikiran Egi. Sudah sana pergi! Jangan perhatiin Gue mulu!" Ketus Gia dengan emosi.
"Gue kasih tau Lo ya. Gak baik kalau misalnya Lo berniat mau curang kayak gitu! Sebaiknya Lo cepat ganti nama lembar ujian Lo sama nama Lo! Jangan pakai nama Egi! Kalau ada orang yang lihat, mereka bakal menganggap Lo mau curang." Hanna langsung pergi dengan perasaan yang masih penuh curiga.
Sementara Gia mulai gemetar, kini rencana liciknya mulai di ketahui Hanna. Tapi Gia tak akan menyerah, ia tetap kekeh akan menjalankan rencana liciknya meskipun ada orang yang telah mengetahuinya.
Tanpa Gia sadari temannya yang duduk di jajarannya bernama Elis mendengar percakapan Gia dan Hanna. Elis si siswa bergaya cupu yang memiliki sifat menyebalkan dengan rambut berkepang dua yang selalu mengenakan kacamata, selalu kepo dalam setiap hal. Kini ia jadi orang pertama yang mengetahui rencana licik Gia. Kemudian ia mulai membuntuti gerak-gerik Gia.
.....
Selang beberapa menit Egi mengumpulkan lembar ujiannya. Ia jadi orang yang terakhir yang mengumpulkan lembar ujian sebelum Gia. Kebetulan pengawas sedang pergi ke toilet. Egi merasa dirinya paling terakhir mengumpulkan lembar ujian. Egi tak tahu bahwa ada orang lain lagi yang masih belum mengumpulkan yaitu Gia. Kemudian ia berinisiatif untuk membawa semua lembar ujian ke ruang guru. Tiba-tiba...
"Egi! Tunggu! Jangan dulu di bawa! Aku belum mengumpulkan." Ucap Gia sembari berlari kecil menghampiri Egi.
"Oh belum, aku kira semuanya sudah mengumpulkan. Ya sudah ayo sini kumpulkan, biar aku saja yang bawa ke ruang guru." Pinta Egi.
"Jangan Egi! Sebaiknya semua lembar ujian ini aku saja yang bawa. Karna di sini aku yang paling terakhir mengumpulkan."
"Oh, ya sudah okey!" Egi langsung pergi begitu saja dan lagi-lagi tanpa menaruh rasa curiga padanya. Sementara Gia masih di dalam kelas dan mulai beraksi.
"Ini waktunya mengubah nama Egi jadi nama Gue!" Gumam Gia sambil mengeluarkan penghapusnya lalu menghapus nama Egi kemudian menggantinya dengan namanya.
__ADS_1
"Bagus!" Ucap Gia senang. Tiba-tiba tanpa Gia sadari, Elis tengah berdiri memperhatikannya tepat di belakangnya sambil merekam kelakuan Gia dengan ponselnya.
"Ohohohohhh... Mau curang yaa?" Ucap Elis. Gia langsung kaget sekaligus panik.
Gia langsung berbalik ke belakang, ia kaget melihat Elis sudah berdiri tepat di belakangnya memergokinya sambil diam-diam merekamnya.
"Elis, sejak kapan Lo di sini? Bukannya tadi Lo keluar?" Tanya Gia sambil cengengesan. Sambil gemetar tanpa terasa keringat mulai mengucur dari keningnya.
"Enggak Gue gak keluar! Dari tadi Gue masih di kelas. Gue sembunyi di bawah bangku supaya Gue bisa lihat gerak-gerik Lo." Jawab Elis sambil mematikan ponselnya setelah merekam Gia tadi.
"Maksud Lo apa?" Tanya Gia deg-degan.
"Lo mau berniat licik kan? Mau menukar jawaban punya orang sama punya Lo?" Tanya balik Elis dengan nada tinggi.
"Apa? Enggak! Kok Lo tuduh gue kayak gitu? Jangan asal tuduh yaa!!" Pekik Gia dengan nada yang lebih tinggi. Saking tak terimanya dengan apa yang di ucapkan Elis. Gia mulai tambah panik.
"Gue punya buktinya!" Ucap Elis sembari menunjukkan video yang baru saja ia rekam tadi. Gia langsung syok.
"Lo tadi merekam Gue ya?"
Gia berusaha merebut ponsel Elis. Namun Elis berhasil menjauhkan tangan Gia dari ponselnya dengan trik kecepatan dan tangkisan yang kuat pada tangannya.
"Kurang ajar Lo ya! Gadis cupu! Hapus videonya!" Teriak Gia. Untungnya tak ada satupun orang yang berdiam diri di depan kelas mendengar perkicauan antara Gia dan Elis.
"Balikin hp nyaaa!" Pekik Gia sambil berusaha mencoba merebut ponsel Elis. Namun dengan tangan yang gesit, lagi-lagi Elis berhasil melindungi ponselnya dari tangan Gia.
"Hapus videonya!" Bentak Gia.
"Enggak! Gue gak akan hapus videonya! Video ini bakal Gue kirim ke wali kelas dan semua guru-guru di sini termasuk kepala sekolah. Biar mereka semua tau kelakuan licik Lo saat ujian, kalau selama ini Lo curang dan gak jujur dalam mengerjakan ujian." Ancam Elis.
"Lihat saja! Lo pasti bakal di keluarkan dari sekolah ini!" Lanjut Elis dengan kata-kata nya yang penuh ancaman.
"Elis. Gue mohon sama Lo, jangan kayak gitu! Lo inikan teman Gue. Gue sudah menganggap Lo ini sebagai sahabat Gue." Ucap Gia dengan wajah memelas.
"Gue ini selalu baik sama Lo, tiap Lo pinjem penghapus selalu Gue pinjemin. Lo tau sendiri kan, kondisi Gue selama ini. Gue selalu dapat nilai yang jelek setiap ujian. Lo harus memaklumi Gue! Gue terpaksa lakuin ini demi keluarga Gue! Kalau tahun ini nilai ujian Gue jelek lagi, Gue bisa di cabut dari kartu keluarga. Keluarga Gue gak akan mengakui Gue lagi sebagai anaknya kalau Gue dapet nilai jelek lagi!" Ucap Gia beralasan sambil pura-pura menangis. Elis langsung tersenyum sinis.
"Tetep saja! Lo itu berbuat curang! Lo gak jujur dalam mengerjakan ujian!" Tegur Elis.
"Kenapa? Panik?" Lanjut Elis nyinyir.
Kemudian Gia langsung mengeluarkan uang sebesar 50 ribu dari sakunya.
"Ini buat Lo! Gue kasih Lo duit asal Lo tutup mulut ya! Jangan kasih tau semua ini ke siapa-siapa!" Ucap Gia sambil berusaha menyogoknya dengan uangnya.
__ADS_1
Elis langsung tersenyum sinis sambil memegang uang pemberian Gia.
"Segini? Hah! Lo menghina Gue yaa? Uang segini mana cukup buat jajan Gue! Bahkan orang tua Gue saja belum pernah kasih Gue uang sekecil ini!"
Gia langsung emosi, lalu ia mengeluarkan semua uang bekalnya dari sakunya.
"Ini! Segini cukup? Menurut Gue, uang segitu sudah cukup buat Lo beli chatime sepuluh cup."
Elis langsung menghitung jumlah uang yang diberikannya.
"Okey, Gue terima!"
"Oke, asal Lo tutup mulut! Jangan kasih tau ini ke siapa-siapa! Dan hapus video tadi!" Tegas Gia.
"Okey. Tapi kasih Gue juga dong pulpen ajaib Lo yang bisa di hapus. Gue juga pengen punya pulpen ajaib kayak Lo." Pinta Elis.
"Oke. Tapi janji yaa?" Ucap Gia sembari memberikan pulpennya.
"Gue gak akan kasih tau siapa-siapa, tapi Gue gak akan hapus video ini." Ucap Elis. Seketika Gia langsung naik pitam.
"Kenapaa?? Gue kan sudah kasih Lo uang yang banyak dan pulpen Gue juga!" Bentak Gia.
"Gapapa... Ya biar suatu saat nanti Gue bisa ancam Lo lagi kalau Gue lagi butuh uang." Ucap Elis sembari nyengir lalu pergi meninggalkannya. Gia berusaha menahan emosinya.
*****
Pulang Sekolah.
Sesampainya di Rumah.
Gia berbaring di kamarnya sambil memandangi lukisan Egi.
"Egi sayang. Maafin aku yaa! Aku terpaksa melakukan ini. Apalagi tadi aku isi asal-asalan. Aku takut, gimana kalau nanti nilai kamu yang jadi jeblok?" Gia berbicara sendiri sambil tak berpaling menatap terus lukisan wajah Egi dengan raut wajah memelas khas nya.
"Sudahlah! Gak ada gunanya Gue bicara sama lukisan! Yang ada nanti Gue di sangka gila." Lanjutnya sambil melempar lukisannya ke sembarang arah.
Setelah itu, Gia mengambil ponsel milik adiknya yaitu Gio. Ia membuka aplikasi kencan yaitu Dating Apps yang baru saja ia download kemarin. Karna ia masih belum membeli ponsel lagi semenjak ponselnya di curi hari itu, jadi ia terpaksa meminjam ponsel milik adiknya dan membalas semua pesan dari para lelaki yang ia pilih di Dating Apps.
Untungnya Gia masih ingat email dan password nya, jadi ia tak perlu repot-repot membuat akun lagi. Saat membuka Dating Apps, Gia melihat ada notifikasi pesan yang masuk dari seorang pria bernama Doni, lelaki yang baru saja ia kenal kemarin yang katanya baru saja lulus SMA.
...----------------...
...Bersambung....
__ADS_1