Agora : Love And Hurt

Agora : Love And Hurt
Sepuluh


__ADS_3

Malvin menatap wanita cantik bernama Danita itu. Sudah dua kali dia menyelamatkan Danita. Hal ini membuat Malvin memikirkan saat dia tidak ada. Siapa yang akan menyelamatkan wanita itu. Apa lagi banyak yang mencarinya tanpa disadari.


"Don. Datanglah ke rumah."


Setelah menelfon Don. Malvin melajukan mobilnya lebih cepat. Dia juga sudah meminta dokter rumah untuk menyiapkan alat bagi Danita. Lukanya cukup parah karena ada beberapa titik yang mengeluarkan darah.


Sampai dirumah Danita masih belum sadar juga. Dokter memeriksa dengan teliti. Sementara Malvin duduk diluar dengan Don.


"Carikan pelatih untuk Danita."


"Pelatih apa Tuan?"


"Aku ingin dia bisa melakukan beberapa hal. Aku takut ada yang mencelakainya dan dia diam saja."


"Baiklah. Wanita atau pria Tuan?"


"Wanita, juga lihat latar belakangnya. Aku tidak ingin ada masalah."


"Baik Tuan."


Tidak lama dokter keluar. Dia memberikan resep langsung pada Don. Tanpa diberi tahu. Don langsung pergi untuk menebus obat yang sudah diresepkan itu. Setelah itu Dokter itu duduk di depan Malvin.


"Bagaimana keadaanya?"


"Hanya luka luar. Apa yang terjadi padanya?"


"Aku tidak tahu. Dia ditemukan di toilet restoran."


"Sepertinya terkena benda tumpul. Jadi, dia mendapat luka itu."


"Tidak ada yang fatal kan?"


"Tidak."


Dokter tersenyum. Baru kali ini Malvin terlihat khawatir pada seseorang. Padahal sebelumnya dia begitu acuh pada siapapun.


Setelah membicarakan beberapa hal Dokter meminta diri. Ada operasi yang harus dia lakukan malam itu.


Malvin selesai membersihkan diri. Melihat Danita yang sudah terlelap kemabali. Malvin duduk disisi tempat tidur. Menatap wanita yang saat ini tidak tahu siapa dirinya yang sebenarnya.


"Aku berharap kamu ingat," lirih Malvin.


Baru saja Malvin akan pergi.


"Tunggu. Jangan. Jangan lakukan itu. Toloooong. Toloooong."


Malvin mendekat dan Danita membuka mata. Saat itu Danita duduk dan langsung memeluk Malvin dengan erat. Entah apa yang terjadi, tapi tubuh Danita langsung berkeringat dingin.


"Kenapa?" Tanya Malvin.


"Aku bermimpi aneh. Orang tuaku meninggal ditembaki dengan kasar."


Mata Malvin membulat. Dia tahu, Danita mungkin perlahan ingat akan hal itu.


"Orang tua? Apa kau punya orang tua?"


"Satahuku mereka meninggal. Aku hanya tidak tahu alasanya. Mimpi ini begitu tidak menyenangkan."


"Tenanglah. Ada aku disisimu, jika ada hal mengerikan lagi. Kau bisa katakan padaku," ucap Malvin.


Perlahan Danita mengendurkan pelukanya pada Malvin. Kali ini Malvin mengatakan hal itu tanpa mengingat buku tentang cinta. Dia mengatakan dari hati.

__ADS_1


"Tidurlah lagi. Aku akan mengerjakan beberapa hal."


Danita mengangguk. Dia kembali ke posisi tidur. Malvin membenarkan selinut ditubuh Danita. Lalu keluar dari kamar.


Perlahan Malvin menyesap rokok ditanganya. Pikiranya kacau saat ini. Melihat Danita yang gelisah dan takut membuat dia tidak nyaman. Perasaan ingin acuh tapi perlahan mulai memperhatikan tanpa sadar.


Bahkan tujuan Malvin sudah mulai muncul tanda akan berhasil. Jika Danita ingat dan mengatakan pada Malvin. Malvin mungkin akan segera tahu siapa yang membunuh ayahnya dalam tragedi penembakan dirumah Agora.


***


Wajah Malvin terlihat tidak baik. Semalam dia tidak bisa tidur dan terus menatap pada Danita. Dia tidak mau saat Danita bermimpi itu lagi dia tidak ada. Dia tidak ingin Danita mengatakan hal ini pada siapapun.


Saat ini Danita sudah bangun. Dia melakukan aktivitasnya seperti biasa. Meski wajahnya masih harus memiliki plester dibeberapa titik. Itu sebab dari apa yang Laura lakukan padanya.


"Nyonya. Makanan sudah siap," kata Lin yang melihat Danita duduk sendiri di taman belakang.


"Apa Malvin sudah dimeja makan?"


"Sebentar lagi Nyonya."


Danita berdiri dan datang kemeja makan. Disaat yang bersamaan Malvin juga turun. Mereka duduk dimeja makan tanpa suara. Hanya Lin yang menyiapkan sarapan dengan tenang.


"Terima kasih," lirih Danita.


Malvin menghentikan tanganya dan menatap pada Danita.


"Terima kasih sudah ada untukku dan terus menolongku."


"Tidak apa."


Danita dan Malvin kembali dalam diam. Saat itu ponsel Malvin berdering. Malvin mengangkatnya karena nama Don yang tertera disana.


"Apa informasi ini tepat?"


"Kami juga memiliki rekaman CCTV."


"Bawa padaku."


"Baik."


Danita menatap Malvin tanpa berkedip. Sudah dua kali Malvin membantu dirinya dalam masalah. Bahkan beberapa kali Malvin mengatakan hal manis pada Danita. Membuat perasaan wanita itu mulai luluh. Tidak peduli ikatan apa yang sedang mereka lakukan saat ini.


"Danita." Panggil Malvin yang melihat Danita terus menatapnya.


"Ya."


"Terima ini. Jika ada apa-apa telfon aku."


Danita melihat sebuah ponsel keluaran terbaru. Selama ini dia hanya punya satu ponsel. Itupun ponsel lama yang bahkan hampir tidak bisa digunakan lagi.


"Disana sudah ada nomor Pamanmu. Kabari dia, sudah lama kau tidak berkabar denganya bukan."


"Terima kasih."


"Mau bagaimanapun Paman Mike keluargamu satu-satunya jadi hargai dia."


Danita mengangguk.


"Aku pergi dulu."


Malvin langsung berlalu meninggalkan Danita sendiri lagi. Saat ini Danita merasa kesepian. Mau bagaimanapun hanya Malvin yang memperhatikan dan memberikan segalanya.

__ADS_1


Don sudah menunggu kedatangan Malvin di kantor. Mel yang melihat itu merasa tidak tenang. Karena selama ada Don, Mel akan sangat susah mendekati Malvin. Mau berdua saja sulit bagi Mel.


"Ada masalah? Kenapa kau terus menatapku?" Tanya Don.


"Tidak. Aku menunggu Pak Malvin."


Don hanya tertawa kecil.


Pintu lift terbuka. Malvin keluar dan langsung menyapa beberapa karyawanya. Hanya sebatas menyapa tanpa kata basa-basi.


Mel langsung mendekat, "Pak.."


"Don. Masuklah." Kata Malvin.


Don langsung mengikuti Malvin masuk keruangan. Sementara Mel harus kembali kecewa. Bahkan mau menyapa saja sulit bagi Mel saat ini.


"Perlihatkan padaku," kata Malvin.


Don memperlihatkan rekaman CCTV tersebut. Jelas disana seorang pria datang dan tenang sekali. Dia tidak menyentuh apapun. Sampai masker diwajahnya dia lepas. Lalu mulai tidur lelap di tempat tidur rumah Agora.


"Kalian sudah lihat apa ada yang hilang?"


"Tidak ada yang hilang."


"Tentang pria itu? Apa kalian sudah menyelidikinya?"


"Kami sedang mencari tahu siapa dia." Jawab Don.


"Jika sudah ketemu cepat bawa padaku."


"Baik."


Tok tok tok.


"Masuk."


Mel masuk dengan notebook ditanganya. Dia melihat pada Don sekilas lalu melewatinya begitu saja.


"Pak Malvin. Sepuluh menit lagi ada rapat tentang laporan bulanan." Ucap Mel.


"Atur saja."


"Baik, Pak."


Mel masih diam disana. Malvin tahu jika ada yang ingin dia bicarakan. Saat itu Malvin meminta Don keluar dan melakukan pekerjaanya. Mel bersorak dalam hati, ini saatnya dia mendekat pada lelaki pujaanya itu.


"Ada apa Mel?"


"Tidak, Pak. Aku hanya ingin bertanya tentang Danita. Apa dia baik saja?"


"Ya. Tidak menyangka kau akan bertanya tentangnya."


"Mau bagaimanapun dia sudah menjadi istrimu. Aku juga harus kenal dia sebagai teman. Seperti hubungan kita."


Malvin tersenyum kecil. Mel masih saja diam disana. Tidak mengatakan apapun.


"Bukankah kau mengatakan sepuluh menit lagi rapat. Kenapa masih disini?"


"Ma...maaf. Saya permisi."


Malvin menyandarkan tubuhnya pada kursi yang menopang. Lalu matanya terpejam beberapa saat. Tidak sadar dia akhirnya terlelap.

__ADS_1


__ADS_2