Agora : Love And Hurt

Agora : Love And Hurt
Sembilan Belas


__ADS_3

Wina memberikan air pada Danita. Dia masih diam saja dan meminum air itu. Nafas Danita masih terengah-engah. Dia seperti baru saja lari beberapa kilo meter.


"Tarik nafas dan buang secara perlahan." Ucap Wina.


Danita mengikuti arahan itu. Tidak disangka efeknya akan sebegitu besar pada Danita. Wina tidak tahu apa harus melanjutkanya atau tidak. Saat ini kondisi Danita sepertinya sudah kelelahan.


"Kita pulang dulu. Kamu butuh istirahat," kata Wina lagi.


Wina membantu Danita turun dari tempat tidur. Dia juga memapah Danita saat itu. Don melihat istri Tuanya tidak baik-baik saja langsung mendekat pada Danita. Mau bagaimanapun dia masih memiliki hati nurani.


"Biar aku yang menggendongnya," kata Don yang langsung mengambil alih tubuh Danita.


Saat itu Danita melihat-lihat isi rumah itu. Rumah yang terlihat begitu megah kini tidak ditinggali sama sekali. Perabotan yang masih sama hanya saja tragedi itu masih membekas meski sudah dibenahi.


"Mau ikut aku atau Nyonya?" Tanya Don.


"Aku langsung pulang saja. Oh ya, tolong jaga Danita."


"Baik."


"Don. Aku tahu kamu kecewa pada Malvin. Hanya saja Danita juga butuh seseorang disisinya. Dia tidak memiliki siapapun Don."


Don tidak menjawab. Dia meminta sopir untuk mengantar Wina. Sementara Danita dia sendiri yang membawa pulang.


Di kantor.


Malvin masih sibuk dengan segala urusanya. Dia juga kembali mendapat laporan tentang pembangunan mal itu. Malvin merasa sangat puas.


"Pak Malvin. Nanti siang bertemu dengan grup Qin. Kita ada kerja sama dengan mereka."


"Kau sudah siapkan tempatnya?"


"Sudah Pak."


"Bagus."


"Pak Malvin?"


"Ya." Malvin menoleh pada Mel yang masih berdiri di depanya.


Mel tersenyum dan memberikan sebuah undangan. Malvin menatap Mel.


"Undangan ulang tahunku. Aku akan mengadakanya di puncak. Vila papaku," ucap Mel.


"Ok."


"Aku juga mengundang Danita."


"Aku akan katakan padanya."


"Saya permisi dulu, Pak."


Sampai diluar Mel tersenyum aneh. Sepertinya dia sudah siap untuk melakukan rencananya. Dia menyiapkan dengan begitu matang. Jadi, Mel yakin dia akan berhasil kali ini.


***


"Terima kasih Don." Ucap Danita setelah Don membawanya pulang.


"Sudah tugasku."

__ADS_1


"Don. Kenapa kau berubah sikap? Ada apa?"


Don berbalik menatap Danita dengan tajam. Danita mundur beberapa langkah. Tatapan itu begitu menakutkan, bahkan membuat Danita merasa sesak.


"Nyonya. Aku tidak peduli apa yang kau lakukan. Aku hanya memenuhi tugasku pada Tuan Malvin. Sebagai pengingat saja, kau bukanlah wanita yang dicintainya. Jadi, jangan berbuat hal lebih."


"Ma mak maksud kamu apa?" Danita terbata.


"Tuan Malvin bukanlah orang sembarangan. Jika sampai kau membuat dia hilang kendali. Aku tidak akan segan padamu lagi."


"Nyonya."


Danita dan Don menoleh keasal suara. Ternyata Lin. Dia membawa sebuah selimut kecil dan menyelimuti tubuh Danita. Tersenyum dan langsung membawanya masuk kedalam rumah.


"Sudah saya siapkan coklat panas. Apa nyonya mau yang lain?" Tanya Lin.


"Tidak Lin. Lin, apa kau tahu apa yang dikatakan Don? Sebenarnya Malvin siapa?"


"Nyonya. Nyonya jangan pedulikan Don. Saat ini Tuan beruntung memiliki Nyonya."


"Benarkah?"


Pada saat ini pikiran Danita berlayar. Dia memikirkan nama Malvin. Mimpi itu juga meliki nama Malvin. Hanya saja Danita tidak bisa langsung menyimpulkan jika Malvin itu adalah Malvin suaminya. Tidak ada petunjuk apapun.


"Nyonya. Ini minum dulu coklah hangatnya."


"Terima kasih Lin."


Lin keluar dari kamar Danita. Rasa penasaran akan Malvin membuat Danita semakin ingin tahu. Alasan Malvin menikahinya bahkan Danita masih belum tahu. 'Apa mungkin karena aku Danita Agora?' pikir Danita.


Sampai Danita ingat dimana Malvin selalu pergi saat malam. Perlahan Danita keluar dari kamar. Melihat kesekeliling dan tidak mendapakan pengawasan sama sekali.


"Aku harus melihat ada apa diruangan itu," kata Danita.


Sampai di dalam Danita melihat sebuah foto keluarga yang terpajang. Wajah pria paruh baya itu terlihat sangat familiar bagi Danita. Disana juga banyak artikel tentang rumah Agora. Juga tentang Danita yang hilang.


"Aku ingat."


Danita mengingat pria itu. Itu adalah pria yang sama. Pria yang menembaki dirumah Agora. Pria yang memilih untuk mengakhiri hidupnya sesudah mengakhiri nyawa dirumah Agora. Dia juga pria yang melepaskan Danita hingga tidak meninggal.


Tubuh Danita terhuyung. Dia tidak sengaja membuat sebuah foto terjatuh. Buru-buru Danita membukanya. Ternyata foto dirinya dan Malvin saat masih kecil.


"Kau melihatnya?"


Danita menoleh. Ternyata Malvin sudah berada dipintu. Dia tersenyum mengerikan saat ini.


"Kamu. Kamu Malvin Brown anak dari Tuan Brown. David Brown."


"Ya. Aku anaknya. Bagaimana? Apa kau terkejut?"


"Kenapa kau melakukan ini? Kenapa?"


Malvin mendekat dan langsung mencekik Danita. Dia menatap benci pada wanita didepanya ini.


"Karena keluargamu. Ayahku meninggal."


Danita menggeleng keras. Mencoba untuk melepaskan dirinya dari cengkraman Malvin. Semakin Danita meronta semakin membuat Malvin bersemangat melukainya.


"Tuan."

__ADS_1


Malvin langsung melepaskan cekikan dileher Danita. Membuat wanita itu terjatuh lemas dan akhirnya pingsan.


"Kenapa kau menggangguku Don. Bukankah ini yang kau inginkan? Aku tidak mencintai Danita."


Don tidak tahu apa maksud Tuanya selama ini. Memberikan fasilitas lebih. Memperhatikanya. Bahkan membawa Danita keacara tertentu.


"Tuan. Jika Anda membunuh wanita itu saat ini. Anda tidak akan menemukan liontin kalung Lily itu."


"Benar juga. Oh ya, bagaimana dengan Wina?"


"Dia mengatakan harus melakukanya sekali lagi."


"Baiklah. Angkat dia dan bawa ke kamar. Juga datangkan dokter keluarga. Aku tidak ingin dia mati dulu."


"Baik."


Mavin duduk dan menatap foto keluarga itu dengan senyuman mengerikan. Apa yang menjadi tujuanya akan segera tercapai. Untung saja dia belajar banyak tentang menaklukan wanita. Ternyata begitu mudah bagi Malvin.


"Papa, Mama. Apa kalian bahagia disana? Aku akan membuat Danita menebus kesalahan keluarganya."


***


Sebuah vila dipuncak dengan panoraman yang indah. Suasana yang biasanya hening kini terlihat begitu meriah. Bagaimana tidak, Mel melakukan segalanya untuk ulang tahun kali ini.


Mel melakukan idenya sendiri meski harus dibantu tenaga dekorasi. Dia juga sudah menyiapkan tempat khusus untuk Malvin. Dia ingin jika Malvin terkesan akan hal ini.


"Nona Mel."


Mel menoleh. "Kau sudah datang?"


"Ya. Aku harus menepati janjiku."


"Baguslah. Bayaranya akan aku kirim setelah selsai."


"Nona. Sebenarnya aku merasa gugup."


Mel tersenyum. Dia tahu, ini adalah kali pertama Laura melakukanya. Meski begitu Mel tidak suka dengan sebuah kebohongan dan janji yang diingkari.


"Aku tidak peduli. Aku hanya ingin kau melakukanya dengan benar."


"Nona Mel. Apa kau yakin akan membunuhnya?"


"Kenapa tidak? Bukankah kita sudah sepakat? Kau ingin mantanmu kembali bukan? Aku ingin sainganku mati. Apa kamu paham."


"Baik."


"Bagus. Lakukan tugasmu. Aku harus kembali melihat tamu yang datang."


Pak Gun sedang mengamati ruang di Vila itu. Entah apa yang membuat putrinya Mel menginginkan tempat ini. Dimana letak vila yang dekat dengan hutan.


"Papa."


Mel langsung memeluk Pak Gun.


"Hei. Ada apa? Ulang tahun kali ini kau terlihat berbeda."


"Bagaimana tidak. Kau memberikan vila yang begitu indah ini untukku. Oh ya, aku juga mengundang Malvin dan istrinya."


"Benarkah?"

__ADS_1


"Tentu. Aku ingin Papa juga membantuku nanti."


"Baiklah. Apapun yang kamu inginkan. Papa akan lakukan."


__ADS_2