Agora : Love And Hurt

Agora : Love And Hurt
Tiga Puluh


__ADS_3

Malvin masih berada diapartemen Danita. Dia bahkan memesan makanan untuk dirinya dan Danita. Berharap wanita itu akan keluar dari kamar dan mau makan bersama.


Don beberapa kali mengingatkan Malvin jika ini bukanlah jalan yang harus dia lalui. Berbagai cara Don membuat Malvin sadar. Hanya saja Malvin ingin tetap disini sampai melihat Danita baik-baik saja.


"Tuan. Kita harus mencari kalung itu."


"Diam. Aku sedang menunggu Danita. Dia harus kembali kerumah."


"Tuan. Pekerjaan Tuan bukan hanya ini."


"Apa sekarang kau ingin mengguruiku?"


"Bukan Tuan. Hanya saja,..."


"Diamlah."


Don mengangguk. Dia masih berdiri disisi Malvin. Sampai malam datang. Danita masih juga tidak kunjung keluar. Danita sedari tadi duduk di depan laptop. Mungkin itu laptop milik Paman Mike.


Danita mengambil buku milik Paman Mike. Melihat foto juga beberapa kata yang mungkin ditulis paman Mike saat masih hidup. Jelas seperti curhatan di sebuah buku.


Sampai akhirnya Danita tahu jika keluarga Paman Mike terbunuh secara tragis. Bahkan foto pembunuhnya juga ada di dalam buku itu.


# Jika aku tidak kenal dengan Tuan Brown. Mungkin saat ini aku masih bersama mereka.


Danita begitu kaget setelah membacanya. Dia tidak percaya, ayah yang selama ini dibanggakan oleh Malvin ternyata bukanlah orang yang baik. Dia tega membunuh orang lain, termasuk keluarga Paman Mike dan keluarga Danita.


# Aku memutuskan untuk menolong gadis itu. Aku tidak mau dia mengalami hal yang sama.


Itu adalah tulisan dilembar berikutnya. Danita sadar, gadis itu adalah dirinya. Sampai dibebeberapa lembar terakhir.


# Aku menemukan anak pembunuh itu. Bodohnya aku, aku mengirim gadis yang sudah aku anggap anak padanya.


Dua lembar terakhir.


# Sayangku, Danita. Maaf aku tidak pernah mengajarkan kamu cinta. Bukan tanpa alasan, aku ingin kamu berdiri disisi anak itu. Malvin. Bukan untuk menjadi pendampingnya. Melainkan untuk membalas dendam untukku dan untuk orang tuamu. Maaf.


Pada lembar terakhir.


# Mungkin saat kamu baca ini. Aku sudah tidak ada. Kamu juga bingung kenapa haru balas dendam. Kau akan tahu saat melihat kartu memori di bunga lily. Aku mengharapkanmu.


Setelah membacanya Danita merasa nafasmya tercekat. Dia tidak percaya jika ini alasan Paman Mike mengirim pernikahan dengan Malvin. Balas dendam. Itu adalah yang menakutkan untuk Danita.


Danita mengingat kartu memori yang dia ambil dari kalung liontin bunga lily itu. Dia sudah akan bersiap mengambilnya saat pintu kamarnya diketuk.


"Danita. Keluarlah."


Danita diam. Dia tahu itu suara dari Malvin.


"Aku akan mendobraknya jika kau tidak keluar."


Saat Malvin benar akan mendobrak pintu itu. Danita membukanya. Tatapan mereka bertemu.


"Kenapa tidak menjawab?"


"Aku kira kau tidak disini."

__ADS_1


"Maksud kamu apa? Sedari tadi aku disini."


Danita tidak menyangka jika akhirnya Malvin masih menunggunya. Itu cukup membuat Danita merasa bodoh karena cinta.


"Pulang."


"Tidak. Aku mau menginap disini."


"Baiklah. Aku juga akan menginap disini."


Mendengar hal itu Danita menggeleng dengan cepat. Danita tidak mau jika sampai Malvin menyentuh barang milik Paman Mike.


"Mau pulang tidak?"


"Tidak."


Tanpa ragu Malvin langsung menarik tangan Danita dengan kasar. Membawa Danita langsung tanpa peduli wanita itu berontak.


"Ayo Don," kata Malvin begitu sampai di dalam mobil.


"Baik."


Mobil langsung melaju. Danita hanya bisa diam dan pasrah saat ini. Lagi pula dia juga harus kembali. Mengambil kalung lily itu.


***


Mel dan Razka mengantar Pak Gun ke bandara. Saat itu Mel memeluk erat orang tuanya itu. Setelah beberapa tahun akhirnya Pak Gun pergi keluar kota lagi. Hal ini membuat Mel sedikit takut. Takut jika akan kembali kehilangan.


"Berapa hari Papa disana?" Tanya Mel.


Mel melihat Razka yang sedang merokok disisi mobil. Bagi Mel, Razka bukanlah apa-apa dibandingkan dengan Malvin yang begitu sempurna.


"Papa pergi dulu ya. I love you."


"Love you too Papa. Jika sudah sampai kabari aku."


"Tentu saja sayang."


Setelah Pak Gun pergi. Mel mengambil ponsel disaku dan memberikan pesan pada Malvin.


*Aku dengar jika barang yang dicari Razka hilang. Aku tidak tahu barang apa itu? Apa kau tahu?*


Kembali Mel memasukan ponselnya. Dia berjalan kearah Razka. Pria itu langsung tersenyum. Membukakan pintu untuk Mel.


Saat mereka pulang dan berada di lampu merah. Mobil yang dibawa Don lewat. Di belakang ada Danita dan Malvin. Raut wajah Mel berubah, dia awalnya ceria kini langsung cemberut.


"Cemburu?"


"Memangnya kenapa? Setidaknya aku punya orang yang aku sukai."


"Aku juga punya orang yang aku suka. Hanya saja aku tidak berlebihan. Melihat dia bahagia membuat aku bahagia." Ucap Razka.


"Benarkah? Pria sepertimu juga jatuh cinta."


Razka hanya diam. Sampai dirumah Razka tidak kembali ke rumahnya. Dia bahkan meminta asistenya untuk membawa barang penting ke rumah Pak Gun. Dia ingin menginap disini sampai Pak Gun kembali.

__ADS_1


Razka duduk dan terus memperhatikan gerak gerik Mel. Dia tahu jika Mel akan melakukan apapun untuk bersama Malvin. Termasuk mengatakan apa yang dia dengar tadi.


"Kenapa kau terus menatapku?" Tanya Mel kesal.


"Kau tahu. Aku harus mengawasimu karena Paman Gun sedang pergi."


"Itu bukan alasan yang baik Kak Razka."


"Kalau begitu. Terserah kamu saja."


***


Sampai dirumah Danita langsung dibawa ke kamar oleh Malvin. Dia meminta Lin untuk menyiapkan baju untuk Danita. Tentu saja, Malvin tidak ingin Danita kembali pergi dari sisinya.


"Aku bisa sendiri," kata Danita.


"Tidak. Lin bertanggung jawab atas hal ini."


Danita masuk ke kamar mandi. Mengguyurkan air hangat ke tubuhnya. Saat itu Danita berfikir kenapa masih mau kembali. Padahal dia bisa kabur sejak tadi.


Malvin duduk dan melihat sebuah pesan diponselnya. Setelah membaca pesan dari Mel itu Malvin merasa kacau. Saat ini yang dicari Razka dan dirinya sama, kalung liontin lily milik Danita.


Tanpa ragu Malvin mendobrak pintu kamar mandi. Danita yang kaget langsung menarik tirai mandi untuk menutupi tubuhnya. Meski tubuh itu tidak tertutup sempurna.


Malvin yang melihat itu tidak memutuskan niatnya. Dia hanya menutup pintu dan masuk ke dalam kamar mandi. Mendekat ke arah Danita yang mundur sampai ke pojok.


Tubuh mereka kini sama-sama basah. Danita masih menahan nafas melihat tatapan Malvin saat ini. Baru Danita akan mundur satu langkah lagi saat kaki itu menginjak sabun.


"Aaaaa!!!"


Tubuh Danita tertarik oleh Malvin. Tanpa sadar tubuh Danita kini polos dipelukan Malvin. Danita mencoba berdiri dan kembali meraih tirai disisinya.


"Kenapa kamu masuk?" Tanya Danita.


"Dimana liontin lily itu?"


"Tidak bisakah kau bertanya nanti. Aku sedang mandi Malvin."


"Mau kau mandi atau tidak. Aku hanya ingin tahu dimana letak liontin lily itu saat ini."


"Aku akan menunjukanya, tapi pergilah. Aku harus menyelesaikan mandiku lebih dulu." Ucap Danita.


Kali ini fokus Malvin sudah terpecah karena melihat tubuh polos Danita. Danita menjadi salah tingkah karena tatapan itu.


"Kenapa mendekat?"


"Liontin. Kita bisa mencarinya nanti. Saat ini, mungkin kita perlu bersenang-senang."


Malvin langsung menarik tubuh Danita dengan paksa. Tirai itu sudah tidak bisa menutup tubuh Danita.


"Lepaskan Malvin. Jangan kelewatan."


"Aku tidak kelewatan. Kamu istriku, orang yang bisa kusentuh tanpa penghalang." Bisik Malvin.


Danita merinding karena bisikan itu. Tanpa sadar dia mulai mengikuti alur permainan Malvin. Sampai tidak ragu memberikan segalanya saat itu.

__ADS_1


__ADS_2