Agora : Love And Hurt

Agora : Love And Hurt
Tiga Puluh Enam


__ADS_3

Sampai di apartemen Danita mengambil ponselnya dan berniat menelfon Malvin. Sampai akhirnya Danita memilih untuk tidak menelfonya. Takut akan mengganggu. Sampai dikamar Danita langsung mencari kartu memori yang dia sembunyikan.


Berulang kali Danita mencoba mencari. Hasilnya kartu memori itu tidak ada sama sekali. Membuat Danita kebingungan. Dia duduk dan terus mencoba mengingat dimana dia meletakanya.


BRAK.


Suara pintu di dobrak membuat Danita kaget. Dia bahkan berjalan perlahan kearah pintu. Untuk melihat siapa yang datang disaat seperti ini. Bahkan pintu juga di dobrak.


Baru Danita akan sampai di pintu. Pintu kamar itu sudah terbuka dengan keras. Saat itu mata Danita dan Malvin bertemu. Tidak menyangka jika Malvin yang akan datang dengan kasar seperti itu.


"Geledah kamar ini," kata Malvin dengan wajah datar.


Beberapa orang berpakaian hitam langsung masuk. Mulai mencari barang yang mereka inginkan. Danita sudah mencoba menahan, hanya saja mereka tidak peduli.


Danita mengingat jika semalam mereka masih bersama. Bahkan tadi pagi juga Danita dan Malvin masih sarapan bersama. Kini Malvin datang untuk menggeledah apartemen Danita.


"Apa yang kau lakukan Malvin?" Tanya Danita sembari mendekat pada Malvin.


Malvin tidak menjawab. Dia menarik tangan Danita hingga berada disisinya. Danita melihat kamarnya yang kini tengah diobrak-abrik.


"Tidak ada Tuan," kata seorang pria.


"Apa yang kalian cari sebenarnya?" Tanya Danita.


Orang-orang itu hanya diam di tempat dan terlihat tidak peduli dengan pertanyaan Danita. Sampai tangan Malvin mengisyaratkan jika mereka harus pergi.


Kini hanya tinggal Danita dan Malvin. Danita kesal, dia berniat untuk mengejar pria-pria itu. Hanya saja Malvin langsung memeluknya dari belakang. Membuat Danita diam di tempat.


"Aku merindukanmu." Bisik Malvin.


"Kau gila? Merindukanku, tapi kau membuat rumah ini seperti kapal pecah."


Danita tidak langsung percaya. Tidak mungkin hanya karena sebuah kerinduan Malvin membawa anak buah untuk mencari sesuatu dirumahnya.


"Maaf. Aku takut kau menyembunyikan sesuatu dariku."


"Bukankah kau sudah memiliki semuanya."


"Belum. Hatimu."


Danita berbalik badan. Membuat tubuh mereka saat ini semakin dekat. Tatapan cinta diberikan oleh Malvin. Berbeda dengan tatapan saat dia datang tadi.


Tok tok tok.


Mereka menoleh bersamaan kearah pintu. Don ternyata ada disana. Danita langsung mendorong tubuh Malvin. Malvin kembali tidak berekspresi saat ini.


"Ada apa?"


"Ada meeting dengan Tuan G. Penting."


"Baiklah. Aku akan menyusul kemobil."


"Baik Tuan."


"Aku akan menunggumu malam ini," bisik lirih Malvin.


"Jangan menggodaku. Pergilah." Ucap Danita.


Kepergian Malvin itu membuat Danita merasa kembali sunyi. Danita duduk dan melihat rumah itu yang sudah tidak berbentuk. Meski begitu, Danita kembali dimana dia meletakan kartu memori itu.


"Ya ampun, Danita."

__ADS_1


Danita kaget mendengar teriakan itu. Nenek Maria datang mendekat dan langsung memegang pundak Danita. Meneliti semua tubuh Danita.


"Ada apa ini? Apa ada orang yang ingin mencelakaimu?"


"Tidak. Tadi ada hal kecil Nek."


"Kau yakin?"


"Ya."


"Kau tidak bersemangat. Ada apa?"


"Tidak ada. Aku hanya merasa lelah saja Nek."


"Mau jalan-jalan denganku?"


"Maaf sekali Nek. Aku harus membersihkan kamarku. Lain kali kota bisa jalan-jalan bersama."


"Kau yakin tidak apa?"


"Iya Nenek."


"Jika ada apa-apa. Telfon saja aku."


"Baik."


Sejak meninggalnya Lucas. Nenek Maria jadi lebih sering di apartemen. Bahkan mungkin hanya beberapa kali pulang ke tempat Tuan G. Danita merasakan kasih yang begitu indah saat bersama dengan nenek Maria.


Setelah mengantarkan nenek Maria sampai di lift. Danita kembali kerumah. Mulai membersihkan tempat itu secara perlahan. Rasa penasaran akan kartu memori itu semakin membuat Danita gelisah.


***


Don sudah menyiapkan mobil. Sekian lama dia berurusan dengan orang, bahkan sampai membunuh. Baru kali ini Don merasa begitu takut dan gelisah. Mungkin karena dia sudah merusak hal yang bukan miliknya. Barang yang begitu istimewa dan tidak dapat kembali lagi.


"Su...sudah."


"Kau gugup?"


Don tidak menjawab. Dia semakin menundukan wajahnya. Malvin hanya diam dan mengeluarkan ponselnya. Menelfon Danita.


"Kau jadi ikut denganku?" Tanya Malvin.


"Maaf. Rumahku hancur karenamu. Aku ingin membersihkanya dulu."


"Baiklah. Apa sudah makan?"


"Aku bukan anak kecil lagi Malvin. Jika lapar aku akan makan."


"Ok. Ok. Aku pergi dulu."


"Ya. Hati-hati."


"Tentu saja. Bukankah kau sudah janji untuk nanti malam."


Danita mencoba mengingat janji apa sampai Malvin mengingatkan. Sampai dia sadar akan pikiran Malvin. Tidak menjawab, Danita memilih untuk memutuskan telfon itu dan berhasil membuat Malvin tersenyum.


Sementara dirumah Pak Gun. Mel masih saja diam di dalam kamar. Bahkan tidak mau menemui Pak Gun sama sekali. Sementara Razka memilih bungkam dan tidak ingin membicarakan ini.


"Razka. Sebenarnya ada apa?"


"Paman. Aku sedang ada pekerjaan. Aku akan katakan nanti."

__ADS_1


"Apa Mel sudah membunuh orang lagi?" Tanya Pak Gun.


Razka berhenti mengetik. Dia merasa cukup kacau karena hal ini. Bagaimana tidak, ini situasi yang buruk.


Deru mobil terdengar. Razka melihat kearah jendela, sekilas terlihat mobil Malvin. Hal ini membuatnya sedikit lega.


"Paman. Tamu kamu sudah datang, aku permisi dulu."


"Baiklah."


Pak Gun membuka pintu. Dia langsung menyapa Malvin dan mempersilahkan Malvin masuk. Kali ini Don masuk, namun dengan kepala tertunduk.


"Malvin. Ada hal apa ini? Bahkan kau sampai ikut campur urusan Mel. Tidak seperti biasanya," kata Pak Gun langsung.


"Bisakah kita duduk dulu?" Tanya Malvin.


"Ooh. Maafkan aku, duduklah. Kau juga Don."


"Baik," jawab Don.


"Ada apa Malvin?"


Malvin mengatakan semuanya. Bahkan Don mengiyakan apa yang dikatakan oleh Tuanya itu. Razka yang awalnya pergi juga ikut duduk dan mengatakan hal yang sama.


"Apa! Kau yakin karena putriku yang memintanya?" Tanya Pak Gun pada Don.


Don mengeluarkan ponselnya dan memberikan bukti yang membuat Pak Gun tidak bisa berkata-kata lagi.


"Aku akan menikahkah Don dan Mel." Ucap Malvin.


"Aku tidak setuju," kata Pak Gun.


"Terserah kau saja. Jika wanita sudah tidak memiliki mahkota. Pria yang akan membawanya nanti pasti..."


"Cukup. Apa yang kau punya Don?"


Don hanya diam. Semuanya juga ikut diam. Sampai Mel turun dari kamarnya dan langsung terduduk di depan Pak Gun.


"Papa. Maafkan aku, Pa."


Pak Gun hanya diam. Putri kesayanganya kini sudah tidak memiliki hal yang bisa dibanggakan. Pak Gun merasa kecewa, hanya saja dia sudah tidak sanggup mengatakan apapun lagi.


"Saya akan bertanggung jawab untuk Nona Mel."


Semua yang ada disana menatap pada Don. Dengan tenang Don mengeluarkan beberapa kartu debit.


"Kau yakin bisa menjaga putriku?"


"Yakin."


"Pernikahan akan diadakan besok. Mel, bersiaplah."


Setelah keputusan itu dibuat. Malvin dan Don berpamitan. Mau bagaimanapun Malvin akan menyiapkan semua hal tentang pernikahan Don. Selama ini Don sudah begitu setia padanya.


"Pa. Aku tidak mau menikah denganya," kata Mel saat berada di ruang kerja Pak Gun.


"Kau mau menikah dengan siapa? Malvin? Dia mungkin jijik karena kelakuan kamu."


"Pa."


"Mel. Kamu sudah tidak perawan. Jadi, ikuti saja alur ini. Paham."

__ADS_1


Mel tidak menjawab. Dia langsung pergi dan kembali mengurung dirinya sendiri di dalam kamar. Mengutuk dirinya sendiri dan terus merasa bodoh karena kelakuanya sendiri.


__ADS_2